"Huaaaaaa kenapa kepala suami ku hilang? "
Jeritan melengking di sebuah rumah karena ia telah kehilangan sosok suami tercinta, kapan itu terjadi diri nya sama sekali tidak tau
Kampung menjadi heboh karena mereka sama sekali tidak menyangka bahwa kepala manusia bisa hilang dari tubuh nya dan tidak tau kemana.
Siapa pelaku itu?
kenapa ia mencuri kepala di setiap malam bulan purnama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novita jungkook, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Ketemu Pak Lurah
Langkah wanita cantik itu bisa memicu Perhatian para pria yang kebetulan sedang melintas, pesona Purnama sejak dulu hingga sampai saat ini tidak pernah memudar Sehingga siapa saja yang melihat dia pasti akan terkagum-kagum serta mereka juga tidak akan menyangka bahwa wanita ini telah berusia cukup tua sehingga tidak pantas bila masih memiliki paras begitu cantik.
Hari ini Purnama mendatangi sendiri rumah dari wanita yang telah menjadi korban tentang iblis yang tidak memiliki kepala itu, karena sebelumnya dia telah mendengar cerita dari Arya bahwa wanita itu sampai mendatangi rumah mereka untuk meminta bantuan namun ketika malam mereka mencari tidak menemukan keberadaan sang iblis.
Jadi Purnama langsung turun tangan sendiri untuk mendatangi tempat ini walau Sebenarnya dia juga masih memiliki urusan di desa sebelah tentang pesugihan yang sangat mengerikan, sebab kabar yang beredar bahwa pesugihan itu memiliki syarat yang harus memakan tujuh perawan di tempat sehingga Purnama sedang berusaha untuk menyelidiki apa yang telah terjadi.
Masalah itu masih belum selesai dan sekarang malah tambah lagi dengan masalah yang beredar bahwa ada beberapa warga meninggal dunia dalam keadaan kepala hilang, untuk menenangkan hati mereka semua maka mau tidak mau Purnama mendatangi Desa ini terlebih dahulu dan yang paling penting lagi dia dan para warga desa ini sudah sangat dekat sekali.
''Purnama, kami belum sempat meminta bantuan dari dirimu tapi malah kamu sudah datang ke sini.'' Pak Lurah mendekati Purnama yang memakai kacamata hitam itu.
''Loh muka Pak Lurah sekarang kok gelap sekali ya.'' celetuk Purnama sembari memperhatikan wajah pria itu.
''Hih, kau pakai kacamata hitam seperti itu jadi pantas aja muka semua orang menjadi gelap!'' Nana memarahi Purnama.
''Oh iya, Aku sedang pakai kacamata hitam ternyata sehingga melihat wajah orang gelap semua.'' Purnama tertawa kecil.
''His coba saja itu kalau orang lain yang melakukan kesalahan maka sudah pasti dia akan mengamuk.'' Nana menggerutu di dalam hati.
Pak Lurah sendiri hanya tersenyum kecil karena dia tidak tahu harus bereaksi bagaimana saat sedang berbicara dengan ratu ular ini, ingin menanggapi sebagai gurauan namun kadang dia juga takut kalau itu tadi sebuah keseriusan sehingga ketika nanti dia bercanda malah akan menyakiti hati Purnama dan mereka justru akan bertengkar.
Bicara dengan wanita ini sedikit ada kesulitan karena bila sedikit saja ada kesalahan maka gerakan tidak terduga akan langsung terjadi, Pak Lurah sendiri sudah pernah mengalami ketika dia mendapat bantingan maut sehingga sebisa mungkin dia terus menjaga jarak agar tidak terulang lagi kejadian di masa lalu itu.
''Aku akan menemui keluarga yang mengalami nasib buruk itu terlebih dahulu.'' Purnama membuka kacamata hitam.
''Kebetulan Aku sedang tidak ada pekerjaan jadi biar aku saja yang mengantar kau menemui mereka semua.'' Pak Lurah memang sedang senggang.
''Nanti istri sampeyan cemburu dan malah membakar aku.'' Purnama memicing sinis menatap pria tua itu.
''Ah tidak mungkin dia begitu karena pasti tahu kita sedang mengurus masalah ini.'' Pak Lurah tersenyum malu.
''Aih tua bangka ini juga tidak tahu diri sekali kalau sudah melihat wanita cantik.'' Nana menjadi kesal kepada Pak Lurah.
Crasssssh.
''Aaah apa yang menggaruk punggung ku barusan?!'' Pak Lurah berteriak kaget.
''Apa lah kau ini?'' Purnama menatap Nana yang barusan berlaku usil karena dia merasa kesal terhadap orang tua ini.
'Lagian sudah tua begitu tapi tidak sadar diri dan malah bertingkah terus sehingga membuat aku sangat muak sekali.'' Nana berkata dengan hati yang sangat kesal Sehingga tadi dia langsung mencakar Pak Lurah.
Purnama hanya menghelai nafas panjang dan dia tidak memarahi Nana karena dia juga tahu bahwa tua bangka ini tetap tidak sadar diri meski sekarang sudah sangat lanjut usia, kadang dia ingin memberi pelajaran kepada pria tidak berguna seperti itu ketika sudah memiliki istri cantik namun tetap saja masih gatal ketika melihat wanita di luar rumah.
''Adddduh perih sekali terasa punggung ku ini.'' Pak Lurah mengeluh.
''Loh Mbak Purnama sudah datang ke sini toh ternyata.'' Davin kebetulan lewat dan dia langsung menegur.
''Tunjukan padaku sekarang di mana rumah keluarga yang telah kehilangan kepala itu.'' Purnama malah mengajak Davin.
''Pur, bisa sama aku saja.'' Pak Lurah masih berusaha untuk mengajak Purnama.
Namun wanita cantik ini sama sekali tidak mau mendengarkan Karena dia sudah sangat muak dan biar saja Pak Lurah itu menghadapi Nana, tidak masalah kalau Nana mau memberikan dia pelajaran karena yang penting asal jangan sampai menghilangkan nyawa saja di tubuh Pak Lurah.
''Ada dua orang korban yang sudah menjadi Pembunuhan itu, Mbak Mbak Purnama mau mendatangi rumah yang mana?'' Davin bertanya terlebih dahulu.
''Yang janda itu saja, sebab dia berdampingan langsung tapi tidak bisa mendengar kejadian itu.'' ujar Purnama.
''Aaaaaghh siapa yang mencakar aku?!'' Pak Lurah kembali berteriak karena cakar Nana semakin menyakiti dia.
Purnama sama sekali tidak peduli dan dia tidak mendengarkan apa saja teriakan dari mulut Pak Lurah itu karena menurutnya Itu adalah konsekuensi atas kegatalan yang selama ini dia lakukan, padahal telah memiliki istri muda namun tetap saja dia tidak bersyukur dan terkadang orang yang dia goda harus merasakan emosi dan istri dia.
''Kenapa Pak Lurah berteriak terus seperti itu dan kenapa kita tidak menolong dia?'' Davin agak panik juga.
''Sudah Biarkan saja dia menikmati apa yang telah terjadi.'' Purnama segera menghidupkan motor dia.
''Tapi Pak Lurah seperti sedang kesakitan seperti itu!'' Davin tetap saja cemas melihat Pak Lurah.
''Kau mau mengantar aku sekarang atau ku banting kau di tempat?'' Purnama sudah memberikan pilihan kepada Davin.
Davin yang mendengar hal itu tentu saja menjadi ketakutan karena dia sudah sempat merasakan bantingan dari Purnama sehingga dia tahu rasa sakit itu bagaimana, daripada dia harus menderita seperti itu maka lebih baik mengikuti saran dari Purnama untuk menunjukkan rumah Ulya saja.
''Tapi Pak Lurah kenapa ya kok terus berteriak seperti itu?'' Davin tetap saja penasaran apa yang telah terjadi.
''Eh jangan-jangan itu ada member Mbak Purnama yang mengerjai dia dan sekarang dia berteriak kesakitan.'' Davin sudah bisa menebak ke arah sana.
Pria ini mengetahui bahwa Purnama memiliki beberapa member di agensi, dulu dia sempat memiliki kemampuan untuk melihat arwah namun saat ini sudah tidak ada lagi karena khodam yang ada di dalam tubuh dia telah menghilang entah ke mana sehingga Davin kembali seperti manusia biasa yang tidak memiliki kemampuan gaib.
Selamat siang, jangan lupa like dan komentar nya ya.