NovelToon NovelToon
Rumus Gitar Cinta

Rumus Gitar Cinta

Status: tamat
Genre:Ketos / Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Sekolah SMA Pelita Bangsa terancam tidak bisa mengadakan Pensi tahunan karena masalah dana. Kepala Sekolah memberikan syarat: Pensi boleh jalan kalau rata-rata nilai ujian satu angkatan naik. Julian (Ketua OSIS) terpaksa menjadi tutor privat bagi siswa dengan nilai terendah di angkatan, yang ternyata adalah Alea. Di antara rumus fisika dan lirik lagu rock, mereka menemukan bahwa mereka memiliki luka yang sama tentang ekspektasi orang tua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Debaran Aneh (dan Variabel Pengganggu)

​Setelah hasil UTS dibagikan dan Pensi resmi mendapatkan lampu hijau, Alea merasa seperti selebriti papan atas.

​Bukan, bukan karena dia mendadak jadi influencer. Tapi karena gosip bahwa "Alea si Ratu Remedial berhasil menaklukkan Fisika" sudah menyebar ke seantero sekolah. Guru-guru menatapnya dengan pandangan takjub (dan sedikit curiga dia pakai jimat apa), sementara teman-temannya menganggap dia kerasukan roh Einstein.

​Tapi bagi Alea, perubahan terbesar bukan pada nilai akademiknya. Perubahan terbesar adalah... dia mulai merindukan sesi belajar yang menyebalkan itu.

​Sekarang, karena target nilai sudah tercapai, sesi bimbel rutin dengan Julian dikurangi. Julian sibuk dengan persiapan Olimpiade dan rapat OSIS untuk Pensi. Alea sibuk latihan band dengan "Phantom" (yang identitasnya masih aman sejauh ini).

​Interaksi mereka sebagai Julian dan Alea—tanpa topeng, tanpa buku pelajaran—jadi berkurang. Dan anehnya, Alea merasa ada yang hilang.

​Jam pelajaran Olahraga. Materi hari ini: Basket.

​Alea benci basket. Menurutnya, mengejar bola oranye sambil dipantul-pantulkan itu kegiatan kurang kerjaan. Alea lebih suka duduk di pinggir lapangan, minum es teh, sambil nonton teman-temannya lari-lari.

​"Alea! Jangan mager! Masuk lapangan!" teriak Pak Bambang, guru olahraga yang peluitnya tak pernah lepas dari mulut.

​Dengan malas, Alea bangkit. Ia mengikat rambutnya tinggi-tinggi. Keringat membasahi lehernya. Matahari jam sembilan pagi cukup menyengat.

​Saat Alea sedang berusaha men-dribble bola (yang lebih sering memantul ke kakinya sendiri daripada ke lantai), bola itu terlepas dan menggelinding jauh.

​"Awas!"

​Sebuah tangan kekar menangkap bola itu dengan satu tangan sebelum bola itu menghantam pot bunga.

​Alea mendongak.

​Di hadapannya berdiri Reza. Kapten Tim Basket sekolah. Cowok paling populer di angkatan kelas 12. Tinggi, kulit sawo matang eksotis, dan senyum yang bisa bikin cewek-cewek histeris. Tipe cowok yang fotonya pasti ada di mading sekolah bagian "Prestasi".

​"Main basket kok kayak lagi ngusir ayam, Le?" goda Reza sambil memutar bola di jari telunjuknya. Gayanya cool habis.

​Alea nyengir, mengambil bola itu. "Gue musisi, Bang. Tangan gue didesain buat megang gitar, bukan megang bola ginian."

​"Masa?" Reza melangkah mendekat, jaraknya sedikit mengikis ruang pribadi Alea. "Tapi gue denger lo pinter Fisika sekarang. Masa hitung lintasan bola masuk ring aja nggak bisa?"

​"Fisika di kertas beda sama di lapangan," elak Alea.

​"Sini gue ajarin. Private," Reza mengedipkan sebelah mata.

​Alea tertawa. Dia tahu reputasi Reza sebagai playboy, tapi harus diakui, Reza memang asik diajak ngobrol. Tidak kaku seperti... ah, kenapa jadi mikirin Julian lagi?

​"Boleh. Ajarin shooting doang ya. Jangan ajarin cara tebar pesona," canda Alea.

​Reza tertawa lepas. Ia berdiri di belakang Alea, memposisikan tangan Alea untuk memegang bola.

​"Sikut lo angkat dikit. Lutut ditekuk. Fokus ke kotak putih di papan ring," instruksi Reza. Posisinya sangat dekat, seolah sedang memeluk Alea dari belakang.

​Di koridor lantai dua yang menghadap langsung ke lapangan basket, sepasang mata di balik kacamata minus sedang memperhatikan pemandangan itu dengan tatapan setajam laser pemotong baja.

​Julian Pradana sedang memegang map berisi proposal Pensi, tapi tangannya meremas map itu sampai ujungnya keriting.

​"Jarak interaksi sosial standar adalah 1,2 meter," gumam Julian pelan, giginya bergemerutuk. "Jarak intim 0 sampai 45 sentimeter. Reza melanggar zona prokemik."

​Julian merasakan dadanya panas. Bukan karena cuaca, tapi karena sesuatu yang mendidih di dalam. Ia melihat Reza tertawa, melihat Alea tersenyum malu-malu saat bola yang dilemparnya masuk ke ring.

​Kenapa dia tertawa seperti itu ke Reza? batin Julian protes. Dia tidak pernah tertawa semanis itu kalau sama saya. Kalau sama saya, isinya debat atau ngomel.

​Ada perasaan tidak terima. Logika Julian berusaha menganalisis: Ini tidak rasional. Alea berhak berinteraksi dengan siapa saja. Reza atlet basket, wajar dia mengajar basket. Tidak ada pelanggaran tata tertib.

​Tapi perasaan Julian berteriak: TURUN KE SANA DAN PISAHKAN MEREKA SEKARANG JUGA!

​Tanpa sadar, kaki Julian bergerak sendiri. Ia meninggalkan Sarah yang sedang bicara soal vendor sound system di koridor.

​"Jul? Mau ke mana?" panggil Sarah bingung.

​"Inspeksi lapangan. Ada potensi pelanggaran ketertiban," jawab Julian singkat tanpa menoleh.

​Di lapangan, Reza sedang memberi high-five ke Alea.

​"Gokil. Sekali ajar langsung bisa three point," puji Reza. "Nanti istirahat bareng yuk? Gue mau nanya-nanya soal band lo. Siapa tau bisa kolab sama tim basket pas pembukaan Pensi."

​"Boleh juga tuh," Alea mengangguk antusias. Kolaborasi berarti exposure lebih. "Nanti kita bahas di—"

​"EKHEM."

​Deheman keras yang terdengar seperti suara batuk dinosaurus memotong percakapan mereka.

​Alea dan Reza menoleh.

​Julian berdiri di pinggir lapangan. Wajahnya datar, kacamata memantulkan cahaya matahari sehingga matanya tidak terlihat, dan aura di sekitarnya gelap gulita.

​"Eh, Pak Ketos," sapa Reza santai. "Ngapain bro? Mau main basket juga? Join sini, kurang satu orang nih."

​Julian tidak tersenyum. Ia menatap Reza, lalu menatap Alea.

​"Alea," panggil Julian dingin. "Baju olahraga kamu."

​Alea melihat kaos olahraganya. "Kenapa? Nggak bolong kok."

​"Terlalu ketat," kata Julian asal. Padahal kaos itu ukurannya standar M, pas di badan Alea, tidak ketat sama sekali. "Dan rambut kamu. Menggangu pandangan saat melempar bola. Berpotensi cedera."

​Alea melongo. "Hah? Lo ngomong apa sih, Jul? Sejak kapan OSIS ngurusin kunciran rambut pas olahraga?"

​"Sejak saya peduli pada keselamatan siswa," jawab Julian kaku. Ia lalu menoleh ke Reza. "Reza, Pak Bambang memanggil kamu di ruang alat. Katanya mau cek inventaris bola yang hilang."

​"Hah? Serius?" Reza bingung. "Perasaan tadi Pak Bambang lagi makan mie ayam di kantin."

​"Perintah guru harus segera dilaksanakan. Jangan membantah," tekan Julian dengan nada otoriter yang tidak bisa dibantah.

​Reza mengangkat bahu, menatap Alea dengan tatapan maaf-ya-ketos-lagi-kumat.

​"Yaudah, Le. Nanti kita lanjut ngobrol ya. Bye," pamit Reza sambil berlari kecil meninggalkan lapangan.

​Alea menatap kepergian Reza, lalu berbalik menatap Julian dengan tangan di pinggang.

​"Lo bohong kan?" tuduh Alea.

​"Saya tidak pernah bohong," elak Julian, meski kupingnya merah.

​"Pak Bambang itu kalau udah jam segini pasti molor di ruang guru abis makan. Mana mungkin nyariin bola," Alea menyipitkan mata, meneliti wajah Julian. "Lo kenapa sih? Ganggu orang lagi PDKT aja."

​Kata "PDKT" membuat urat di pelipis Julian berkedut.

​"PDKT?" ulang Julian tajam. "Kamu ke sini buat sekolah, Alea. Bukan cari pacar. Fokus kamu harusnya persiapan Pensi, bukan main-main sama kapten basket yang nilai Matematikanya lebih rendah dari kamu."

​"Dih! Kok lo sewot?" Alea maju selangkah, menantang. "Suka-suka gue dong. Reza ganteng, populer, jago basket. Wajar kan kalau gue seneng dideketin?"

​"Dia... dia tidak cocok buat kamu," Julian kehabisan argumen logis.

​"Oh ya? Terus siapa yang cocok? Lo?" Alea keceplosan.

​Hening.

​Angin berhembus membawa debu lapangan.

​Mata Julian melebar sedikit. Mulut Alea juga langsung terkunci rapat. Aduh, mulut gue nggak ada remnya, rutuk Alea dalam hati.

​Wajah Julian yang tadi merah karena marah, kini berubah menjadi ekspresi yang rumit. Dia menatap Alea dalam-dalam.

​"Kalau iya, kenapa?" tantang Julian balik. Suaranya pelan, tapi jelas.

​Jantung Alea rasanya melompat keluar dari rusuk dan melakukan salto.

​"Hah?" Alea kehilangan kemampuan verbalnya.

​Julian melangkah maju satu langkah. Masuk ke zona intim 45 cm yang tadi dia sebutkan. Ia menunduk sedikit agar sejajar dengan wajah Alea.

​"Kalau saya bilang saya lebih cocok buat kamu karena saya tau frekuensi kamu, saya tau lagu kesukaan kamu, dan saya tau cara bikin kamu ngerti Fisika... kamu mau bantah?"

​Alea menelan ludah. Julian mode agresif ini... sangat berbahaya bagi kesehatan jantung.

​"Lo... lo cemburu ya?" bisik Alea, mencoba mencari celah pertahanan Julian.

​Julian menegakkan tubuhnya kembali, membetulkan kerah bajunya, berusaha mengembalikan kewibawaannya.

​"Saya tidak cemburu. Cemburu adalah emosi negatif yang tidak produktif," kata Julian dengan nada yang terdengar seperti sedang meyakinkan dirinya sendiri. "Saya hanya... menjaga investasi saya. Saya sudah capek-capek mengajar kamu, saya tidak mau fokus kamu terpecah gara-gara laki-laki lain."

​"Alasan," cibir Alea, tapi pipinya merona merah.

​"Terserah. Nanti sore latihan band. Jangan telat. Dan jangan bawa Reza ke studio. Studio itu area steril," perintah Julian, lalu berbalik badan dan berjalan cepat meninggalkan lapangan, seolah dikejar hantu.

​Alea menatap punggung Julian sambil memegang dadanya yang berdegup kencang.

​"Bego. Pake bawa-bawa investasi segala," gumam Alea sambil tersenyum lebar. "Bilang aja nggak rela."

​Di koridor sepi menuju ruang OSIS, Julian bersandar di dinding, memejamkan mata. Napasnya tidak beraturan.

​Variabel pengganggu, batin Julian. Perasaan ini variabel pengganggu.

​Dia mengeluarkan HP-nya, membuka aplikasi Note tempat dia biasa menulis "Rumus Kehidupan".

​Dia mengetik:

Hipotesis Baru: Cemburu ≠ Tidak Produktif. Cemburu \= Indikator Kepemilikan.

Kesimpulan: Saya tidak suka melihat Alea dengan orang lain. Sama sekali tidak suka.

​Julian menatap layar HP-nya. Pengakuan itu menakutkan, tapi juga melegakan. Dia menyukai Alea. Sangat menyukainya. Si pembuat onar itu telah meretas sistem pertahanannya tanpa sisa.

​Tiba-tiba, notifikasi pesan masuk muncul di layar HP-nya. Pesan dari nomor tidak dikenal.

​Julian membukanya.

​Sebuah foto.

Foto dia dan Alea sedang makan bakso kemarin sore. Di foto itu, Julian sedang tertawa lepas, dan Alea sedang menatapnya sambil tersenyum. Mereka terlihat sangat dekat. Terlalu dekat untuk ukuran "Ketua OSIS dan Murid Bermasalah".

​Di bawah foto itu, ada caption pendek:

"Ketua OSIS teladan makan di pinggir jalan sama cewek berandal? Apa kata Ayah lo kalau liat ini, Jul?"

​Darah Julian membeku. Senyum dan debaran cintanya lenyap seketika, digantikan oleh dinginnya teror.

​Ini ancaman.

Seseorang tahu. Seseorang mengawasinya. Dan seseorang itu mengincar titik terlemahnya: Ayahnya.

​Julian mencengkeram HP-nya erat-erat.

​Masa-masa indah pendekatan itu sudah berakhir. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.

...****************...

BERSAMBUNG.....

Terima kasih telah membaca 💞

Jangan lupa bantu like komen dan share❣️

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!