Ribuan lembar di Papirus,ribuan kata kata cinta yang aku hanturkan Tidak cukup mendeskripsikan Aku mencintaimu.
"Aku tidak pernah bisa menaklukkan rindu ini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilly✨, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Cassandra masih terpaku di tempatnya. Ruangan yang sebelumnya terasa hangat kini berubah dingin, seolah cahaya telah menghilang bersama suara Selena.
Earl Greyes menatapnya dengan prihatin, tangannya masih menopang lengan Cassandra yang sedikit gemetar. "Cassandra..." panggilnya pelan.
Namun, Cassandra tak menjawab. Kepalanya menunduk, rambut cokelat panjangnya berantakan menutupi wajahnya. Tangan yang mencengkeram ponsel perlahan melemah, hingga akhirnya benda itu terjatuh ke lantai dengan suara pelan.
Selena benar-benar pergi.
Tidak ada lagi suara lembut yang dulu menyapanya. Tidak ada lagi tawa samar saat mereka mendiskusikan sejarah atau bermain kartu di kasino. Tidak ada lagi tatapan mata biru yang dulu terasa hangat, kini hanya ada kebekuan yang menyakitkan.
"Apa aku salah?"
Dia mengorbankan segalanya. Dia mempelajari sesuatu yang tidak dia sukai, memasuki dunia yang penuh dengan orang-orang angkuh, hanya agar bisa tetap dekat dengan Selena. Dia bertahan di tengah pesta, tersenyum pada orang-orang yang tidak ia pedulikan, hanya agar ada kesempatan untuk berbincang dengan Selena lagi.
Tapi pada akhirnya, tidak ada yang berubah.
Selena tetaplah Selena. Seorang yang berada jauh dari jangkauannya, seseorang yang tidak bisa ia miliki.
Air mata panas akhirnya mengalir. Cassandra segera menghapusnya dengan kasar, menolak untuk terlihat lemah. Tidak. Dia tidak akan menangis untuk seseorang yang bahkan tidak lagi menganggapnya ada.
Dia mendongak, tatapan matanya kini tajam.
Jika Selena ingin menjauh, maka dia akan mengejarnya. Jika Selena ingin membuangnya, maka dia akan kembali masuk ke kehidupannya—dengan cara apa pun.
Dia tidak akan membiarkan mataharinya pergi begitu saja.
Cassandra menarik napas dalam-dalam, berusaha meredam emosinya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin ruangan itu—mata merah, wajah pucat, dan ekspresi yang hancur. Tidak, ia tidak boleh terlihat seperti ini. Bukan di depan orang lain.
Dia berbalik, menatap Earl Greyes yang masih berdiri di dekatnya dengan ekspresi sulit ditebak. "Earl," suaranya serak, tetapi tetap mengandung ketegasan, "aku harus bertemu dengannya."
Earl menghela napas, menatap Cassandra dengan tatapan yang sulit dijelaskan. "Cassandra, kau tahu dia tidak ingin bertemu denganmu sekarang."
"Aku tidak peduli," jawabnya cepat. "Aku harus menemuinya. Aku harus tahu... kenapa dia melakukan ini."
"Cassandra..." Earl melangkah mendekat, meletakkan tangannya di bahu Cassandra. "Mungkin kau harus memberi Selena waktu. Dia bukan seseorang yang bisa dipaksa."
Cassandra tersenyum miring, senyum yang tidak mencapai matanya. "Selena tidak butuh waktu. Dia butuh alasan untuk mengingatku kembali."
Dia melangkah ke arah jendela besar ruangan itu, menatap langit senja yang perlahan memudar. Ingatannya kembali ke masa kecil mereka, ke pesta malam itu, ketika seorang gadis berambut emas menghampirinya yang tengah menyendiri di sudut ruangan.
"Kenapa kau tidak bermain dengan yang lain?"
Cassandra kecil menoleh, menatap bocah perempuan berambut emas yang menatapnya dengan mata biru jernih. Ia menggeleng. "Aku tidak punya teman di sini."
Gadis itu mengernyit, lalu tersenyum samar. "Sekarang kau punya satu."
Saat itu, Selena adalah mataharinya. Satu-satunya cahaya dalam hidupnya yang sepi. Dan Cassandra tahu, sejak hari itu, dia tidak akan pernah bisa membiarkan Selena pergi.
Dia menatap pantulan dirinya di jendela. Matahari itu mungkin berusaha menjauh, tetapi Cassandra tidak akan membiarkannya menghilang.
"Aku akan pergi ke tempatnya," ucapnya lirih. "Aku ingin jawaban langsung darinya."
Earl Greyes hanya bisa menghela napas. Ia tahu betul, begitu Cassandra menginginkan sesuatu, tidak ada yang bisa menghentikannya.
"Dia kan tidak mengingat mu? aku tahu,Selena itu hanya menatap mata nya saja, seseorang akan patuh.Tapi,dia kan tidak seperti Sudah menyelamatkan hidup mu,atau dia mengorbankan hidupnya untuk mu."suara itu Mengambang di tengah mereka.
"Liano greyes...Selena Calista Ravenshire adalah teman ku, teman yang menyelamatkan ku di jurang kehampaan."balas nya dengan tegas menatap mata nya.
"kau ini..."suara pelan terdengar .
Di sisi lain-
Swiss-Musim semi
Selena berjalan menuju kamarnya dengan langkah ringan namun tanpa emosi. Begitu sampai, dia melepas mantel tipis yang dikenakannya dan menjatuhkannya ke lantai tanpa peduli.
Dia berdiri di depan cermin besar, menatap refleksi dirinya—rambut emas yang terurai sempurna, mata biru yang kini tampak lebih gelap dari biasanya.
Pelayan yang masih menunggu di ambang pintu menundukkan kepala, menunggu instruksi lebih lanjut.
Selena akhirnya bersuara, nadanya begitu datar hingga terasa menusuk.
"Buang nomor Cassandra dari daftar kontakku."
Pelayan itu terkejut, tapi tidak berani menanyakan alasannya.
"Dan satu lagi..." Selena berbalik sedikit, tatapannya sedingin es. "Pastikan tidak ada seorang pun yang membicarakan tentangnya di hadapanku. Aku tidak tertarik mendengar namanya lagi."
Tanpa menunggu jawaban, dia berjalan menuju kamar mandi, meninggalkan pelayan itu yang hanya bisa menundukkan kepala dalam diam.
Perlahan, Cassandra menarik napas dalam, mencoba menenangkan dirinya. Tidak, ini tidak mungkin. Selena tidak akan melupakannya begitu saja. Pasti ada sesuatu—pasti ada alasan di balik ini semua.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi pada Earl, Cassandra berbalik dan berjalan cepat keluar dari ruangan. Gaun mewahnya berdesir mengikuti langkahnya yang tergesa-gesa. Dia tidak bisa diam saja. Jika Selena tidak ingin menemuinya, maka dia sendiri yang akan mencari tahu alasannya.