NovelToon NovelToon
Mawar di Pinggangnya

Mawar di Pinggangnya

Status: tamat
Genre:Cintamanis / Diam-Diam Cinta / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aruna Senja

Kiara Song, 21 tahun, reporter magang yang berjuang sendirian sejak kakaknya koma dan ayahnya kabur meninggalkan hutang. Hidupnya berubah saat ia menikah siri dengan Rayhan Tan — AKP kepolisian berwajah dingin, tubuh atletis, dan mulut tajam yang ternyata diam-diam memasak untuknya setiap malam.

Enam bulan tinggal bersama. Tidak ada ciuman. Tidak ada "aku cinta kamu." Hanya perhatian kecil yang membuat jantung Kiara tidak bisa tenang.

Kiara punya rahasia: ia menato setangkai mawar di pinggangnya sejak SMA — di tempat yang hanya bisa dilihat oleh orang paling dekat. Untuk laki-laki yang sama, selama enam tahun.

Dan Rayhan? Rayhan punya rahasia sendiri.

Ia sudah jatuh cinta pada Kiara jauh sebelum pernikahan ini dimulai.

Nikah dulu. Cinta kemudian. Tapi bagaimana kalau cintanya sudah ada duluan?

(148 kata Indonesia)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20

Bab 020

Digendong

"Cukup," kata Rayhan.

Kiara menatap layar laptop yang sudah gelap seolah Rayhan baru saja memutus aliran listrik seluruh masa depannya.

"Kak Rayhan, aku belum selesai."

"Aku tahu."

"Kalau aku kehilangan kalimat tadi..."

"Kamu sudah menyimpan."

Kiara membeku. "Kak Rayhan lihat?"

"Aku berdiri di belakangmu selama tiga menit. Kamu menekan save empat kali."

Malu dan kesal bertabrakan di wajah Kiara. "Itu namanya memastikan."

"Itu namanya kamu sudah terlalu lelah sampai lupa apa yang baru kamu lakukan."

Ponsel Kiara bergetar di meja. Nama Galih muncul di layar.

Galih:

Kiara, kalau masih bangun, kirim catatan mentah saja. Jangan dipoles semua malam ini.

Pesan kedua masuk beberapa detik kemudian.

Cici:

Kalau lo masih kerja, gue lapor tetangga misterius.

Rayhan membaca dua pesan itu tanpa menyentuh ponsel. "Bahkan temanmu lebih waras."

"Cici tidak waras."

"Malam ini dia lebih waras daripada kamu."

Kiara meraih ponsel. "Aku balas dulu."

Rayhan mengambil ponsel itu lebih cepat dan meletakkannya di sisi lain meja.

"Hei!"

"Aku akan kirim satu pesan ke Galih. Kamu tidur."

"Jangan pakai ponselku."

"Kalau aku pakai ponselku, dia akan bertanya kenapa nomor polisi mengurus jam tidur reporternya."

Kiara membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Logika itu menyebalkan karena masuk akal.

Rayhan menyerahkan ponsel padanya. "Ketik. Aku lihat."

"Kak Rayhan seperti pengawas ujian."

"Tulis."

Kiara mendengus, tetapi mengetik.

Kiara:

Mas Galih, catatan mentah sudah aman. Aku kirim pagi sebelum jam 8. Maaf malam ini aku istirahat dulu.

Rayhan membaca, lalu mengangguk. "Kirim."

Kiara mengirim pesan itu dengan hati seperti baru menyerahkan naskah final ke jurang.

Cici langsung membalas.

Cici:

BAGUS. Tidur. Kalau besok lo sakit, gue nggak mau dengar drama.

Cici:

Dan salam buat tetangga misterius. Bilang gue dukung dia malam ini.

Kiara cepat-cepat membalik ponsel. Terlambat. Rayhan sudah membaca.

"Cici mendukungku," katanya.

"Cici pengkhianat."

"Tidur."

Kiara mencoba berdiri dengan martabat tersisa. Sayangnya, tubuhnya punya pendapat lain. Begitu ia mendorong kursi, dunia sedikit miring. Ia mencengkeram tepi meja.

Rayhan langsung berada di sampingnya. "Pusing?"

"Sedikit."

"Sejak kapan?"

"Nggak lama."

"Kiara."

"Sejak tadi."

Rayhan menarik napas panjang, lalu mengambil gelas air yang masih penuh. "Minum."

Kiara minum tiga teguk. Airnya terasa hambar, tetapi tenggorokannya baru sadar betapa kering sejak tadi. Setelah itu Rayhan mengambil laptop dengan satu tangan dan menutup notesnya.

"Aku bisa bawa sendiri."

"Kamu bahkan hampir jatuh berdiri."

"Aku tidak jatuh."

"Karena meja menahanmu."

Kiara tidak punya balasan.

Rayhan mematikan lampu dapur, menyisakan lampu kecil di ruang keluarga. Rumah yang semula terang untuk bekerja tiba-tiba berubah menjadi rumah tengah malam yang tenang. Di sudut ruang keluarga, alas anti-slip untuk Kopi sudah terbentang rapi. Di meja, daftar obat dan jadwal kontrol masih terbuka.

Kiara melihat semua itu, lalu rasa bersalah menusuk pelan. Rayhan juga bekerja. Rayhan juga kurang tidur. Rayhan juga menyiapkan rumah untuk Kopi, mengurus Brandon, mengawasi Pak Song, dan masih sempat memastikan ia makan sup.

"Kak Rayhan juga harus tidur," katanya.

"Setelah kamu."

"Itu tidak adil."

"Aku tidak sedang bernegosiasi."

Kiara menatapnya. "Kak Rayhan selalu begini?"

"Begini bagaimana?"

"Mengurus semua orang, lalu pura-pura tidak capek."

Pertanyaan itu membuat sesuatu di wajah Rayhan berhenti. Hanya sekejap, tapi cukup membuat Kiara tahu ia mengenai tempat yang benar.

"Naik," kata Rayhan akhirnya.

Kiara berjalan ke tangga dengan langkah pelan. Anak tangga pertama aman. Kedua aman. Ketiga, lututnya seperti kehilangan niat hidup. Ia berhenti dan memegang railing.

"Aku cuma butuh sebentar."

"Kamu butuh tidur."

"Aku bisa naik."

Rayhan berdiri satu anak tangga di bawahnya. "Bisa, tapi tidak harus."

Kalimat dari malam noda darah itu kembali, lebih lembut, lebih berbahaya.

Kiara menoleh.

Rayhan sudah mengulurkan tangan. "Pegang aku atau aku gendong."

"Itu pilihan yang tidak adil."

"Aku beri dua pilihan."

"Dua-duanya membuatku malu."

"Kalau begitu pilih yang lebih cepat."

Kiara meletakkan tangannya di lengan Rayhan, berniat hanya berpegangan. Namun saat ia naik satu anak tangga lagi, kepalanya kembali ringan. Rayhan tidak menunggu ia membantah.

Dalam satu gerakan, ia menyelipkan satu tangan di punggung Kiara dan satu tangan di bawah lututnya.

Tubuh Kiara terangkat dari tangga.

"Kak Rayhan!"

"Diam."

"Turunkan aku."

"Tidak."

"Aku berat."

Rayhan menatapnya seolah pertanyaan itu menghina kemampuan fisiknya. "Kiara, aku menangkap tersangka yang beratnya dua kali kamu."

"Itu bukan pembanding romantis."

"Aku tidak sedang romantis."

Sayangnya, tubuh Kiara tidak percaya kalimat itu. Ia berada terlalu dekat. Satu tangannya otomatis melingkar di bahu Rayhan, sementara tangan lain mencengkeram kausnya. Wajahnya hanya beberapa sentimeter dari leher Rayhan. Ia bisa mencium aroma sabun, hujan yang masih samar, dan kopi pahit yang selalu menempel padanya.

Tangga terasa jauh lebih pendek saat digendong.

Atau mungkin waktu memang berhenti sebentar.

Rayhan tidak bicara selama menaiki tangga. Tetapi Kiara bisa merasakan napasnya yang sengaja dibuat stabil, langkahnya yang pelan agar tubuhnya tidak terguncang, dan jari-jarinya yang menahan lutut Kiara dengan hati-hati. Ia tidak memegang sembarangan. Tidak satu sentimeter pun terasa membuatnya terpojok.

Justru karena itu, wajah Kiara makin panas.

"Kak Rayhan," bisiknya, lebih kecil dari tadi.

"Hmm?"

"Kalau aku tidur sekarang, besok bangunkan jam enam."

"Jam tujuh."

"Jam enam tiga puluh."

"Jam tujuh."

"Kak..."

"Tidur dulu, tawar-menawar besok."

Rayhan membawa Kiara sampai ke depan kamarnya. Ia membuka pintu dengan siku, menyalakan lampu kecil, lalu meletakkannya di tepi ranjang sepelan mungkin.

Kiara langsung menarik selimut ke pangkuan, wajah panas. "Aku bisa jalan sebenarnya."

"Tentu."

"Jangan pakai nada itu."

"Nada apa?"

"Nada tidak percaya."

Rayhan mengambil laptop dari bawah lengannya dan meletakkannya di meja jauh dari ranjang. Lalu ia mengambil charger dan memasukkannya ke saku celananya.

Kiara terbelalak. "Kak Rayhan!"

"Barang bukti."

"Itu charger."

"Alat bantu kejahatan."

"Aku butuh besok pagi."

"Besok pagi aku kembalikan."

Kiara ingin marah, tetapi matanya berat. Sangat berat. Tubuhnya mulai tenggelam ke kasur seolah baru menyadari bahwa tempat tidur ada untuk digunakan.

Rayhan menarik selimut sampai menutupi bahunya.

"Tidur."

Kiara menatapnya dari balik selimut. Lampu kecil membuat wajah Rayhan terlihat lebih lembut, meski mulutnya masih menyebalkan.

"Kak Rayhan."

"Hmm?"

"Jangan kerja lagi terlalu lama."

Rayhan diam.

Kiara tidak tahu apakah ia mendengar jawaban, karena matanya sudah menutup.

Yang terakhir ia rasakan adalah jemarinya masih menggenggam ujung kaus Rayhan, dan Rayhan tidak langsung melepaskannya.

Seolah ia juga butuh beberapa detik untuk pergi dari sana malam itu sendirian.

Ia tetap diam.

1
Alissia
hai thor🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!