NovelToon NovelToon
RYUGA

RYUGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yudi Chandra

Vierra Quinn Maverick menjadi anak baru di SMA Lentera Cendekia.
Namun di hari pertamanya, ia kembali bertemu dengan teman SMP-nya, Ryuga Arashima Renzo. Dingin, karismatik, dan kini dikenal sebagai Leader of RAVENIX, geng motor paling disegani di Jakarta. Sosok yang dulu begitu dekat dengannya… sebelum sebuah kesalahpahaman memisahkan mereka.
Quinn memilih pergi tanpa berpamitan kepada Ryuga.
Pertemuan itu bukan sekadar reuni, melainkan benturan dua hati yang belum benar-benar selesai.
"Mulai detik ini, jauhin gue!" — Quinn.
“Jauhin lo? Coba ulang lagi kalimat itu sambil liat mata gue. Masih berani?” — Ryuga.
Di tengah konflik sekolah, rivalitas geng, dan rahasia yang terungkap perlahan, mereka dipaksa menghadapi satu pertanyaan:
Apakah cinta pertama mereka telah usai…
atau justru belum pernah benar-benar padam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8

Pagi hari di SMA Lentera Cendekia terasa ramai seperti biasa. Suara langkah siswa bersahutan di sepanjang koridor marmer yang luas.

Quinn baru saja selesai sarapan di kantin. Tadi karena terburu-buru, ia tidak sempat sarapan di rumah. Kini ia berniat kembali ke kelas dengan santai. Namun langkahnya mendadak berhenti ketika seseorang menghadang jalannya.

Di depannya berdiri Ryuga.

Tangan pria itu dimasukkan ke saku celana, tubuhnya tegap dengan tatapan tajam yang seolah bisa menembus pikiran orang.

Quinn terkejut.

“Lo lagi…” gumamnya pelan.

Belum sempat ia berbalik arah, Ryuga langsung menarik pergelangan tangannya.

Quinn tersentak.

“Eh! Lepasin, Ga! Apaan sih lo?!” protesnya sambil mencoba menarik tangannya.

Ryuga tidak menjawab.

Ia hanya terus berjalan, menarik Quinn melewati kerumunan siswa sampai akhirnya berhenti di sebuah koridor belakang yang sepi.

Quinn langsung menyentak tangannya hingga terlepas.

“Apa sih masalah lo pagi-pagi begini?!” kesalnya.

Ryuga menatapnya tajam, rahangnya mengeras.

“Kenapa nggak nunggu gue?”

Quinn mengerjap.

“Apaan?”

“Kenapa. Nggak. Nunggu. Gue.” ulang Ryuga perlahan, suaranya rendah tapi penuh tekanan.

Quinn mendengus sebal.

“Gue piket. Jadi buru-buru.” jawabnya cepat.

Ryuga menatapnya lekat.

“Lo mau bohongin gue?”

Quinn langsung melotot.

“Mana ada! Gue beneran piket tadi!”

Ryuga tersenyum miring, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit mendekat.

“Sejak kapan sekolah ini ada jadwal piket, hm?”

Quinn membeku.

Baru sekarang otaknya bekerja.

Sekolah elit.

Petugas kebersihan lengkap.

Tidak ada jadwal piket.

“...”

“...”

Quinn langsung mengalihkan pandangan.

“Emm… anu… apa itu… emm…” gumamnya gugup.

Ryuga menyilangkan tangan di dada, menikmati kepanikan Quinn.

“Alasannya habis?”

Quinn semakin kesal.

“Lo tuh nyebelin banget tau!”

Ryuga mengangkat alis.

“Lo harus dihukum.”

Quinn langsung melotot.

“Kenapa dihukum?! Gue salah apa?!”

Ryuga menjawab datar.

“Lo nggak nungguin gue.”

Quinn hampir meledak.

“YA SUKA-SUKA GUE DONG! Lo nggak bisa seenaknya hukum gue!”

Ryuga menatapnya tenang.

“Gue bisa.”

Quinn langsung terdiam.

Sialnya… dia benar.

Sekolah ini milik keluarga Ryuga.

Dan Ryuga adalah pewarisnya.

Artinya… kalau dia mau, dia bisa bikin hidup Quinn sangat tidak nyaman di sekolah ini.

Quinn menggertakkan gigi.

Ryuga lalu berkata pelan.

“Cium gue.”

Quinn membelalakkan mata.

“NGGAK MAU!”

Ryuga mendekat sedikit lagi.

“Cium gue sekarang…”

Tatapannya berubah tajam.

“…atau gue yang cium bibir lo di depan semua orang.”

Quinn langsung kesal setengah mati.

“Lo gila ya?!”

Ryuga hanya menunggu dengan santai.

Quinn menghela napas panjang.

Lalu tiba-tiba—

senyum jahil muncul di wajahnya.

Ia mendekat.

Ryuga sedikit mengernyit heran ketika Quinn tiba-tiba melingkarkan kedua tangannya ke lehernya.

Quinn menatapnya dengan mata menggoda.

“Ya udah…”

Ia mengerling nakal.

“Tutup mata lo.”

Ryuga menyipitkan mata.

“Kenapa?”

Quinn memalingkan wajah pura-pura cemberut.

“Gue malu…”

Ryuga menatapnya beberapa detik.

Lalu sudut bibirnya terangkat tipis.

“Lucu.”

“Udah! Tutup aja!” kesal Quinn.

Akhirnya Ryuga menurut.

Ia menutup mata.

Quinn menarik napas.

Lalu perlahan jemari lentiknya menyentuh wajah Ryuga.

Menyusuri alisnya.

Turun ke kelopak matanya.

Lalu ke hidung mancungnya.

Dan akhirnya berhenti di bibirnya.

Ryuga diam.

Tapi sudut bibirnya hampir naik.

Tiba-tiba—

Quinn tersenyum lebar.

“Tapi boong.”

Ia mencolek hidung Ryuga.

Lalu langsung berbalik dan lari terbirit-birit.

Ryuga membuka mata.

“...”

Beberapa detik ia hanya berdiri.

Lalu menghela napas.

“Dasar…”

Ia menekan pipi bagian dalam dengan lidah, menahan senyum.

Namun tiba-tiba—

“GA!”

Ryuga menoleh.

Ternyata Keano, Zayden, Elric, dan Naomi berjalan mendekat.

Keano langsung menunjuk Ryuga dengan wajah heboh.

“Gue lihat barusan lo senyum-senyum ya?!”

Ryuga langsung berdehem.

“Nggak.”

Zayden menyeringai jahil.

“Bohong lo.”

Ia menyenggol bahu Keano.

“Gue juga lihat.”

Keano semakin heboh.

“Nah kan! Gue nggak mungkin salah lihat!”

Elric yang biasanya dingin juga ikut bicara pendek.

“Momen langka.”

Ryuga menatap mereka datar.

“Salah.”

Keano berkedip.

“Hah?”

“Mata kalian rabun.”

Zayden langsung tertawa.

“Wah gila. Ketua geng kita mulai denial.”

Keano menepuk bahu Ryuga.

“Jujur aja deh, Ga. Cewek tadi siapa? Yang rambut panjang itu kan? Atau jangan-jangan itu Quinn?”

,

Ryuga berjalan melewati mereka.

“Bukan urusan kalian.”

Keano mengejar.

“Eh serius! Lo lagi PDKT ya?!”

Zayden ikut menyahut.

“Yang berani kabur dari Ryuga… gue salut sih.”

Elric menambahkan datar.

“Cewek itu pasti menarik,.”

Ryuga tetap berjalan tanpa menoleh.

“Berisik.”

Keano masih belum menyerah.

“GA! Jangan gitu dong! Ceritain dikit kek!”

Ryuga akhirnya berhenti sebentar, menoleh dingin.

“Kalau kalian masih nanya…”

Tatapannya tajam.

“Gue suruh kalian lari keliling lapangan sekarang.”

Keano langsung mundur sambil angkat tangan.

“Oke-oke, peace.”

Zayden tertawa.

Elric tetap diam.

Di belakang mereka, Naomi tersenyum lembut.

“Iya, mungkin kita memang salah lihat.” katanya menenangkan.

Namun saat Ryuga kembali berjalan pergi—

senyum Naomi perlahan memudar.

Tangannya mengepal pelan di samping tubuhnya.

Matanya menatap ke arah koridor tempat Quinn tadi kabur.

Tatapannya dingin.

Sangat dingin.

“Quinn…” gumamnya pelan.

Nada suaranya lembut.

Namun matanya sama sekali tidak tersenyum.

...----------------...

Quinn berhenti di depan pintu kelas dengan napas memburu. Dadanya naik turun karena habis berlari cukup jauh dari koridor belakang.

Beberapa siswa yang lewat bahkan sempat menoleh heran melihatnya.

“Buset… capek banget…” gumam Quinn sambil memegangi dada.

Ia lalu masuk ke kelas.

Di dalam, Vexa yang sedang duduk santai sambil memainkan pulpen langsung mengangkat kepala ketika melihat Quinn.

Alisnya langsung terangkat.

“Kenapa lo?” tanya Vexa heran. “Kayak abis maraton aja.”

Quinn langsung menjatuhkan tasnya ke kursi.

“Hah… hah… enggak kok…” jawabnya sambil mengipasi wajah.

Vexa menyipitkan mata curiga.

“Enggak apanya? Napas lo kayak orang dikejar debt collector.”

Quinn memutar bola mata.

“Lebay.”

Vexa menyandarkan dagu di tangan.

“Serius. Lo kenapa?”

Quinn langsung berpikir cepat.

"Gue nggak boleh bilang gue kabur dari Ryuga. Kalau Vexa tahu… pasti dia heboh setengah sekolah."

Akhirnya Quinn mengangkat bahu santai.

“Gue tadi… lari dari anjing.”

Vexa langsung mengernyit.

“Anjing?”

“Iya.”

“Di sekolah elit begini?”

Quinn langsung mengangguk cepat.

“Iya! Anjing… eh… anjing mahal.”

Vexa makin bingung.

“Anjing mahal itu apa?”

Quinn mengibaskan tangan.

“Ya pokoknya anjing yang mahal lah! Yang bulunya putih, fluffy gitu!”

Vexa menatapnya datar.

“Golden retriever?”

Quinn langsung menunjuk.

“Nah itu!”

Vexa makin menyipitkan mata.

“Golden retriever itu biasanya ramah.”

Quinn langsung gugup.

“Iya sih… tapi yang ini… galak.”

Vexa mencondongkan tubuh.

“Galak gimana?”

Quinn mulai ngawur.

“Ya… dia lihat gue terus… langsung… ‘GUK GUK GUK!’”

Quinn bahkan menirukan suara anjing dengan dramatis.

Beberapa siswa yang duduk dekat mereka menoleh.

Vexa langsung menatap Quinn dengan ekspresi aneh.

“…Lo yakin itu anjing?”

Quinn mengangguk cepat.

“Yakin banget.”

Vexa menghela napas panjang.

“Quinn…”

“Kenapa?”

“Cerita bohong lo jelek banget.”

Quinn langsung pura-pura tersinggung.

“Eh! Ini bukan bohong!”

Vexa menyilangkan tangan.

“Oke. Gue tanya lagi.”

Ia menunjuk sepatu Quinn.

“Kalau lo dikejar anjing…”

lalu menunjuk rok Quinn yang masih rapi.

“…kenapa rok lo masih rapi?”

Quinn langsung membeku.

“...”

Vexa lanjut.

“Rambut lo juga masih bagus.”

Quinn makin panik.

“...”

Vexa menyeringai.

“Dan yang paling penting…”

Ia mendekat sedikit sambil menyipitkan mata.

“Kalau lo dikejar anjing, biasanya orang larinya panik.”

Quinn menelan ludah.

“Terus?”

Vexa menunjuk wajah Quinn.

“Lo larinya sambil senyum.”

Quinn langsung menutup mulutnya refleks.

“HAH?!”

Vexa tertawa kecil.

“Nah kan. Ketahuan.”

Quinn langsung memalingkan wajah.

“Enggak kok…”

Vexa mengetuk meja pelan.

“Jadi sebenernya lo lari dari siapa?”

Quinn cepat menjawab.

“Dari… guru!”

Vexa mengangkat alis.

“Guru siapa?”

Quinn kembali bingung.

“…Guru sejarah.”

Vexa makin santai.

“Bu Yasmin lagi sakit seminggu.”

Quinn langsung menutup wajah dengan tangan.

“ASTAGA.”

Vexa tertawa keras.

“Quinn, Quinn… lo tuh nggak berbakat bohong.”

Quinn menghela napas panjang.

“Ya udah lah!”

Vexa menyeringai jahil.

“Jadi…”

Ia mencondongkan tubuh semakin dekat.

“Lo lari dari Ryuga ya?”

Quinn langsung tersedak.

“UHUK—!”

Vexa langsung heboh.

“NAH! BENER KAN!”

Quinn buru-buru menggeleng.

“Enggak! Siapa yang bilang?!”

Vexa menepuk meja.

“Ekspresi lo tuh udah kayak tulisan neon!”

Quinn menunjuk Vexa kesal.

“Lo tuh terlalu observatif tau nggak!”

Vexa menyeringai lebar.

“Jadi bener dong.”

Quinn cemberut..

“Tau ah…”

Vexa makin penasaran.

“Apa yang dia lakuin? Ngancem lo lagi?”

Quinn cepat menggeleng.

“Enggak!”

“Terus?”

Quinn langsung mengalihkan topik.

“Eh lo udah ngerjain tugas matematika belum?”

Vexa langsung menatapnya curiga.

“Quinn.”

“Hmm?”

“Lo ngindarin pertanyaan gue.”

Quinn pura-pura sibuk membuka tas.

“Enggak kok.”

Vexa menatapnya beberapa detik.

Lalu tiba-tiba tersenyum licik.

“Oke.”

Quinn langsung merasa tidak enak.

“Oke apaan?”

Vexa bersandar santai di kursinya.

“Kalau lo nggak mau cerita…”

Ia mengangkat bahu.

“Gue tanya langsung aja sama Ryuga nanti.”

Quinn langsung panik.

“JANGAN!”

Satu kelas langsung menoleh.

Vexa tertawa puas.

“Nah kan!”

Quinn menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Gue benci lo.”

Vexa terkekeh.

“Tapi lo tetep bakal cerita ke gue juga.”

Quinn mendengus.

“Enggak akan.”

Vexa menyeringai.

“Kita lihat aja nanti.”

Quinn menghela napas pasrah.

Dalam hati ia bergumam.

"Ryuga… kalau gara-gara lo hidup gue jadi bahan gosip…"

Quinn menggertakkan gigi.

"Gue bales nanti."

Sementara Vexa di sampingnya masih tersenyum penuh rasa ingin tahu.

Ia yakin sekali.

Pasti ada sesuatu antara Quinn dan Ryuga.

Dan itu… terlihat sangat menarik.

Tak lama kemudian, Pak Bagas—guru matematika melangkah memasuki kelas tersebut. Kemudian ia segera memulai pelajaran pertama di pagi tu.

...----------------...

KRIIINGGG!

Bel tanda berakhirnya pelajaran pertama baru saja berbunyi.

Pak Bagas menutup buku matematikanya lalu menunjuk tumpukan buku tebal di mejanya.

“Quinn, tolong bantu bapak antar buku ini ke ruang guru ya.”

Quinn yang sedang membereskan pulpen langsung mengangguk.

“Iya, Pak.”

Ia mengangkat beberapa buku yang cukup berat lalu berjalan keluar kelas.

Koridor sekolah masih ramai oleh siswa yang keluar masuk kelas.

Setelah beberapa menit berjalan, Quinn akhirnya sampai di ruang guru.

Ia mengetuk pintu.

“Permisi…”

Salah satu guru di dalam menoleh.

“Oh, buku dari Pak Bagas ya? Taruh saja di meja sana.”

“Baik, Bu.”

Quinn meletakkan buku-buku itu.

Setelah selesai, Quinn menghela napas lega.

“Finally… selesai juga.”

Ia langsung mengambil ponselnya dan mengirim pesan.

"Xa, gue ke kantin ya."

Balasan Vexa cepat datang.

"Cepetan. Gue udah laper."

Quinn tersenyum kecil.

“Oke, cus kantin.”

Ia berjalan santai menyusuri koridor belakang sekolah.

Namun baru beberapa langkah—

Tiba-tiba seseorang menarik tangannya dengan keras.

“Eh—?!”

Quinn terkejut.

Dua siswi yang tidak ia kenal langsung menariknya dengan paksa.

“Woi! Apaan sih?! Lepasin!”

Salah satu siswi itu menatapnya tajam.

"Diem, lo!"

Mereka terus menyeret Quinn menuju area belakang sekolah yang jarang dilewati siswa.

Quinn mulai kesal.

“Hei! Gue bilang lepasin!”

Ia berusaha menarik tangannya.

“Lo berdua budek ya?!”

Akhirnya mereka berhenti di sebuah area sepi dekat bangunan lama sekolah.

Quinn langsung menyentakkan tangannya.

“Apa sih masalah kalian?!”

Namun saat ia mengangkat kepala—

Ia melihat seseorang berdiri di depan.

Seorang gadis berambut panjang dengan seragam rapi.

Tatapannya tenang, tapi dingin.

Itu Naomi.

Quinn menyipitkan mata.

“Oh…”

Ia menyilangkan tangan.

“Jadi ini kerjaan lo?”

Naomi tersenyum tipis.

“Santai saja, Quinn. Aku cuma mau bicara.”

Quinn mencibir.

“Kalau cuma mau ngobrol, lo bisa datang kayak manusia normal.”

Naomi tetap tersenyum lembut.

“Kadang… orang perlu dipaksa sedikit supaya mau mendengarkan.”

Quinn mendengus.

“Langsung aja deh. Lo mau apa?”

Naomi melangkah mendekat.

Matanya menatap Quinn dari atas sampai bawah.

“Kamu anak baru… tapi cepat banget narik perhatian.”

Quinn mengangkat alis.

“Terima kasih. Itu bakat.”

Naomi mengabaikan kalimat itu.

“Aku cuma mau memperingatkan kamu.”

Quinn memiringkan kepala.

“Memperingatkan?”

Naomi menatapnya tajam.

“Jauhi Ryuga.”

Quinn langsung tertawa kecil.

“Serius? Cuma itu?”

Naomi sedikit mengernyit.

“Menurut kamu itu lucu?”

Quinn mengangkat bahu santai.

“Ya iya lah. Lo nyeret gue jauh-jauh cuma buat ngomong begitu?”

Naomi menahan kesal.

“Ryuga itu milik aku. Dia pacar aku.”

Quinn langsung terdiam sebentar.

Lalu—

Ia tertawa lagi.

Kali ini lebih keras.

“HAHAHA.”

Naomi mengepalkan tangan.

“Kenapa kamu ketawa?”

Quinn menyeka sudut matanya.

“Maaf, maaf.”

Ia lalu menatap Naomi dengan senyum miring.

“Tapi gue baru tahu manusia bisa diklaim kayak barang.”

Naomi menatapnya tajam.

“Jangan pura-pura nggak ngerti.”

Quinn menyilangkan tangan.

“Justru gue bingung.”

Ia menatap Naomi dengan santai.

“Kalau Ryuga itu pacar lo... kenapa dia cuek sama lo? Bahkan beberapa kali gue lihat dia risih tiap kali lo deketin.”

Naomi terdiam.

Quinn melanjutkan dengan nada ringan tapi menusuk.

“Oh… jangan bilang…”

Ia pura-pura berpikir.

“Cinta lo bertepuk sebelah tangan?”

Dua siswi di belakang Naomi langsung terlihat kesal.

“Heh! Jaga mulut lo!”

Quinn melirik mereka.

“Gue lagi ngobrol sama bos kalian. Jangan nyela.”

Naomi mencoba tetap tenang.

“Kamu kelihatannya sangat berani.”

Quinn tersenyum.

“Enggak juga. Gue cuma alergi sama orang yang sok punya.”

Naomi akhirnya mulai kehilangan kesabaran.

“Aku serius, Quinn.”

Quinn langsung menjawab santai.

“Gue juga serius.”

Ia menatap Naomi lurus-lurus.

“Kalau lo mau Ryuga… ya silakan kejar.”

Quinn mengangkat bahu.

“Tapi jangan bawa-bawa gue. Toh, lo bilang kalian pacaran, kan?”

Naomi mendekat satu langkah.

“Jadi kamu nggak akan jauhin Ryuga?”

Quinn langsung menjawab tanpa ragu.

“Nggak.”

Naomi mengepalkan tangannya.

Quinn melanjutkan dengan senyum santai.

“Masalahnya… Ryuga sendiri yang nggak mau jauh dari gue.”

Kalimat itu langsung membuat wajah Naomi berubah.

Teman-temannya juga terlihat kaget.

Naomi berbisik dingin.

“Kamu sangat percaya diri.”

Quinn menyeringai.

“Fakta, bukan percaya diri.”

Naomi akhirnya menoleh ke dua temannya.

Tatapannya memberi kode.

“Masukkan dia.”

Quinn mengerutkan dahi.

“Hah?”

Namun sebelum ia sempat bereaksi—

Dua siswi itu langsung menangkap kedua tangannya.

“Woi! Lepas!”

Mereka menyeret Quinn ke bangunan kecil di belakang.

Quinn mulai berontak.

“Hei! Apa yang kalian lakuin?!”

Naomi membuka pintu sebuah toilet lama yang rusak.

Pintu itu berderit.

Quinn langsung sadar.

“Eh! Jangan macem-macem, ya!”

Namun kedua siswi itu sudah mendorongnya masuk.

Quinn menahan pintu.

“WOI!”

Naomi menatapnya dingin.

“Anggap aja ini pelajaran.”

Quinn masih berusaha melawan.

“Naomi! Lo keterlaluan!”

Namun dorongan mereka terlalu kuat.

BRAK!

Pintu toilet tertutup.

Klik.

Terkunci dari luar.

Quinn langsung memukul pintu.

“HEI!!”

Dari luar terdengar langkah kaki Naomi.

“Semoga kamu punya banyak waktu untuk berpikir.”

Quinn menggeram marah.

“NAOMI!!”

Langkah kaki mereka semakin menjauh.

Quinn menendang pintu.

“BUKA PINTUNYA!”

Tak ada jawaban.

Quinn meninju pintu lagi.

“Dasar cewek gila!”

Ia menggeram kesal.

“NAOMI! KALAU GUE KELUAR—!”

Ia berhenti sejenak.

Lalu mengumpat keras.

“SIALAN!”

Ia menyandarkan punggung ke pintu dengan napas berat.

Wajahnya merah karena marah.

“Tunggu aja…”

Quinn mengepalkan tangan.

“Kalau gue keluar dari sini…”

Matanya menyala kesal.

“Gue bikin hidup lo nggak tenang, Naomi.”

...****************...

1
Nur Halida
oke naomi ... kamu nyerah aja gak usa deket2 lagi ama ryuga karena ryuga udah cinta mati sama quinn
Nur Halida
gilirannya vexa sama elric nih🤭🤭😁
Angelia nikita Sumalu
karena kamu menghalu bisa memiliki ryuga .. dalam mimpi sekalipun ryuga gak akan pernah memilih kamu.. dalam keadaan apapun perempuan yang akan selalu dipilih ryuga hanya quiin seorang meskipun bereinkarnasi ke kehidupan selanjutnya 😂😂😂
Bu Dewi
lanjut 😍😍😍
Nur Halida
kan emang ryuga gak pernah suka sama elo naomi... jadi yang waras ya 🤣🤣jangan gangguin quinn lagi😁
Nur Halida
cieee ... akhirnya jadian juga 😁😁😁
Nur Halida
mangkanya ga baca dulu tuh undangan biara gak salah paham lagi😄
Angelia nikita Sumalu
salah paham jilid 2..
Nur Halida
eh.. jangan2 ryuga pergi karena parah hati dan salah paham ama quinn kek dulu quinn pergi karena salah paham ama ryuga.. .
baca dong ga nama di undangannya biar kamu gak kecewa dan nama quinn masih ada di hatimu
Nur Halida
udah mulai gak salah paham lagi .. syukurlah😁
Yudi Chandra: aku seneng kamu selalu hadir....💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞😘😘😘😘😘😘
makaciiiiiih🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Nur Halida
lope you ryuga . .😍😍😍😍😍
Yudi Chandra: love you toooooo🤭🤭🤭🤭😘😘😘😘
total 1 replies
Nur Halida
udah deh ga kalo kamu emang beneran suka sama quinn jauhi naomi .. jangan masukkan dia pada circle pertemananmu lagi biar quinn gak salah paham terus .. dari dulu quinn salah paham karena naomi yg nempelin kamu mulu
Yudi Chandra: betul tuh betul.....🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
jangan berani berharap apa2 ren karena quinn punya ryuga..
Yudi Chandra: Hahaha....jangan gitu dong...kasian dia🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
modus terus buat dapat viuman pipi dari quinn😁😁
Yudi Chandra: lumayan kaaannn🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Bu Dewi
lanjut kak🤭🤭🤭🤭
Yudi Chandra: siiippppp👍👍👍👍😘😘😘😘
total 1 replies
Angelia nikita Sumalu
maksa banget sih....
tebal muka banget...
berapa lapis tuh... macam kue lapis aja... 🤣🤣🤣
Yudi Chandra: Hahahha....tapi kue lapis enak tauuuuu🤭🤭🤭🤭🤭😅😅😅😅😅
total 1 replies
Angelia nikita Sumalu
Heyy cewek gila...
Jangan berani²...
Yudi Chandra: dihhhh....mana peduli dia...😅😅😅🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Angelia nikita Sumalu
Ternyata oh ternyata..
ada perempuan yang gak tahu malu mengatasnamakan teman masa kecil.. yg segitu gak tahu malunya segitu terobsesinya makanya mengaku ke quinn kalau dia pacarnya ryuga... hidup lu macam pemeran dalam drama cina si pemeran cewek manipulatif yg mengatasnamakan teman masa kecil tapi didepan wanita yg disukai sahabat mu mengakui kalau kamu sama sahabatmu itu pacaran padahal dekat kamu aja sahabatmu itu risih... bangun woyy Naomi... percuma nama cantik tapi kelakuannya minus
Yudi Chandra: hadeeehhh....cinta itu buta saayyyyyy🤭🤭🤭🤭😅😅😅😅😅
total 1 replies
Nur Halida
banyak saingan ya ryuga ???
semangat ga....aku pendukung setiamu😁😁😁
Yudi Chandra: Hahahha...bisa aja lu🤭🤭🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
Nur Halida
ya karena kamu ada rasa sama ryuga quinn🤭🤭
Yudi Chandra: Hihihihi......masih denial diaaa🤭🤭🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!