menikah dengan laki-laki yang masih mengutamakan keluarganya dibandingkan istri membuat Karina menjadi menantu yang sering tertindas.
Namun Karina tak mau hanya diam saja ketika dirinya ditindas oleh keluarga dari suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15. prasangka Andrew
Semua orang di ruangan itu menoleh ke arah pintu dengan rasa terkejut yang terlihat jelas di wajah mereka. Mereka tidak menyangka bahwa Karina akan muncul begitu tiba-tiba. "Mama..." "Karina..." seru Lusi dan Aldo secara bersamaan, suara mereka penuh dengan kegembiraan dan kejutan.
Sementara itu, Andrew hanya bisa diam, tidak bereaksi dan tidak mengucapkan sepatah kata pun ketika Karina masuk ke dalam ruangan.
Karina tersenyum manis dan memandang Aldo dengan mata yang penuh kasih sayang. "Halo Aldo. Aldo, sakit apa?" tanyanya dengan suara yang lembut dan peduli.
Aldo tersenyum manis dan menjawab, "Ma, aku nggak sakit kok. Cuma kangen sama mama saja." Suaranya yang polos, membuat Karina tersenyum lebih lebar.
Karina melihat bubur di atas nakas masih utuh, dan ia yakin bahwa Aldo belum memakannya. Ia mengambil bubur tersebut dan bertanya, "Aldo pasti belum makan, kan? Tante suapin mau?" Dengan cepat Aldo menganggukkan kepalanya, matanya bersinar dengan kegembiraan.
Karina mulai menyuapkan bubur ke mulut Aldo, yang dengan patuh menerima suapan itu. Aldo memandang Karina dengan mata yang penuh kasih sayang, ia merasa sangat bahagia karena Karina ada di sampingnya.
Melihat cucunya mau makan, Lusi pun mengajak Andrew keluar ruangan, agar Aldo dan Karina memiliki waktu bersama tanpa gangguan. Mereka berdua duduk di kursi yang ada di depan ruangan.
"Ma... Kenapa Karina bisa sampai sini? Apakah Mama yang menelpon dia?" tanya Andrew dengan penasaran, matanya yang tajam memandang Lusi dengan harapan mendapatkan jawaban yang jelas.
Lusi duduk dengan tenang, kemudian menjawab dengan suara yang lembut. "Mama tidak menelpon Karina, tapi mama mendatangi ke rumahnya dan meminta Karina untuk menjenguk Aldo." Ia memandang Andrew, berharap Andrew dapat memahami keputusannya.
Andrew terkejut mendengar jawaban dari mamanya, padahal ia sudah berulang kali meminta agar Aldo tidak bertemu dengan Karina lagi. Ia memandang Lusi dengan mata yang kesal, suaranya meninggi ketika ia berbicara. "Ma... Aku kan sudah pernah bilang, kalau Aldo tidak boleh bertemu dengan Karina lagi!" ucapnya dengan suara yang kesal dan tidak puas.
Lusi menghela napas panjang. "Andrew, bisa tidak kamu menurunkan ego dan keras kepalamu, itu!" Ia memandang Andrew dengan mata yang taja. "Apa salahnya kalau Aldo bertemu dengan Karina. Mama yakin, kalau Karina itu wanita yang baik-baik." Ia berhenti sejenak, kemudian melanjutkan dengan suara yang sama lembutnya. "Coba lihat ke dalam sana, Aldo hanya mau makan dengan Karina. Harusnya kamu berterima kasih kepada Karina, Andrew!"
Setelah mengatakan itu, Lusi berdiri dan masuk ke dalam ruangan, meninggalkan Andrew sendirian dengan pikirannya yang bercampur aduk.
"Wuah, buburnya bisa habis ternyata. Aldo, doyan apa lapar?" tanya Lusi dengan suara sedikit meledek, matanya yang cerah memandang Aldo dengan ekspresi yang lucu.
Aldo tersenyum lebar, memperlihatkan wajahnya yang ceria dan bahagia. "Ini karena mama yang nyuapin aku, Oma," jawabnya dengan suara yang polos.
Lusi menggelengkan kepala, merasa tidak percaya dengan jawaban Aldo. "Yaampun, terus kalau Tante Karina tidak kesini, berarti Aldo nggak mau makan dong? Memangnya tidak lapar?" tanyanya dengan suara yang sedikit heran.
"Lapar sih, Oma. Tapi aku cuma mau disuapin sama mama Karina," jawab Aldo dengan suara yang polos dan jujur.
"Yasudah, Aldo sekarang istirahat lagi ya! Biar cepat sembuh," ucap Lusi dengan suara yang lembut dan peduli.
Aldo mengangguk dengan cepat, kemudian memandang Karina dengan mata yang penuh kasih sayang. "Iya, Oma. Mama, jangan pergi, ya!" Karina mengangguk dan tersenyum manis, gemas sekali dengan kelakuan Aldo yang polos dan lucu.
Lusi beralih kepada Karina dengan mata yang penasaran, ingin tahu lebih lanjut tentang keadaan Karina. "Memangnya suami dan mertuamu mengijinkan nak Karina kesini?" tanyanya dengan suara yang lembut dan peduli.
Karina tersenyum dengan manis. "Alhamdulillah, mereka akhirnya mengijinkan kok, Tante," jawabnya dengan suara yang lembut dan penuh rasa syukur.
Lusi mengangguk dengan perlahan, namun mata yang tajamnya masih memandang Karina dengan penasaran. "Kok bisa secepat itu berubah? Bukannya mertuamu sangat menentang," tanyanya dengan suara yang sedikit heran dan penasaran.
Karina tersenyum mengingat-ingat kejadian saat di rumah, seolah-olah ia ingin menyembunyikan kenangan yang masih tersembunyi di dalam hatinya.
FLASHBACK ON..
"Rudi, ibu bosan makan makanan kaya gini. Udah seminggu tidak pernah masak ayam," ucap Bu Marni dengan suara yang terdengar bosan dan tidak puas. Ia memandang Rudi dengan mata yang terlihat mengharapkan perubahan.
"Iya, mas. Aku juga bosen banget, pengen makan ayam atau ikan gitu," sahut Rina.
Rudi menghela napas berat. "Untuk saat ini, aku tidak bisa memberikan uang banyak untuk membeli sayur. Kalian yang sabar ya, seminggu lagi gajian kok, nanti setelah gajian pasti Karina akan masak ayam atau ikan," katanya dengan suara yang terdengar lelah dan tidak berdaya.
"Bilang dong kalau mau makan ikan. Tenang mas, besok aku bakalan masak ikan," kata Karina dengan santainya.
Rudi melotot tajam, ia sedang mencoba untuk memahami apa yang Karina maksud. "Karin, kamu kan tadi dengar, kalau aku lagi tidak bisa ngasih uang banyak buat beli sayur."
Karina tersenyum penuh arti, seolah-olah ia sedang mencoba untuk memberitahu Rudi bahwa ia memiliki rencana lain. "Tenang mas, uang belanja 30 ribu juga cukup kok buat beli ikan."
"Yang benar, kamu?" tanya Rudi penasaran. Ia memandang Karina dengan mata yang terlihat penasaran.
Karina mengangguk dengan suara yang terdengar mantap. "Benar dong. Oh ya mas, aku boleh ijin untuk ke rumah sakit," katanya dengan suara yang terdengar mengharapkan izin.
"Kamu sakit?" tanya Rudi dengan suara yang terdengar khawatir.
"Tidak mas, aku mau..."
"Menjenguk anak selingkuhannya," sahut Bu Marni dengan suara yang terdengar kasar dan tidak sopan. Ia memandang Karina dengan mata yang terlihat tidak suka.
"Bu.. Ibu itu apa-apaan sih. Aldo itu bukan anak selingkuhanku, mas," kata Karina dengan suara yang terdengar kesal.
"Tidak boleh! Kamu tidak boleh pergi ke rumah sakit," ucap Rudi dengan lantang dan tegas. Ia memandang Karina dengan mata yang terlihat tidak mau kompromi.
Karina menghela napas berat, rasanya ia ingin melepaskan kesabaran yang sudah mencapai batasnya. "Yasudah, kalau memang kalian tidak mengijinkan aku ke rumah sakit," ucapnya dengan suara yang tegas dan tidak bisa dinegosiasikan. "Berarti besok batal makan ikannya dan jangan harap besok aku mau masak!" Ia memandang Rudi dan ibunya dengan mata yang tajam, Karina ingin memastikan bahwa mereka memahami konsekuensi dari keputusan mereka.
Rudi dan ibunya terkejut dengan ancaman Karina, dan mereka saling memandang dengan ekspresi yang tidak percaya. "Kamu mengancam kami?" tanya Rudi dengan suara yang tidak percaya.
Karina menggelengkan kepala. "Aku tidak mengancam mas, aku cuma ngasih pilihan saja," ucapnya dengan suara yang tetap tegas. "Gimana, boleh atau tidak?"
Rudi terlihat tidak nyaman dengan tekanan Karina, dan ia berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. "Kenapa kamu kekeh ingin ke rumah sakit, sih? Jangan-jangan memang benar kalau..."
Karina menatap Rudi dengan mata yang tidak bersahabat. "Jangan pernah mengalihkan pembicaraan, mas! Kamu tinggal jawab saja, boleh atau tidak," ucapnya dengan suara yang tegas.
Rudi terlihat kesulitan untuk menelan salivanya, dan ia berusaha untuk menjawab dengan suara yang tidak terlalu keras. "I-iya.. Tapi jangan lama-lama," jawabnya dengan suara terbata.
"Rudi, kenapa kamu ijinkan Karina ke rumah sakit? Kamu tahu kan, anak itu adalah..." ucap Bu Marni berusaha untuk menginterupsi, namun Rudi segera memotongnya.
"Bu, cukup! Biarkan saja Karina pergi sebentar," ucapnya dengan suara yang tegas.
Karina tersenyum puas, karena ia telah mencapai tujuannya. "Baiklah, artinya besok aku akan masak ikan untuk kalian semuanya," ucapnya dengan suara yang manis dan puas.
FLASHBACK END..
"Jadi begitulah Tante ceritanya. Tapi entahlah besok bisa tidak untuk masak ikan," ucap Karina dengan suara yang sedikit ragu-ragu.
Lusi memandang Karina dengan mata yang tajam, ia ingin memastikan bahwa Karina tidak menyembunyikan sesuatu. "Memangnya, suamimu sedang kesulitan keuangan? Sampai-sampai mau makan ikan harus menunggu gajian dulu," tanyanya dengan suara yang sedikit penasaran.
Karina terhenyak, ia baru sadar bahwa telah menceritakan aib keluarganya terutama suaminya. Ia memandang Lusi dengan mata yang tidak enak, rasanya ia ingin meminta maaf atas kecerobohannya. "Ah, tidak kok, Tante. Memang kami sedang berhemat saja."
"Jangan bohong Karina! Tante tahu kalau kamu berbohong. Cerita sama Tante, siapa tahu Tante bisa menolong," ucap Lusi dengan suara yang lembut dan penuh kasih sayang.
Karina menundukkan wajahnya, ingin sekali bercerita, tapi malu. Ia merasa tidak enak untuk menceritakan keadaan keuangan keluarganya yang sedang sulit. Disisi lain, dirinya juga harus segera mendapatkan pekerjaan untuk membantu keluarganya.
"Suami saya sebenarnya mempunyai gaji yang lumayan, Tante," ucap Karina dengan suara yang sedikit ragu-ragu, ia tidak yakin apakah ia harus menceritakan keadaan keuangan keluarganya. "Seharusnya, gaji itu sudah lebih dari cukup untuk hidup berdua, apalagi kami belum memiliki anak. Sayangnya dia selalu pelit sama saya, termasuk urusan dapur." Ia memandang Lusi dengan mata yang sedih.
"Tapi, giliran untuk ibu dan adik-adiknya, suami saya sangat royal, Tante," lanjut Karina dengan suara yang sedikit kesal. "Saya berencana mencari pekerjaan, Tan, supaya bisa punya penghasilan sendiri. Mungkin Tante Lusi tahu informasi dimana ada lowongan pekerjaan yang tersedia?" Ia memandang Lusi dengan mata yang penuh harapan, ingin meminta bantuan dari Lusi.
Lusi menganggukkan kepalanya, paham dengan situasi yang Karina alami. "Tante turut prihatin dengan apa yang kamu alami," ucapnya dengan suara yang lembut dan penuh kasih sayang. "Akan saya bantu mencarikan pekerjaan ya, nanti. Oh ya, boleh saya minta nomor HP nak Karina?"
Karina menulis nomornya di hp Lusi, kemudian menyimpannya. "Oh ya Tante, kalau begitu saya permisi pulang dulu ya. Aldo juga sudah tidur, besok kalau ada waktu insyaAllah aku kesini lagi."
Lusi tersenyum dan memandang Karina dengan mata yang penuh kasih sayang. "Iya, kamu hati-hati ya, nak Karina. Ini ada sedikit ongkos untuk pulang." Ia memberikan uang sebanyak 500 ribu kepada Karina, yang langsung menolak dengan mata yang berkaca-kaca.
"Tidak Tante, maaf saya tidak bisa menerimanya."
"Jangan menolak rejeki! Ini juga bisa kamu gunakan untuk membeli ikan besok," ucap Lusi dengan suara yang lembut dan penuh kasih sayang.
Kedua mata Karina nampak berkaca-kaca diperlakukan baik oleh orang lain. "Tante, terimakasih. Tapi ini terlalu banyak," ucapnya dengan suara yang sedikit ragu-ragu.
"Kamu simpan untuk pegangan kamu, ya," ucap Lusi dengan suara yang lembut dan penuh perhatian.
****
Karina memutuskan untuk pulang menggunakan ojek, karena biayanya lebih irit. Rasanya terlalu sayang mengeluarkan uang banyak untuk naik taksi. Sambil menunggu ojek pesanannya, Karina memandang sekitar dengan mata yang sedikit lelah.
Tiba-tiba, Andrew muncul di sampingnya dengan wajah yang tidak bersahabat. "Sebenarnya apa yang kamu cari dari anakku?" ucapnya dengan suara yang tajam dan tidak percaya.
Karina yang sedang fokus menunggu ojek pesanannya pun menoleh ke arah Andrew dengan mata yang sedikit terkejut. "Apa maksud anda?" tanyanya dengan suara yang sedikit ragu-ragu.
Andrew memandang Karina dengan mata yang penuh kecurigaan. "Saya tau, orang seperti kamu itu. Kamu cuma mau uang, kan? Kamu memanfaatkan Aldo, yang menganggap kamu itu mamanya hanya untuk kepentinganmu sendiri." Ia berhenti sejenak, kemudian melanjutkan dengan suara yang sama tajamnya. "Berapa yang kamu minta? Akan saya berikan, asal kamu jauhi Aldo mulai saat ini! Jangan pernah mencari kesempatan hanya karena wajahmu yang mirip dengan mamanya Aldo. Kamu dan mamanya Aldo itu beda jauh, ibarat langit dan bumi."
Karina tersenyum sinis, mendengar ucapan Andrew yang tidak mendasar, membuat hati Karina sakit. Ia merasa bahwa Andrew tidak memahami perasaannya yang tulus terhadap Aldo. "Anda tidak perlu repot-repot memberikan saya uang. Saya memang orang miskin, tapi bukan berarti anda bisa menuduh saya seperti itu." Ia berhenti sejenak, kemudian melanjutkan dengan suara yang sama tegasnya. "Saya sangat menyayangi Aldo, dan perasaan saya itu tulus dari hati. Tapi jika anda meminta saya untuk menjauh dan melarang saya menemui anak anda, maka mulai saat ini juga akan saya lakukan." Ia memandang Andrew dengan mata yang sedikit basah, kemudian berpaling dan berjalan menjauhi Andrew.
Bersambung..
lanjut Thor, penasaran!
wong data semua dari kamu