NovelToon NovelToon
Rumah Yang Tenang Untuk Pulang

Rumah Yang Tenang Untuk Pulang

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Murni / Mengubah Takdir
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aizu1211

Hidup Alya sebagai sandwich generation bagi dua orang tua yang sakit, bagi keluarga yang bergantung, dan bagi dirinya sendiri yang jarang diberi ruang untuk lelah. Di usia seperempat abad lebih, ia belajar bertahan tanpa berharap apapun.
Hingga seorang pria datang dan mengubah pola hidupnya, Reyhan. Hanya dengan kehadiran yang tenang dan kesediaan untuk tinggal, bahkan saat hidup Alya terlalu rumit untuk diringkas dengan kata cinta.
Dalam pernikahan yang dewasa dan tidak ideal, Alya perlahan belajar bahwa menjadi kuat tidak berarti harus sendirian. Bahwa bersandar bukan kelemahan. Dan bahwa cinta, kadang, tidak datang untuk menghapus beban, melainkan untuk menopangnya bersama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aizu1211, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 15

Hari itu dimulai dengan perasaan lega, setelah semalam ia sempat deep talk dengan adiknya tentang ketakutan, kegelisahan dan kesedihan mereka sebagai kakak adik yang sumber cahayanya hampir redup karena sakit.

Mereka saling berjanji untuk biasa saja demi menjaga kondisi kedua orang tua mereka yang belum sepenuhnya pulih.

Alya masih dalam mode liburnya, dengan rambut di cepol asal-asalan, menggunakan kaos dan celana training, ia sudah siap mode tempur.

Masih pagi tapi kakak adik itu sudah saling bahu membahu mengerjakan pekerjaan rumah yang sering terlewat ketika orangtua mereka masih di rumah sakit.

Tidak ada saling iri, semua sibuk pada pekerjaan masing-masing.

Rumah itu tampak sibuk di pagi ini, suara mesin cuci, suara air mendidih dan suara radio untuk sekedar menemani mereka.

Mama mereka bangun dan pergi ke dapur, “Kalian kok sudah bangun?” Alya dan Viko berhenti sejenak, menoleh pada sumber suara.

“Iya ma, mumpung libur” jawab Alya sembari kembali mengaduk masakannya.

“Aku juga mumpung gak ngapa-ngapain Ma” ucap Viko yang akhirnya menimpali.

Diam-diam mamanya merasa terharu, ia tahu ini semua karena kondisinya, penyakitnya yang membuat anak-anak itu khawatir, mungkin juga takut, karena penyakit kedua orang tuanya.

Lama tak ada suara, Alya kembali menengok mamanya yang masih berdiri di pintu dapur, diam-diam air mata itu jatuh.

Alya menghentikan kegiatannya, menghampiri mamanya yang kini terkesiap dan buru-buru menghapus air matanya.

“Mama kenapa?”

“Nggak, mama gak apa-apa” tidak perlu dijelaskan Alya paham apa yang terjadi disini.

“Mama istirahat dulu ya, sebentar lagi masakannya matang Alya panggil untuk sarapan bersama” mama menurut dan kembali ke kamarnya.

Langkah kakinya pelan, seolah takut membuat suara yang terlalu keras. Pintu kamar tertutup perlahan, meninggalkan dapur dengan aroma tumisan yang mulai matang. Alya menatap pintu itu sebentar lebih lama dari seharusnya, lalu menghela napas pelan. Ada sesuatu yang mengendap di dadanya—bukan sedih, bukan pula lega sepenuhnya. Lebih seperti campuran keduanya, perasaan yang sulit diberi nama.

“Ma masih capek,” ucap Viko pelan tanpa menoleh. Tangannya sibuk merapikan piring di rak.

“Iya,” jawab Alya singkat. “Masih harus belajar pelan-pelan.”

Mereka kembali pada aktivitas masing-masing. Tidak ada lagi percakapan. Tapi hening di antara mereka tidak canggung. Hening itu justru terasa seperti ruang aman—tempat mereka bisa bernapas tanpa harus menjelaskan apa pun.

Radio kecil di sudut dapur memutar lagu lama, entah lagu apa, Alya tidak terlalu memperhatikan. Yang ia dengar hanya denting sendok, gemericik air, dan suara mesin cuci yang berputar dari belakang rumah. Rumah itu kembali hidup. Tidak bising, tapi bernapas.

Beberapa hari lalu, rumah ini hanya berisi kekhawatiran yang menggantung di udara. Setiap sudutnya terasa dingin, bahkan ketika matahari masuk lewat jendela. Kini, rumah itu masih sama—tembok yang sama, lantai yang sama—tetapi rasanya berbeda. Lebih rapuh, mungkin. Namun juga lebih jujur.

Sarapan mereka sederhana. Nasi hangat, tumis sayur, telur dadar yang agak gosong di pinggirnya. Alya sengaja membuat porsi kecil. Dokter berpesan agar Mama dan Papa makan sedikit-sedikit dulu. Tidak boleh memaksa tubuh yang baru saja kembali dari perjuangan.

Papa keluar kamar lebih belakangan. Jalannya masih sedikit tertatih, tapi wajahnya tampak lebih segar dibanding beberapa hari lalu. Ia tersenyum ketika melihat meja makan sudah tertata.

“Wah,” katanya, suaranya masih serak. “Kayak hotel.”

Viko terkekeh kecil. “Hotel bintang satu.”

Papa tertawa pelan, lalu duduk perlahan. Mama menyusul, wajahnya pucat tapi senyumnya utuh. Alya memperhatikan setiap gerakan mereka—cara Mama duduk lebih hati-hati, cara Papa mengatur napas sebelum mengambil sendok. Semua hal kecil yang dulu tak pernah ia pikirkan, kini terasa penting.

Mereka makan dengan tempo lambat. Tidak ada yang terburu-buru. Tidak ada yang memaksa obrolan. Sesekali Papa bertanya soal hal sepele, Mama menimpali dengan candaan ringan. Alya dan Viko menjawab seperlunya.

Rutinitas kembali, Alya menyadari itu. Tapi rutinitas ini punya irama baru. Lebih pelan. Lebih berhati-hati. Seolah semua orang sepakat, tanpa diucapkan, bahwa hari ini bukan tentang mengejar apa pun—hanya tentang bertahan dengan baik.

Setelah sarapan, Mama kembali ke kamar untuk beristirahat. Papa duduk di ruang tengah, menyalakan televisi meski matanya tidak benar-benar menonton. Alya membersihkan meja, Viko mencuci piring. Mereka bergerak otomatis, seperti sudah menghafal perannya masing-masing.

“Aku keluar bentar ya,” kata Viko sambil mengelap tangannya. “Mau beli buah sama obat.”

Alya mengangguk. “Hati-hati.”

Pintu depan tertutup. Alya berdiri sendiri di dapur. Untuk pertama kalinya pagi itu, ia benar-benar sendirian. Ia bersandar di meja, membiarkan kelelahan yang tertahan sejak beberapa hari lalu merambat naik. Bukan lelah fisik semata, tapi lelah karena terus berjaga, terus waspada, terus takut kehilangan.

Ia menarik napas panjang. Lalu satu lagi.

Tidak apa-apa, katanya pada diri sendiri. Pelan-pelan juga boleh.

Siang datang tanpa banyak kejadian. Matahari naik perlahan, menyinari ruang tengah. Papa tertidur di kursi, televisi masih menyala dengan volume kecil. Alya mematikan suara itu, menutup jendela sedikit agar cahaya tidak terlalu terang.

Ia duduk di lantai, bersandar pada sofa, membuka ponselnya. Beberapa pesan kerja masuk, sebagian belum ia balas, ia membaca satu per satu, jantungnya sedikit berdebar. Dunia luar sudah mulai memanggilnya kembali.

Ia membalas seperlunya. Tidak langsung janji apa pun. Untuk pertama kalinya, Alya tidak merasa bersalah karena memilih menunda.

Sore hari, Viko mengajak Mama duduk sebentar di teras. Udara tidak terlalu panas. Mama mengenakan cardigan tipis, rambutnya disanggul sederhana. Alya memperhatikan dari kejauhan. Ada kebahagiaan kecil melihat Mama tertawa ringan, meski hanya sebentar.

“Kakak capek?” tanya Viko ketika Alya ikut duduk.

“Capek,” jawab Alya jujur. “Tapi bukan capek yang mau menyerah.”

Viko mengangguk. “Aku juga.”

Mereka duduk berdampingan, menatap jalan depan rumah. Anak-anak kecil bersepeda, seorang ibu lewat sambil membawa belanjaan. Dunia berjalan seperti biasa. Seolah rumah mereka tidak pernah hampir runtuh. Seolah ketakutan beberapa hari lalu hanya mimpi buruk.

“Lucu ya,” ujar Alya pelan. “Dunia nggak pernah berhenti.”

“Iya,” sahut Viko. “Dan mungkin memang nggak harus.”

Menjelang malam, Mama dan Papa sudah kembali ke kamar. Alya dan Viko menyiapkan makan malam sederhana. Tidak banyak bicara, tapi sesekali tertawa kecil karena hal remeh—pisau yang jatuh, bumbu yang hampir tumpah.

Makan malam itu hening, tapi hangat.

Setelah semuanya selesai, Alya dan Viko duduk di ruang tengah. Lampu temaram. Kipas angin berputar pelan.

“Kak,” kata Viko tiba-tiba. “Kalau nanti semuanya benar-benar normal lagi… kamu bakal kangen nggak sama hari-hari kayak gini?”

Alya terdiam. Pertanyaan itu menggantung di udara.

“Mungkin,” jawabnya akhirnya. “Bukan karena capeknya. Tapi karena kita benar-benar bareng.”

Viko tersenyum kecil. “Iya.”

Malam itu, Alya masuk ke kamar dengan langkah ringan. Ia merebahkan diri, menatap langit-langit. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, dadanya tidak sesak. Masih ada takut. Masih ada kemungkinan buruk. Tapi malam ini, ia memilih percaya pada ketenangan yang ada.

Rutinitas kembali. Tidak sempurna. Tidak cepat. Tapi nyata.

Dan untuk saat ini, itu sudah lebih dari cukup.

TBC

1
Yuni Ngsih
Authooooor ku lg asyik baca dipotong sedih ,karena ceritra ini ada contoh" fakta dlm pek sbg PNS...ok
Elvia Rusdi
Thor. ..Baru Nemu nih karya mu Thor...marathon baca sampui bab trakhir up...baru 4 bab...cerita nya bagus .
Yuni Ngsih
Aùthooor ceritramu kreeeeen banget ,nah itulah seorang PNS yg tanggung jawab terhadap pekerjaan & klwrga hebat peran utamanya Aliya ...mencerminkan anak yg berbakti ,jd bisa menjadi contoh " bg pmbaca kawula muda ....semangat ....& lanjut Thor...ok
Adhiefhaz Fhatim
😍
Adhiefhaz Fhatim
lanjut kk...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!