Firman (22) punya satu prinsip dalam hidupnya: "Jangan pernah berharap sama manusia, maka kamu tidak akan kecewa." Pengkhianatan di masa lalu mengubahnya menjadi jurnalis yang dingin dan skeptis terhadap komitmen. Baginya, cinta adalah variabel yang tidak rasional.
Di sebuah lapangan badminton di Samarinda, ia bertemu Yasmin (22). Seorang dokter muda yang lembut namun memiliki tembok yang sama tingginya dengan Firman. Yasmin adalah ahli dalam mengobati fisik, tapi ia sendiri gagal menyembuhkan luka akibat ditinggalkan tanpa penjelasan.
Mereka tidak menjanjikan selamanya. Mereka hanya sepakat untuk berada di "level" yang sama sebagai teman diskusi, teman batin, namun tanpa ikatan yang mencekik. Namun, ketika masa lalu mulai kembali menagih janji dan jarak antar kota (Bontang hingga Labuan Bajo) mulai menguji, mampukah mereka tetap di level yang aman? Ataukah mereka harus memilih: Berhenti sebelum terluka, atau berani hancur demi satu kesempatan bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Firmanshxx969, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: BAYANG-BAYANG DI ATAS GELOMBANG
Ledakan itu merobek kesunyian malam di tengah Laut Jawa dengan suara yang begitu memekakkan telinga, seolah-olah langit sendiri sedang runtuh. Kapal nelayan Pharos yang tadinya menjadi satu-satunya tempat berlindung mereka, kini berubah menjadi bola api raksasa yang mewarnai cakrawala dengan warna oranye yang mengerikan. Puing-puing besi dan kayu beterbangan ke udara, lalu jatuh kembali ke dalam laut dengan suara desis yang menakutkan.
"IBUUUU!" teriakan Yasmin menyayat kegelapan.
Di atas sekoci kecil yang terombang-ambing oleh gelombang pasca-ledakan, Yasmin meronta hebat. Ia mencoba melompat ke arah laut yang kini dipenuhi kobaran api yang mengapung di atas tumpahan solar. Firman segera mendekapnya dengan sekuat tenaga, meski bahunya sendiri terasa seolah akan lepas akibat sentakan tersebut.
"Yas, tenang! Yas, jangan!" Firman berteriak tepat di telinganya, mencoba mengalahkan deru angin dan suara api.
"Ibu masih di sana, Mas! Ibu sengaja meledakkannya!" tangis Yasmin pecah, tubuhnya lemas di pelukan Firman. Ia menatap ke arah kapal patroli yang kini perlahan menjauh dari lokasi ledakan, seolah-olah tugas mereka telah selesai dengan pemandangan maut tersebut.
Firman tidak menjawab. Matanya tidak beralih dari geladak kapal patroli yang mulai menjauh itu. Di bawah sorotan lampu spotlight yang tajam, ia melihat pria itu lagi. Sosok pria dengan kemeja putih yang lengan bajunya digulung, berdiri tegak dengan sikap tubuh yang sangat ia kenal. Pria itu tidak memakai kacamata, namun sorot matanya yang dingin seolah menembus kegelapan dan mendarat tepat di jantung Firman.
Baskara Putra.
Pria yang fotonya selalu Firman simpan di dalam dompetnya selama dua puluh tahun. Pria yang ia kira telah mati terbakar di Tol Cipularang. Tapi pria di kapal itu... dia tampak terlalu muda untuk menjadi seorang ayah berusia 50-an tahun. Dia tampak persis seperti ayahnya di masa jaya.
"Mas... apa yang kamu lihat?" tanya Yasmin dengan suara serak, menyadari tatapan Firman yang membeku.
"Bukan apa-apa," jawab Firman cepat, mencoba menekan badai di dalam kepalanya. "Rendy! Sarah! Bantu saya mendayung! Kita harus menjauh dari radius lampu sorot mereka sebelum mereka menyadari kita selamat!"
Tiga Jam Kemudian, Di Antara Kabut Laut.
Sekoci kecil itu kini hanya mengandalkan arus laut dan dayung manual setelah mesin motor tempelnya mati akibat terkena serpihan ledakan. Hening yang menyesakkan menyelimuti mereka berempat. Sarah duduk di buritan, memegang kompas digital dengan tangan yang gemetar hebat. Rendy berada di depan, menatap kosong ke arah laut lepas.
Yasmin duduk meringkuk di bawah selimut darurat yang basah. Matanya kosong, menatap dasar sekoci yang mulai digenangi air setinggi mata kaki. Kehilangan Ibu Diana untuk kedua kalinya dalam hidupnya kali ini secara permanen telah mematikan separuh jiwanya.
Firman duduk di sampingnya, masih memegang dayung kayu yang kasar. Ia menatap punggung tangan Yasmin yang dipenuhi luka gores kecil. Ia ingin menyentuhnya, ingin membisikkan kata-kata penenang, namun bayangan "Baskara" dan kenyataan tentang "Subjek Rekayasa" membuat tangannya terasa kaku.
"Sarah," panggil Firman pelan. "Siapa pria di kapal itu? Ayahmu... dia pernah menyebut soal kloning selain saya?"
Sarah mendongak, wajahnya pucat pasi di bawah cahaya bulan yang tipis. "Ayahku... dia terobsesi dengan kesempurnaan, Firman. Baskara Putra adalah subjek asli yang paling berharga baginya karena kecerdasan dan ketahanan fisiknya. Jika Syarifuddin berhasil memalsukan kematian ayahmu dua puluh tahun lalu, sangat mungkin dia tetap menghidupkan 'Baskara' dalam bentuk lain. Proyek Lentera bukan hanya soal obat bius, Firman... itu adalah proyek keabadian bagi para elite."
"Maksudmu, pria itu adalah klon dari ayahku?" Firman merasakan mual yang luar biasa.
"Atau ayahmu yang asli yang sudah dicuci otaknya dan diberikan prosedur peremajaan sel," Sarah menunduk. "Di 'The Hive', segalanya mungkin terjadi. Syarifuddin tidak akan membiarkan genetik sehebat Baskara hilang begitu saja."
Yasmin tiba-tiba mengangkat kepalanya. Ia menatap Firman dengan tatapan yang tajam namun penuh kesedihan. "Jadi... jika dia ayahmu, dan kamu diciptakan darinya... lalu siapa aku dalam cerita ini, Firman? Kenapa aku harus lahir alami hanya untuk menjadi alasan kalian semua menderita?"
"Yasmin, berhenti," Firman mendekat, kali ini ia tidak peduli pada keraguannya. Ia menggenggam tangan Yasmin dengan sangat erat. "Kamu bukan alasan siapa pun menderita. Kamu adalah satu-satunya kebenaran yang tersisa di tengah semua kebohongan ini. Ibuku, Eliza, memilih untuk melahirkanmu secara alami agar ada satu orang di dunia ini yang benar-benar memiliki jiwa yang bebas."
"Tapi jiwaku tidak bebas, Mas!" Yasmin terisak. "Aku terikat pada Proyek Lentera. Aku terikat pada Syarifuddin. Dan aku terikat padamu dengan cara yang... yang menjijikkan bagi dunia."
"Dunia tidak tahu apa-apa tentang kita," tegas Firman. "Level 5, Yas. Kita menghadapi ini bersama. Terlepas dari apakah pria di kapal itu adalah ayah saya atau bukan, dia adalah bagian dari musuh kita sekarang. Dan saya akan memastikan, sebelum semuanya berakhir, kamu akan hidup tanpa bayang-bayang mereka."
Pesisir Pantai Utara Jawa, Dekat Jepara, Pukul 05.00 WIB.
Fajar mulai menyingsing, memberikan semburat warna merah darah di cakrawala timur. Sekoci mereka akhirnya terdampar di sebuah pantai berbatu yang tersembunyi di balik tebing kapur. Mereka turun dengan langkah yang gontai, kaki mereka mati rasa akibat terendam air dingin selama berjam-jam.
Rendy segera mencari tempat tersembunyi untuk menyembunyikan sekoci di balik semak-semak bakau. Firman membantu Yasmin berjalan, menuntunnya menuju sebuah gua kecil yang tampak kering.
"Kita tidak bisa tinggal di sini lama," ucap Sarah sambil memeriksa ponsel satelitnya yang tersisa satu. "Syarifuddin pasti akan mengirim tim pembersih untuk menyisir garis pantai. Kita harus masuk ke daratan, cari kendaraan, dan menuju ke titik aman berikutnya."
"Di mana titik amannya?" tanya Rendy.
"Ada sebuah panti asuhan di pinggiran Semarang," sahut Firman tiba-tiba. "Namanya Panti Asuhan Kasih Eliza. Ibu saya yang mendirikannya secara anonim sebelum dia meninggal. Syarifuddin tidak tahu tempat itu karena datanya tidak ada di arsip pemerintah. Kita bisa bersembunyi di sana sementara saya mencoba memproses data yang sempat Ibu Diana kirimkan ke email rahasia saya sebelum ledakan."
Yasmin tersentak mendengar nama panti asuhan itu. "Panti Asuhan Kasih Eliza? Itu... itu panti asuhan yang sama dengan yang pernah kita kunjungi di Samarinda, Mas? Namanya mirip."
"Cabangnya, Yas. Ibu saya ingin menciptakan jaringan keamanan bagi anak-anak yang menjadi korban eksperimen medis. Itulah kenapa saya sangat protektif pada panti asuhan di Samarinda dulu," Firman menjelaskan sambil membuka tas ranselnya yang basah.
Mereka mulai berjalan menembus hutan jati yang rapat. Setiap langkah terasa seperti siksaan bagi Firman; bahunya yang cedera kini membengkak hebat dan mulai terasa panas akibat infeksi. Namun, ia tidak mengeluh. Ia harus menjadi tiang bagi kelompok kecil ini.
Pukul 11.00 WIB, Perjalanan di Dalam Truk Sayur.
Setelah berjalan kaki selama beberapa jam, mereka berhasil mencegat sebuah truk sayur yang menuju Semarang. Sopirnya, seorang pria tua yang baik hati, setuju memberi mereka tumpangan di bagian belakang truk yang dipenuhi kubis dan sawi.
Di dalam keremangan bak truk, Firman duduk bersandar pada tumpukan karung. Yasmin tertidur di pangkuannya karena kelelahan yang luar biasa. Firman mengusap rambut Yasmin dengan lembut, matanya menatap langit-langit bak truk yang bergoyang-goyang.
"Man," bisik Rendy yang duduk di sudut seberang. "Soal pria di kapal itu... kalau benar dia ayah lo, apa lo sanggup menarik pelatuk ke arahnya?"
Firman terdiam. Pertanyaan itu adalah lubang hitam dalam pikirannya. Baskara Putra adalah pahlawan dalam hidupnya. Alasan ia menjadi jurnalis. Alasan ia menjunjung tinggi kebenaran. Melihat wajah itu kembali namun berada di pihak musuh adalah jenis pengkhianatan yang paling menyakitkan.
"Ayah saya sudah meninggal dua puluh tahun lalu di Cipularang, Ren," jawab Firman dengan suara yang sangat datar dan dingin. "Pria yang ada di kapal itu hanyalah sebuah senjata yang memakai wajah ayah saya. Dan sebagai jurnalis... tugas saya adalah menghancurkan senjata itu."
"Tapi lo dan dia... kalian berbagi genetik yang sama," Sarah menimpali dari sisi lain. "Jika kamu membunuhnya, kamu seolah-olah membunuh separuh dari dirimu sendiri."
"Saya sudah mati berkali-kali, Sarah. Di Nagreg, di pelabuhan Samarinda, dan semalam saat Pharos meledak. Yang tersisa sekarang hanyalah kemarahan yang terarah," Firman menatap tangannya yang gemetar.
Ia merogoh saku jaketnya, mengeluarkan stetoskop Yasmin yang untungnya tidak hilang saat mereka melompat ke sekoci. Ia menggenggam logam dingin itu. Baginya, stetoskop ini bukan hanya alat medis, tapi simbol kemanusiaan yang harus ia jaga.
Semarang, Kawasan Panti Asuhan Kasih Eliza, Pukul 16.00 WIB.
Panti asuhan itu terletak di sebuah lembah hijau yang tenang, dikelilingi oleh tembok bata tinggi yang ditumbuhi tanaman merambat. Suasana di sana sangat asri, dengan suara anak-anak yang tertawa saat bermain bola di halaman tengah. Seorang wanita tua dengan kerudung sederhana menyambut mereka di gerbang samping.
"Tuan Muda Firman?" wanita itu menatap Firman dengan mata berkaca-kaca. "Kami sudah menunggu kabar dari Anda. Ibu Diana sempat mengirim pesan sebelum jalur komunikasinya terputus."
"Kami butuh tempat istirahat dan perawatan medis darurat, Bu Rahmi," ucap Firman lemas.
Mereka dibawa masuk ke sebuah ruang bawah tanah yang luas namun nyaman sebuah bungker yang disamarkan sebagai gudang makanan. Di sana terdapat peralatan medis yang cukup lengkap.
Yasmin segera mengambil alih kendali saat melihat kondisi bahu Firman. Naluri dokternya mengalahkan rasa sedihnya. Ia meminta Bu Rahmi menyiapkan air panas, alkohol, dan alat bedah minor.
"Duduk, Firman. Jangan membantah," perintah Yasmin dengan suara yang kini mulai berwibawa kembali.
Firman hanya bisa menurut. Ia duduk di kursi kayu sementara Yasmin mulai membersihkan lukanya. Rasa perih dari alkohol yang menyentuh luka terbukanya membuat Firman meringis, namun ia tetap menatap wajah Yasmin. Ia melihat fokus di mata Yasmin, sebuah kekuatan yang dulu ia kagumi di IGD Samarinda.
"Kenapa kamu menyelamatkanku, Yas?" tanya Firman tiba-tiba saat Yasmin sedang menjahit luka di bahunya. "Bukankah aku ini 'produk' yang menjijikkan bagimu?"
Yasmin berhenti sejenak, jarum jahitnya menggantung di udara. Ia mendongak, menatap mata Firman. "Karena kamu adalah Firman-ku. Terlepas dari apakah sel-selmu dibuat di tabung reaksi atau di rahim ibu kita, kamu adalah pria yang memberikan seluruh hidupnya untuk menjagaku. Jika aku kehilanganmu, maka Proyek Lentera benar-benar menang karena mereka berhasil membunuh sisi manusiamu."
Yasmin melanjutkan jahitannya dengan tangan yang jauh lebih mantap. "Kita akan ke 'The Hive', Mas. Kita akan hancurkan segalanya. Bukan sebagai adik dan kakak, bukan sebagai subjek eksperimen... tapi sebagai dua orang yang ingin merebut kembali hak mereka untuk mencintai tanpa rasa takut."
Firman tersenyum, sebuah senyum yang tulus meski penuh rasa sakit.
Namun, di lantai atas, Rendy yang sedang memantau frekuensi radio tiba-tiba berlari turun dengan wajah pucat.
"Man! Mereka sudah tahu kita di sini! Syarifuddin tidak mengirim polisi... dia mengirim 'The Shadow Unit'. Dan pria yang wajahnya mirip ayah lo itu... dia memimpin timnya di depan gerbang!"
Firman segera berdiri, mengabaikan jahitan yang belum selesai di bahunya. Ia meraih jaketnya dan sebuah alat perekam suara.
"Yasmin, tetap di sini bersama Sarah. Rendy, siapkan jalur evakuasi bawah tanah melalui sumur tua," perintah Firman. "Saya akan menghadapi pria itu. Saya perlu tahu, siapa dia sebenarnya."
"Jangan, Firman! Itu jebakan!" teriak Yasmin.
"Ini bukan soal jebakan, Yas. Ini soal sejarah yang harus diselesaikan," Firman melangkah keluar menuju tangga, matanya berkilat dengan kedinginan "The Smiling Killer" yang kini bercampur dengan api dendam.
Firman keluar ke halaman panti asuhan dan berdiri di tengah gerimis yang mulai turun. Di depan gerbang, pria yang wajahnya identik dengan Baskara Putra itu turun dari mobil taktis. Pria itu tidak membawa senjata, ia hanya membawa sebuah folder merah folder yang sama dengan diari Eliza. Pria itu menatap Firman dan berbicara dengan suara yang persis sama dengan rekaman suara Baskara yang Firman miliki. "Anakku, kamu telah melakukan perjalanan jauh hanya untuk menemukan kematianmu di tangan satu-satunya orang yang memberimu nyawa." Benarkah pria itu adalah Baskara Putra yang asli, ataukah Syarifuddin telah menciptakan monster yang lebih mengerikan?