"Satu malam untuk nyawa ibuku. Itu saja."
Bagi Kalea, cinta adalah sebuah kebohongan besar yang menghancurkan keluarganya. Ia tumbuh dengan kebencian pada pria setelah melihat ibunya ditinggalkan sang ayah demi kekuasaan. Namun, saat ibunya butuh operasi darurat dengan biaya yang mustahil ia jangkau, Kalea terpaksa menjual satu-satunya hal yang tersisa: kehormatannya.
Ia menyerahkan segalanya kepada Liam Jionel, sang penguasa bisnis berdarah dingin yang memandang manusia tak lebih dari sekadar angka dan aset.
Kalea mengira ia hanya menjual satu malam, namun ternyata ia telah menyerahkan seluruh sisa hidupnya ke tangan seorang iblis berwajah malaikat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee Jee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26
...
Pagi di Hallstatt yang biasanya tenang kini terasa mencekam bagi Kalea. Meski pemandangan danau di depan tokonya masih secantik lukisan, kehadiran Mercedes-Benz hitam di parkiran hotel seberang adalah pengingat nyata bahwa monster dari masa lalunya telah kembali.
Liam Jionel tidak main-main dengan ucapannya. Pukul delapan pagi tepat, pria itu sudah berdiri di depan pintu toko "Lili’s Garden". Kali ini, ia tidak memakai setelan jas formal yang mengintimidasi. Ia hanya mengenakan turtleneck hitam dan celana kain gelap, memberikan kesan lebih kasual namun tetap memancarkan aura penguasa yang tak terbantahkan.
"Toko belum buka," ucap Kalea dingin tanpa menoleh, tangannya sibuk menyemprot air ke kelopak mawar.
"Aku tidak datang sebagai pelanggan, Kalea. Aku datang sebagai pria yang ingin sarapan dengan putranya," jawab Liam pelan. Ia melangkah masuk, mengabaikan papan 'Closed' yang masih tergantung.
Kalea meletakkan botol semprotnya dengan sentakan keras. "Dia bukan putramu dalam artian apa pun, Liam! Kau tidak ada saat dia lahir, kau tidak ada saat dia belajar berjalan, dan kau tidak ada saat dia sakit demam di tengah malam!"
Liam terhenti. Ada kilatan luka di matanya yang dalam. "Itu sebabnya aku di sini sekarang. Untuk membayar setiap detik yang hilang itu."
"Mama! Om Naga datang lagi!" seru Leo, berlari keluar dari ruang tengah. Bocah itu tampak bersemangat, sebuah reaksi yang membuat hati Kalea mencelos. Leo, dengan segala kecerdasannya, seolah merasakan tarikan magnetis pada pria asing ini.
Liam berlutut, menyamakan tingginya dengan Leo. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Bukan perhiasan, melainkan sebuah miniatur helikopter logam yang sangat detail. "Ini untukmu, Leo. Seperti yang kita bicarakan kemarin."
Mata Leo berbinar. "Wah! Ini bisa terbang beneran?"
"Jika kau mau, kita bisa pergi ke lapangan di balik bukit dan aku akan tunjukkan cara menerbangkan yang aslinya," ucap Liam sambil melirik Kalea dengan tatapan menantang.
"TIDAK!" seru Kalea. Ia segera menarik Leo ke belakang punggungnya. "Leo, masuk ke kamar. Sekarang."
"Tapi Mama—"
"MASUK, LEO!" suara Kalea meninggi, membuat bocah itu terkejut dan perlahan berjalan masuk dengan wajah sedih.
Kalea berbalik menatap Liam dengan kemarahan yang meluap. "Jangan coba-coba menyuap anakku dengan mainan mahalku! Kau pikir kau bisa masuk ke hidupnya semudah itu setelah apa yang kau lakukan padaku?"
Liam berdiri perlahan, wajahnya kembali mengeras. "Aku tidak menyuapnya, Kalea. Aku mencoba mengenalnya. Dan asal kau tahu, darah Jionel dalam dirinya tidak bisa kau hapus dengan teriakanmu. Dia cerdas, dia pemberani, dan dia tertarik pada hal-hal yang sama denganku. Itu insting, bukan suap."
"Insting untuk menjadi monster?" desis Kalea.
Liam melangkah mendekat, memojokkan Kalea ke meja rangkaian bunga. Aroma sandalwood yang maskulin kembali mengurung Kalea. "Aku sudah melewati neraka penjara selama dua tahun, Kalea. Aku punya banyak waktu untuk berpikir. Aku menyadari bahwa menghancurkanmu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Tapi memiliki Leo... itu adalah keajaiban yang tidak akan kubiarkan hilang begitu saja."
"Pergi, Liam. Aku mohon," suara Kalea melemah, bercampur dengan isak tangis yang mulai pecah. "Kami sudah bahagia di sini. Tolong jangan hancurkan dunia kecil kami."
Liam mengulurkan tangan, ragu sejenak sebelum akhirnya mengusap air mata di pipi Kalea dengan ibu jarinya. Sentuhan itu masih sama—dingin namun membakar. "Aku tidak datang untuk menghancurkan, Sayang. Aku datang untuk membangun benteng yang lebih kuat di sekeliling kalian. Aku sudah membeli tanah di bukit atas sana. Aku akan membangun rumah di sana agar aku bisa menjagamu setiap hari."
Kalea terbelalak. "Kau gila! Kau tidak bisa tinggal di sini!"
"Aku bisa melakukan apa saja, Kalea. Kau tahu itu," Liam menyeringai tipis. "Besok pagi, aku akan menjemput Leo untuk jalan-jalan ke danau. Kau boleh ikut, atau kau boleh membiarkanku pergi berdua dengannya. Pilihannya ada di tanganmu."
Liam berbalik dan berjalan keluar, meninggalkan Kalea yang jatuh terduduk di lantai toko yang dipenuhi kelopak bunga yang rontok.
Malam itu, Hallstatt diguyur hujan gerimis. Kalea duduk di tepi tempat tidur Leo, menatap putranya yang tertidur lelap sambil memeluk helikopter pemberian Liam. Hatinya hancur. Ia merasa seperti dikhianati oleh takdir.
"Kenapa dia harus mirip sekali dengannya, Bu?" bisik Kalea pada foto Elena di atas meja.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari nomor asing—nomor lokal Austria milik Liam.
"Dia terlihat sangat tenang saat tidur. Persis sepertimu saat pertama kali kau menginap di mansionku. Tidurlah, Kalea. Aku tidak akan menculiknya malam ini. Aku hanya ingin kau tahu, aku ada di seberang sana, menjagamu."
Kalea melempar ponselnya ke dinding. Ia merasa seperti diawasi, seperti dikurung kembali dalam sangkar emas, meski kali ini sangkarnya adalah seluruh desa Hallstatt.
Di hotel seberang, Liam berdiri di balkon, menatap lampu rumah kayu Kalea yang masih menyala. Di tangannya, ia memegang laporan hasil tes DNA yang diam-diam diambil anak buahnya dari helai rambut Leo di teras kemarin. 99.9% Match.
Liam tidak butuh kertas itu untuk tahu Leo adalah anaknya, tapi kertas itu adalah senjatanya jika Kalea terus melawan secara hukum. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, Liam tidak ingin menggunakan cara kotor lagi. Ia ingin Kalea kembali padanya karena kemauan sendiri, bukan karena paksaan.
"Satu miliar untuk satu malam..." gumam Liam. "Sekarang, aku akan memberikan seluruh hidup dan hartaku hanya untuk satu kata maaf darimu, Kalea."
Liam tahu, perjalanannya akan panjang. Kalea adalah api yang sulit dijinakkan, dan Leo adalah singa kecil yang cerdas. Namun Liam Jionel tidak pernah kalah dalam negosiasi apa pun. Dan kali ini, taruhannya adalah keluarga yang sebenarnya.
Esok pagi akan menjadi babak baru. Pertarungan antara ego pria yang ingin menebus dosa dan ketakutan wanita yang ingin melindungi anaknya. Di bawah langit Austria yang dingin, bara api lama mulai menyala kembali, mengancam untuk membakar atau menghangatkan jiwa mereka yang telah lama beku.
...----------------...
mau ku up semua draft. tapi komen ya sayang sayang nya aku🤧