NovelToon NovelToon
Benih Yang Tertukar

Benih Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Hamil di luar nikah / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Enemy to Lovers
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Eliana Rovelle

Isabella Harper adalah wanita muda dan mandiri yang tidak pernah kalah dalam perdebatan. Dia merasa hidupnya akhirnya sesuai dengan keinginannya. Dia memiliki pekerjaan yang bagus dan rumah baru yang nyaman. Hidupnya sempurna.

Dia memiliki semua yang diinginkannya kecuali satu hal, seorang bayi.

Karena pengalaman pahit di masa lalu, Bella kesulitan mempercayai laki-laki, sehingga dia tidak punya pilihan lain selain donor sperma.

Lalu apa yang terjadi ketika dia mengetahui bahwa ada kesalahan penempatan, bahwa dia mengandung benih dari pewaris miliarder Rafael Mogensen?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliana Rovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#15. mencapai kesepakatan

“Bagaimana kau bisa masuk ke sini?” tanya Bella terkejut.

Rafael hanya menyilangkan kaki di atas lutut, dan bersandar santai di sofa dengan segelas wiski tergenggam di tangannya.

Dari mana dia mendapatkan minuman itu?

“Aku punya caraku sendiri,” jawab Rafael santai sebelum menyesap wiskinya seolah ia berada di apartemennya sendiri.

Bella menelan ludah. Ia sempat mengira mimpi buruk bersama Rafael telah berakhir. Ia benar-benar percaya pria itu telah menghilang dari hidup mereka. Ternyata tidak.

“Kita belum menyelesaikan pembicaraan kita terakhir kali,” ujar Rafael tenang.

Bella masih berusaha menentukan reaksinya. Haruskah ia marah dan mengusir pria itu sekarang juga? Atau justru merasa takut karena Rafael jelas memiliki akses ke rumahnya?

Tidak ada tanda-tanda pembobolan. Kunci pintu masih utuh. Itu berarti Rafael masuk tanpa merusaknya.

Jika hal ini tidak diselesaikan sekarang, pria itu akan terus kembali.

“Silakan duduk,” kata Rafael sambil mengetuk sofa di sampingnya, seolah-olah dialah pemilik tempat ini.

Bella menahan dorongan untuk membalas dengan kasar. Ia memilih duduk di sofa seberang, dan menatap Rafael dengan tajam.

“Dari mana kau mendapatkan wiski itu?” tanyanya. Aroma alkohol itu jelas tercium.

“Aku membawanya dari rumah,” jawab Rafael singkat.

Ia meletakkan gelasnya di atas meja kopi.

“Kita perlu membicarakan masa depan anak kita,” lanjutnya, “dan bagaimana kita akan mengatur semuanya sampai kau melahirkan.”

Bella merasa tidak nyaman, seolah apa pun rencana yang disusun Rafael, dirinya tidak benar-benar dilibatkan.

“Baik,” kata Bella akhirnya. “Tapi aku ingin kau berhenti muncul tiba-tiba. Kau menggangguku.”

Rafael mengangguk. “Oke. Tapi aku akan sesekali mengecek keadaanmu dan menghadiri semua pemeriksaan yang diperlukan.”

Itu… lebih masuk akal dari yang Bella duga.

“Kedengarannya adil,” jawabnya hati-hati.

Namun ketenangan itu hanya bertahan sesaat.

“Aku ingin kau berhenti bekerja. Fokus saja pada bayiku,” kata Rafael.

Tentu saja. Baru saja Bella merasa ada kemajuan, Rafael kembali menunjukkan siapa dirinya sebenarnya.

“Aku tidak bisa berhenti bekerja begitu saja,” balas Bella tegas. “Itu sumber penghasilanku.”

“Aku akan membayar semua kebutuhanmu. Dan kau akan mendapat bonus besar setelah bayinya lahir.”

Lagi-lagi uang. Rafael selalu mengira uang adalah solusi untuk segalanya. Bella masih sulit mempercayai fakta bahwa pria di hadapannya ini memiliki sebuah maskapai penerbangan.

“Lalu bagaimana dengan kafe milikku? Dan para karyawanku? Kau tidak bisa begitu saja memintaku melakukan itu.” suara Bella meninggi tanpa bisa ditahan.

Rafael menatapnya tanpa ekspresi. “Kau seharusnya bersyukur aku masih mengizinkanmu bertahan di gedung itu selama tiga bulan ke depan.”

Dugaan Bella terbukti. Ia seharusnya tidak terkejut setelah pertemuan mereka sebelumnya. Rafael selalu ingin memastikan semua orang berada di bawah kendalinya, termasuk dirinya.

“Kenapa kau begitu posesif? Kenapa kau tidak bisa membiarkanku sendiri? Ini bukan sesuatu yang kuinginkan.”

Ia harus menenangkan diri. Jika tidak, tubuhnya akan kembali menyerah seperti sebelumnya. Setiap kali Rafael berada di dekatnya, napas Bella terasa lebih berat.

“Aku juga tidak menginginkan ini. Tapi aku akan memastikan tidak ada bahaya yang mendekati anakku.”

Kalimat itu menegaskan bahwa mereka tidak akan pernah sepakat. Setiap pertemuan hanya menambah masalah baru dalam hidup Bella. Mungkin sudah waktunya melibatkan pihak ketiga yang bisa menengahi, jika memang itu masih mungkin.

“Kurasa sebaiknya kau pergi sekarang,” ujar Bella.

“Tapi kita belum selesai,” Rafael menyela. “Kita perlu mencapai kesepakatan. Aku tidak akan pergi sebelum pembicaraan ini selesai.”

“Aku tidak ingin bicara lagi denganmu. Keluar dari rumahku!” bentak Bella. Ia bangkit dari sofa. Kepalanya terasa berat, tubuhnya lelah. Ia hanya ingin berbaring dan memejamkan mata.

“Jika kau masih di sini saat aku kembali,” katanya sambil melangkah pergi, “aku akan menelepon polisi.”

Bella masuk ke kamar tidur tanpa menoleh lagi. Ia tahu Rafael masih memperhatikannya dengan ragu, tetapi ia tidak peduli.

Ia menjatuhkan diri ke atas tempat tidur. Jam di samping ranjang menunjukkan pukul satu lewat seperempat. Bella menutup mata, berharap ketika ia bangun nanti, semua masalah ini akan menghilang.

Biasanya ia hampir tidak pernah tidur siang, tetapi hari itu tubuhnya menyerah begitu saja.

Beberapa jam kemudian, Bella terbangun. Ia merasa gelisah, bolak-balik di atas kasur, mencoba memejamkan mata lagi meskipun sudah tidur hampir tiga jam.

Ia berbaring sambil mendengarkan keheningan apartemen. Tidak ada suara. Pintu kamar tidurnya sedikit terbuka. Mungkin Rafael akhirnya pergi.

Biasanya ia akan merasa lapar dan mencari camilan setiap dua jam, tetapi kali ini perutnya terasa kosong tanpa rasa lapar. Ia berniat menonton film untuk mengalihkan pikirannya.

Bella bangkit perlahan dari tempat tidur, merapikan seprai, lalu menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Langkahnya terasa berat saat ia menyeret kaki menuju ruang tamu.

Dan saat itulah ia melihatnya. Rafael tertidur di sofa. Sepatunya masih terpasang, tubuhnya tampak santai.

Dada Bella mengencang. Apakah pria itu sama sekali tidak mengerti? Ia sudah jelas memintanya pergi.

Bella menghela napas panjang, frustrasi.

Tanpa berkata apa-apa, ia berjalan ke dapur dan mengisi segelas air.

Saat Bella kembali ke ruang tamu, pria itu masih tertidur di sofa, mendengkur pelan, tampak terlalu nyaman di tempat yang sama sekali bukan miliknya. Pemandangan itu justru membuat darah Bella mendidih.

Tanpa ragu, ia menyiramkan air ke wajah Rafael.

“Apa-apaan ini!” teriak Rafael sambil tersentak bangun dan jelas kesal.

“Aku sudah memperingatkanmu,” bentak Bella, suaranya bergetar oleh kemarahan. “Aku bilang aku ingin kau keluar dari rumahku!”

Rafael menyeka wajahnya dengan punggung tangan, lalu duduk tegak. Tatapannya tajam.

“Aku juga sudah bilang aku tidak akan pergi sebelum kita selesai berdiskusi,” balasnya datar.

“Kalau kau tidak pergi sekarang juga, aku akan menelepon polisi,” ancam Bella.

Rafael menyeringai, senyum yang membuat perut Bella terasa mual. “Aku tantang kau,”

Jelas sekali dia mengira Bella sedang menggertak. Pertama dia menerobos masuk ke rumahnya, dan sekarang dia menantangnya secara terang-terangan.

Bella melipat kedua tangannya dan menunggu beberapa detik, memberinya kesempatan terakhir. Rafael tetap duduk, menatapnya dengan ekspresi menantang, sama sekali tidak bergerak.

“Itu kesempatan terakhirmu,” ucap Bella dingin. Ia berbalik menuju kamar tidur, mengambil ponselnya, lalu kembali ke ruang tamu sambil menekan nomor darurat.

“9-1-1, ada keadaan darurat apa?” suara seorang operator perempuan menjawab dengan tenang.

“Ada seseorang yang membobol rumah saya dan sekarang menolak untuk pergi,” kata Bella. Ia berusaha terdengar setakut mungkin, meski jantungnya berdetak keras.

Selama ia berbicara dengan operator, seringai di wajah Rafael tak pernah pudar.

Bella menyebutkan alamat lengkap dan nomor apartemennya.

Rafael mungkin masih mengira ini hanya sandiwara. Bella justru berharap sebaliknya. Jika pria itu harus menghabiskan waktu di sel, setidaknya satu masalah besar bisa dicoret dari hidupnya.

Lima belas menit kemudian, ketukan keras terdengar di pintu.

Bella dan Rafael saling bertatapan dalam keheningan tegang sebelum Bella bangkit membuka pintu.

Tiga petugas polisi berdiri di depan apartemen, dua pria dan satu wanita.

“Dia ada di ruang tamu saya,” kata Bella. Kali ini emosinya terasa nyata, bahkan baginya sendiri.

Ia menutup pintu setelah para petugas masuk dan memimpin mereka menuju ruang tamu.

Rafael masih duduk di sofa dengan tenang.

“Itu dia,” ujar Bella sambil menunjuk ke arahnya.

Para petugas polisi berdiri diam, seolah tengah menilai situasi di hadapan mereka.

Bella menatap mereka dengan bingung.

Mengapa mereka tidak melakukan apa pun?

“Tuan Mogensen,” akhirnya salah satu petugas pria berbicara. Ia melepas topinya, dan membungkuk—gestur yang tampak seperti penghormatan.

“Merupakan suatu kehormatan bertemu dengan Anda, Pak,” lanjutnya.

Alih-alih menangkap pria itu, situasinya justru terasa seperti pertemuan sosial.

“Kalian seharusnya menangkapnya!” bentak Bella, suaranya bergetar oleh ketidakpercayaan.

Rafael tertawa terbahak-bahak, terdengar santai, seolah semua ini hanyalah hiburan baginya.

“Saya yakin Tuan Mogensen tidak menimbulkan masalah apa pun di sini,” ujar petugas pria lainnya.

Bella terpaku. Apa yang sebenarnya sedang terjadi?

“Anak saya sangat mengagumi Anda, Pak,” kata petugas wanita itu. “Dia ingin menjadi seperti Anda.”

Bella mengernyit.

“Dia bercita-cita menjadi pilot dan menerbangkan salah satu pesawat Anda,” lanjutnya dengan senyum kecil.

Saat itulah semuanya terasa masuk akal.

Rafael benar-benar memiliki maskapai penerbangan.

Bella sadar ia telah meremehkan kekuatan pria itu. Pengaruhnya jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. Ia bisa mengendalikan hampir semua orang, tetapi Bella bertekad, pria itu tidak akan pernah mengendalikannya.

“Putra Anda sebaiknya menghubungi saya,” kata Rafael tenang. “Saya bisa memberinya tur pribadi untuk melihat pesawat-pesawat terbaik kami.”

“Itu akan luar biasa, Pak,” jawab petugas wanita itu antusias.

Jika Bella tidak mengetahui apa pun, ia mungkin akan mengira pipi petugas itu memerah karena kagum. Ia menyadari kini betapa naifnya dirinya, bahkan tidak terpikir untuk mencari tahu siapa sebenarnya pria itu setelah mengetahui bahwa dia adalah ayah dari bayinya.

“Sebaiknya kami pergi sekarang,” kata salah satu petugas pria. “Kami tidak ingin terus mengganggu Anda, Pak.”

Rafael tersenyum tipis.

“Sampai jumpa, Pak,” ucap petugas wanita itu dengan nada genit sebelum berbalik pergi.

“Pastikan atasan kalian menerima rekomendasi yang sangat baik tentang kinerja kalian hari ini,” ujar Rafael menyusul mereka.

Bella berdiri membeku, tak mampu berkata apa-apa. Tak lama kemudian, pintu depan apartemennya tertutup.

“Bagaimana kau bisa melakukan itu?” tanya Bella akhirnya. Ia masih terkejut oleh apa yang baru saja terjadi.

“Aku sesekali memberikan sumbangan dalam jumlah besar kepada departemen kepolisian,” jawab Rafael ringan. “Tidak perlu membuat segalanya sulit. Aku punya jauh lebih banyak koneksi daripada yang kau kira.”

Ia berdiri dari sofa.

“Ini terakhir kalinya aku memintamu dengan baik. Aku ingin kau berhenti bekerja. Jika tidak, aku akan memastikan kau tidak mendapatkan satu pelanggan pun lagi.”

Bella menatap dadanya dengan amarah yang membara. Rafael menepuk punggungnya sekilas, lalu melangkah keluar.

Pintu apartemen kembali tertutup. Bella mengembuskan napas tajam. Pria itu jauh lebih posesif dan berbahaya dari yang ia bayangkan.

Namun satu hal yang pasti, ia akan memastikan Rafael tidak pernah mendapatkan apa yang diinginkannya, bahkan jika itu harus menjadi hal terakhir yang ia lakukan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!