Sepertinya alam semesta ingin bercanda denganku, orang yang ku cintai meninggalkanku di saat mendekati hari pernikahan kami. meninggalkan luka yang menurutku tidak ada obat untuk menyembukannya walaupun dia kembali untuk minta maaf.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon olip05, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 14
Mita.
Badanku menegang saat bibir arun menempel pada bibirku, bibir arun membersihkan sisa bubur di bibirku sebentar kemudian melepaskan bibirnya dari bibirku.
“tadi ada sisa bubur di bibir kamu” ucap arun. Aaaa aku harus ngomong apa, aku bingung harus bereaksi seperti apa, aku tidak mungkin marah, arunkan suamiku jadi wajarkan suami mencium istrinya, atau aku harus berterima kasih karena arun telah menghilangkan sisa bubur dibibirku, tapi arun bisa membersihkan sisa bubur di bibirku dengan tangannya tak perlu dengan bibirnya. Entahlah aku bingung, aku ingin cepat sampai ke apartemen dan membenamkan wajahku di bawah bantal.
Tidak ada obrolan di antara kami sepanjang jalan menuju apartemen, bahkan aku berjalan lebih dulu di depan arun, tidak berjalan bersampingan dengannya.
setelah sampai di apartemen aku langsung masuk kedalam kamar, aku tidak ingin berdekat-dekat dengan arun, masih terasa sekali kecupannya di bibirku. ini bukan first kissku tapi kenapa rasanya membekas pada bibirku bahkan ciumannya hanya beberapa detik saja. Ya aku harus mengalihkan pikiranku, agar tidak kepikiran lagi soal ciuman tadi.
aku melihat ke sekeliling kamar mungkin saja ada sesuatu yang bisa mengalihkan pikiranku. Aku melihat ponselku di atas nakas lemari mini. Semenjak abian memutuskan pernikahan kami lewat telepon. Aku tidak suka lagi memegang ponsel bahkan ponselnya aku matikan agar tidak ada orang yang bisa menghubungiku. Dan baru kemarin aku menghidupkan ponselku tapi aku tidak menyalakan data internetnya, aku belum siap mendapatkan banyak pertanyaan dari orang-orang terdekatku atas batalnya pernikahanku dengan abian. Ada beberapa sms masuk juga tapi aku sengaja tidak membukanya.
Saat kemarin arun melihatku tertawa-tawa sambil memainkan ponsel, itu aku sedang melihat videoku bersama teman-temanku, aku rindu pada sahabat-sahabatku. Aku tahu mereka pasti khawatir akan keadaanku apalagi saat mereka melihatku di atas pelaminan bersama lelaki lain bukan dengan abian, aku bisa melihat keterkejutan di wajah mereka, sahabatku tidak tahu bahwa abian memutuskanku saat mendekati hari pernikahan, aku bahkan meminta kedua orang tuaku untuk melarang orang-orang menemuiku saat mendekati hari pernikahan. Aku tidak ingin melihat wajah-wajah mengasihaniku, aku tidak ingin terlihat seperti wanita yang malang karena di tinggalkan oleh kekasihnya. Jadi aku tidak ingin bertemu siapa pun termasuk sahabat-sahabatku.
Aku mengambil ponsel di nakas lemari mini, aku beranikan diriku untuk menyalakan data internetnya, tak perlu menunggu lama beberapa detik setelah aku menyalakan datanya banyak chat yang masuk. Aku menunggu sampai chat yang masuk berhenti, ada puluhan ribu chat yang masuk dan ada sekitar seratus lebih riwayat panggilan tak terjawab.
wajar jika banyak chat yang masuk aku hampir 2 minggu tidak mengatifkannya. sedangkan kedua orang tuaku menelpon lewat ponsel arun karena ponselku selalul ku matikan. hampir setiap hari kedua orang tuaku menelpon. menanyakan keadaanku, menanyakan apakah arun bersikap baik padaku dan segala hal macam lainnya. aku tahu orang tuaku khawatir dengan keadaanku apalagi aku hidup bersama orang yang belum mereka kenal dekat. walaupun arun anak sahabat papahku tetap saja mereka masih belum mengenal arun secara langsung.
Ketika aku akan membuka chat yang masuk tiba-tiba pintu kamar terbuka, aku melihat arun masuk ke dalam kamar dan berjalan ke arahku.
“mita” panggil arun
Aku meletakan ponselku di atas nakas lemari mini tadi, dan melihat ke arah arun.
“apakah kamu marah soal tadi aku
menciummu?” hey kenapa kamu malah mengingatkan kembali soal ciuman tadi padahal aku sudah mau melupakannya. Dasar arun ini
“eh, kenapa aku harus marah?” tanyaku balik
“jadi kamu tidak marah?” kenapa arun malah balik menanya lagi, akukan jadi bingung mau menjawab apa
“mmm anggap aja begitu”
“jadi kalau lain kali aku menciummu lagi, kamu tidak akan marah?” dasar si bambang ini kenapa harus menanya begitu, tidak bisakah dia berhenti membahas tentang ciuman. dan sepertinya arun berencana akan menciumku lagi mendengar dari pertanyaannya.
“aku rasa kita tidak_” omonganku terpotong ketika ada telepon masuk di ponselku, tiba-tiba dadaku sesak sulit untuk mengambil napas, aku kembali teringat saat ada telpon masuk dari abian. Nada dering telepon itu mengingatkan pada hari yang sangat buruk bagiku, hari dimana abian meninggalkanku, kata-kata abian kembali terngiang-ngiang di telingaku. Badanku tiba-tiba lemas aku terjatuh duduk di atas lantai.
“mita kamu kenapa?” tanya arun, arun mendekatkan tubuhnya kepadaku ikut duduk di lantai, air matuku jatuh perlahan-lahan membasahi pipiku
“arun matikan ponselnya, aku tidak ingin mendengar nada dering telepon itu, aku tidak ingin ada yang menelponku” arun langsung mematikan ponselku, suara panggilan masuk sudah tidak terdengar lagi oleh telingaku tapi air mataku semakin deras keluar dari mataku.
Aku melihat kehkawatiran di wajah arun, dan arun langsung menarik tubuhku kedalam pelukannya. Aku benamkan wajahku di dada arun, tangisan ku semakin menjadi-jadi rasa sakit itu kembali lagi menghatam hatiku.
“ponselnya sudah aku matikan nggak ada lagi yang akan menelpon” ucap arun sambil mengelus punggungku lembut.
kenapa aku harus teringat kejadian menyakitkan itu lagi, seharusnya tadi aku tidak perlu mengaktifkan ponselku. dan tak mendapatkan kenyataan bahwa rasa sakit itu masih bersemayam dalam hatiku. aku belum bisa berdamai dengan hatiku, aku belum bisa mengobati sakit hati ini. tuhan tolong ambillah rasa sakit ini aku tak mau lagi merasakannya.
Setelah beberapa saat ada di pelukan arun, arun melepaskan pelukannya pada diriku, arun menatap wajahku, air mata masih menetes dari mataku, aku kira arun akan menanyakan kenapa aku menangis tapi arun malah menyingkirkan rambit-rambut yang menempel pada wajahku kemudian menghapus air mataku dengan ibu jarinya. Aku tak mengeluarkan sepatah katapun begitu juga dengan arun.
Kemudian arun menggendongku bridal style, dan merebahkan tubuhku di atas kasur.
“kamu istirahat aja, aku akan keluar kamar” ucap arun sambil menyelimuti diriku, dan menaikan suhu ac kamar agar lebih dingin. Aku menarik ujung baju arun ketika arun akan beranjak dari kasur.
“aku gak mau di tinggalin sendiri” ucapku
Arun tidak mengatakan apapun, arun malah berjalan menjauh dariku dan mengambil buku di samping ponsel ku. Kemudian duduk kembali di sampingku.
“aku akan baca buku sambil nemenin kamu, jadi aku nggak akan kemana-mana” arun menyandarkan punggungnya pada sandaran kasur dan mengganjalnya dengan bantal.
Kepalaku yang sedikit pusing akibat terlalu lama menangis membuatku mudah tertidur, aku memenjamkan mata dan tertidur lelap.
terima kasih yang sudah membaca ceritaku yang masih berantakan ini. mungkin susunan katanya juga masih kurang tepat. jika para pembaca ingin mengkritik atau memberi saran pada ceritaku ini silahkan. aku dengan senang hati menerima saran dan kritikan kalian. oiya jangan lupa kasih like, vote dan comen kalian ya biar aku tambah semangat bikin ceritanya🤗😊