NovelToon NovelToon
RATU X PEMUDA MISKIN JADI KAYA

RATU X PEMUDA MISKIN JADI KAYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / CEO / Anak Genius
Popularitas:294
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

lanjutkan Jek adalah seorang yang terlahir di keluarga
kurang mampu namun ia memiliki kecerdasan dan kejeniusan tentang dunia apa saja karena ia memiliki
sistem yang dapat membuat ia kaya mendadak dalam percintaan ia menemukan ratu yang mencintainya dengan tidak kenal kondisi suka maupun duka bagaimana kelanjutan langsung ajaaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34

Tiga hari setelah insiden 'Pembersih', sebuah paket dijatuhkan dari langit oleh drone kargo Sektor Inti. Paket itu mendarat tepat di tengah ladang ubi, tidak meledak, tidak mengeluarkan gas, hanya sebuah kotak perak yang dingin.

Gidion dan Hafiz berdiri mengelilinginya dengan senjata terhunus, namun Jek melangkah maju dengan tenang. Ia membuka kotak itu. Di dalamnya bukan senjata, melainkan sebuah tablet holografik tua—model yang sama dengan yang digunakan Jek sepuluh tahun lalu saat merancang fondasi dunia digital.

Saat diaktifkan, wajah Dr. Arra muncul. Ia tidak tampak marah, hanya sangat, sangat lelah.

"Alif, atau Jek, atau siapa pun kau sekarang," suara Arra terdengar parau dalam rekaman itu. "Pembersih itu bukan kirimanku. Ada faksi militer di Dewan Sektor Inti yang mulai panik. Mereka melihat Kamp Sampah bukan sebagai solusi, tapi sebagai virus yang merusak ketergantungan masyarakat pada sistem pusat. Mereka ingin menghapusmu karena kau membuktikan bahwa manusia bisa hidup tanpa mereka."

Arra menghela napas, matanya menatap tajam ke arah kamera. "Mereka akan mengirim unit 'Sentinel'—mesin tanpa pilot yang tidak punya hati untuk dikasihani atau sistem biometrik untuk dikacaukan. Jaring Buta milikmu tidak akan cukup. Aku mengirimkan ini... koordinat Bunker 07. Di sana tersimpan sisa dari 'Protokol Gaia'. Itu adalah satu-satunya hal yang bisa menyeimbangkan dunia tanpa menghancurkannya."

Rekaman itu mati, meninggalkan koordinat yang berkedip merah di layar.

"Bunker 07," bisik Hafiz, wajahnya memucat. "Itu di tengah Gurun Kaca. Tempat di mana sisa-sisa radiasi Ares masih sangat pekat. Tidak ada manusia yang bisa bertahan di sana tanpa baju pelindung tingkat tinggi."

Jek menatap koordinat itu, lalu menatap tangan-tangannya yang kotor karena tanah. Ia tahu persis apa itu Protokol Gaia. Itu adalah rencana cadangannya jika Ares gagal—sebuah sistem yang bisa memulihkan ekosistem bumi secara alami, namun butuh aktivasi manual dari pusat data fisik yang terisolasi.

"Maya, siapkan traktor yang kita ambil dari penjarah tempo hari," ujar Jek tiba-tiba. "Perkuat tangkinya dengan lapisan timbal dari rongsokan rumah sakit tua di sektor selatan. Kita berangkat besok pagi."

"Kita?" tanya Gidion, menunjuk dirinya sendiri.

"Kau tetap di sini, Gidion. Kamp ini butuh pemimpinnya. Sektor Inti tidak akan berani menyerang langsung selama mereka mengira aku masih di sini," Jek menepuk bahu raksasa itu. "Aku akan pergi bersama Hafiz dan Rara. Maya, kau tetap di sini untuk memandu kami lewat radio analog."

Malam itu, persiapan dilakukan dengan sunyi. Kevin, si teknisi kota yang kini lebih sering terlihat memakai kaos kumal daripada jas laboratorium, mendekati Jek. Ia menyerahkan sebuah modul kecil yang ia rakit sendiri.

"Ini sensor radiasi pasif," bisik Kevin. "Ia tidak memancarkan sinyal, jadi Sentinel tidak bisa melacaknya. Gunakan ini untuk mencari jalan di Gurun Kaca."

Jek menerima modul itu, menatap Kevin dengan rasa hormat yang baru. "Kau sudah belajar banyak, Anak Kota."

"Aku belajar bahwa terkadang, untuk memperbaiki masa depan, kita harus berani mengotori tangan kita," jawab Kevin sambil tersenyum tipis.

Keesokan paginya, saat matahari pertama menyentuh tumpukan rongsokan Kamp Sampah, sebuah traktor modifikasi yang tampak seperti monster logam merayap keluar dari gerbang. Jek duduk di kursi pengemudi, topeng lasnya terpasang, menatap lurus ke arah cakrawala yang gersang.

Di belakangnya, Kamp Sampah perlahan mengecil, namun semangat yang ia tanam di sana tetap hidup. Perjalanan menuju Bunker 07 bukan sekadar misi penyelamatan, melainkan penebusan dosa bagi Sang Arsitek yang pernah menciptakan surga digital yang berakhir menjadi neraka bagi banyak orang.

"Hafiz, periksa tekanan oksigen," suara Jek bergema di kabin sempit itu.

"Siap, Tuan. Kita masuk ke wilayah tanpa sinyal dalam sepuluh menit."

"Bagus," Jek memacu mesin traktornya. "Aku sudah bosan dengan sinyal. Mari kita lihat apa yang disembunyikan bumi di bawah kaca itu."

Gurun Kaca membentang di depan mereka seperti lautan kristal yang mati. Di bawah terik matahari, butiran silika yang mencair akibat ledakan reaktor sepuluh tahun lalu memantulkan cahaya yang menyakitkan mata. Traktor modifikasi mereka, yang kini dilapisi lempengan timbal rongsokan, berderit protes saat rodanya melindas hamparan tajam tersebut.

"Indikator radiasi mulai berkedip kuning, Jek," suara Rara terdengar dari balik masker respiratornya. Ia duduk di kursi belakang, memeluk senapan laras panjangnya yang dibungkus kain basah agar tidak kepanasan. "Modul pemberian Kevin bekerja. Ada jalur aman di antara bukit kaca di depan, tapi kita harus bergerak cepat."

Jek tidak menyahut. Tangannya yang kasar mencengkeram kemudi dengan kuat. Di balik topeng lasnya, matanya terus memantau layar monokrom tua yang terhubung dengan kamera luar. "Hafiz, siapkan pengacak sinyal manual. Aku merasakan getaran di bawah tanah. Itu bukan gempa."

Hafiz, yang sedang memeriksa tangki oksigen cadangan, segera menempelkan telinganya ke dinding besi traktor. "Frekuensi tinggi... ritme yang konstan. Sial, Jek! Itu bukan di bawah tanah. Itu di atas kita, tapi mereka menggunakan jubah kamuflase optik!"

Seketika, sebuah ledakan energi menghantam tanah tepat di samping traktor, melemparkan gumpalan kaca cair ke udara. Tiga bayangan metalik mulai terlihat di udara yang beriak—Sentinel. Bentuknya menyerupai laba-laba mekanis raksasa yang menggantung di udara dengan pendorong senyap.

"Mereka menemukan kita!" teriak Rara sambil membuka celah menembak di atap traktor. Dor! Satu tembakan mengenai pelindung sensor salah satu Sentinel, namun mesin itu bahkan tidak bergeming.

"Jangan buang peluru, Ra!" Jek membanting kemudi ke kiri, menghindari tembakan laser kedua. "Hafiz, lepaskan muatan tembaga di belakang! Sekarang!"

Hafiz menarik tuas darurat. Sekarung besar serbuk tembaga dan aluminium—hasil jarahan dari Sektor Luar—tumpah ke belakang traktor. Saat serbuk itu terhimpas angin gurun, ia menciptakan awan konduktif yang mengacaukan radar presisi milik Sentinel.

"Maya, kau dengar aku?" Jek berteriak ke radio analog yang berderit statis.

"Sinyalmu lemah, Jek! Tapi aku menangkap posisi mereka!" suara Maya terdengar timbul tenggelam. "Ada anomali frekuensi di koordinat 07. Jika kau bisa memancing mereka ke celah batuan di depan, aku bisa meledakkan penguat sinyal radio lama yang tertanam di sana. Itu akan membakar sirkuit mereka!"

"Lakukan dalam hitungan tiga puluh detik!" Jek menginjak pedal gas dalam-dalam. Traktor itu meraung, mengeluarkan asap hitam pekat saat mendaki bukit kaca yang licin.

Sentinel-sentinel itu mengejar, kaki-kaki logam mereka mencengkeram permukaan kaca dengan magnet kuat. Mereka bersiap menembakkan meriam plasma pemusnah saat traktor Jek meluncur masuk ke dalam celah sempit di antara dua dinding kaca raksasa.

"Sekarang, Maya!"

Sebuah dentuman elektromagnetik yang tak terdengar namun kasat mata meledak dari puncak celah. Langit di atas mereka seolah bergetar. Ketiga Sentinel itu tiba-tiba kehilangan kendali, mesin pendorong mereka mati, dan mereka jatuh menghantam lantai kaca dengan dentuman memekakkan telinga.

Jek menghentikan traktor beberapa meter di depan pintu baja raksasa yang tertanam di dinding gunung. Bunker 07.

"Mereka akan melakukan reboot dalam lima menit," ujar Jek sambil melompat turun, membawa tas peralatan mekaniknya. "Hafiz, jaga pintu. Rara, awasi langit. Aku harus masuk ke dalam."

Pintu bunker itu tidak memiliki panel digital. Hanya ada sebuah lubang kunci mekanis kuno yang sangat rumit. Jek merogoh saku dalamnya, mengeluarkan sebuah kunci perak yang selama sepuluh tahun ini ia simpan di dalam sol sepatunya.

Saat kunci itu diputar, suara roda gigi raksasa yang sudah berkarat mulai berputar di balik beton setebal tiga meter. Pintu itu terbuka perlahan, mengeluarkan aroma udara dingin dan debu yang sudah mengendap selama satu dekade.

Di dalam sana, bukan deretan peluncur rudal atau server raksasa yang menyambutnya. Di tengah ruangan yang luas, terdapat sebuah taman hidroponik raksasa yang masih menyala redup, menumbuhkan tanaman hijau yang tidak pernah dilihat lagi oleh dunia luar selama bertahun-tahun. Dan di tengah taman itu, sebuah konsol kayu sederhana dengan satu layar hijau berkedip.

"WELCOME BACK, ARCHITECT. PROTOCOL GAIA IS WAITING FOR YOUR SEED."

Jek mendekati konsol itu, namun langkahnya terhenti saat ia melihat sebuah foto kecil yang tertempel di samping layar—foto dirinya sepuluh tahun lalu, tertawa bersama Dr. Arra muda di depan laboratorium ini.

"Maafkan aku, Arra," bisik Jek. "Dunia ini memang berantakan, tapi setidaknya sekarang ia punya kesempatan untuk tumbuh kembali tanpa perintah dari siapapun."

Jek mulai mengetikkan baris-baris kode manual. Bukan untuk mengendalikan dunia, tapi untuk melepaskan kendali itu sepenuhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!