NovelToon NovelToon
Cara Termudah Menaklukkan Campus Prince

Cara Termudah Menaklukkan Campus Prince

Status: tamat
Genre:Teen / Sistem / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Di usia 20 tahun, hidup Keira Seng sudah diberi deadline.

Kanker lambung stadium awal. Dokter bilang masih ada harapan, tapi tubuhnya berkata lain. Di tengah ketakutan dan kesendirian — karena keluarganya sudah lama bukan tempat bersandar — sebuah HP Nokia tua yang selalu ada di tasnya tiba-tiba mengirim pesan:

[SISTEM IMITASI AKTIF. TARGET DITETAPKAN: XAVIER SIA. SELESAIKAN MISI UNTUK MENDAPAT POIN KEHIDUPAN.]

Xavier Sia. Cucu konglomerat Sia Corporation. Mahasiswa hukum semester 5 yang wajahnya selalu muncul di @unparfess sebagai "Campus Crush No.1." Dingin. Tajam. Dan — atas kebetulan yang absurd — tinggal di unit sebelah apartemen Keira.

Misi pertama: berpakaian seperti dia selama satu minggu.

Yang tadinya hanya "survival strategy" perlahan berubah bentuk. Baju yang sama membawa mereka ke percakapan. Percakapan membawa kedekatan. Kedekatan membawa perasaan yang Keira tidak mampu — dan tidak berhak — untuk miliki.

Karena bagaimana bisa kamu jatuh cinta kalau kamu sendiri tidak tahu berapa lama bisa hidup?

Dan bagaimana bisa Xavier tahu bahwa gadis yang selalu tersenyum di depannya sedang menghitung waktu di belakangnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Bab 8: Sandiwara Pertama

Jantung Keira seperti dipukul dari dalam.

Di depan matanya, Xavier Sia masih menunggu jawaban. Di belakang mereka, Engkong berdiri di depan pintu dengan wajah penuh harapan yang terlalu terang untuk dihancurkan begitu saja.

Keira seharusnya menolak.

Ia tidak pandai berbohong pada orang tua. Ia juga tidak punya pengalaman menjadi pacar palsu cowok sekampus yang wajahnya bisa membuat akun confession kehilangan akal sehat. Tetapi Nokia tua di kamarnya seperti meninggalkan satu kalimat di tengkoraknya.

Semakin dekat hubungan dengan target, semakin efektif imitasi.

Keira menarik napas pelan.

"Sekali ini saja," bisiknya.

Ketegangan di bahu Xavier turun sedikit. "Terima kasih."

"Tapi kalau nanti aku ngomong aneh, itu salah lo."

"Aku sudah sering disalahkan."

"Bagus. Terbiasa."

Sesuatu di mata Xavier bergerak, hampir seperti senyum. Lalu ia kembali menoleh ke Engkong.

"Engkong," katanya, suaranya kembali tenang, "masuk dulu. Keira ikut sebentar."

Wajah Engkong langsung cerah. "Nah, begitu dong. Dari tadi dibuat tegang saja."

Keira mengikuti mereka masuk ke unit Xavier dengan perasaan seperti memasuki ruang ujian tanpa belajar. Apartemen itu masih sama seperti malam ia salah masuk: rapi, wangi kopi, terlalu bersih untuk tempat tinggal mahasiswa. Bedanya, kali ini ia masuk lewat pintu depan dengan izin, bukan sebagai tersangka pencurian gaya hidup.

Mochi muncul dari bawah meja, melihat Keira, lalu berjalan mendekat seolah menyambut anggota keluarga yang pulang terlambat.

"Mochi ingat kamu," kata Engkong sambil duduk di sofa.

Keira tersenyum kaku. "Kami pernah... bertemu."

Xavier meliriknya.

Keira pura-pura tidak melihat.

Engkong menepuk sofa di sampingnya. "Sini, Nak. Duduk dekat Engkong. Xav, buat minum. Jangan cuma berdiri seperti satpam."

Xavier, cucu konglomerat yang biasanya membuat orang lain gugup, menurut. Ia berjalan ke dapur terbuka, mengambil gelas, dan menyalakan mesin kopi. Keira duduk di sisi sofa dengan punggung terlalu tegak.

"Nama lengkapmu Keira Seng, ya?" tanya Engkong.

"Iya, Engkong."

"Semester berapa?"

"Semester lima. DKV di Unpar."

"Anak seni." Engkong mengangguk puas. "Pantas wajahnya hidup. Tidak seperti cucu Engkong, mukanya seperti kontrak hukum."

Dari dapur, Xavier berkata, "Aku dengar."

"Memang Engkong sengaja bilang keras."

Keira menahan tawa. Ternyata Xavier punya sumber genetik untuk kemampuan menusuk dengan wajah ramah.

Engkong mencondongkan badan. "Jadi, kalian kenal sejak kapan?"

Keira langsung menatap Xavier.

Xavier datang membawa dua gelas air hangat dan satu cangkir kopi untuk Engkong. Ia meletakkan gelas di depan Keira, lalu duduk di kursi tunggal di samping sofa.

"Kami tetangga," katanya. "Awalnya sering ketemu di koridor."

"Terus?"

"Terus... lama-lama jadi kenal."

Engkong menyipitkan mata. "Cerita orang pacaran kok kering sekali. Keira, kamu saja yang cerita."

Keira hampir tersedak air hangat yang belum ia minum.

Xavier menatapnya dengan ekspresi datar, tetapi matanya jelas berkata: tolong.

Keira tersenyum pada Engkong. "Iya, awalnya kami tetangga. Saya sering ketemu Xavier di lift, di lobi, kadang di kampus juga."

"Siapa yang suka duluan?"

Pertanyaan itu datang terlalu cepat.

Keira memegang gelas. Panasnya menolongnya tetap sadar.

Xavier membuka mulut, mungkin hendak mengambil alih, tapi Engkong sudah menunjuknya.

"Xav diam. Engkong tanya Keira."

Keira menatap Engkong, lalu Xavier. Dalam sepersekian detik, semua kejadian konyol lewat di kepalanya: Nokia tua, status WhatsApp, paket di depan pintu, salah masuk rumah, Mochi di pelukan, outfit kembar, @unparfess.

Secara teknis, ia memang yang mengejar.

Bukan karena cinta. Karena sistem.

Keira menunduk sedikit, menyembunyikan senyum yang nyaris keluar.

"Iya, Engkong. Saya yang ngejar dia duluan."

Xavier tersedak kopinya sendiri.

Engkong tertawa keras. "Bagus! Perempuan jujur itu bagus. Xav, kamu dengar? Ada yang ngejar kamu, jangan sok mahal terus."

Xavier mengusap bibir dengan tisu, menatap Keira dengan mata sulit dipercaya.

Keira membalas tatapan itu sepolos mungkin.

"Saya kan ditanya."

"Jawabanmu terlalu kreatif," gumam Xavier.

"Lebih baik daripada cerita kering."

Engkong makin senang. "Cocok. Kamu bisa melawan dia. Engkong suka."

Setelah itu, suasana perlahan mencair. Engkong bercerita tentang Xavier kecil yang dulu pendiam, yang pernah menyembunyikan kue nastar supaya tidak dimakan sepupu-sepupunya, yang kalau dimarahi malah menatap balik seperti sedang menyusun gugatan. Xavier beberapa kali memprotes, tetapi setiap protes justru membuat Engkong menambah cerita.

Keira tertawa lebih banyak daripada yang ia rencanakan.

Awalnya ia menghitung setiap kata agar tidak salah. Lalu tanpa sadar, ia mulai menjawab dengan alami. Saat Engkong bertanya apakah Xavier selalu makan teratur di Bandung, Keira menjawab bahwa ia sering melihat kantong kopi di depan pintunya. Xavier langsung membela diri bahwa kopi bukan makanan. Keira menambahkan, justru itu masalahnya.

Engkong menatap mereka berdua seperti sedang menonton drama favorit.

"Kalian begini kalau berdua?"

Keira dan Xavier sama-sama diam.

Mochi menyelamatkan mereka dengan cara melompat ke pangkuan Keira.

Keira refleks menahan tubuh kucing itu. Mochi langsung menggulung nyaman di atas pahanya, ekornya bergerak pelan.

Engkong menunjuk dengan wajah menang. "Lihat, Mochi saja sudah setuju."

Xavier menatap Mochi. "Kucing itu mudah disuap."

"Dia punya insting lebih bagus daripada kamu."

Keira menunduk mengusap kepala Mochi, pura-pura sibuk agar wajahnya tidak terlihat terlalu merah. Ia tidak tahu bagian mana yang paling berbahaya: Engkong yang terlalu cepat menyukai dia, Xavier yang membiarkan semua ini terjadi, atau kenyataan bahwa duduk di sofa ini tidak terasa sepalsu seharusnya.

Menjelang sore, Engkong akhirnya masuk ke kamar tamu untuk istirahat sebelum makan malam. Di depan pintu kamar, ia berhenti dan menatap Xavier dengan wajah yang tiba-tiba lebih serius.

"Jaga dia baik-baik."

Xavier tidak langsung menjawab. Lalu ia mengangguk. "Iya, Engkong."

Keira berdiri canggung di ruang tamu, masih memeluk Mochi yang menolak turun. Setelah pintu kamar tamu tertutup, ruangan mendadak sepi.

"Aku pulang dulu," kata Keira pelan. "Sebelum Engkong tanya tanggal jadian."

"Dia mungkin sudah menyiapkan pertanyaan itu untuk makan malam."

"Tolong batalkan makan malam."

"Tidak bisa. Dia akan curiga."

Keira mengembalikan Mochi ke sofa, lalu berjalan ke pintu. Xavier mengantarnya sampai ambang, tidak mengatakan banyak. Di koridor, Keira menoleh sebentar.

"Tadi... semoga cukup membantu."

"Lebih dari cukup."

Cara Xavier mengatakannya membuat Keira cepat-cepat memalingkan wajah.

"Oke. Aku pulang."

Ia menyeberang ke unitnya sendiri. Langkahnya terasa ringan sekaligus kacau.

Xavier masih berdiri di ambang pintu, melihat punggung Keira sampai ia masuk ke apartemennya.

Pintu Keira tertutup.

Koridor sudah kosong, tetapi sisa tawanya masih terasa tinggal di dada Xavier, ringan dan mengganggu.

Baru setelah itu Xavier menunduk, menekan dada kirinya dengan punggung jari, dan bergumam sangat pelan.

"Kenapa jantungku deg-degan ya?"

1
Evelyn Sharon
Mereka yang kasmaran kenapa jadi aku yang salting yak🫠
Evelyn Sharon
mulai suka nihh 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!