“Cinta tidak memberikan apa pun kecuali dirinya sendiri dan tidak meminta apa pun selain cinta itu sendiri. Terluka dalam pemahaman tentang cinta. Berdarah dengan penuh ikhlas dengan penuh sukacita.”
Bagaimana memulai rumah tangga jika sama sekali tidak ada cinta? Hanya mendasarkan hubungan pada kompromi dan rasa hormat. Itu yang dijalani Ravendra Jaya Wardhana dan Medhina Kartika. Menjalani rumah tangga hanya sekadar formalitas, tidak ada rona dalam rumah tangganya. Kenyataan makin pelik karena Medhina masih begitu mencintai mantan kekasihnya, Andreas Saputra. Dalam upaya menggapai rumah tangga yang bahagia, Ravendra justru akan merelakan istrinya itu untuk kembali bersama dengan mantan kekasihnya lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Pramudya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Air Mata di Malam Pertama
Usai resepsi pernikahan, sepasang suami istri itu tampak berada di dalam satu kamar yang sama. Kamar presidential suite room yang sudah dipersiapkan dengan sedemikian rupa akan menjadi kamar pengantin bagi Ravendra dan juga Medhina. Kamar di hotel berbintang lima di Ibukota ini akan menjadi persinggahan Ravendra dan Medhina selama tiga hari dua malam lamanya usai pernikahan. Lebih menarik, karena paket menginap ini adalah hadiah dari Bos Ravendra yaitu pemilik Agastya Property, Belva Agastya yang saat akad dan resepsi turut hadir bersama dengan istrinya.
Di dalam kamar itu, tampak Ravendra yang mengucapkan terima kasih kepada Bosnya. Paket menginap untuk pengantin baru ini begitu fantastis. Termasuk dengan kamar mewah dan pemandangan langsung ke keramaian Ibukota.
"Halo, selamat malam Pak Belva," sapa Ravendra dengan mendekatkan telepon genggam ke telinganya.
"Ya, halo ... ada apa Ravendra? Kenapa menghubungi saya di malam pernikahanmu?" jawab si Bos.
"Saya mau mengucapkan terima kasih, Pak Belva. Hadiah pernikahan ini sungguh luar biasa, terima kasih," balas Ravendra.
"No problem, tidak masalah. Ya sudah, happy wedding yah. Bahagia selalu," balas Belva dan mematikan sambungan telepon itu.
Ravendra tersenyum mengamati kamar mewah itu, pria itu kian tersenyum cerah saat melihat Medhina yang duduk di tepian ranjang masih mengenakan Wedding Dressnya.
"Ini hadiah dari Bos aku, CEO Agastya Property," ucap Ravendra yang seakan memberi tahu kepada Medhina bahwa paket menginap ini adalah hadiah dari Bosnya.
"Oh," jawab Medhina yang hanya sekenanya saja.
Ravendra kemudian mengambil tempat, duduk di sebelah Medhina, pria itu hendak menggenggam tangan Medhina, tetapi dengan cepat tangan Medhina menghindar sehingga tangan Ravendra pun tak bisa menggapai tangan lembut milik Medhina.
"Kamu grogi?" tanya Ravendra.
Itu adalah pertanyaan paling absurb yang ditanyakan oleh pengantin pria kepada pasangannya. Akan tetapi, tidak mudah juga untuk berada di satu kamar dengan orang asing. Saling tidak mengenal, rasanya begitu canggung.
Menyadari sikap Medhina yang terasa begitu dingin, Ravendra pun kembali berdiri. "Lebih baik, kita membersihkan diri dulu. Kamu duluan saja," ucap Ravendra.
Kurang lebih hampir setengah jam waktu berlalu, Medhina dan Ravendra bergantian mandi dan membersihkan dirinya. Ada Medhina yang berdiri di depan kaca jendela kamar hotel mereka. Gadis itu menatap sendu pada pemandangan Ibukota dengan gemerlap lampunya yang sungguh indah. Sementara Ravendra yang keluar dari kamar mandi dan sudah memakai piyama tidur, tampak mengamati Medhina dari jauh.
"Kamu mau tidur sekarang?" tanya Ravendra perlahan kepada Medhina.
Gadis itu menggelengkan kepalanya, saat ini Medhina memilih melihat Ibukota dari ketinggian di kamar hotelnya.
"Tidak, lagipula ... aku belum mengantuk," jawabnya.
Ravendra tersenyum, pria itu turut berdiri di samping Medhina. Mata yang sama-sama menatap lurus ke depan, tetapi Ravendra perlahan menoleh guna menatap wajah Medhina, "Terima kasih sudah menikah denganku," ucap Ravendra dengan tulus.
Bagaimana pun juga Ravendra merasa bahagia. Walau gadis ini adalah jodoh pilihan Mamanya, tetapi setidaknya Ravendra bisa memulai rumah tangga. Memulai kehidupan rumah tangga yang harmonis bersama dengan Medhina. Selain itu, sepenuhnya Ravendra yakin bahwa keduanya membutuhkan waktu untuk mengenal satu sama lain.
Ravendra kian mendekat menggeser beberapa langkah, tetapi Medhina justru semakin menjauh. Seakan-akan Medhina pun sudah menolak Ravendra dan tak ingin dekat dengan suaminya yang sudah sah baginya itu.
Melihat sikap Medhina yang kian menjauh, Ravendra seakan merasakan bau-bau penolakan dari istrinya itu. Mungkinkah ada yang salah dari pernikahan ini. Di mana senyuman yang Medhina tunjukkan saat resepsi pernikahan mereka. Kenapa kini yang ada hanyalah gadis dingin dan beberapa kali menghindarinya.
"Ravendra, bolehkah aku berbicara sesuatu?" tanya Medhina dengan menghela nafas.
Gadis itu berusaha mengumpulkan seluruh keberaniannya dan hendak berbicara satu hal yang penting kepada Ravendra.
"Hmm, apa?" tanya Ravendra.
"Bisakah kita tidak melakukan kontak fisik dulu selama belum ada cinta di antara kita? Maaf, hanya saja semua ini terlalu cepat untukku. Aku perlu meyakinkan hatiku sendiri. Aku tidak bisa menerima semuanya secara penuh," ucap Medhina.
Ravendra tertegun mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Medhina. Bagaimana mungkin pernikahan tanpa ada kontaknya fisik. Lagipula, bukankah salah satu tujuan orang menikah untuk memperoleh keturunan. Apakah ini arti dari menghilangnya semua senyuman Medhina.
Lagi-lagi Ravendra akan mencoba memahami Medhina, mengikuti saja apa yang dimaui istrinya itu. Setidaknya memang terlalu cepat mengarungi gelora malam pertama. Padahal Ravendra sudah sepenuhnya siap, tetapi tidak dengan Medhina.
"Baiklah, terserah kamu saja," balas Ravendra.
Tentu itu bukan jawaban yang di dalamnya ada ketegasan seorang suami. Melihat hubungan mereka berdua dan pernikahan yang sudah berlangsung, tentu saja Ravendra memiliki hak penuh atas Medhina. Namun, seolah Ravendra mengembalikan semuanya kepada Medhina.
Tak ingin memperkeruh suasana, Ravendra memilih beranjak dari tempatnya, pria itu kini memilih membaringkan tubuhnya ke atas ranjang dan menarik selimutnya. Memilih untuk tidur. Biarlah malam pertamanya begitu adanya.
Kenapa rasanya aku memiliki istri …
Namun, istri itu tak bisa kugapai …
Laksana kunyuk merindukan bulan …
Aku sudah membuka hatiku dan mulai menyayangimu, Dhina …
Namun, nyatanya kamu masih belum bisa menerimaku …
Aku mengalah, bukan berarti aku kalah …
Aku akan berjuang, percayalah bahwa rasa itu tulus untukmu ….
Cukup lama, Medhina masih berdiri dengan menatap kosong pada pemandangan di Ibukota. Pernikahan yang indah, panorama malam yang indah, tetapi tidak dengan hatinya. Sebab, hatinya belum bisa sepenuhnya move-on. Ketika terdengar Ravendra yang mulai mendengkur, Medhina menangis. Ya, air matanya menetes dengan begitu saja. Gadis itu membawa kedua tangannya bersidekap di depan dada.
"Maafkan aku Ravendra ... aku bukan istri yang baik. Namun, bagaimana lagi, aku tidak bisa menerima dan mencintaimu. Hatiku sepenuhnya masih miliknya. Ya, masih miliknya," gumam Medhina dengan lirih.
Medhina merasa bersalah dan berdosa, tetapi ada yang tidak beres dengan hatinya. Untuk itulah, Medhina akan membentengi dirinya. Menolak kontak fisik dengan suaminya, pria yang sudah sah dan halal baginya itu.
Bahkan Medhina juga tidak tahu bagaimana nasib kehidupan rumah tangganya bersama Ravendra nanti. Dia hanya perlu menjalani dan sedikit bertahan, tanpa mengharapkan hal lebih dari kehidupan rumah tangganya.
Beberapa waktu lamanya berdiri, Medhina kemudian menuju ke ranjang. Wanita itu membuat batas dengan beberapa guling yang dijadikan sekat antara dirinya dan Ravendra. Berharap tidak akan ada yang melebihi garis batas itu. Medhina berbaring miring dan memunggungi Ravendra. Lagi-lagi air matanya jatuh.
Maafkan aku Vendra, aku tidak bisa ....
Menerima sentuhanmu saja aku tidak bisa ...
Bagaimana bisa aku mengganti dia di hatiku menjadi dirimu ...
Mungkin pernikahan kita akan berakhir suram, tak ada pesona ...
Namun, hatiku tak bisa menerimanya ...
Memaksa untuk bisa menerimamu justru membuatku kian sesak sampai aku tidak bisa bernafas ...
Maafkan aku ...
Maafkan aku ...
...🍃🍃🍃...
Dear My Bestie,
Berikut ini visual untuk Medhina dan Ravendra yah...
Semoga saja cocok, bisa ngehalunya makin sweet yah😆
Ravendra Wardhana
Medhina Kartika
Dan ini, bonus foto resepsi pernikahan mereka. Selalu dukung karya ini yah... 🥰
Biar nggak putus komunikasi juga dan medina serta anak2nya bisa di perhatikan juga tiap harinya..
tapi dhina segampang itu lebih mempercayai orang lain, ragu dengan masa lalu suaminya, dhina cinta mu memang tulus tapi hati mu tidak ikhlas pada suamimu
.
utk Indi & Satria tdk dilanjut thor
terima kasih thor utk cerita indahnya.