"Aku butuh seorang istri. Hanya selama satu tahun."
Nadira Pramesti tak pernah membayangkan akan menerima tawaran seaneh itu. Namun, demi menyelamatkan toko buku peninggalan ayahnya, ia menyetujui pernikahan kontrak dengan Arga Wijaya, pewaris Wijaya Group yang harus menikah untuk memenuhi syarat dalam surat wasiat keluarganya. Mereka sepakat untuk tidak saling mencintai dan berencana berpisah setelah kontrak berakhir.
Ketika sebuah buku catatan peninggalan ayah Nadira justru membuka jalan menuju rahasia lama yang selama dua puluh lima tahun disembunyikan keluarga Wijaya. Di tengah ancaman, kebohongan, dan seseorang yang rela melakukan apa saja demi menutup kebenaran, Arga dan Nadira mulai mempertanyakan satu hal: apakah hati mereka masih sanggup berpegang pada isi kontrak ketika cinta datang lebih dulu?
Karena terkadang, yang paling sulit bukanlah menikah dengan orang asing, melainkan berpisah dengan seseorang yang telah menjadi rumah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosealyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Rumah Yang Terlalu Sepi
Tepuk tangan para tamu belum juga mereda ketika Arga dan Nadira melangkah keluar dari ruang pemberkatan menuju ballroom resepsi. Pintu besar perlahan terbuka, memperlihatkan aula megah yang telah dipenuhi ratusan undangan. Cahaya lampu kristal memantul di langit-langit ruangan, berpadu dengan alunan musik orkestra yang mengisi setiap sudut.
Begitu kedua mempelai memasuki ruangan, para tamu kembali berdiri.
"Selamat untuk Pak Arga!"
"Congratulations!"
"Semoga langgeng!"
Ucapan demi ucapan datang tanpa henti. Kilatan kamera terus menyambar, mengabadikan setiap langkah pasangan pengantin baru itu. Nadira yang belum pernah berada di tengah sorotan sebesar ini hanya mampu mempertahankan senyum tipis meski telapak tangannya mulai berkeringat.
"Apa kamu baik-baik saja?" bisik Arga tanpa menoleh.
Nadira mengangguk pelan. "Cuma agak ... banyak orang."
Arga tersenyum tipis. "Nggak usah dipikirin semuanya. Senyum secukupnya saja."
Kalimat sederhana itu justru membuat Nadira sedikit lebih tenang.
Prosesi salam dimulai. Satu per satu rekan bisnis, kolega, hingga sahabat keluarga Wijaya datang memberikan ucapan selamat.
"Pak Arga, akhirnya menikah juga."
"Selamat ya. Istri Anda cantik sekali."
"Semoga segera diberi momongan."
Ucapan terakhir membuat Nadira hampir tersedak udara. Untung saja Arga lebih dulu menjawab sambil tersenyum sopan.
"Terima kasih doanya."
Sesaat setelah tamu itu berlalu, Nadira melirik Arga dengan wajah kikuk.
"Mereka cepat sekali mendoakan."
"Itu masih yang ringan."
"Hah?"
"Nanti ada yang tanya kapan anak pertama."
Nadira refleks membulatkan mata. "Kita baru sepuluh menit jadi suami istri."
Arga terkekeh pelan. Tawanya tidak keras, tetapi cukup membuat ketegangan di wajah Nadira perlahan menghilang.
Di sudut lain ballroom, beberapa wartawan yang mendapat izin khusus mulai mengambil gambar dari kejauhan.
"Itu istrinya Pak Arga?"
"Iya. Katanya bukan dari keluarga pebisnis."
"Jarang sekali beliau mengekspos kehidupan pribadinya."
Tak jauh dari mereka, Vania segera memberi isyarat kepada petugas keamanan agar memastikan tidak ada media yang mendekat melebihi batas yang telah ditentukan.
Sementara itu, Ratih berdiri bersama para tamu penting dengan senyum yang nyaris sempurna. Siapa pun yang melihatnya akan mengira ia adalah bibi yang bangga menyambut menantu keponakan baru.
Meski kenyataannya, setiap kali pandangannya jatuh kepada Nadira, senyum itu memudar sepersekian detik sebelum kembali seperti semula.
Semoga ekspresi Ratih tidak terbaca oleh Aditya yang sangat senang menyambut menantu pertama keluarga Wijaya.
Beberapa jam kemudian, resepsi resmi berakhir. Para tamu mulai meninggalkan ballroom, sementara para pekerja sibuk membereskan dekorasi yang sejak pagi memenuhi ruangan.
Nadira mengembuskan napas panjang. "Akhirnya selesai."
"Belum," sahut Arga santai.
Nadira menoleh.
"Kita pulang."
"Pulang?"
"Ke rumah."
Barulah Nadira teringat.
Mulai malam ini, rumah sederhana yang selama bertahun-tahun menjadi tempatnya pulang bukan lagi tempat ia membuka mata setiap pagi. Sesuai isi kontrak yang telah mereka sepakati, ia kini tinggal bersama Arga sebagai pasangan suami istri.
Mobil yang mereka tumpangi melambat ketika melewati gerbang besi hitam setinggi hampir tiga meter. Pintu otomatis itu terbuka perlahan, memperlihatkan jalan masuk yang diapit deretan pohon tabebuya dan lampu taman berwarna keemasan. Air mancur kecil di tengah halaman memantulkan cahaya malam, menciptakan riak-riak yang menenangkan di tengah sunyinya kawasan elite tersebut.
Nadira tak sadar menahan napas.
Rumah itu jauh lebih besar daripada yang pernah ia bayangkan.
Bangunan tiga lantai bergaya modern klasik berdiri anggun dengan dominasi warna putih gading dan aksen batu alam abu-abu. Pilar-pilar tinggi menyangga balkon lantai dua, sementara dinding kaca berukuran besar memancarkan cahaya hangat hingga ke halaman depan.
"Rumah ini ..." gumam Nadira lirih.
"Besar?" sambung Arga sambil mematikan mesin mobil.
Nadira hanya mengangguk.
Arga tersenyum tipis. "Kadang aku juga merasa begitu."
Nadira memandangnya heran.
"Aku lebih sering di kantor daripada di sini." Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi cukup membuat Nadira memahami bahwa rumah semegah apa pun bisa terasa sunyi ketika tidak benar-benar dihuni.
“Sekarang aku mau rumah sepi ini menjadi ramai.” Arga mengatakannya sambil tersenyum lebar pada Nadira, seolah menjadi pernyataan mutlak.
Begitu pintu utama terbuka, aroma kayu cedar bercampur wangi bunga lily langsung menyambut keduanya. Lantai marmer krem membentang luas tanpa banyak sekat, sementara sebuah chandelier kristal menggantung megah di langit-langit foyer yang menjulang hingga lantai dua.
Kemewahan bukanlah hal pertama yang menarik perhatian Nadira. Rumah itu justru terasa hangat.
Di sisi kanan terdapat ruang keluarga dengan sofa linen berwarna beige yang menghadap perapian elektrik. Sebuah rak buku setinggi dinding dipenuhi novel, buku arsitektur, biografi, hingga karya sastra klasik. Di dekat jendela berdiri sebuah piano hitam mengilap, sementara tanaman-tanaman hijau dalam pot keramik membuat ruangan terasa hidup.
Tatapan Nadira berhenti cukup lama pada rak buku tersebut.
"Banyak sekali bukunya."
Arga mengikuti arah pandangnya. "Mendiang Mamaku dahulu suka membaca."
Padahal sebagian besar koleksi itu adalah miliknya. Entah mengapa, ia memilih tidak mengatakannya.
Beberapa pelayan menyambut mereka dengan membungkukkan badan. "Selamat datang, Tuan Arga, Nyonya."
Sapaan itu membuat Nadira sedikit kikuk. Ia bahkan refleks menoleh ke belakang, memastikan tidak ada orang lain yang mereka maksud.
Arga menahan senyum melihat reaksinya.
"Ayo."
Mereka menaiki tangga menuju lantai dua. Langkah Nadira terasa semakin pelan ketika Arga berhenti di depan sebuah pintu berwarna walnut.
Pria itu memutar gagang pintu.
"Ini kamar kita."
Nadira melangkah masuk perlahan.
Ruangan itu jauh berbeda dari bayangannya.
Tidak ada dekorasi berlebihan ataupun nuansa mencolok seperti hotel mewah. Kamar tersebut didominasi warna putih, abu-abu muda, dan kayu walnut yang memberikan kesan hangat. Sebuah tempat tidur king size berada di tengah ruangan dengan headboard minimalis. Di sisi kiri terdapat jendela kaca setinggi langit-langit yang menghadap taman belakang, sementara tirai tipis berwarna ivory bergoyang pelan tertiup angin dari balkon yang sedikit terbuka.
Di dekat jendela terdapat sebuah kursi baca lengkap dengan lampu lantai dan meja kecil. Sebuah meja kerja tampak rapi dengan laptop, agenda kulit hitam, serta beberapa blueprint bangunan yang masih terbuka. Rak buku lain berdiri memenuhi salah satu sisi dinding, memperlihatkan kebiasaan pemilik kamar yang tak pernah jauh dari pekerjaannya.
Tak ada barang yang diletakkan sembarangan. Semuanya tertata nyaris sempurna. Seolah ruangan itu dihuni seseorang yang selalu berusaha mengendalikan hidupnya hingga ke detail terkecil.
"Kamarnya terlihat nyaman," ujar Nadira pelan.
"Aku memang lebih suka rumah yang terasa hidup daripada sekadar mewah."
Nadira kembali memandang sekeliling.
Baru sekarang ia menyadari bahwa kemewahan rumah ini tidak pernah berteriak. Semuanya terasa elegan, tenang, dan hangat, persis seperti pribadi Arga yang selama ini ia kenal.
Ketika pandangannya kembali jatuh pada tempat tidur besar di tengah ruangan, senyumnya perlahan menghilang.
Jantungnya kembali berdetak lebih cepat.
Mulai malam ini ia harus berbagi kamar dengan laki-laki yang baru beberapa jam lalu resmi menjadi suaminya.