Demi Mempertahankan perusahaan, Isabella terpaksa mengikuti wasiat mendiang ayahnya untuk bertunangan dengan putra dari koleganya. namun, percintaan itu tak berjalan mulus saat David tunangannya ternyata adalah seorang Pria hidung belang dan kasar. Hingga kemudian ia bertemu dan ditolong seorang Pria sangar yang mengaku sebagai kriminal, bernama Morgan.
Namun siapa sangka, tindakan kriminal yang dimaksud Morgan bukanlah kejahatan biasa, Melainkan misi spionase antar negara.
Bagaimana kisah cinta sentimentil, si gadis manja yang kaya dengan Pria kriminal?
follow ig author : unchiha.sanskeh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon unchihah sanskeh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Mencintaimu Penjahat!
Setiap kali aku melihatmu, seluruh cahaya mentari seperti mengalir melalui gelombang di rambutmu. Dan setiap bintang di langit mengarah ke matamu seperti sebuah lampu sorot. Detak jantungku adalah sebuah genderang dahsyat yang tersesat, dan genderang itu sedang mencari irama yang sama seperti dirimu. Kau bisa mengusir gelap dari lubang malam, dan mengubahnya menjadi lentera yang terus menyala terang. Aku harus mengikutimu, karena segala yang ku tahu tak akan ada gunanya hingga ku berikan itu semua padamu.
Aku bisa membuat malam ini terasa selamanya, atau aku bisa membuatnya lenyap, saat menjelang fajar. Namun, aku tidak akan pernah bisa melakukannya jika tanpamu, Apakah kamu benar-benar ingin melihatku berantakan? Merangkak memohon agar kamu tetap di sisiku, dan mengizinkan aku tetap di sampingmu. Karena aku takkan pernag bisa melakukannya seperti dirimu, memunculkan cinta dari hal-hal yang biasa-biasa saja, begitu sederhana.
...****************...
Malam begitu tenteram dalam keagungannya. Sebuah bintang yang sendiri berjalan merapat ke arah kerumunan bintang di sekitarnya. Bintang itu perlahan berbinar-binar dan tampak semakin tegar pada orbitnya di tengah alam semesta yang demikian luasnya dan gelap. Mungkin manusia tak jauh berbeda dari bintang itu. Setiap manusia harus berbagi segala apa yang dirasakannya, agar ia semakin kokoh dan kuat di era gempuran masalah kehidupan, berbagi dengan orang lain memang tidak berarti mengurangi kesendirian yang dialaminya, melainkan hanya sekedar agar tidak terlalu berat menanggung nasib kesendiriannya. Dan mungkin demikian pula halnya dengan Cinta, seperti aku dan Morgan. Sementara gumpalan awan dari tepian cakrawala kian mendekat membentuk mendung tebal.
Malam ini aku sendirian di rumah, Morgan sudah pergi sejak sore tadi dan belum pulang sampai sekarang. Mungkin, dia merampok banyak tempat karena uangnya sudah habis di pakai belanja kemarin. Aku duduk di kasur lipatku di lantai, aku termenung menatap bulan dari dalam kamar sambil memeluk bantal.
“Sudah mau hujan, tapi dia masih belum pulang”
Sesekali aku melihat ponsel baruku, rasanya ingin sekali aku menelpon Morgan, agar ia cepat pulang. Malam tiba-tiba terasa kian Sunyi. Cahaya lampu jalan remang-remang, kadang hidup kadang mati. Setiap kali memandang bangunan di luar, aku selalu teringat kejadian malam merah itu, aku teringat dengan semangat anak-anak dalam mengarungi hidup, cara bertahan, dan saling melindungi; bahwa di balik kesederhanaan dan kekurangan tersimpan sisi spiritual yang tenang, lembut, dan penuh cinta. Dan dalam ketakutan tersimpan keberanian yang kuat untuk bertahan dan mempertahankan.
“Kring! Kriing...!”
Dengan malas aku meraih kembali ponselku, deringnya mengganggu kekhidmatan ku mengenang Chiko dan yang lainnya.
“Halo, aku di sini,” ucapku.
“Belum tidur?”
Oh, betapa terkejutnya aku mendengar suara Morgan! begitu bodohnya, sampai aku tidak ingat bahwa dalam ponsel ini aku hanya menyimpan kontaknya saja. Aku sedikit gugup.
“Belum,” Jawabku.
“Apa yang sedang kamu kerjakan? Mencuci piring? Masak tengah malam?”
“Tidak, aku membaca buku...”
“Buku apa?”
“Hmm...” Aku tergagap, karena berbohong. “Buku resep masakan yang kamu berikan waktu itu.”
“Oh, lama sekali. Belum selesai di baca. Memangnya mau masak?”
“Sudah, aku hanya selalu membaca ulangnya, biar selalu ingat dan lebih baik lagi memasaknya.”
“Kamu belum jawab, memangnya kamu mau masak malam ini? Aku pulang sedikit lebih larut. Tutuplah buku itu dan tidurlah, tidak usah menungguku pulang! Dan jangan lupa makan malam.”
“Tentu.”
Aku masih belum percaya dia menelponku di tengah malam hanya untuk mengingatkan makan malam. Ini di luar kebiasaannya, dan tentu ini pertama kalinya. Ada apa dengan dia? Dan ada apa denganku? Mungkin benar kata Petuah. Bahwa cinta itu, adalah perjuangan. Suatu saat pasti akan membuahkan hasil. Atau bisa jadi salah. Seandainya benar terjadi? Dan seandainya tidak?
Malam yang membingungkan. Satu hal yang menyelamatkanku dari gelisah adalah berangkat tidur. Tapi, sebelum itu aku harus mematikan wekerku agar istirahatku terus berlanjut, dan Morgan tidak akan ikut terbangun lagi seperti kemarin, dia bisa istirahat terus sampai matahari naik ke langit tinggi. Sementara urusan rumah akan ku urus sebaik mungkin, jadi saat ia bangun semua pekerjaan sudah beres, lalu dia terkesima, kagum dan jatuh cinta padaku. Hehe.
“Selamat tidur, Morgan. Sampai ketemu besok pagi. Aku mencintai kamu dasar penjahat.”
...****************...
...Meski ku tundukkan pandangan, debar hatiku tersampaikan......
...Saat kita bersama, suasana hati kita jadi berwarna-warna....
...meskipun kamu pura-pura acuh,...
...aku berdebar-debar ingin mengikat janji......
...saat kita bersama itu, pemandangannya begitu indah......
...Chapter-15...