Lim Mei Li bukan wanita biasa.
Di usia 7 tahun, dia menyaksikan ibunya melompat dari balkon — dipaksa oleh keluarga yang seharusnya melindunginya. Di usia 12, dia kehilangan satu-satunya keluarga yang tersisa. Di usia 16, dia sudah menguasai kerajaan bisnis yang membuat dunia gemetar.
Sekarang, di usia 23, dia kembali ke Jakarta.
Bukan sebagai anak yang dibuang. Tapi sebagai predator yang sudah terlalu lama menunggu.
Keluarga Tan — konglomerat yang menghancurkan ibunya — akan merasakan apa artinya takut. Satu per satu, mereka akan jatuh.
Tapi di tengah permainan balas dendam ini, seseorang muncul yang tidak ada dalam rencananya.
Arka Wicaksana Pradipta. Pewaris keluarga militer paling berkuasa di negeri ini. Pria yang selama 15 tahun tidak bisa disentuh oleh wanita manapun — kecuali dia.
"Aku menunggumu," katanya. "Tidak terburu-buru."
Mei Li tidak pernah berencana untuk jatuh cinta. Tapi setiap kali Arka tersenyum, benteng yang dia bangun selama 16 tahun... mulai retak.
Di bawah bibirnya, dia menemukan kegilaan yang tidak pernah dia minta.
🔥 Revenge × CEO Romance × Strong Female Lead
💎 "Jangan pernah meremehkan wanita yang kembali dengan membawa seluruh dunia di tangannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18
Mobil hitam itu melaju keluar dari Yogyakarta menuju Solo dengan kecepatan stabil.
Pengemudi duduk di depan bersama satu staf KADIN. Amy dan Bella mengikuti di mobil belakang setelah memastikan jalur aman. Secara teknis, Mei Li tidak benar-benar berdua dengan Arka. Namun di kursi belakang yang luas, dengan sekat suara setengah tertutup dan jalan panjang di depan, rasanya tetap seperti ruang kecil yang hanya menyisakan mereka.
Mei Li duduk di sisi kiri, tablet di pangkuan. Arka duduk di sisi kanan, map KADIN di tangan. Di antara mereka ada jarak cukup untuk kesopanan, tetapi tidak cukup untuk mengabaikan aroma gaharu Kalimantan yang samar dari gelang kayunya.
"Anda selalu bekerja di perjalanan?" tanya Arka.
"Anda juga membuka map."
"Saya membuka map agar terlihat sibuk."
Mei Li menoleh.
Arka tersenyum tanpa rasa bersalah. "Kalau tidak, saya akan terlalu jelas memperhatikan Anda."
Tablet di pangkuan Mei Li nyaris bergeser.
Ia mengangkat alis. "Pak Arka, Anda biasanya bicara seperti ini pada partner KADIN?"
"Tidak."
"Bagus."
"Saya hanya bicara seperti ini pada tetangga yang kebetulan sering satu kota."
Mei Li ingin membalas, tetapi jalan sedikit berbelok. Dari jendela, hamparan sawah muncul di antara rumah-rumah rendah. Anak-anak berseragam sekolah berjalan di tepi jalan, sepeda motor lewat membawa karung sayur, dan di kejauhan Gunung Merapi tampak samar di balik awan.
Arka mengikuti arah pandangnya. "Kalau sore cerah, Merapi terlihat lebih jelas. Orang Jogja terbiasa hidup berdampingan dengan sesuatu yang bisa meletus kapan saja."
"Anda membuat gunung terdengar seperti keluarga besar."
"Kadang keluarga besar lebih sulit diprediksi daripada gunung."
Mei Li tertawa kecil sebelum sempat menahannya.
Suara itu singkat, tetapi cukup membuat Arka diam sepersekian detik.
"Apa?" tanya Mei Li.
"Tidak apa-apa. Saya hanya baru pertama kali mendengar Anda tertawa."
Mei Li kembali menatap tablet. "Jangan dibesar-besarkan."
"Saya sedang berusaha tidak."
Ia benar-benar tidak membesar-besarkan. Tidak menggoda lebih jauh. Tidak meminta tawa itu diulang. Justru karena itu, Mei Li merasa kalimatnya tinggal lebih lama di dada.
Mereka berbicara tentang batik, lalu tentang arsip yang akan diambil di Solo. Arka menjelaskan perbedaan beberapa motif tanpa terdengar mengajar. Parang yang dahulu dipakai kalangan keraton. Kawung yang berbicara tentang pengendalian diri. Truntum yang sering dikaitkan dengan cinta yang tumbuh kembali.
"Cinta yang tumbuh kembali?" Mei Li mengulang.
"Menurut salah satu cerita, motif itu dibuat seorang ratu saat ia menunggu perhatian raja kembali. Tapi orang sekarang sering memakainya di pernikahan sebagai doa agar kasih sayang terus tumbuh."
"Menunggu terdengar melelahkan."
"Kalau menunggu orang yang salah, iya."
Mei Li menatapnya.
Arka tidak menatap balik terlalu lama. Ia membuka botol air mineral dan meletakkannya di cup holder dekat Mei Li. Tidak menyodorkan langsung ke tangannya.
Sekali lagi, jarak dijaga.
Di tengah perjalanan, mobil melewati jalan yang sedang diperbaiki. Pengemudi memperlambat, tetapi ban tetap menghantam lubang kecil yang tertutup bayangan. Tablet Mei Li meluncur dari pangkuannya.
Ia meraih.
Arka juga bergerak.
Jari mereka bertemu di atas tablet.
Sentuhan itu sangat singkat.
Kulit ke kulit. Ujung jari Mei Li dingin, ujung jari Arka hangat.
Arka membeku.
Bukan karena jijik. Bukan karena menolak. Justru karena tubuhnya menunggu reaksi yang selama lima belas tahun selalu datang: rasa mual, kaku di tenggorokan, dorongan untuk menjauh.
Tidak ada.
Yang ada hanya denyut pendek di bawah kulit, seperti seseorang mengetuk pintu dari dalam dada.
Mei Li menarik tangannya lebih dulu. "Maaf."
Arka menatap jari-jarinya sendiri, lalu tablet di antara mereka. "Tidak apa-apa."
Suaranya terlalu pelan.
Mei Li menangkap perubahan itu. "Anda baik-baik saja?"
Pertanyaan yang sama, kembali padanya.
Arka mengangkat mata. Untuk sesaat, ada sesuatu yang terbuka di wajahnya, terlalu cepat untuk dibaca tuntas.
"Ya," katanya. "Saya hanya terkejut."
"Karena tablet jatuh?"
"Karena saya tidak menjatuhkannya."
Jawaban itu aneh, tetapi ia mengucapkannya dengan cukup tenang sehingga Mei Li tidak memaksa.
Di mobil belakang, Bella melihat dari kaca depan bahwa kedua orang di kursi belakang mendadak diam. Ia menyentuh earpiece.
"Amy."
"Saya lihat."
"Kita intervensi?"
Amy menatap layar pelacak. "Tidak ada ancaman."
"Bukan ancaman itu maksud saya."
Amy menutup tablet. "Kalau bukan ancaman, jangan."
***
Di Solo, arsip kontrak ditemukan di lantai dua sebuah galeri tua dekat Laweyan. File itu membuktikan bahwa perusahaan rekan Tan memaksa beberapa pengrajin menjual hak desain dengan harga rendah, lalu menggunakan nilai seni yang dinaikkan untuk memutar dana proyek.
Mei Li mengambil salinan resmi. Arka membantu menghubungkan pemilik galeri dengan notaris lokal yang bisa mengamankan dokumen hari itu juga.
Tidak ada yang menyebut sentuhan di mobil.
Justru karena tidak disebut, sentuhan itu terus ada.
Saat mereka keluar dari gang Laweyan, hujan turun mendadak. Tidak deras, tetapi cukup membuat staf berlarian mengambil payung dari mobil. Arka menerima satu payung hitam dari pengemudi, membukanya, lalu menahan posisinya di atas jalur Mei Li tanpa memaksa mendekat.
"Silakan," katanya.
Mei Li menatap jarak di antara bahu mereka. Payung itu cukup besar untuk dua orang, tetapi Arka sengaja membiarkan sisi kirinya lebih basah agar ia tetap punya ruang.
"Anda akan basah," kata Mei Li.
"Kemeja bisa dikeringkan."
"Dan kalau Anda sakit?"
"Saya akan menyalahkan cuaca, bukan Anda."
Mei Li melangkah di bawah payung itu. Untuk beberapa meter, mereka berjalan berdampingan melewati dinding batik tua dan aroma hujan di batu jalan. Tidak ada sentuhan. Justru ketiadaan sentuhan itu membuat ingatan tentang ujung jari tadi terasa lebih jelas.
Malamnya, dalam penerbangan kembali ke Jakarta, Mei Li duduk di kursi dekat jendela. Amy dan Bella berada dua baris di belakang. Arka duduk di sisi lorong setelah staf KADIN bertukar kursi karena alasan kerja yang terlalu mudah ditebak.
Lampu kabin diredupkan.
"Lelah?" tanya Arka.
"Sedikit."
"Tidurlah. Saya tidak akan mengganggu."
Ia bahkan menggeser mapnya ke sisi lain agar siku mereka tidak berdekatan. Gerakan kecil itu seharusnya tidak penting, tetapi Mei Li melihatnya, sama seperti ia melihat semua hal yang tidak diminta namun diberikan dengan sadar.
Mei Li menutup mata.
Ia tidak tidur.
Di sebelahnya, Arka membuka dokumen dengan gerakan pelan agar tidak menimbulkan suara. Aroma gaharu samar bercampur dengan udara kabin. Setiap kali pesawat sedikit bergetar, tubuh Mei Li mengingat kembali ujung jari yang hangat menyentuh tangannya.
Ia tetap memejamkan mata, berpura-pura napasnya teratur.
Namun di balik kelopak matanya, jantungnya berlari lebih cepat daripada pesawat yang membawa mereka pulang.