Ini kisahku. Tentang penderitaan dan kesakitan yang mewarnai hidupku. Kutuangkan dalam kisah ini, menjadi saksi bisu atas luka yang sengaja mereka perbuat padaku sepanjang hidupku.
Karina, lahir dari seorang ibu yang pemabuk sejak ia masih kecil. Menikahi pria yang sangat ia cintai tak kalah buruk memperlakukan Karina. Di tambah sang mertua yang tak pernah berpihak padanya. Hingga satu tragedi telah mengambil penglihatannya. Karina yang mengalami kebutaan justru mengalami perlakuan buruk dari suami dan mertuanya.
Namun seorang pria tak di kenal telah membawanya keluar dari kegelapan. Yang tak lain pria yang sama yang merenggut penglihatannya.
Bagaimana kisah selanjutnya? yuk ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BB 15
Pagi pagi sekali Ava sudah menunggu Karina keluar dari rumahnya. Di dalam mobil Ava terus memperhatikan aktivitas di rumah Pramudya. Tak lama ia melihat pintu rumah di buka.
"Wanita itu siapa?" tanya Ava pada dirinya sendiri. Saat melihat Pramudya merangkul Zahra.
"Bukankah istrinya pria itu Karina? tapi-?" Ava terus melotot ke arah mereka. Ava mengerutkan dahi saat melihat Karina keluar dari rumah menggunakan tongkat.
"Wanita itu masih buta?" gumam Ava bingung. "Aku harus mengikuti kemana perginya Karina."
Ava melihat Karina masuk ke dalam mobil di bantu Zahra. Lalu ia menyalakan mobilnya mengikuti kemana perginya Karina dan Pram.
"Ada yang tidak beres dengan Karina, tapi apa perduliku? bukankah aku hanya memastikan dia sembuh atau tidak?" Ava mendesah gusar, lalu mobilnya belok ke kanan saat mobil Pramudya mengarah ke rumah sakit.
Ava menepikan mobilnya di area parkiran rumah sakit. Memperhatikan Pramudya membantu Karina membukakan pintu mobil. Setelah itu terlihat Pramudya berbincang dengan Karina sesaat, lalu Pramudya kembali masuk ke dalam mobil meninggalkan Karina sendirian di area parkiran.
"Bagaimana mungkin dia meninggalkan istrinya dakam keadaan buta sendirian memeriksakan diri? shitt!!" ucap Ava geram. Lalu ia keluar dari pintu mobil berlari menyusul Karina yang berjalan menggunakan tongkat.
"Hei Nona!"
Karina menghentikan langkahnya, coba mengenali suara yang memanggilnya dari belakang.
"Nona, kau mau kemana?" tanya Ava berdiri di samping Karina.
Karina menoleh ke samping. "Mau memeriksakan mataku, kau siapa?" tanya Karina tidak mengenali suara Ava.
"Nona masih ingat? aku yang mengantarkan Nona ke rumah tempo hari," sahut Ava mengingatkan Karina.
"Oh, mas Ava!" Karina tersenyum.
'Ya, kau sendirian? di mana suamimu?" tanya Ava basa basi.
"Dia sibuk kerja mas." Karina menundukkan kepalanya.
"Ya sudah, bagaimana kalau aku membantumu?" tawar Ava.
"Boleh mas, kalau tidak keberatan."
"Mari!"
Ava berjalan bersama Karina memasuki rumah sakit. Mereka langsung menemui Dokter Surya yang selama ini merawat Karina.
"Bagaimana Dok?" tanya Ava setelah Dokter selesai memeriksa kondisi mata Karina.
"Bu Karina bisa buta permanen kalau tidak segera di obati. Sementara stok kornea mata di rumah sakit ini tidak ada. Kalaupun ada, ada ratusan pasien yang sudah mengantri donor kornea mata. Kenapa Bapak tidak coba bawa Bu Karina ke Luar Negeri?" usul Dokter.
"Baik Dok, akan saya lakukan."
"Secepatnya, sebelum semua terlambat." Dokter berdiri dan mengulurkan tangannya.
"Baik Dok, terima kasih." Ava berdiri lalu mengulurkan tangan memjabat tangan Dokter sekilas. "Saya permisi Dok."
Ava melangkahkan kakinya keluar ruangan, menemui Karina yang duduk di kursi ruang tunggu. Ava berdiri terpaku menatap Karina.
"Bukankah aku sudah memberikannya uang? lalu di kemanakan uang itu?" tanya Ava dalam hati.
"Mas Ava?" Karina mendengar suara desahan napas Ava
"Karina."
"Bagaimana mas? apa ada harapan?" Karina berdiri, tangannya terulur mencari Ava.
Ava mengulurkan tangannya, meraih tangan Karina. "Kau tidak perlu khawatir Karina, Dokter bilang kau pasti bisa melihat lagi." Ava coba membesarkan hati Karina.
"Ah syukurlah, aku sudah tidak sabar ingin melihat lagi," sahut Karina tersenyum lebar.
"Ayo aku antar pulang."
Karina menganggukkan kepalanya, lalu mereka berjalan bersama.
"Karina, apa yang membuatmu buta?" tanya Ava pura pura tidak tahu.
Karina menarik napas panjang, lalu menceritakan kejadian tempo hari.
"Apakah pria itu tidak bertanggungjawab untuk membiayaimu?' tanya Ava berpura pura.
" Tidak mas, aku tidak tahu dia siapa dan di mana. Tapi aku mengenali wajahnya."
Ava terdiam, melirik sesaat ke arah Karina.
"Bagaimana mungkin, lalu uang itu siapa yang menerima? bukankah adik Karina?" ucap Ava dalam hati.
"Karina, apa kau punya adik?' tanya Ava penasaran.
" Tidak mas," jawab Karina.
"Wanita berkerudung di rumahmu siapa?" tanya Ava.
"Kok mas tahu? itu bukan adikku. Namanya Zahra, sahabatku."
"Sahabat? tapi kenapa bisa semesra itu dengan suami Karina? hmm, ada yang tidak beres," gumam Ava dalam hati.
"Kenapa bengong mas?" tanya Karina.
"Tidak apa apa."
Alfarezi Kavindra
Karina
Raihan sahabat sekaligus sepupu pram.
Pramudya
Alexis Nicolas. Mafia dari Meksiko
moga tidak ya klu iya gk semangat lagi baca nya