Mereka bersama hanya sebentar, namun ingatan tentang sang mantan selalu memenuhi pikirannya, bahkan sosok mantan mampu menembus alam mimpi dengan membawa kenangan-kenangan manis ketika masa-masa sekolah dan saat mereka menjalin kasih.
Pie meneruskan hidupnya dengan teror mimpi dari sang kekasih. Apakah Pie masih mencintai sang mantan? Atau hati Pie memang hanya terpaku pada Kim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelatihan
Hari berlalu minggu, pesan Pie tak Kim balas. Pie memilih menghapus status hubungannya di facebook dan mengubah setting akunnya menjadi privasi. Agar Kim tak bisa seenaknya mengubah profil akunnya tanpa seizin Pie.
Semester dua kelas satu, Pie kembali menjalin hubungan dengan seseorang yang baru saja lulus dari SMA tersebut.
Ia baru menjalin hubungan beberapa minggu namun sepertinya Pie membuat kesalahan. Dirinya berteman dengan dua laki-laki yang bersahabat dan mereka menyukai Pie. Namun, Pie malah berpacaran dengan salah satunya.
"Kita putus saja, Kak."
"Ada apa, Sayang? Kita tak ada masalah apapun."
"Hanya ingin fokus sekolah."
"Benarkah? Kau ada pria lain?"
"Tidak. Kakak tahu aku tak diperbolehkan berpacaran untuk saat ini."
Pie pintar mencari alasan agar terbebas dari dua sahabat itu. Ia memutuskan komunikasi dari mereka berdua agar perasaannya lebih baik.
Fang, kini mantannya itu sudah jarang mengiriminya pesan. Pie berpikir, mungkin Fang sudah sadar dan menemukan kekasih baru.
"Kau sudah mendengar tentang Caca?"
Caca tak ada kabar selama dua minggu setelah semester dua dimulai.
Awalnya Pie berpikir Caca menikmati liburan semester di kampung halamannya yang berada di luar pulau. Namun, kali ini perasaannya tak enak. Nomor, akun facebook Caca pun sudah tak aktif beberapa hari.
Ezti tak menemukan kabar apapun. Begitu juga Pie.
"Apa dia pindah sekolah?"
"Tapi kenapa tidak pamit pada kita?" Pie merasa sedih kehilangan Caca, sahabat gendutnya itu.
"Apa dia ada masalah di keluarganya?"
"Kau bertanya padaku, lalu aku bertanya pada siapa? Di sini hanya dia yang kita kenal. Keluarganya aku bahkan tak tahu yang mana."
"Hehe, sudah. Jangan sedih, Pie. Masih ada aku." Ezti tersenyum kecil menenangkan sahabatnya.
"Kau kan ingin menikahi pacarmu itu. Jadi aku akan sendirian. Kalian berdua jahat sekali." Bibir Pie mengerucut.
"Astaga, aku hanya bercanda, Pie. Mana mungkin aku putus sekolah demi menikah muda? Bisa digantung oleh ayahku."
"Tidak tahu." Pie menjawab asal.
Waktu berlalu dengan cepat. Pie naik ke kelas dua memilih jurusan IPA sedangkan Ezti jurusan IPS yang terkenal para siswa pemalas dan berandal.
Mereka tak lagi akrab karena waktu yang tersita dengan tugas-tugas jurusan IPA yang setiap hari bertambah. Membuat Pie memiliki teman baru.
Ada satu siswa yang membuat Pie berdegub kencang ketika awal ajaran baru.
Laki-laki yang sesuai dengan tipe Pie. Namun, siswa tersebut seperti sadar atau tidak dengan sikap Pie yang berbeda.
Pie menahan rasa sukanya, menyembunyikannya seorang diri tanpa ada yang tahu. Ia malu untuk mengungkapkannya, takut jika terjadi penolakan dan hal memalukan yang ia terima dari teman-teman sekelasnya.
"Bagaimana jika main ke rumahku? Kita buat tugas Fisika sekarang saja." Usul Rayu ketika pulang lebih cepat dari biasanya.
"Aku OKE. Kalian bagaimana?" Yetti bersemangat mendengar hal tersebut.
"Aku setuju."
"Aku oke."
"Bagaimana dengan kau, Pie?"
Pie yang sedang membereskan buku-buku menoleh ke arah teman-temannya.
"Umm.. baiklah."
"Let's gooo..."
Rumah Rayu yang rapi dan bersih membuat Pie kagum dan betah di sana. Suasananya juga sejuk, sangat berbeda dengan rumah Pie yang masih dalam tahap pembangunan.
"Pie, kau punya pulpen? Aku pinjam satu, boleh?" Zal menghampiri Pie yang saat itu sedang duduk menunggu teman-temannya.
"Oh, ada. Ini, pakailah." Pie memberikan satu pulpen pada Zal. Murid yang ia sukai. Secara kebetulan, Zal seringkali berkumpul dengan geng Pie (Rayu, Yetti, Okta, Ind)
"Thanks, Pie. Kau sangat baik hati." Zal mengerlingkan matanya dan berlalu ke meja yang ada di bagian belakang barisan.
"Apa yang kau lakukan?" Pesan masuk dari Ef, teman virtual Pie yang beberapa minggu belakang aktif mengobrol.
"Sedang menunggu temanku."
"Kau sudah sarapan, Pie?"
"Sudah. Apa yang kau lakukan, Ef?"
"Aku sedang mengobrol denganmu."
"Kau akan pergi bekerja?"
"Ya, nanti. Aku baru saja bangun. Hehe"
"Ah, begitu."
"Pie, nanti malam aku akan meneleponmu."
"Kenapa tidak mengirim pesan saja?"
"Aku ingin mendengar suaramu, Pie."
Kelas dua semester satu yang sangat sibuk bagi Pie. Setiap minggunya dia harus pergi belajar kelompok untuk membuat makalah. Namun kesibukan seperti itu membuat Pie senang karena bisa sekaligus keluar untuk bermain bersama teman-temannya.
"Pie, aku mendapatkan kabar Caca." Pesan dari Ezti saat sore hari membuat Pie berhenti menulis catatan.
Ia segera melakukan panggilan telepon pada Ezti.
"Apa yang kau dapatkan Ez? Di mana dia?"
"Dia pulang ke kampung halamannya, menikah."
"Kau dapat dari mana kabar itu?"
"Aku dapat dari sumber terpercaya."
Pie terkejut mendengar kabar Caca, sahabatnya yang hilang kontak beberapa bulan lalu.
"Apa dia tidak akan kembali ke sini lagi?"
"Kurasa tidak, Pie."
"Ah, begitu. Apa kau mempunyai kontaknya?"
"Tidak punya. Tapi ku sarankan kau tak perlu menghubunginya lagi. Kita anggap tak saling kenal."
"Kenapa begitu?"
"Karena dia ingin dianggap begitu, Pie."
Pie masih tak mengerti, ia mengakhiri telepon dan berpikir sejenak.
"Pie, apa kabar?"
Fang kembali mengirim pesan pada Pie setelah berbulan-bulan hilang kabar.
Saat itu Pie sedang mengikuti latihan persiapan untuk ujian. Meskipun baru kelas dua, namun seluruh siswa kelas XI baik SMK maupun SMA diwajibkan mengikuti latihan persiapan ujian nasional.
Mereka dikumpulkan di gedung serba guna yang berada di wilayah Kecamatan.
"Hei! Itu yang mengobrol tolong kunci dulu mulutnya ya, ayo kita fokus pada materi kali ini." Suara intruksi sang pelatih melalui speaker memenuhi ruangan serba guna yang luas dan penuh dengan siswa kelas XI.
"Kupikir kita akan menjawab soal-soal rumit. Ternyata Kakak Dea mengajari kita trik-trik untuk mengasah otak kita." Yetti berujar saat waktu istirahat.
"Betul. Aku sudah merasa pusing tapi setelah mengikuti latihan ini sangat seru. Kita seperti bermain sambil belajar." Sambung Okta.
Pie hanya mengangguk, sedang Rayu hanya tersenyum antusias mendengar teman lain berbicara.
Waktu latihan memangkas jam belajar mereka di sekolah. Panitia latihan mengumumkan agar semua siswa kelas XI dapat berhadir di lapangan Mr. X pada minggu depan. Mereka akan dikumpulkan bersama dengan seluruh siswa kelas XI dari SMK, SMA di Kabupaten.
Pie tak sabar untuk minggu depan, ia sangat antusias terhadap latihan kali ini.
"Apa kau berani ke sana? Bagaimana jika ada razia, kau belum mempunyai SIM." Mama tampak khawatir dengan Pie.
"Aku berani, Ma. Lagipula kami akan rombongan dan bebas razia."
"Benar begitu?"
"Ya, Ma. Panitia bertanggung jawab jika ada masalah terhadap para murid."
"Baiklah, kau harus hati-hati di sana. Jangan sampai terpisah dengan rombongan. Kalau ada apa-apa telepon ayah."
Pie mengangguk mantap. Ia bersyukur mempunyai orang tua yang selalu mendukung apapun tentang pendidikannya. Pie juga sadar diri dengan kemampuan orang tuanya.