Arvella terlahir kembali sebagai bayi dengan kesadaran dari kehidupan sebelumnya. Dengan ingatan masa lalunya, ia mampu melihat bahaya dan mencegah masalah sebelum terjadi. Sebagai anak tunggal dalam keluarga kerajaan, Arvella belajar menghadapi dunia yang penuh intrik, rahasia istana, dan tanggung jawab besar meski tubuhnya masih kecil.
Seiring tumbuhnya Arvella, ia menemukan lorong rahasia, ramalan kuno, dan misteri yang mengancam kerajaan. Ia belajar memecahkan masalah sosial, menghindari bencana, dan menghadapi intrik politik dengan kecerdasannya yang luar biasa.
Di tengah semua itu, sosok laki-laki misteriusKsatria Anjing kerajaan yang kelak menjadi bagian penting hidupnya muncul secara samar, membangkitkan rasa penasaran dan ikatan takdir yang halus. Bersama ingatan masa lalu dan insting alaminya, Arvella perlahan menemukan kekuatannya, belajar tentang kepercayaan, cinta, dan akhirnya menentukan jalannya sendiri dalam menghadapi takdir yang telah menunggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 : Misteri Surat Tak Bertanda
Malam setelah festival, istana terasa lebih sunyi daripada biasanya.
Lampu taman berkilau lembut, memantul di kolam, sedangkan angin malam membawa aroma bunga yang menenangkan, tetapi juga menyimpan sesuatu yang tidak terlihat.
Arvella duduk di pangkuan Liora, matanya yang merah bersinar penuh kewaspadaan.
Bayi itu mencondongkan tubuh, menunjuk ke arah meja Raja—di situ terdapat surat misterius yang ditemukan Liora tadi malam, tanpa tanda atau alamat pengirim.
“Arvella… kau merasakan hal aneh tentang surat ini, kan?” Liora bertanya pelan.
Bayi itu mengangguk, tangan mungilnya menepuk kain Liora, kemudian menunjuk surat itu lagi.
Liora mendesah, “Sepertinya ini lebih dari sekadar tulisan kosong. Ada niat tersembunyi di baliknya.”
Raja muncul dari lorong, mengenakan jubah sederhana untuk malam hari.
“Apa yang terjadi di sini? Ada yang salah?” tanyanya sambil menatap surat itu.
Arvella mencondongkan tubuh, matanya merah menatap Raja dengan intens, seakan memberi tahu bahwa ini bukan hal kecil.
Liora menjelaskan, “Yang Mulia, surat ini ditemukan di meja Anda, tidak bertanda, tetapi energi yang memancar terasa mengancam.”
Raja mengambil surat itu perlahan, matanya menyipit saat membaca beberapa kalimat.
“Katakan padaku, Arvella… apakah kau merasakan potensi masalah dari surat ini?”
Bayi itu menggeliat, tangan kecilnya menunjuk beberapa kata dalam surat itu seolah memahami makna terselubung.
Sejenak, suasana menjadi tegang.
Seorang pelayan masuk tergesa-gesa, “Yang Mulia… ada bangsawan tetangga yang meminta pertemuan darurat di aula kecil!”
Arvella mencondongkan tubuh, tangannya menepuk kain Liora.
Liora mengangguk, “Aku mengerti, bayi kecil ini sudah membaca niat orang itu. Kita harus cepat bertindak.”
Di aula kecil, bangsawan tetangga itu menatap Raja dengan nada diplomatis, namun Arvella merasakan maksud terselubung yang bisa memancing konflik politik.
“Yang Mulia, aku ingin membahas… kerjasama masa depan,” katanya sambil tersenyum, tetapi matanya menyorot penasihat Raja dengan tajam.
Arvella mencondongkan tubuh, menepuk kain Liora dengan isyarat halus, menandakan bahwa ada bahaya tersembunyi dalam percakapan ini.
Liora berdiri di samping Raja, menambahkan komentar ringan, mengalihkan fokus percakapan dari hal-hal sensitif.
“Bangsawan, mungkin kita bisa membahas rencana lain di taman, sambil menikmati udara malam,” ucap Liora dengan nada tenang.
Bangsawan itu terdiam sejenak, ragu, kemudian tersenyum.
Arvella menggeliat, puas—potensi konflik berhasil dicegah tanpa ada yang menyadari.
Namun kejutan belum berakhir.
Tiba-tiba suara gaduh terdengar dari lorong samping.
Beberapa pelayan berlarian, ada yang menjatuhkan nampan, ada yang menjerit karena tersandung kain panjang bangsawan lain.
Arvella menggeliat cepat, tangan kecilnya menahan pelayan agar tidak terjatuh, sementara mata merahnya menatap sosok yang tampak mencurigakan bergerak di lorong.
“Siapa itu?” tanya Liora, cemas.
Bayi itu mencondongkan tubuh, matanya fokus ke arah bayangan itu, memberi isyarat agar Raja tetap tenang.
Bayangan itu tampak samar, namun Arvella bisa merasakan niatnya—ia ingin mengamati surat tanpa diketahui.
Raja menatap Arvella, senyum kecil di wajahnya.
“Kau selalu tahu hal-hal yang tak terlihat oleh kami,” katanya bangga.
Arvella mencondongkan tubuh lagi, matanya merah bersinar, seolah memberi pesan: ancaman ini belum berakhir.
Ketika malam semakin larut, Arvella mencondongkan tubuh ke arah meja surat.
Dia merasakan energi yang tersisa, niat tersembunyi yang mungkin akan muncul besok.
Liora menatapnya, tersenyum, tapi juga menahan napas, “Besok kita harus waspada. Surat ini mungkin hanya permulaan dari masalah yang lebih besar.”
Dan di luar jendela, bayangan laki-laki misterius muncul sekejap, matanya biru menatap Arvella.
Bayi itu menggeliat, tangannya menepuk kain Liora, tanda kesadaran dan kewaspadaan.
Bayangan itu menghilang, meninggalkan rasa penasaran yang mendalam—dan Arvella tahu, pertemuan nyata dengan sosok ini akan segera terjadi.
Akhir bab kali ini tidak ditutup dengan Arvella tidur seperti biasa.
Sebaliknya, dia mencondongkan tubuh, menatap lampu taman yang berkilau di kolam, mata merah bersinar, tangan kecilnya menunjuk ke arah bayangan lorong yang samar.
Festival telah usai, surat misterius telah menimbulkan kekacauan kecil yang dicegah, tetapi dunia Arvella akan segera menghadapi ancaman nyata yang jauh lebih besar.