"Saya tidak menuntutmu untuk langsung mencintai saya, Hannah. Saya hanya memintamu mengizinkan saya menjadi imammu."
Hannah Humaira (20) baru saja ingin menikmati masa mudanya usai lepas dari asrama pesantren. Sayangnya, skenario hidupnya berubah total saat ia dijodohkan dengan Muhammad Akbar (28).
Akbar itu kaku, dewasa, dan terlalu serius. Sangat berbeda dengan Hannah yang ceria dan masih ingin bebas. Tapi, siapa sangka di balik sikap tenangnya, Akbar menyimpan berjuta cara manis untuk memuliakan istrinya.
Ini bukan tentang cinta pada pandangan pertama. Ini kisah tentang Hannah yang belajar menerima, dan Akbar yang tak lelah menunggu. Akankah hati Hannah luluh oleh kesabaran suaminya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muliyana setia reza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Langit Di Mata Akbar
Tiga hari sebelum lamaran itu terjadi.
Muhammad Akbar duduk di balkon kamarnya di lantai dua, menyesap kopi hitam tanpa gula yang mulai dingin. Di tangannya, sebuah map berwarna biru tergeletak pasrah. Itu bukan dokumen kontrak proyek konstruksi atau laporan keuangan perusahaannya, melainkan "proposal" kehidupan yang disodorkan Abinya semalam.
“Namanya Hannah Humaira. Putri sahabat Abi. Baru selesai pengabdian.”
Kalimat Abi terngiang-ngiang. Akbar menghela napas, menyandarkan punggungnya yang tegap ke kursi rotan. Dua puluh delapan tahun. Bagi sebagian orang, ini usia emas. Bagi Akbar, ini adalah usia di mana pertanyaan "Kapan menikah?" mulai terasa lebih tajam daripada paku-paku di lokasi proyeknya.
Jujur saja, Akbar bukannya tidak laku. Dengan wajah yang 'sedap dipandang', karier mapan sebagai kontraktor muda, dan latar belakang keluarga terpandang, mudah baginya menunjuk gadis mana pun. Namun, Akbar memiliki satu masalah: ia terlalu rasional. Ia sulit jatuh hati. Baginya, pernikahan bukan sekadar romantisme dua sejoli, melainkan membangun peradaban kecil. Dan untuk itu, ia butuh partner yang tepat.
"Dia baru dua puluh tahun, Bi. Terlalu muda," tolak Akbar halus saat pertama kali Abi menyebut nama Hannah. "Jarak kami delapan tahun. Dunia kami beda. Aku takut nanti malah mengekang masa mudanya."
Itulah ketakutan terbesar Akbar. Ia sadar dirinya kaku, serius, dan minim basa-basi. Menikahi gadis yang baru melek dunia luar terasa seperti mengurung burung pipit di dalam sangkar emas. Kasihan.
Namun, ingatan Akbar terlempar ke satu momen, dua bulan yang lalu. Momen yang tidak diketahui oleh siapa pun, bahkan oleh Abi-nya sendiri.
Siang itu, Akbar sedang menunggu Abi yang bersilaturahmi di ndalem pesantren tempat Hannah mengabdi. Akbar memilih menunggu di area parkir masjid, duduk di bawah pohon rindang sambil membalas email pekerjaan.
Tiba-tiba, suara tawa renyah memecah konsentrasinya.
Di seberang lapangan, di teras asrama putri yang agak jauh namun masih terlihat jelas, sekelompok santriwati sedang berkumpul. Ada satu gadis yang paling menonjol. Bukan karena ia paling cantik—jarak pandang Akbar terlalu jauh untuk menilai detail wajah—tapi karena energinya.
Gadis itu sedang memperagakan sesuatu di depan teman-temannya—mungkin sedang menirukan gaya ustadz mengajar atau menceritakan kejadian lucu. Tangannya bergerak heboh, ekspresinya hidup, dan tawanya... tawanya terdengar begitu lepas, begitu tulus, seolah ia tidak memikul beban apa pun di dunia ini.
Gadis itu, Hannah Humaira.
Akbar yang biasanya kaku tanpa sadar menyunggingkan senyum tipis melihat pemandangan itu. Di dunia Akbar yang penuh dengan target, tenggat waktu, dan negosiasi alot, tawa gadis itu terdengar seperti oase. Hidup. Gadis itu terlihat sangat hidup.
"Dia cerdas, Akbar. Hafalannya kuat, dan dia punya mimpi besar jadi penulis," tambah Umi saat makan malam kemarin, mencoba membujuk putranya. "Umi lihat dia punya hati yang bersih. Polos, tapi punya prinsip."
Akbar menatap langit malam dari balkon kamarnya. Bayangan gadis yang tertawa di teras asrama itu kembali muncul.
Akbar menyadari satu hal: hidupnya yang monokrom dan terlalu teratur ini mungkin membutuhkan sedikit "kekacauan" yang berwarna. Ia butuh seseorang yang bisa mengingatkannya untuk tertawa. Seseorang yang memiliki semangat meletup-letup untuk menyeimbangkan ketenangannya yang terkadang membosankan.
Tapi Akbar juga laki-laki yang realistis. Ia tahu gadis seusia Hannah pasti punya segudang mimpi.
Malam itu, Akbar menutup map biru tersebut dan berjalan menemui Abi di ruang tengah.
"Bi," panggil Akbar pelan namun mantap.
Abi menurunkan korannya. "Ya, Bar?"
"Akbar bersedia dikhitbahkan dengan Hannah."
Senyum merekah di wajah tua Abi dan Umi. Namun Akbar buru-buru mengangkat tangan.
"Tapi ada syaratnya, Bi."
"Syarat?" Abi mengernyit. "Kamu mau minta apa? Mobil baru?"
Akbar menggeleng tegas. Sorot matanya serius.
"Bukan untuk Akbar. Syarat ini untuk Hannah. Kalau nanti kita melamar, Akbar minta Abi dan Umi tidak memaksa. Kalau dia menolak, kita pulang dengan lapang dada. Dan kalau dia menerima..." Akbar menarik napas panjang, "Akbar berjanji tidak akan menghalangi kuliahnya. Akbar akan biarkan dia mengejar mimpinya. Akbar mau jadi pendampingnya, bukan penguasa atas hidupnya."
Abi tertegun sejenak, lalu menepuk bahu putranya dengan bangga. "Itu baru laki-laki, Nak."
Kembali ke masa kini, di ruang tamu rumah Hannah yang mulai sepi setelah kepulangan keluarganya. Akbar sudah berada di dalam mobilnya, memutar setir meninggalkan pekarangan rumah Hannah.
Hatinya berdebar. Bukan debaran ketakutan, melainkan debaran penantian. Ia sudah melempar dadu. Ia sudah menawarkan niat baik. Kini, bola ada di tangan gadis kecil yang tadi menatapnya dengan mata bulat penuh ketakutan itu.
“Saya tunggu jawabanmu, Hannah. Ambil waktumu sebanyak yang kau mau,” batin Akbar sambil melajukan mobil membelah jalanan desa.
Di balik diamnya, Akbar telah jatuh pada kemungkinan-kemungkinan indah tentang masa depan mereka. Tentang Hannah yang mewarnai hari-harinya, dan tentang dirinya yang menjaga Hannah agar tetap bersinar.