Apa yang sebenarnya di maksud dengan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karang Biru Samudera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinner
Meski terlihat tenang dan seperti tak memikirkannya, tapi sebenarnya Luca cukup di buat gelisah dan takut karena Aurora yang tak kunjung memberikan jawabannya. Ingin menanyakannya tapi Luca tak mau membuat Aurora tertekan atau tidak nyaman. Tapi di satu sisi dia juga tak ingin di gantung tanpa kejelasan. Serba salah memang menjadi orang yang menunggu seperti sekarang.
"Woi! Ngelamun aja bro." Tegur Rion yang tiba-tiba datang menepuk bahu Luca mengejutkan.
"Bisa gak sih kalo dateng itu gak pake ngagetin Clarion Luke?" Ucap Luca kesal. Untung saja jantungnya masih baik-baik saja gara-gara kebiasaan Rion yang sejak dulu sama sekali belum berubah.
"Bisa. Kalo lo gak ngelamun." Bukannya meminta maaf, Rion justru tertawa renyah dengan wajah polos tanpa dosanya dan duduk di sebelah Luca.
"Lagian, lo ngelamunin apaan sih? Kesambet lho ntar siang bolong ngelamun." Lanjutnya bertanya penasaran.
"Kepo lo, kayak cewek." Sahut Luca ketus dan justru memasang headset di telinganya.
"Sialan."
"Lo galau karena Aurora belum jawab lamaran lo?" Tanya Rion menebak seraya melepas salah satu headset yang di pakainya dan memasangnya di telinga.
"Gak." Tak sesuai ucapan, Luca justru terlihat salting saat Rion membahas tentang lamarannya pada Aurora.
"Gak usah bo'ong... Lo gelisah kan nungguin jawaban dari Aurora?" Menyenggol sang sahabat dengan lengannya, Rion menaik turunkan alisnya untuk menggoda Luca agar mau jujur terhadapnya.
"Gak sama sekali Clarion... Udah deh, gak usah gangguin gue mulu." Marah terus di goda, Luca merampas headset yang ada di telinga Rion dan memakainya kembali.
"Idih, sensi amat masnya. Kayak cewek lagi PMS lo." Bukannya jera, Rion justru semakin melancarkan serangannya dan tertawa.
"Tenang aja... Percaya sama gue, Aurora pasti nerima lo." Ucap Rion seraya merangkul bahu Luca dan sedikit menggoda.
"Sotoy lo."
"Di kasih tau gak percaya. Liat aja nanti."
Luca bukanlah seseorang yang mudah jatuh cinta. Selama keduanya berteman, ini adalah kali pertama Luca menyukai seseorang dan gadis beruntung itu adalah Aurora.
Awalnya Rion dan ketiga temannya yang lain cukup terkejut karena seorang Luca yang mereka kenal bisa jatuh cinta. Lebih-lebih, gadis itu adalah Aurora yang hampir memiliki sifat dan kepribadian yang sama dengan Luca. Cuek, pendiam, dan acuh dengan keadaan.
Tapi, justru hal itulah yang membuat Rion bahagia saat bisa menggoda Luca seperti sekarang. Karena sang teman sama sekali tak pandai untuk menyembunyikan perasaannya. Untuk masalah percintaan, Luca nol besar ketimbang keempat sahabatnya. Dia sama sekali tak pandai untuk urusan yang satu itu.
"Hey sayang." Sapa Alice dengan senyum sumringah yang tiba-tiba datang mengagetkan keduanya.
"Lho, kok sendiri? Yang lain kemana?" Kaget Rion karena Alice yang hanya datang seorang diri.
"Aline masih ada kelas, Audrey lagi ada kumpulan sama tim basket, Alexa gak tau kemana. Kalo Aurora... Dia tadi pergi di jemput Mamanya. Katanya sih mau belanja bareng buat acara nanti malem." Tutur Alice panjang lebar memberi penjelasan.
"Emang di rumahnya Aurora ada acara apa?"
"Gak tau. Gak sempet nanya juga gak pengen tau. Nanti Aurora juga bakalan cerita dengan sendirinya."
"Ya udah, kamu makan siang sekarang apa nanti?"
Rion meminta sang pacar menghampirinya karena mereka ingin makan siang bersama. Karena tadi sebenarnya Rion yang akan menyusul Alice di kelasnya. Tapi, karena kelas Alice belum selesai, akhirnya mereka membuat janji untuk bertemu di taman kampus saja. Kebetulan, saat tiba di sana Rion tak sengaja melihat Luca yang tengah melamun di salah satu bangku taman di sana. Itu sebabnya kenapa Rion bisa tiba-tiba datang menghampiri Luca seperti tadi.
"Sekarang aja. Aku udah laper."
"Yuk." Bangkit dari duduknya, Rion meraih tangan Alice untuk di genggam.
"Luca gak ikut?" Tanya Alice karena Luca masih bergeming di tempatnya.
"Gue mau ke kantor Bokap buat ngurusin kerjaan di sana."
"Oh.... Good luck ya, bye Luca."
Menatap kepergian dua orang sahabatnya, dalam hati ada rasa iri yang Luca terima. Dia iri karena Rion dan Alice bisa begitu mesra dan saling menyayangi satu sama lain. Bahkan, Rion terlihat begitu menjaga Alice yang notabennya manja, ceplas-ceplos dan sedikit kekanak-kanakan. Sementara Rion sendiri adalah tipekal cowok yang tak suka berbasa-basi dan bertele-tele. Entah bagaimana keduanya bisa saling cocok dan melengkapi satu sama lain.
Tak ingin terlalu larut dengan hubungan mereka, Luca pun bangkit dan pergi dari tempatnya.
***
Di bantu Bi Asih pembantu rumah tangga mereka, Aurora dan sang Mama meletakkan semua belanjaan mereka di atas meja dapur. Selain untuk acara nanti malam, juga karena waktunya pas saat belanja bulanan. Jadi, lumayan banyak dan sedikit merepotkan.
"Ma, kok tumben sih ngajakin keluarganya Om Alex buat makan malem bareng disini lagi?" Tanya Aurora mengambil segelas air dari dispenser lalu meminumnya. Berjam-jam berkeliling membuatnya sangat kehausan.
"Kenapa? Ara ngerasa gak nyaman?" Sahut Nyonya Arin seraya memasukkan bahan-bahan makanan yang memang perlu di simpan ke dalam kulkas dan tidak akan di gunakan sekarang.
"Bukan... Mereka kan pasti sibuk, emang gak ganggu waktu mereka?"
"Justru itu, karena mereka sibuk Mama usahin buat nyari waktu yang pas buat makan malem bareng. Lagian.... Mama sama Tante Agnes itu udah temenan lama benget dan jarang ketemu, kalo gak makan malem bareng, gak bisa ketemu. Susah waktunya."
"Oh.... Terus ini mau masak apa aja?" Meletakkan gelas yang baru saja di pakainya ke dalam wastafel, Aurora mendekati sang ibu yang tengah menyiapkan bahan-bahan untuk memasak.
"Chinese food."
"Oke. Ara bantuin ya Ma, biar cepet selesainya."
"Makasih sayang. Tapi apa kamu gak capek?"
"Capek. Tapi lebih capek Mama kalo gak di bantuin."
"Duh, anak kesayangan Mama pengertian banget. Makasih ya...."
***
Map berwarna coklat yang baru saja di tandatangani menjadi berkas terakhir Luca hari ini. Memberikannya pada sang sekretaris yang sudah menunggu, Luca melihat jam di tangannya, masih ada sedikit waktu untuk dia sejenak beristirahat sebelum berangkat ke rumah Aurora.
Berniat mengecek ponsel ada pesan yang perlu di jawab atau tidak, Luca justru mendapat telpon masuk dari Aurora. Benar-benar kebutuhan yang menyenangkan jiwa.
"Hey, Ra. Kenapa?" Tanya Luca saat menerima panggilan itu.
^^^"Lo dateng ke rumah kan malem ini?" Tanya Aurora di sebrang sana yang baru saja masuk ke dalam kamarnya dan duduk di pinggir ranjang. ^^^
"Iya, ini gue masih di kantor. Bentar lagi jalan ke sana."
^^^"Kalo misalkan gue ngasih jawabannya di depan orang tua lo, lo keberatan gak?" ^^^
Awalnya Aurora sama sekali tak berpikir tentang hal itu, tapi saat dia tahu jika kedua orang tuanya memanggil orang tua Luca untuk makan malam bersama, apa salahnya jika dia sekalian memberikan jawaban atas lamaran Luca waktu itu.
"Gak kok. Justru itu bagus kalo orang tua kita tau. Emang lo sendiri gimana? Lo gak masalah?" Sama sekali tak mempermasalahkannya, Luca justru senang dan setuju jika Aurora benar-benar melakukannya. Itu artinya, tak ada sesuatu yang lagi harus dia sembunyikan dari orang tuanya.
^^^"Gue udah omongin ini sama Mama Papa. Dan Papa juga udah tau kalo cowok yang lamar gue itu lo."^^^
"Seriusan? Terus, reaksi Om Oliver apa?" Kaget bercampur senang, Luca benar tak menyangka jika Aurora akan membicarakan hal itu pada orang tuanya.
^^^"Dia setuju. Tapi kalo Mama gue gak tau."^^^
"Ya udah, liat nanti malem aja gimana tanggepan mereka. Gue harap ini gak ngebuat lo terbebani atau tertekan ya?"
^^^"Sorry ya Ca kalo gue terlalu lama ngasih jawabannya dan terkesan ngegantungin lo."^^^
'Gak papa... Nyantai aja kali. Gue ngerti kok kalo lo emang butuh waktu buat mempertimbangkan semuanya."
^^^"Thanks ya."^^^
"Sama-sama."
Menutup panggilannya, Luca akhirnya bisa melampiaskan kebahagian yang sejak tadi di tahannya dengan senyum lebar juga lompat-lompat kegirangan layaknya anak kecil yang baru saja mendapatkan hadiah mainan.
***
Menikmati makanan yang di sajikan dengan suasana hening sepertinya bukan kebiasaan keluarga Aurora dan Luca. Karena suasana seperti itu justru membuat mereka canggung karena bingung harus bersikap bagaimana.
"Aurora kok tumben sih diem aja, kenapa sayang?" Tanya Nyonya Agnes memecah keheningan diantara mereka.
Walaupun keduanya baru bertemu dua kali ini, tapi kesan pertama Aurora yang ceria, ramah dan banyak bicara sudah terlanjur melekat di hati Nyonya Agnes. Jadi aneh rasanya kalau sejak tadi Aurora hanya diam saja dan menikmati makanannya.
"Gak papa Tante." Jawab Aurora singkat dengan senyum tipis.
Sadar jika ada rasa ketakutan sekaligus bingung yang Aurora rasakan, Luca yang sejak tadi memperhatikan gelagat Aurora pun akhirnya berinisiatif untuk mengambil peran. Ya meskipun tadi Aurora sendiri yang bilang jika dirinya yang akan membicarakan masalah mereka. Tapi tetap saja, rasanya Luca tak bisa hanya diam dan berpangku tangan menanti jawaban dan keputusannya.
Meletakkan sendok dan gapunya, Luca menatap Aurora sekilas yang kebetulan tengah mencuri pandang ke arahnya lalu beralih menatap kedua orang tuanya dan orang tua Aurora bergantian yang tengah menikmati makanan mereka.
"Om, Tante, Pa, Ma. Karena kebetulan kita semua lagi kumpul kayak gini, ada yang pengen Luca omongin sama kalian." Ucapnya pasti tanpa ada keraguan sama sekali.
"Apa itu sayang?" Tanya Nyonya Agnes melirik Luca sekilas sembari memasukkan makanannya ke dalam mulut.
"Hmmm... Sebelumnya Luca minta maaf karena gak ngomongin ini dulu sama Papa Mama. Sebenernya......Luca udah lamar Aurora dari 2 minggu yang lalu."
"Huh??" Kaget mereka bersamaan. Kecuali Tuan Oliver yang memang sudah mengetahuinya.
"Sayang....kamu serius?" Tanya Nyonya Agnes memastikan. Seakan dia masih belum percaya jika apa yang di katakan sang anak memang benar.
"Luca serius Ma. Tapi Aurora belum kasih jawaban apapun sama Luca." Menatap Aurora yang duduk di hadapannya, Luca seolah memberi isyarat agar Aurora berani mengatakan rencananya pada mereka.
"Oh.... Jadi ini kenapa kamu tiba-tiba nanya soal pernikahan sama Mama, sayang?" Ucap Nyonya Arin yang akhirnya mengerti tentang pembicaraan mereka malam itu.
Menghembuskan nafasnya panjang, Aurora mengumpulkan keberanian yang dia punya agar tidak perlu ada yang di tutupi diantara mereka.
"Iya Ma. Rencananya, aku mau kasih jawabannya malem ini. Mumpung ada Om sama Tante juga." Ucap Aurora akhirnya menatap Luca dan kedua orang tuanya bergantian dengan penuh keyakinan.
"Jadi, Aurora terima lamarannya atau gak?" Tanaya Tuan Oliver melepas garpu dan sendoknya lalu meliput kedua tangannya di depan wajah seraya menatap Aurora serius.
"Ara terima Pa."
"Seriusan Ra?" Kaget Luca bahagia sekaligus tak percaya. Tebakan Rion tadi siang tentang hubungan mereka benar rupanya. Aurora menerima lamarannya.
"Kamu serius sayang?" Tanya Nyonya Agnes memastikan.
"Iya, Ara serius Om, Tante, Pa, Ma."
Keputusan menerima lamaran Luca bukan semata-mata karena pendapat sang ayah yang menyetujuinya. Tapi karena Aurora yang sudah berpikir dan mempertimbangkannya matang-matang tentang segala kemungkinan dan resiko yang akan dia dapat kedepannya.
Hanya saja, selain itu semua, ada sesuatu yang masih mengganggu pikiran Aurora hingga kini. Yaitu tentang hatinya yang entah kenapa begitu yakin menerima Luca. Padahal, saat Aurora mendapatkan perasaan yang sama dari Kenzo saat itu hatinya sama sekali tak berkontribusi apa-apa selain rasa kasihan.
Menatap lekat Luca yang duduk di hadapannya, Aurora meletakkan sendok dan garpunya pertanda apa yang akan dia bicarakan adalah sesuatu yang serius.
"Tapi, karena gue belum punya perasaan apapun sama lo sekarang... Kita jalanin dulu aja kayak biasanya gak papa kan? Gue gak pengen kita nantinya justru saling canggung satu sama lain karena ada tuntutan satu sama lain." Ucapnya terdengar tegas namun tetap lembut.
"Gak papa, nyantai aja. Senyamannya lo aja kayak gimana." Tanpa perlu berkompromi apapun lagi, Luca langsung menyetujui syarat yang Aurora berikan. Dengan Aurora menerima lamarannya saja sudah cukup membuat Luca bahagia dan senang.
"Yang penting, tugas dan tanggungjawab masing-masing gak boleh di lupain, itu yang terpenting." Sahut Nyonya Agnes menatap keduanya bergantian memberi pesan.
"Dan satu hal lagi. Dalam suatu hubungan itu saling percaya dan menjaga perasaan adalah kunci utamanya. Jadi, jangan pernah sekali-kali bohong apapun itu alasannya. Lebih baik jujur walaupun itu menyakitkan. Kalian paham?" Timpal Tuan Oliver juga ikut memberi wejangan.
"Iya Om." Sahut Luca tersenyum dan mengangguk.
"Paham Pa." Ucap Aurora juga.
"Terus rencananya mau langsung nikah apa tunangan dulu?" Tanya Tuan Alex tak ingin pembicaraan mereka selesai di sini saja. Harus ada kejelasan dan kepastian agar kedepannya tak ada kesalahpahaman.
"Itu terserah Aurora Pa, aku mah ngikut aja. Yang penting Aurora nya nyaman dan gak ngerasa tertekan." Jawab Luca yang entah kenapa belum menghilangkan senyumannya.
"Kamu gimana sayang?" Tanya Nyonya Arin memastikan.
"Kalo misalkan langsung nikah, Papa sama Mama setuju gak?"
"Papa sama Mama setuju-setuju aja. Tapi.... Yang ngejalanin kan kamu, jadi kamu harus pikirin dan pertimbangin mateng-mateng baiknya gimana. Terutama kuliah kamu kedepannya. Kalo Luca kan bentar lagi lulus, dia pasti udah pikirin itu sebelum dia lamar kamu. Iya kan?"
"Iya Tante." Angguk Luca setuju. Dia memang sudah memikirkan itu lebih dulu sebelum akhirnya memiliki keberanian untuk melamar Aurora.
"Lo masalah gak kalo gue tetep lanjut kuliah sampek lulus terus magang dan jadi Dokter?" Tanya Aurora menatap Luca meminta pendapat.
"Kenapa harus masalah? Justru gue gak akan setuju kalo lo korbanin masa depan lo demi nikah sama gue. Itu kan impian lo. Gue, akan selalu dukung apapun itu keputusan lo dan yang terbaik buat lo. Semua itu balik lagi ke diri lo, lo siap gak sama capeknya atau apapun yang bakalan lo lalui nanti pas kita udah nikah sebelum lo lulus kuliah."
"Kalo misalkan tunangan dulu gimana?" Menatap keempat orang dewasa di sana, Aurora bertanya meminta pendapat.
"Ya gak papa. Om sama Tante juga gak masalah. Sama kayak yang Luca omongin barusan, semuanya terserah Aurora. Aurora nyamannya gimana, ya itu yang di lakuin." Sahut Tuan Alex sama sekali tak menuntut apalagi harus mempercepatnya.
"Bedanya gak tunangan, tunangan, sama langsung nikah apa?"
Tersenyum lembut mendengar pertanyaan sang anak yang menurutnya menggemaskan, Nyonya Arin pun merubah posisi duduknya untuk menghadap Aurora.
Tangan yang menganggur pun dia angkat dan gunakan untuk membelai wajah cantik sang anak seraya menyelipkan anak rambut yang sedikit berantakan ke belakang telinga sebelum mengucapkan penjelasannya.
"Jelas beda dong sayang.... Kalo gak tunangan, itu artinya hubungan kalian bisa berakhir kapan aja. Kalo udah tunangan, kalian berdua punya tanggungjawab untuk saling memahami, menghormati, dan mendukung satu sama lain. Kalo udah nikah, itu artinya hubungan sekali seumur hidup yang diusahakan gak boleh putus apapun masalahnya. Setiap permasalahan yang ada harus di bicarakan bersama dan diambil keputusannya bersama. Tanggungjawabnya lebih besar. Bukan lagi soal kecocokan atau lain sebagainya. Karena kecocokan itu bukan di temukan, tapi diusahakan. Kayak Mama sama Papa." Ucapnya panjang lebar. Berharap Aurora bisa mengerti dan memahami tanpa perlu bertanya lagi.
Dan diamnya Aurora sepertinya menandakan jika sang anak tengah mencerna kata-kata dari sang ibu untuk mengambil keputusan yang tepat.
"Kasih gue waktu buat mikir ya?" Pinta Aurora menatap Luca.
"Pasti. Kapanpun lo siap lo ngomong aja." Balas Luca masih tersenyum. Dia terlihat sama sekali tak masalah asalkan Aurora nyaman dan bahagia.
"Papa bener-bener bangga sama kamu sayang. Kamu hebat." Ucap Tuan Alex tersenyum menatap Luca bangga.
"Makasih Pa."
"Kalian berdua udah sama-sama dewasa dan tau mana yang terbaik mana yang gak. Jadi, kalau ada masalah... Apapun itu, bicarain dengan kepala dingin. Jangan pake emosi." Pesan Nyonya Arin secara tidak langsung mengakhiri pembicaraan serius mereka.
"Iya Ma." Ucap Aurora.
"Siap Tante." Balas Luca.
"Ya udah, di lanjut lagi makannya." Ucap Tuan Oliver kembali mempersilahkan semuanya untuk makan.
"Makanannya enak. Siapa yang masak?" Tanya Tuan Alex basa-basi mencairkan suasana.
"Chef nya dong... Siapa lagi." Sahut Tuan Oliver tersenyum bangga seraya melirik sang istri yang duduk di sebelahnya.
"Di bantuin sama Ara juga." Balas Nyonya Arin tak ingin mengakuinya.
Tersenyum dan saling melempar pandang satu sama lain, mereka pun melanjutkan makan malam dengan obrolan yang lebih ringan di selingi candaan.