Alana, seorang wanita yang sedang memulihkan luka hati, mengasingkan diri ke rumah tua peninggalan kakeknya di puncak bukit terpencil. Kehidupannya yang sunyi berubah sejak ia menemukan surat-surat misterius bertinta perak di dalam sebuah kotak pos kuno yang konon hanya menerima kiriman "dari langit".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Cermin Retak di Cakrawala
Pesan merah tembaga dari Alana membelah malam Navasari dengan presisi sebuah belati. Di balkon mercusuar, gelas berisi cairan bening itu sudah menyentuh bibir Elian. Dinginnya kaca terasa kontras dengan keringat dingin yang mengucur di tengkuknya. Namun, tepat pada detik itu, lensa kristal pada alat deodolit di sampingnya berpijar ungu tajam, memantulkan pola rasi Cygnus yang terputus di bagian leher sebuah tanda kematian.
Elian tersentak. Ia melihat pantulan wajah Martha di permukaan air di dalam gelasnya. Wajah tua yang ramah itu, melalui pantulan air, tampak seperti topeng yang retak.
"Kenapa, Elian? Kau tidak haus?" tanya Martha, suaranya tetap lembut, namun matanya tidak lepas dari gelas itu.
Elian menurunkan gelasnya perlahan. "Saya baru ingat, Alana pernah bilang bahwa di tempat ini, air bisa menjadi musuh jika diberikan oleh tangan yang salah."
Senyum Martha memudar. Kesunyian yang tercipta di puncak mercusuar itu mendadak menjadi sangat tajam. "Gadis itu... dia belajar terlalu cepat. Surya pasti bangga, atau mungkin dia sedang gemetar di kuburannya."
Martha berdiri, jubah abu-abunya berkibar tertiup angin gunung yang kencang. Ia menatap ke arah langit, tepat ke titik di mana kapsul Navigasi Langit berada, seolah-olah ia bisa melihat menembus lapisan dimensi. "Alana! Aku tahu kau mendengarku!" teriak Martha ke arah kekosongan. "Kau pikir kau bisa menyelamatkannya dengan kata-kata indah? Kau hanya pengecut yang bersembunyi di balik awan sementara orang-orang di sini menanggung beban dosamu!"
Di Dalam Navigasi Langit
Alana tersentak mundur dari layar sensor. Suara Martha merambat melalui frekuensi kapsul, terdengar kasar dan penuh kebencian.
"Dia tahu kita di sini, Arlo!" bisik Alana panik.
Arlo sedang berjuang mempertahankan stabilitas kapsul. "Dia tidak hanya tahu, Alana. Dia sedang mencoba melakukan Sinkronisasi Paksa. Dia ingin menarik kapsul ini turun dengan menggunakan Elian sebagai jangkar biologis!"
Di layar, Alana melihat Martha mengeluarkan sebuah perangkat kecil berbentuk cakram hitam dari balik jubahnya. Begitu alat itu dinyalakan, pilar cahaya emas mercusuar berubah warna menjadi merah darah. Elian berlutut di lantai, memegangi kepalanya yang seolah meledak karena tekanan frekuensi yang luar biasa.
"Berhenti! Kau akan membunuhnya!" Alana berteriak, air mata keputusasaan membanjiri wajahnya.
"Maka turunlah, Alana!" suara Martha menggema di dalam kapsul. "Serahkan kunci otoritasmu! Berikan padaku apa yang dicuri kakekmu lima puluh tahun yang lalu, dan aku akan melepaskan temanmu!"
Arlo memandang Alana dengan tatapan yang menyayat hati. "Jangan lakukan itu, Alana. Jika kau menyerahkan otoritasmu pada Martha, dia tidak akan menyelamatkan bumi. Dia akan menggunakan frekuensi ini untuk menghapus memori seluruh manusia tentang cinta dan harapan. Dia menyebutnya sebagai 'Pembersihan Besar'. Bagi dia, perasaan adalah kelemahan yang menyebabkan pengkhianatan."
Alana menatap Elian yang sedang menderita di bawah sana, lalu menatap Arlo yang selama ini menjadi satu-satunya alasannya untuk tetap bertahan. Ia terjebak dalam dilema yang mustahil: menyelamatkan sahabatnya atau menyelamatkan esensi dari kemanusiaan itu sendiri.
"Ada jalan ketiga," kata Alana tiba-tiba. Suaranya mendadak tenang, sebuah ketenangan yang muncul dari titik terendah keputusasaan.
"Apa maksudmu?" tanya Arlo cemas.
"Jika surat bisa membawa harapan, maka surat juga bisa membawa kehancuran bagi mereka yang menyalahgunakannya. Arlo, buka jalur komunikasi terbuka. Aku tidak akan mengirim sandi lagi. Aku akan mengirimkan 'Surat Terakhir'."
Alana mengambil pena kristalnya. Kali ini, ia tidak menusuk jarinya. Ia meletakkan tangannya di atas membran bening dan membiarkan seluruh ingatan buruknya skandal di Jakarta, pengkhianatan kakeknya, rasa kesepiannya mengalir masuk ke dalam tinta. Ia tidak sedang menenun cahaya; ia sedang mengumpulkan badai.
"Alana, jangan! Itu bisa menghancurkan jiwamu!" Arlo mencoba mencegahnya, namun sebuah perisai energi transparan kini melindungi meja tulis Alana. Otoritas Alana sebagai pewaris Surya telah bangkit sepenuhnya.
Alana menulis satu kalimat tunggal yang bergetar dengan energi hitam dan putih yang menyatu:
"Untuk Martha: Langit tidak menyimpan dendam, ia hanya memantulkan apa yang kau bawa. Jika kau membawa api, maka terbakarlah."
Ia meluncurkan pesan itu. Bukannya menjadi berkas cahaya perak, pesan itu meluncur seperti lubang hitam kecil yang melesat menembus atmosfer.
Di puncak mercusuar, Martha melihat sebuah titik hitam jatuh dari langit. Ia tersenyum kemenangan, mengira itu adalah kode otoritas yang ia inginkan. Ia merentangkan tangannya untuk menangkap pesan itu.
Namun, saat pesan itu menyentuh telapak tangannya, tidak ada kekuatan yang ia terima. Sebaliknya, seluruh kenangan pahit Martha pengkhianatan Surya, rasa sakit saat tertangkap, kebenciannya selama lima puluh tahun meledak kembali ke dalam dirinya dengan kekuatan seribu kali lipat. Martha menjerit. Ia tidak kuat menahan beban emosinya sendiri yang dipantulkan kembali oleh pesan Alana.
Alat cakram hitam di tangannya hancur menjadi debu. Pilar cahaya merah mercusuar padam, kembali menjadi emas yang tenang. Elian terengah-engah, namun tekanan di kepalanya menghilang.
Martha jatuh terduduk, matanya kosong, jiwanya hancur oleh beratnya dendam yang ia pelihara sendiri. Ia masih hidup, namun ia kini terperangkap dalam penjara memorinya sendiri.
Di dalam kapsul, Alana jatuh pingsan ke pelukan Arlo. Cahaya di dalam Navigasi Langit meredup drastis. Alana telah memberikan segalanya untuk serangan itu.
"Alana! Bangun!" Arlo mendekapnya erat.
Di luar jendela, bumi tampak sangat tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Namun di atas Navasari, rasi bintang Cygnus bersinar lebih terang dari biasanya, seolah memberikan penghormatan bagi sang Navigator yang baru saja mengorbankan kedamaian batinnya demi menyelamatkan dunia bawah.
Perjanjian untuk bertukar surat tetap berlanjut, namun kini dengan sebuah harga: Alana tidak lagi bisa merasakan kegembiraan yang murni. Ia telah menjadi penjaga yang sesungguhnya seseorang yang mengerti bahwa langit memiliki sisi gelap, dan tugasnya adalah memastikan kegelapan itu tidak pernah menyentuh bumi lagi.
Pesan merah tembaga yang dilepaskan Alana membelah malam Navasari dengan presisi sebuah belati dingin yang jatuh dari ketinggian kosmik. Di balkon mercusuar, gelas berisi cairan "Tinta Hitam" itu sudah menyentuh bibir bawah Elian. Dinginnya kaca terasa kontras dengan keringat dingin yang mengucur deras di tengkuknya. Elian bisa mencium aroma cairan itu manis seperti bunga kamboja, namun memiliki sisa rasa logam yang tajam di udara.
Tepat pada detik krusial itu, lensa kristal pada alat deodolit di samping Elian berpijar dengan cahaya ungu yang menyakitkan mata. Cahaya itu bukan hanya bersinar; ia berdenyut dengan irama yang panik. Pantulan rasi bintang Cygnus muncul di permukaan cairan di dalam gelas Elian, namun polanya rusak. Bintang di bagian leher angsa itu tampak terputus, sebuah simbol kuno dalam navigasi kakek Surya yang berarti: Kematian di dalam napas.
Elian tersentak. Otot-otot lengannya menegang secara naluriah. Melalui permukaan cairan yang bergoyang, ia melihat pantulan wajah Martha yang berdiri di belakangnya. Wajah tua yang selama beberapa menit terakhir tampak ramah dan penuh simpati itu, melalui pantulan air, berubah menjadi topeng yang mengerikan retak, penuh dengan garis-garis kebencian yang selama ini disembunyikan di balik jubah abu-abunya.
"Kenapa, Elian? Kenapa kau berhenti?" suara Martha tetap lembut, hampir seperti bisikan seorang ibu yang meninabobokan anaknya, namun matanya tidak lepas dari gelas itu, tajam seperti mata elang yang mengincar mangsa. "Minumlah. Itu akan menghapus rasa sakit di kepalamu. Itu akan membebaskanmu dari beban yang diletakkan gadis itu di pundakmu."
Elian menurunkan gelasnya perlahan, tangannya sedikit gemetar bukan karena takut, melainkan karena kemarahan yang mulai membara. "Saya baru ingat satu hal yang pernah dikatakan kakek Surya, Martha. Dia bilang, di tempat setinggi ini, air bisa menjadi musuh paling mematikan jika diberikan oleh tangan yang membawa noda masa lalu."
Senyum Martha memudar seketika, digantikan oleh garis lurus yang dingin dan keras. Kesunyian yang tercipta di puncak mercusuar itu mendadak menjadi sangat tajam, hingga suara angin pun seolah tidak berani lewat di antara mereka.
"Gadis itu... dia belajar terlalu cepat," desis Martha. Suaranya tidak lagi merdu, melainkan serak seperti gesekan batu kuburan. "Surya pasti bangga di neraka sana, atau mungkin dia sedang gemetar karena tahu bahwa rahasianya telah bocor kepada cucu kesayangannya sendiri."
Martha berdiri tegak, jubah abu-abunya berkibar liar tertiup angin gunung yang kencang, membuatnya tampak lebih besar dan lebih mengancam. Ia tidak lagi melihat ke arah Elian. Ia menengadah ke arah langit malam yang pekat, tepat ke titik koordinat di mana kapsul Navigasi Langit tersembunyi di balik lapisan dimensi.
"ALANA!" Martha berteriak ke arah kekosongan langit, suaranya menggelegar melebihi suara guntur. "Aku tahu kau melihatku dari singgasana cahayamu! Kau pikir kau bisa menyelamatkannya hanya dengan coretan sandi di antara bintang? Kau hanyalah pengecut, sama seperti kakekmu! Kau bersembunyi di balik awan sementara aku menanggung kutukan keluarga kalian selama setengah abad!"
Di Dalam Navigasi Langit
Di dalam kapsul, Alana tersentak mundur dari layar sensor. Suara Martha merambat melalui frekuensi kristal kapsul, terdengar kasar, penuh distorsi, dan dibumbui kebencian yang begitu pekat hingga membuat suhu di dalam kapsul turun drastis.
"Dia tahu kita di sini, Arlo! Dia bisa merasakan kehadiranku!" Alana mencengkeram tepian meja tulisnya hingga buku-buku jarinya memutih.
Arlo sedang berjuang di depan konsol utama yang mulai mengeluarkan asap kebiruan. "Dia tidak hanya tahu, Alana. Dia sedang melakukan Sinkronisasi Paksa. Martha menggunakan frekuensi sarafnya sendiri untuk menarik kapsul ini turun secara paksa. Dia ingin kita jatuh, dan dia menggunakan Elian sebagai jangkar biologisnya!"
Di layar sensor, Alana melihat Martha mengeluarkan sebuah perangkat kecil berbentuk cakram hitam dari balik jubahnya. Begitu alat itu dinyalakan, pilar cahaya emas mercusuarnjangkar keamanan mereka mendadak berubah warna menjadi merah darah yang pekat. Elian langsung jatuh berlutut di lantai balkon, kedua tangannya memegangi kepala yang seolah-olah sedang diremukkan oleh tekanan frekuensi yang luar biasa besar.
"BERHENTI! KAU AKAN MEMBUNUHNYA!" Alana menjerit, air mata keputusasaan membanjiri wajahnya saat melihat Elian merintih kesakitan.
"MAKA TURUNLAH, ALANA!" suara Martha kembali menggema di dalam kapsul, kali ini disertai getaran yang membuat dinding kristal mulai retak. "Serahkan kunci otoritasmu! Berikan padaku apa yang dicuri kakekmu dari tanganku lima puluh tahun yang lalu! Berikan padaku langit ini, dan aku akan melepaskan teman manusiamu!"
Arlo memandang Alana dengan tatapan yang menyayat hati, sebuah tatapan perpisahan. "Jangan lakukan itu, Alana. Jika kau menyerahkan otoritasmu pada Martha, dia tidak akan menyelamatkan bumi. Dia akan menggunakan frekuensi ini untuk melakukan 'Pembersihan Besar'. Dia akan menghapus setiap jejak memori tentang cinta dan harapan di dunia ini, karena bagi Martha, perasaan adalah kelemahan yang menyebabkan pengkhianatan."
Alana menatap Elian yang sedang meregang nyawa di bawah sana, lalu menatap Arlo yang selama ini menjadi satu-satunya alasannya untuk tetap percaya pada keajaiban. Ia terjebak dalam jebakan paling sadis di alam semesta: menyelamatkan orang yang ia cintai atau menyelamatkan esensi kemanusiaan itu sendiri.
Namun, di tengah badai frekuensi itu, Alana merasakan sesuatu yang bangkit dari dalam darahnya darah kakek Surya yang mungkin berdosa, namun juga darah yang membawa bakat untuk memahami cahaya.
"Ada jalan ketiga, Arlo," kata Alana tiba-tiba. Suaranya mendadak tenang, sangat tenang hingga Arlo pun tertegun. Itu adalah ketenangan yang hanya muncul dari titik paling dasar keputusasaan.
"Apa yang akan kau lakukan, Alana? Jangan gegabah!"
"Jika surat bisa membawa harapan, maka surat juga bisa membawa cermin penghancur bagi mereka yang hatinya sudah busuk. Arlo, buka seluruh jalur komunikasi terbuka. Jangan gunakan sandi. Aku akan mengirimkan 'Surat Terakhir' secara langsung."
Alana mengambil pena kristalnya. Kali ini, ia tidak lagi menusuk jarinya. Ia meletakkan kedua telapak tangannya di atas membran bening dan membiarkan seluruh ingatan terburuknya mengalir rasa hancur saat difitnah di Jakarta, rasa dikhianati oleh sejarah kakeknya, rasa kesepian di menara ini. Ia tidak sedang menenun cahaya; ia sedang mengumpulkan badai emosi yang murni.
"Alana, jangan! Frekuensi itu bisa menghancurkan jiwamu sendiri!" Arlo mencoba mencegahnya, namun sebuah perisai energi transparan kini melindungi meja tulis Alana. Otoritas pewaris sejati telah bangkit.
Alana menulis satu kalimat tunggal yang bergetar dengan energi hitam dan putih yang menyatu secara paradoks:
> "Untuk Martha: Langit tidak menyimpan dendam, ia hanya memantulkan apa yang kau bawa di dalam hatimu. Jika kau membawa api, maka terbakarlah oleh panasmu sendiri."
Ia meluncurkan pesan itu. Bukannya menjadi berkas cahaya perak yang indah, pesan itu meluncur seperti lubang hitam kecil yang melesat menembus atmosfer bumi, menghisap semua cahaya di sekitarnya.
Di puncak mercusuar, Martha melihat sebuah titik hitam jatuh dari langit. Ia tersenyum kemenangan, tertawa histeris, mengira itu adalah kode otoritas yang ia dambakan. Ia merentangkan kedua tangannya dengan rakus untuk menangkap pesan itu.
Namun, saat pesan hitam itu menyentuh telapak tangan Martha, tidak ada kekuatan kosmik yang ia terima. Sebaliknya, seluruh kenangan pahit Martha pengkhianatan Surya, rasa sakit luar biasa saat ia dijadikan kelinci percobaan oleh militer, dan kebencian yang ia pupuk selama lima puluh tahun mendadak meledak kembali ke dalam kesadarannya dengan kekuatan seribu kali lipat.
Martha menjerit. Suara teriakannya bukan lagi suara manusia, melainkan suara dari jiwa yang sedang dihancurkan oleh beratnya dosanya sendiri. Ia tidak kuat menahan beban emosinya yang dipantulkan kembali oleh "surat" Alana. Cermin cakrawala telah menunjukkan padanya siapa dia sebenarnya.
Alat cakram hitam di tangannya hancur menjadi debu halus. Pilar cahaya merah mercusuar langsung padam, kembali menjadi warna emas yang tenang dan suci. Elian terengah-engah, jatuh terjerembap ke lantai, namun tekanan di kepalanya menghilang seketika.
Martha jatuh terduduk, matanya terbuka lebar namun kosong. Seluruh rambutnya memutih dalam hitungan detik. Jiwanya tidak mati, namun ia kini terperangkap selamanya di dalam labirin memorinya sendiri yang menyiksa. Ia telah dikalahkan oleh kebenaran yang ia bawa sendiri.
Di dalam kapsul, Alana jatuh pingsan ke pelukan Arlo. Cahaya di dalam Navigasi Langit meredup drastis, menyisakan pendaran indigo yang lemah. Alana telah memberikan segalanya untuk serangan itu.
"Alana! Bangun!" Arlo mendekapnya erat, air matanya jatuh ke wajah Alana yang pucat.
Di luar jendela, bumi tampak sangat tenang, seolah tidak pernah terjadi perang dimensi di atas sana. Namun di atas Navasari, rasi bintang Cygnus bersinar dengan warna yang sedikit berbeda lebih dalam, lebih dewasa.
Alana yang terbaring lemah, sementara Arlo menyadari bahwa harga dari kemenangan ini adalah hilangnya sebagian dari "cahaya manusia" di dalam diri Alana. Perjanjian untuk bertukar surat tetap berlanjut, namun kini dengan sebuah kenyataan pahit: Alana telah menjadi penjaga yang sesungguhnya seseorang yang mengerti bahwa terkadang, surat cinta yang paling tulus adalah surat yang berani menghancurkan kegelapan.