Follow IG @Sensen_se
Tak kunjung hamil, Sofia harus menerima hinaan, cacian, gunjingan dari suami beserta keluarganya. Sofia tidak tahan, ia kabur setelah tepat dua tahun pernikahannya.
Reza Reynaldi—suami Sofia menganggap, wanita itu tidak akan pernah bisa bertahan dengan kerasnya hidup di luar sana. Karena selama ini, Sofia hanya menjadi ibu rumah tangga saja.
Siapa sangka, mereka dipertemukan lagi 8 tahun kemudian, dalam kondisi yang berbeda. Sofia menjadi wanita karir yang hebat didampingi seorang anak kecil berusia 7 tahun yang memiliki talenta luar biasa.
Penyesalan besar pun seketika merajai hati Reza, ketika tahu bahwa itu darah dagingnya. Ia bertekad untuk mengejar cinta Sofia lagi.
Akankah mereka bisa bersatu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sensen_se., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15 : Tidak Ada Hak!
Sepasang kaki Nino berlari cepat keluar kamar, masih menggenggam bingkai foto tersebut sembari mengedarkan pandangan. “Om Reza!” panggilnya tidak menemukan siapa pun.
Nino beralih duduk di sofa ruang tamu. Menunggu kehadiran sang tuan rumah. Karena menurutnya, tidak sopan jika menyelonong masuk ke setiap ruang tanpa permisi.
Kedua kakinya terus bergerak tak tenang. Ekor matanya tak beralih dari ujung lorong ruang tamu, menunggu kedatangan Reza dengan harap-harap cemas.
Beberapa saat kemudian, Reza melenggang dengan pakaian santainya. Rambutnya masih tampak basah. Terkejut ketika menemukan Nino duduk di sana. “Loh, nggak jadi tidur?” tanya Reza duduk di sebelah Nino.
Tatapan Nino berubah serius, bahkan tak berkedip ketika kini menyorot manik mata Reza. Hingga pria dewasa itu mengerutkan keningnya.
“Hei, Boy! Ada masalah apa?” tanya Reza mengacak rambut Nino.
“Ini mama ‘kan? Ini foto apa?” tanya bocah tersebut mengintimidasi.
Reza tersenyum samar. Ia memang mencetak foto akad nikahnya di rumah sakit dulu. Untung saja ada saudara yang mengabadikan momen tersebut. Meski tampak apa adanya, tetapi wajah mereka begitu jelas saat menunjukkan sepasang buku nikah. Tidak ada senyum sedikit pun yang terurai di bibir Reza, berbeda dengan Sofia yang tersenyum begitu cantik.
“Itu foto pernikahan kami, Nino.” Reza mengambilnya, menatap nanar foto tersebut. Mengingat penyesalannya yang tak berujung.
Nino berdebar mendengarnya, ia tersenyum getir. Napasnya semakin terasa berat. Tangannya mengepal dengan kuat. Bola matanya memutar dengan malas.
“Nino!” teriak Sofia baru saja turun dari mobilnya.
Langkahnya terseok meniti anak tangga teras rumah Reza. Tak sabar ingin segera membawa putranya, takut jika pria itu meracuni pikiran Nino.
Mendengar suara sang mama, Nino beranjak dengan cepat. Berlari keluar dan langsung menghambur ke pelukan Sofia. Dua lengan kecilnya melingkar dengan begitu kuat di pinggang Sofia. Menyembunyikan wajahnya di sana. Napasnya terengah seperti menahan sesuatu yang hampir meledak.
“Kamu baik-baik aja, Sayang?” tanya Sofia merasakan tubuh Nino yang menegang.
Bahkan pelukan itu semakin kuat. Sofia mengernyit bingung, membelai puncak kepala Nino sambil berbisik. “Are you, Ok?” sambung Sofia kebingungan.
Tak berapa lama, pandangan Sofia terangkat hingga kini saling bertatapan dengan netra Reza. Wanita itu memicingkan matanya.
“Apa yang kamu lakukan pada anakku, Mas?” tanya Sofia dengan nada dinginnya. Sorot mata wanita itu pun mulai menajam.
“Bukankah Nino adalah anakku juga, Sofia?” ucap Reza tersenyum smirk.
“Nino anakku, Mas! Sampai kapan pun dia cuma anakku. Kamu tidak ada hak sama sekali atasnya!” desis Sofia mengangkat jari telunjuk di depan wajah Reza.
Reza semakin mendekat, mengikis jarak di antara mereka berdua. Sofia buru-buru memutar tubuh Nino hingga kini berada di belakangnya. Ia berdiri tegap demi mempertahankan putra semata wayangnya.
“Sofia, apa kamu tidak kasihan sama Nino? Dia juga butuh figur seorang ayah,” ujarnya.
Sofia memutar bola matanya malas sembari mendecih, “Nino sama sekali tidak butuh ayah yang tidak bertanggung jawab!” tegas Sofia.
“Kamu yang sengaja menyembunyikannya dariku, Sofia!” sentak Reza mulai emosi.
“Apa kamu tidak sadar kenapa aku melakukannya?” Sofia menekankan setiap kalimatnya, lalu menunjuk kepalanya sendiri. Menatap Reza penuh amarah. “Silakan kamu ingat-ingat lagi! Mikir, apa yang dulu kamu katakan setiap harinya. Bahkan setelah dua tahun berumah tangga, kamu sama sekali tidak berubah. Apa pun yang aku lakukan selalu salah di mata kamu maupun ibumu!” geram Sofia tidak meninggikan suara. Namun penekanan itu terdengar menahan amarah yang siap meluap.
“Sofia, aku ....” Belum sempat menyelesaikan ucapannya, ia mendengar derap langkah kaki diiringi suara melengking yang memekakkan telinga.
“Reza! Siapa yang datang?!” teriak Yani buru-buru mendekat.
Dari kejauhan ia sudah mendengar teriakan Reza, bisa dipastikan putranya itu sedang marah. Yani melenggang bersama seorang wanita sexy di belakangnya.
“Siapa kamu? Ngapain kamu membuat keributan di rumah anak saya?!” pekik Yani menarik bahu Sofia hingga kini mereka saling berhadapan. Sepasang netra Yani membelalak dengan lebar.
Bersambung~
Reza 😌 calon duda 😄
buah jatuh gakjauh dati pohon ny
itu orng stress yggaknerima kenyataan 😃😃😃
mirissssss
jijik melihat istri yg menutuo aurat ny.
maalah bangga dengan yg memperronton kan tubuh ny pada orang lain.