NovelToon NovelToon
REVENGE; The Mad Twin'S

REVENGE; The Mad Twin'S

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Kembar / Identitas Tersembunyi / Keluarga / Teen School/College / Crazy Rich/Konglomerat / Dendam Kesumat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: QueenBwi

Ketika Arbiyan Pramudya pulang untuk melihat saudara kembarnya, Abhinara, terbaring koma, ia bersumpah akan menemukan pelakunya. Dengan menyamar sebagai adiknya yang lembut, ia menyusup ke dalam dunia SMA yang penuh tekanan, di mana setiap sudut menyimpan rahasia kelam. Namun, kebenaran ternyata jauh lebih mengerikan. Di balik tragedi Abhinara, ada konspirasi besar yang didalangi oleh orang terdekat. Kini, Arbiyan harus berpacu dengan waktu untuk membongkar semuanya sebelum ia menjadi target berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenBwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Ara tidak tahu jika ternyata Biyan bisa merajuk juga. Pasalnya remaja itu selalu menunjukkan raut wajah datar dan malas tahu. Di tambah tingkah dingin tak tersentuh yang membuat siapa saja seperti segan hanya sekedar untuk menyapa.

Nyatanya ia langsung memasang ekspresi jengkel ketika acara makan siang mereka batal karena Eve ada kepentingan mendadak. Lucunya yang membuat ia jengkel adalah karena waktu bersama dengan Ara terganggu kemarin hanya untuk makan bersama dan malah tidak jadi.

Makanya untuk mengobati rasa jengkelnya, Ara mengajak Biyan ke taman bermain. Kebetulan ia pun sudah lama tidak datang lagi ketempat ini karena sibuk belajar terus menerus. Meski awalnya Biyan menolak, ujung-ujungnya ia menerima juga.

Satu fakta lagi yang baru saja Ara tahu soal Biyan adalah remaja itu penakut dengan hantu. Buktinya saat mereka memasuki rumah hantu, Biyan menjerit heboh dan refleks memukul salah satu hantu yang mengagetkannya. Berakhir mereka harus meminta maaf dan membayar biaya perawatan karena Biyan membuat staff yang menjadi hantu tersebut pingsan dengan hidung berdarah.

Tentu saja hal itu membuat Ara terus tertawa meledek sepanjang mereka menghabiskan waktu di tempat itu.

"Wow, kau benar-benar puas menertawaiku, heh?" desis Biyan dengan wajah datar.

Ara yang tengah menikmati es krimnya itu menoleh masih dengan senyuman jahil. "Tentu saja! Kapan lagi aku melihatmu berteriak begitu!," ucapnya sambil lanjut tertawa terbahak-bahak.

"Hey, apa Abhi tahu soal ini?" tanya Ara di sela-sela tawanya.

Biyan mendengus dan mengangguk. "Ya, dia tahu segalanya tentangku. Sejujurnya tidak ada rahasia diantara kami berdua."

"Dan ia tidak meledekmu?"

"Abhi bukan orang sepertimu, Ara."

Gadis itu mendesis sembari memukul lengan Biyan kesal. "Sialan!"

"Jadi, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Biyan.

"Hm."

"Kau dan Abhi benar-benar tidak ada hubungan apa pun? Maksudku diantara kalian tidak ada perasaan saling suka?"

Ara terdiam sejenak. Mereka kini tengah terduduk di salah satu bangku kosong sembari menikmati wahana yang sedang berjalan dengan lampu warna-warni terang.

"Awalnya aku tertarik padanya secara romantis. Well, kalian memiliki wajah tampan yang mempesona aku akui itu," kekeh Ara sembari menyamankan posisinya.

"Lalu ketika aku mulai mengenalnya secara perlahan-lahan. Perasaan itu mulai berubah. Abhi tampan, ramah, pintar, ia baik hati, bahkan tidak pernah meninggikan suara pada siapa pun meski mereka berbuat salah padanya. Abhi hanya akan selalu tersenyum dan tertawa dengan ceria. Meski tidak semua anak-anak menyukainya tapi bukan berarti ia di benci. Saat itu entah kenapa aku merasa Abhi begitu rapuh dan aku ingin melindunginya. Aku tidak punya adik tapi aku punya kakak dan aku merasa Abhi seperti adik lelakiku yang harus aku jaga dan lindungi," jelas Ara dengan senyuman di wajahnya.

Detik berikutnya senyuman itu hilang digantikan raut wajah cemas, ia menoleh menatap ke arah Biyan yang sedari tadi hanya diam mendengarkan.

"Suatu hari, aku merasa Abhi mulai berubah. Ia jadi lebih pendiam dan murung. Aku tidak tahu sejak kapan anak-anak lain mulai membicarakan hal buruk tentangnya. Mengata-ngatainya bermuka dua, banci, tuan putri, bahkan gay."

Ucapan terakhir Ara langsung membuat Biyan menatapnya tak percaya. Ini pertama kalinya ia mendengar hal itu selama ia menyamar jadi Abhinara.

"Apa maksudmu?"

"Sejak saat itu, aku mulai melihat Abhi sering terlibat dengan kelompok Rendra dan Bagas. Aku tidak tahu kenapa mereka sering mengganggunya, membullynya, bahkan mengejeknya terus menerus. Seringkali aku bertanya, tapi Abhi hanya menggeleng dan mengatakan semua baik-baik saja. Dan bodohnya aku percaya," lanjut Ara dengan kedua mata berkaca-kaca. Tangannya sampai saling meremat satu sama lain seolah melampiaskan perasaan marah yang ia pendam.

"Aku mendeklarasikan diriku sebagai sahabatnya tapi aku bahkan tidak melakukan apapun saat mereka menyakiti Abhi. Aku berusaha semampuku, Biyan. Aku mencari tahu apa yang terjadi tapi aku tidak menemukan apapun. Aku putus asa dan akhirnya aku memilih percaya dengan kata-kata Abhi bahwa ia baik-baik saja. I'm so fucking stupid!" geramnya di akhir dengan airmata berlinang.

"Jika aku sedikit lebih berusaha lagi, aku mungkin bisa menolongnya. Aku mungkin bisa menyelamatkan Abhi. Maafkan aku, Biyan. Maafkan aku." Pada akhirnya Ara menangis sesenggukkan menyesali semua hal yang ia pikir salahnya.

Sejujurnya, menceritakan semua hal ini pada Biyan membuat Ara merasa takut. Ia takut Biyan akan menyalahkannya bahkan membencinya. Tapi Ara terkejut ketika tubuhnya di tarik kedalam sebuah pelukan hangat. Bisa ia rasakan punggungnya di tepuk pelan.

"Aku tidak menyalahkanmu, Ara. Terima kasih karena berusaha melindungi adikku."

Beberapa saat kemudian,

"Merasa lebih baik?" tanya Biyan sembari memberikan kopi panas yang ia beli di salah satu stand minuman.

Ara mendongak dan mengangguk sambil tersenyum. Ia mengambil kopi tersebut dan meminumnya pelan.

"Terima kasih."

Hening.

"Ku pikir kejadian kali ini yang menimpa Abhi merupakan perbuatan dari kelompok Bagaskara. Aku belum tahu apa yang mereka lakukan tapi aku tahu mereka terlibat," kata Biyan.

"Jika mereka benar-benar pelakunya. Apa yang akan kau lakukan pada mereka?" tanya Ara penasaran.

Biyan menoleh dengan senyuman dingin. "Apalagi? Membalas mereka seratus kali lipat seperti yang mereka lakukan pada adikku."

Itu adalah raut wajah paling mengerikan yang pernah Biyan tunjukkan padanya. Jujur saja bulu kuduknya sampai meremang.

***

Didepan rumah Ara,

"Terima kasih sudah mengantarku," ucap Ara yang sudah turun dari mobil. Ia menunduk ke arah jendela mobil dengan senyuman.

Biyan balas tersenyum. "Tak masalah. Besok mau ku jemput?"

"Tidak masalah jika tak merepotkanmu."

"Baiklah."

Hening.

Ara mengerjap bingung karena Biyan masih diam sembari tersenyum melihatnya. Gadis itu jadi merasa sedikit canggung.

"Um, ada yang ketinggalan?" tanya Ara kaku.

"Ya, disini," katanya sembari menunjuk pipinya.

Kening Ara mengerut bingung. "Aku tidak mengerti."

Maka Biyan melepas sabuk pengaman lalu memajukan tubuhnya mendekati Ara yang masih dalam posisi sama. Kemudian ia menarik kepala gadis itu dan menempelkan bibir mereka. Bisa ia lihat kedua mata Ara yang melebar karena kaget tapi Biyan tak berhenti. Ia sedikit melumat bibir kemerahan itu sebelum melepasnya. Kemudian mengecup lagi dan melepasnya lalu kembali ke posisi awalnya.

"Selamat malam, Ara," ucap Biyan dan langsung menyalakan mesin mobil meninggalkan rumah gadis itu.

Sementara Ara masih terdiam kaku dengan posisi yang sama. Bedanya kini raut wajahnya masih syok serta memerah.

"Ke-kenapa mencium bibirku kalau tadi ia menunjuk pipi?" monolognya bingung kemudian baru menyadari jika Biyan mengerjainya.

"Aish! Anak itu!"

"Kau gila?"

"Astaga! Kak Ariana! Jangan mengagetkanku! Kupikir setan tadi!" pekik Ara kesal saat kakak perempuannya tiba-tiba saja muncul dari belakang.

"Adik kurang ajar! Lagipula kenapa kau marah tapi malah tersenyum begitu? Kau gila?!"

Ara mendesis. "Berisik!"

"Ey! Anak ini benar-benar! Oh, iya. Tadi itu Abhinara ya? Kalian habis kencan?"

"Arbiyan."

"Hah?"

"Namanya Arbiyan dan kami tidak habis berkencan," jawab Ara datar.

"Wajahmu mengatakan sebaliknya," balas Ariana datar kemudian raut wajahnya berubah lagi. "Tapi Arbiyan? Kupikir namanya Abhinara."

"Itu kembarannya."

"Dia punya kembaran?! Seriusan?! Kok tidak pernah cerita?!" pekik Ariana semangat.

"Aku juga baru tahu."

Oh, hanya sekedar info, Ariana itu maniak anak kembar, jadi jangan heran jika ia memekik bak orang gila dimalam-malam begini. Entah apa yang membuat kakak perempuan berjarak dua tahun darinya itu sangat menyukai anak kembar.

Ara hanya mendengus malas. "Ayo, kak. Diluar dingin."

"Kau harus membawaku untuk bertemu dengan mereka berdua nanti. Kalau tidak jangan harap aku merestui hubungan kalian?! Mengerti?!" kata Ariana lagi.

"Iya, kak!"

Ariana tertawa senang lalu terhenti saat mengingat sesuatu. "Ayah dan ibu sudah pulang."

"Oh? Kapan?"

"Kau nampak tidak senang."

"Mereka pulang dan tidak, bukankah sama saja?"

Benar juga.

Ayah mereka merupakan seorang mentri dan juga salah satu anggota penting di sebuah Partai ternama. Sedangkan ibu mereka adalah designer ternama yang namanya sudah mendunia. Kesibukan mereka membuat keduanya sangat jarang sekali berada dirumah. Sekalinya pulang, mereka malah memilih tidur atau lanjut menyelesaikan pekerjaan.

Maka wajar saja jika Ara tidak merasakan apapun ketika mendengar kedua orang tuanya pulang.

"Setidaknya sambut saja mereka. Ibu membawakan oleh-oleh untukmu dari Paris," kata Ariana.

"Oke," jawabnya lalu berjalan masuk diikuti oleh kakaknya.

Saat memasuki rumah mereka, sang Ayah sudah terduduk di sofa sembari membaca sesuatu di Ipad-nya. Tumben sekali, biasanya mereka akan langsung masuk kamar atau ruang kerja masing-masing untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.

"Ayah, aku pulang."

Pria berusia tak muda lagi itu mendongak dan tersenyum tipis. "Duduklah, Ara."

Gadis itu duduk di sofa bersama dengan Ariana di sebelahnya.

"Bagaimana perjalanan Ayah?" tanya Ara basa-basi meski ia tak ingin tahu juga.

"Baik. Lalu sekolahmu bagaimana? Ada kesulitan?"

"Tidak, Ayah."

Hening.

Selalu begini. Suasana antara mereka selalu terasa begitu dingin dan kaku. Mungkin karena Ayah mereka adalah pensiunan tentara jadi aura Ayahnya terasa mencekam.

"Ada yang ingin Ayah bicarakan denganmu," kata sang Ayah sambil menatap serius Ara.

Gadis itu mengangguk dan menatap Ayahnya, bahkan Ariana juga ikut diam untuk mendengarkan.

"Ayah, akan menjodohkanmu dengan anak teman Ayah."

Seketika mata Ara membulat kaget.

Di jodohkan?!

Tiba-tiba?!

"Ayah tahu kau terkejut. Tapi dia pemuda yang baik dan sopan. Ayah yakin kalian pasti cocok," jelas sang Ayah sambil tersenyum.

"Tu-tunggu. Ayah, apa maksudmu? Aku—"

"Tenang saja. Dia juga tampan. Ayah jamin kau akan mencintainya."

Ara mengerjap tak percaya lalu menoleh menatap sang kakak yang juga hanya diam.

Setelah beberapa saat Ara baru tersadar dari kekagetannya. "Ayah, aku tidak bisa. Aku—"

"Ayah tidak menerima penolakan. Lagipula, keluarganya pernah membantu keluarga kita ketika Ayah dalam kesulitan. Ayah merasa sangat tidak enak jika menolak perjodohan ini."

"Tapi, Ayah—"

"Tidak ada tapi-tapian, Aracell. Minggu depan kedua keluarga akan bertemu untuk membahas pertunangan kalian. Kalian akan menikah setelah kau lulus nanti."

"Ayah."

"Ara, Ayah mohon pahamilah dan dewasalah seperti kakakmu, hm? Lihat Ariana, awalnya ia menolak dijodohkan tapi pada akhirnya ia menerima dan mencintai calon yang Ayah jodohkan. Ayah yakin kau juga sama. Baiklah, Ayah sudah lelah, kita lanjutkan besok," kata pria itu sambil mengelus kepala kedua puterinya lalu pergi menuju kamarnya.

Ara terdiam.

Kenapa jadi begini?

"Ara."

"Kak, aku harus apa? Aku tidak ingin dijodohkan," lirih Ara bergetar diikuti lelehan air mata dari kedua mata cantiknya itu.

Ariana terkejut, sudah lama sekali ia tak melihat adik kesayangannya menangis. Tapi ia bisa apa? Ingin membantu pun ia tak berkutik melawan sang kepala keluarga. Jadi, Ariana hanya bisa memeluk adiknya ini dan berusaha menenangkannya.

Sepertinya malam ini akan menjadi malam paling menyedihkan untuk sang adik.

***

(Sementara itu ditempat lain, diwaktu yang sama)

Arbiyan memarkirkan mobil lamborghini kesayangannya itu masuk didalam garasi. Sesekali ia tersenyum mengingat ekspresi Ara yang tertawa bahagia. Hah! Sepertinya gadis itu telah membuatnya jadi gila.

Kaki jenjangnya melangkah masuk kedalam rumah yang terlihat cukup sunyi. Maklum saja, jika malam begini para pelayan sudah pulang semua. Mereka hanya bekerja dari pagi hingga pukul 7 malam setelah mereka menyiapkan makan malam tentu saja.

"Kau sudah pulang?" tegur Laras saat ia melihat putranya berjalan masuk. Biyan menoleh kearah suara dan mendapati sang Ibu sedang asyik duduk menonton TV, ia tersenyum lalu menghampiri Ibunya.

"Ya, bu. Kenapa Ibu disini? Kupikir Ibu dirumah sakit," kata Biyan.

"Sepupu menyebalkanmu itu memaksa ibu untuk pulang dan tidur," gerutu Laras masih dengan nada jengkelnya. Sedangkan Biyan hanya terkekeh pelan, bukan Dean namanya jika tak menyebalkan, kan?

"Bu, kak Dean hanya tak ingin Ibu sakit karena kelelahan."

"Iya, Ibu tahu. Ngomong-ngomong, kau berubah Biyan. Apa kau sadar itu?"

Biyan mengerutkan keningnya bingung. "Apa maksud, Ibu?"

"Kau terlihat lebih bahagia dan hidup sekarang setelah bertemu dengan Ara."

"Benarkah?"

"Iya, kau bahkan sering tertawa sekarang. bukan hanya didepan adikmu tapi orang lain juga."

Arbiyan terdiam sejenak. Kepalanya kembali memutar kenangan sebelum dan sesudah ia bertemu Ara. Sepertinya memang benar, dulu ia membenci segala macam interaksi dengan orang lain selain adik dan Ibunya. Ia bahkan bersikap dingin dan tak ambil pusing dengan orang lain, sekali lagi jika tak berhubungan dengan adik serta Ibunya.

Tapi kini ketika ia bertemu Ara, entah kenapa dunianya seperti dijungkir balikkan begitu saja. Bahkan terkadang tanpa sadar ia akan senyum-senyum sendiri. Sepertinya ia telah terjatuh terlalu dalam oleh pesona gadis itu.

"Mungkin ibu benar."

"Baiklah kalau begitu. Ibu istirahat dulu, sayang."

"Ya, bu," kata Biyan yang langsung mengecup kening ibunya sebelum sang ibu pergi ke kamarnya.

Setelah itu Arbiyan kembali menghempaskan tubuhnya diatas sofa tersebut dengan malas. Ia ingin mandi tapi masih terlalu lelah untuk bergerak.

Suara pintu depan yang dibuka itu membuat Biyan menoleh malas. Ia mendapati para kakaknya yang baru datang entah darimana, terlalu malas untuk bertanya.

"Sudah lama, Biyan?" tanya Dean lalu mengambil posisi didepan Biyan, diikuti Neo dan juga Eve.

"Tidak juga," jawab Biyan malas, kemudian ia menatap Eve. "Kak, bagaimana dengan 'dia'?"

"Pemindahannya sudah selesai. 'Dia' ingin bertemu denganmu," sahut Eve tak kalah datar.

"Biyan, kau serius ingin melibatkan 'dia' ?" tanya Dean khawatir.

"Kenapa tidak? 'Dia' sempurna untuk melancarkan aksi balas dendamku."

"Tapi,  Biyan kau tidak takut dengannya? Badanku saja masih merinding saat mengingat 'dia' menatapku dari ujung kaki hingga kepala," sambung Neo dengan wajah ngerinya.

"Tidak. Karena aku tahu 'dia' sangat menginginkanku jadi 'dia' tak mungkin melukaiku."

"Terserah padamu. Tapi aku tak ingin terlibat dengannya lagi. Terakhir kali saat di New York dia hampir saja...euh...Shit..kenapa aku mengingatnya lagi," gerutu Dean kesal dan hanya disambut kekehan geli dari Biyan.

"Tenang saja, kak."

"Biyan," panggil Eve.

"Hmm."

"Apa kau masih berhubungan dengan Ayahmu?" tanya Eve ragu. Pasalnya ini merupakan topic sensitif bagi Biyan.

"Jadi Daddy mengirim kalian berdua untuk itu?" tanya Biyan santai, walaupun dimatanya sudah terpancar aura tidak suka.

"Iya," jawab Eve singkat.

Biyan menghela nafas panjang. "kak Dean tahu kan aku membenci pria brengsek itu? Jadi aku tidak sudi untuk berhubungan dengannya lagi."

"Jadi, kami boleh melakukan apapun padanya?" Kali ini Neo membuka suara. Matanya tampak berbinar, seolah-olah mendapat sebuah hadiah.

"Hmm."

"Termasuk membunuhnya?" tekan Eve meyakinkan.

Biyan terdiam sejenak, kemudian ia kembali menghembuskan nafas panjang. "Terserah."

"Baiklah."

"Biyan, soal Bagaskara dan teman-temannya. Apa rencanamu?" tanya Dean, sambil sesekali memainkan rokok dijari-jari panjangnya.

"Kak, kau seperti tidak mengenalku saja. Lakukan saja seperti biasanya. Sisanya, biarkan 'dia' yang mengurus," jawab Biyan lagi kali ini diselingi dengan seringaian mengerikan.

1
Ryo gunawan
dabel up lah thor
Helmi Sintya Junaedi
beruntung abhi punya kakak yg sangat menyayanginya,,, cari pelakunya sampai dapat balas kn perbuatan nya,,
CutiePie
next! 😊
CutiePie
curiga sih mereka pelakunya 😡
CutiePie
heh 😂😂
CutiePie
bguss
CutiePie
Ini bagus sekali!
Tidak sabar untuk selanjutnya!
semangat ya!
CutiePie
😍😍
CutiePie
😭😭
CutiePie
semangat!
QueenBwi
💜💜
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!