"Kamu jadilah ayah dari anakku," ucap Dinia pada stafnya Taran.
🍁🍁🍁
Dinia Kenan, Direktur dari DW Fashion menolak untuk menikah. Hingga dia tanpa sengaja menemukan bayi lelaki yang terbuang. Dinia putuskan membesarkan bayi lelaki itu yang dia beri nama Ditrian.
Dinia mengakui kalau Ditrian adalah anak kandungnya karena tak ingin terpisah dengan anak itu. Hingga waktu berlalu, orang-orang mulai curiga dengan status Dinia yang seorang wanita lajang.
Saingan bisnisnya pun memanfaatkan masalah itu sebagai skandal untuk menghancurkan bisnis Dinia. Untuk menjawab rasa penasaran itu, Dinia meminta salah satu staf kepercayaannya menjadi ayah dari anaknya, Ditrian. Pria bernama Taran yang masa lalunya menjadi misteri.
Meski demi itu semua, Dinia harus pura-pura menikah dengan Taran. Terlebih Taran sangat menyayangi Ditrian seperti anak kandungnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elara-murako, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Pria menyebalkan
Dua tahun kemudian ....
"Kontainer yang mengirim bahan baku kita terguling di perjalanan. Kemungkinan produksi pakaian akan mengalami keterlambatan, Nona," lapor salah satu staf.
"Panggilkan Taran," pinta Dinia.
Staf itu mengangguk dan meninggalkan ruang kantor. Dinia berdiri di depan jendela kaca kantornya. Terhidu aroma dari kopi yang disajikan seorang office boy beberapa menit lalu.
Tak lama pintu terbuka. "Talan, Ian mobin. Tigal," rengek Ditrian yang tengah menggendong anak itu.
"Selamat siang, Nona. Ada yang perlu saya bantu?" tanya Taran.
Dinia berbalik. "Kamu tahu tentang kontainer kain kita?"
Ditrian memeriksa pesan. "Ini suatu kejadian yang buruk. Sesuai dengan prediksi saya."
"Kita tidak pernah membuat client kita merasa kecewa karena keterlambatan."
"Ian tulun." Ditrian menggeliat hingga Taran turunkan pelan. Anak itu lari ke arah Dinia.
"Tidak salah lagi, ini perbuatan Rubey. Seperti hasil pengintaian staf kita, dia memang akan melakukan praktek busuk seperti ini." Taran mengusap dagu.
"Carikan aku solusi," pinta Dinia.
"Mana yang lebih penting? Uang atau nama baik?" tanya Taran.
Dinia terheran-heran. "Apa maksud kamu?"
Taran menghampiri. "Saya pinjam pulpen Anda." Pria itu mengambil pulpen dan kertas. Dia membuat gambar di sana. "Anda tentu punya catatan kain apa saja yang dipesan. Pesanan yang waktunya lebih lama, bisa kita pesan kembali bahannya. Sedang yang harus cepat selesai, kita cari bahan yang sama di berbagai toko," saran Taran.
"Bukannya itu akan ribet?"
"Tentu, tapi lebih baik dan cepat dibandingkan menunggu untuk memesan kembali. Karena kita punya dua sumber, kita pesan di keduanya. Namun, salah satu orderan fiktif. Biar saja kita kecoh agar kejadian yang sama tidak terulang," tegas Taran.
Ditrian menatap ibunya dan Taran. Entah apa yang mereka katakan. Dia hanya teringat akan mobilnya yang kesepian di ruang main. Anak itu dengan lemas membaringkan wajah di atas meja kerja sang ibu. Dia nikmati nyamannya kursi putar.
"Mobin gak tangis. Tangis mata bungkak. Tugu Ian, sana. Ian lapat dulu," gumam anak itu sendiri. Dia masih tetap menyimak pembicaraan kedua orang tua itu.
"Apa kamu bisa handle semua itu?" Selama dua tahun lebih Taran bekerja dengannya, dia selalu menunjukkan sisi yang setia.
"Tentu. Aku akan berusaha untuk tidak mengecewakan Nona. Kalau begitu, aku minta daftar bahan dan tanggal pesanan." Taran menyanggupi.
Dinia anggukan kepala. Dia panggil sekretarisnya, Selena untuk datang dan memberikan apa yang Taran butuhkan.
"Saya undur diri, Nona," Taran membungkuk dan berjalan pergi dengab tergesa-gesa.
"Jangan lupa berikan laporan padaku," seru Dinia penuh harap. Kini dia sedang berjuang dengan waktu.
"Talan mana?" Ditrian langsung syok ditinggal pria itu.
"Dia harus kerja dulu."
Dengan tegas Ditrian menolak. "No! Talan keja, main Ian. Ikut." Ditrian turun dari kursi, tapi Dinia gendong dan dudukan di atas kursi lagi.
"Kamu main dengan Mama saja. Tidak ganggu Taran dulu. Ada urusan besar harus dia selesaikan. Paham?" Dinia berjongkok agar matanya bisa sejajar dengan Ditrian.
"Ususan apa?" Ditrian selalu penasaran.
"Mama sedang sedih. Taran harus bantu usir kesedihan Mama."
"Talan gak pacal Mama." Ditrian menyipitkan mata.
"Siapa bilang gitu?"
"Ateu ilo biang. Pacal gak sedih. Mama halus pacal. Talan gak mau," ungkap Ditrian. Karena ibunya sering sedih, Wilow menyarankan agar Ditrian mencarikan ibunya pacar.
Akhirnya dia minta Taran untuk pacaran dengan ibunya. Namun, lelaki itu menolak. "Taran gak suka Mamanya, Tuan muda. Tidak mungkin bisa," ucap Taran saat itu.
Kini Dinia syok mendengarnya. "Dia bilang gitu ke kamu. Kenapa?" Baru kali ini dia merasakan ditolak lelaki.
"Mama jelek. Mukin." Ditrian dengan santainya bicara. Mulut pedasnya itu sudah jelas berasal dari asuhan siapa.
Alis Dinia terangkat naik dan turun. Hatinya merasa sangat panas. Ruangan itu masih hening. Hanya ada Ditrian tengah mengacung-acungkan kaki dan Dinia yang menunduk lesu.
"Taran Green! Awas kamu nanti!" ucap Dinia dengan wajah marah yang merah merona.
"Mama selem." Ditrian menutup mata dengan telapak tangan.
Di perjalanan, Taran mengorek telinga. "Ada dengingan," ucap lelaki itu.
"Pasti ada yang sedang membicarakan kamu," jawab Goul yang ikut dengannya.
"Itu hanya mitos." Taran mengalihkan pandangan ke luar. Dia fokus dengan toko kain yang mungkin bisa dia temui.
Beberapa bahan didapat dengan mudah. Hanya bahan ekslusif tak segampang itu untuk ditemukan. Dia harus melihat di toko online dan offline.
"Toko ini menyanggupi," ungkap Goul.
"Kita ke sana!"
Pejuang dari siang berakhir di malam hari. Taran kembali ke rumah produk di mana kantor Dinia berada. "Saya sudah setorkan semua bahan, Nona. Saya sudah pastikan beberapa bahan masih aman. Polisi juga sudah saya hubungi agar apa yang ada di kontainer bisa kita bawa secepatnya," jelas Taran.
Namun, wajah Dinia masih terlihat kesal. "Nona, apa saya melakukan kesalahan. Meski biaya produksi akan naik, tapi kepercayaan konsumen Anda bilang segalanya." Taran bingung.
"Kenapa? Kamu tega bilanh begitu pada Ditrian?" tanya Dinia dengan tatapan tajam.
"Apa yang salah, Nona?" Taran mundur selangkah.
"Kamu berani bilang gak suka sama aku?" bentak Dinia.
Taran mengingat-ingat. "Bukan begitu maksud saya, Nyonya. Saya hanya berusaha menghormati Anda."
"Hormat? Harga diriku sebagai wanita terluka karena ucapan kamu! Sungguh terlalu kamu!" Dinia menggebrak meja.
"Saya suka pada Anda, Nona." Taran terpaksa mengatakannya.
"Apa kamu gila? Kamu pikir aku ini siapa? Beraninya kamu nembak aku kayak gitu! Keluar!" Dinia mengusirnya.
Taran mengatupkan bibir. "Jadi saya harus apa? Bilang suka gak boleh, tidak juga."
Dinia duduk sambil bersedekap. "Iya juga. Kamu terlalu ngeselin soalnya. Mau jawab apa aja tetep bikin aku kesel. Minta buatkan aku kopi ke OB."
"Nona, ingat gerd Anda. Saya tidak akan izinkan."
Dinia menunjukkan wajah sedih. "Kamu lagi-lagi nolak aku. Katanya kamu pegawaiku yang terbaik. Apa ini, Taran?" Dinia malah bermain drama.
Taran benar harus banyak bersabar dengan wanita ini. "Sepertinya Nona butuh istirahat. Saya pamit." Taran memilih meninggalkan kantor.
"Kita belum selesai bicara!" Dinia memanggil, tapi Taran pura-pura tak mendengar.
Dinia mengeluarkan suara dengkusan. "Sekarang dia sudah mulai jual mahal."
Foto Ditrian dan Dinia terpajang di atas meja kerja. Perempuan itu mengambil HP, hendak mengetik laporan pada Kakaknya Divan, Chairman Kenan Grouph saat ini.
"Nona! Saya lupa!"
Dinia terkaget. Hampir saja ponselnya jatuh. Pelaku itu Taran yang datang sambil ngos-ngosan. "Kamu bisa ketuk dulu kalau mau masuk?"
Taran tutup pintu dan mengetuknya.
"Maksudku nanti, Taran! Bukannya kamu ulang. Yang benar saja, siapa orang aneh yang kasih dia predikat mahasiswa tercerdas?" Dinia menepuk kening.
🍁🍁🍁
update lagi jam 19.00
. d luar galak d dalamnya keras... wah... takut ngajak debatnya juga..🤭😁😁