NovelToon NovelToon
Ramadan'S Promise

Ramadan'S Promise

Status: sedang berlangsung
Genre:Persahabatan / Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: ayuwidia

Dilarang memplagiat karya!


"Dia memilih kakakku..." --Hawa--

"Dan aku memilihmu. Bukan karena tidak ada pilihan lain, Hawa. Tapi karena memang hanya kamu yang aku mau." --Ramadan--

Hawa terpaksa menelan kenyataan pahit saat Damar--sahabat sekaligus laki-laki yang dicintainya, justru melamar Hanum--kakak kandungnya.

Di tengah luka yang menganga, hadir Ramadan sebagai penyejuk jiwa. Tak sekadar menawarkan cinta, Ramadan juga menjadi kompas yang menuntun Hawa keluar dari gelapnya kecewa menuju cahaya ketulusan yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 5 Sepertiga Malam

Happy reading

Di keheningan sepertiga malam, Hawa bersimpuh dalam peluk sajadah. Berbincang, merayu, memanjatkan pinta pada Tuhan-nya.

Damai merengkuh, lara yang dirasa luruh bersama tangis.

Beban yang menghimpit batin kini terasa lebih ringan.

Tidak ada amarah, tidak ada kebencian.

Ia berusaha ridho dan ikhlas menerima goresan takdir yang dikehendaki oleh Illahi.

Hawa tersadar bahwa; Damar Aksara... hanyalah satu titik kecil dalam skenario besar Sang Maha Cinta.

Apa yang menurut penglihatannya indah, belum tentu mulia dalam pandangan Allah.

Kini ia belajar melepas dan merelakan. Percaya bahwa saat Allah mematahkan hatinya, sebenarnya Dia sedang menyelamatkannya dari sesuatu yang tidak diingini. Sebab, hanya Allah-lah Al-Alim, yang lebih tahu siapa imam yang benar-benar sanggup menuntunnya ke jalan cahaya.

Pagi turun diiringi tetesan embun.

Seperti biasa, seusai menunaikan ibadah sholat subuh--Hawa bergegas membawa ayunan kakinya menuju dapur untuk membantu Ijah, asisten rumah tangga yang sudah dianggapnya sebagai ibu ke dua.

Ijah menghela napas lega, ada syukur yang membuncah saat melihat raut wajah Hawa kembali bersinar. Dan binar di matanya tak lagi redup tertutup kabut.

Hawa menyapa Ijah dengan nada bicaranya yang ceria, lalu mengambil pisau dan wortel yang sudah disiapkan di atas meja.

"Masak apa pagi ini, Bi?" ia bertanya sambil fokus mengupas wortel.

"Orak-arik telur wortel, mendoan, ayam ungkep, dan sambal tomat, Non. Sesuai permintaan... Non Hanum," jawab Ijah. Ada ragu ketika menyebut nama 'Hanum'.

Hawa meraup udara dalam-dalam, kemudian mengembuskan perlahan. Mengusir rasa tak nyaman yang singgah ketika mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Ijah.

"Non Hawa sudah baikan?" Ijah ganti bertanya. Mengunci atensinya pada Hawa.

Lengkung senyum terbit menghiasi wajah Hawa. Lepas, tanpa dibuat-buat.

"Alhamdulillah udah mendingan, Bi. Berkat saran Rama semalam," ujarnya.

"Kalau Bibi boleh tahu, Mas Rama memberi saran apa, Non?"

"Dia menyarankan supaya aku sujud di sepertiga malam. Menangis dan mengadu pada Allah. Melangitkan semua yang aku mau. Meminta hati yang lapang, ikhlas, dan ridho."

"Masya Allah, sarannya luar biasa, Non. Kelihatan sekali kalau Mas Rama itu pemuda yang dekat dengan Tuhan."

"Iya, Bi. Dia memang religius."

"Bibi jadi ingin berkenalan dan bertemu dengan Mas Rama, Non."

"Mau mengajukan proposal?"

Ijah mengerutkan dahi, menatap Hawa penuh tanya.

"Proposal apa, Non? Bantuan?"

Hawa tertawa kecil sambil menggeleng pelan. "Bukan proposal bantuan, tapi proposal untuk jadi kekasih halal."

"Waaah, kalau itu sih... Non Hawa saja. Bibi mendukung kalau Non Hawa punya suami seperti Mas Rama. Dekat dengan Tuhan dan Insya Allah bisa menuntun Non Hawa menuju jalan cahaya," seru Ijah antusias.

"Nggak, Bi. Aku masih ingin membersihkan hati. Mengusir dia yang terlanjur berdiam. Lagian, aku nggak pantas untuk lelaki seperti Rama." Raut wajah Hawa seketika berubah sendu. Tawanya pudar, berganti muram.

"Kenapa nggak pantas, Non?" Lagi, Ijah bertanya. Menatap lekat manik indah sang nona yang kini terbingkai kaca.

"Bibi kan tahu aku gimana, jauh dari kata anggun apalagi salehah. Beda kelas dengan Kak Hanum yang sopan dan sudah menutup aurat."

"Non, bunga mawar dan bunga melati itu memiliki kecantikan yang berbeda. Seperti halnya Non Hawa dan Non Hanum. Kesalehan bukan cuma soal jilbab, keanggunan, kesopanan, atau tutur kata yang lembut, tapi soal hati yang tahu ke mana harus pulang. Dan hati Non sudah memilih untuk pulang ke Allah lewat sujud di sepertiga malam. Bibi memiliki keyakinan, Mas Rama bukan mencari gadis yang paling salehah, tapi yang paling mau belajar bersama." Ijah mengusap lembut bahu Hawa penuh kasih seusai menuturkan nasehat itu.

Hawa bergeming. Menelaah setiap kata yang mengalir tulus dari bibir Ijah.

Tidak ada lagi obrolan.

Ijah kembali melanjutkan pekerjaannya, memasak menu sarapan pagi untuk keluarga sang majikan.

Tepat pukul enam, semua masakan siap disajikan di atas meja.

Hanum, Janu, dan Gistara muncul dari balik pintu secara bersamaan. Menyapa Hawa dan Ijah sebelum duduk di kursi masing-masing.

"Semalam, kamu tidur lebih awal, Dek?" tanya Hanum, memecah suasana ruang makan yang sesaat hening.

Hawa mengangguk samar. Memaksa bibirnya tersenyum. "Iya, Kak," jawabnya berdusta.

"Maaf ya, Dek. Kakak benar-benar lupa memberi tahu mu soal acara lamaran semalam."

Hawa menghela napas. Sebisa mungkin menahan ledakan emosi. Tetap bersikap tenang, meski rasa sakit yang tadi teredam kini hadir kembali.

"Nggak usah minta maaf, Kak. Semalam, aku ngantuk berat, jadi semisal dilibatkan pun nggak bisa."

Hening kembali hadir mengambil alih. Bukan hening yang tenang, tapi keheningan yang kian mencipta rasa tak nyaman.

"Ayah dan Bunda juga minta maaf ya, Sayang. Kami terbawa suasana sampai terlupa... ada anggota keluarga kita yang belum duduk bersama. Bukan maksud kami untuk membuatmu merasa tak dianggap, Hawa. Sama sekali bukan itu." Gistara turut bersuara, meminta maaf dan coba beri pengertian.

Hawa tersenyum tipis, mengunci atensinya pada Gistara yang tengah menatapnya sendu.

"Bun, nggak ada yang perlu dimaafkan. Hawa nggak pa-pa. Hawa mengerti dan turut bahagia..."

Sakit, sesak, yang dirasa Hawa ketika mengucap kalimat itu. Dan hanya Ijah yang paham. Bukan kedua orang tuanya ataupun Hanum--kakaknya.

Hawa, terbiasa berpura-pura dan memendam, meski benaknya sering kali bertanya; kenapa dia berbeda? Bahkan perlakuan keluarga besar pun seolah memvalidasi. Terlebih, sikap yang sering ditunjukkan oleh ibunda Damar--Maharani.

"Hawa, kamu tidak keberatan kan, sahabatmu Damar menjadi kakak iparmu?" Janu memecah kaca lamun, melontarkan tanya yang membuat dada Hawa semakin sesak.

"Hawa... nggak keberatan, Yah."

Seutas senyum dipaksa terbit sebelum Hawa beralih pada gawai yang disimpannya di saku celana.

Di bawah meja, jemarinya bergetar saat mengetik pesan untuk Rama: Telepon aku sekarang.

Hawa berpikir, ia harus segera pergi sebelum pertahanan dirinya runtuh di tengah ruangan yang kini terasa menghimpit dan menyiksa.

Hanya butuh hitungan detik, pesan yang dikirim Hawa langsung mendapat balasan berupa sebuah panggilan. Rama bergerak cepat.

"Hallo, selamat pagi, Pak Budi. Iya, saya berangkat sekarang." Lagi-lagi Hawa terpaksa berdusta.

Tangannya gemetar ketika mengakhiri telepon. Benaknya merapalkan kata maaf pada Illahi.

Ia tahu yang dilakukannya salah dan tak diberkati. Tapi, hanya ini... satu-satunya cara untuk lari, bernapas, dan menghempas sesak.

"Maaf, Ayah, Bunda, Hawa harus berangkat ke kampus sekarang," pamitnya sambil menunduk dalam, sembunyikan titik-titik embun yang mulai menganak di pelupuk mata.

"Bertemu dosen pembimbing?" Janu menginterupsi. Nada suaranya terdengar seperti sebuah selidik daripada sekadar tanya.

Hawa mengangguk pelan. Memaksa tubuhnya untuk segera beranjak dan menyalami kedua orang tuanya secara bergantian, lantas melangkah pergi membawa luka yang kembali menganga.

🍁🍁🍁

Bersambung

1
Nofi Kahza
iya, rejekinya lebih dari cukup. cukup belikah Hawa gamis segedung-gedungnya🤭
Nofi Kahza
Ram, kamu sengaja ya bikin Hawa pingsan karena salting?🤣
Nofi Kahza
Pak Asep datang sedetik di saat jantung Hawa nyaris copot🤭
Nofi Kahza
mau komen, tapi salfok sama komen kak Naj di atas. itu artinya apa ya?🤭
Nofi Kahza
ciieee... salting ni yeeeee🤣
Nofi Kahza
jantungnya aman kan Rama...🤭🤭
ren_iren
bakal malu setengah hidup itu nanti emaknya hawa😂😂😂
yg dikira perintis ternyata pewaris 😂😂
ren_iren
pelayan warung merapi tp aslinya mas Rama itu pewaris lo... jgn underestimate dulu mas Damar🤭😁😂
Ayuwidia: Tau aja, Kak 😄
total 1 replies
Mila Mulitasari
gimana reaksi bu gistara kalau tahu pemuda yg diremehkan adalah anak sahabatnya sendiri
Ayuwidia: Mungkin syok berat, Kak 😄
total 1 replies
Najwa Aini
uangmu banyak sekali Rama, aslinya...
boleh lah kasih thr kami para pembacamu ini
Ayuwidia: Bukan cuma pembaca yg dikasih, tapi othornya juga 😆
total 1 replies
Najwa Aini
sok kenal pada owner kafe..padahal ya emang kenal banget...
Ayuwidia: Betoel
total 1 replies
Najwa Aini
Nah si Rama kalau udah mode khotbah..Bi .Ijah pun pasti meleyott
Ayuwidia: Penulisnya pun mleyot
total 1 replies
Najwa Aini
Itu sih mobil bapaknya sendiri
Ayuwidia: Tahu ajah
total 1 replies
Najwa Aini
Semuanya nyaman dibaca kok...
upps..belum apa² dah komen
Ayuwidia: Saking nyamannya, yg baca cuma singgah. Nggak mau kenalan sama othornya 😆
total 1 replies
Ririn Rira
Bener kata Rama nggak ada yang nama nya membawa sial.
Ayuwidia: Betoel, Kak
total 1 replies
Nofi Kahza
kapan lagi bisa dicintai cowok keren kayak Rama coba. terima aja cintanya ya Hawa. aku restuin😆
Ayuwidia: Iya, Mak 😆
total 1 replies
Nofi Kahza
setuju sih aku..
Nofi Kahza
mending sudahin semuanya skrg, Damar.
Nofi Kahza
Nah betul. Bi Ijah kok gaul sih cara pikirnya. Nggak kolot kayak ortunya Hawa yg jelas2 lebih berpendidikan👍
Ayuwidia: dipaksa gaul sama othornya 😎
total 1 replies
Nofi Kahza
Bi Ijah tauuuuk aja😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!