Ayu Lestari tidak pernah bermimpi menjadi miliarder. Sebagai chef muda di hotel bintang lima Jakarta, hidupnya sudah cukup sibuk — memasak rendang untuk tamu-tamu kaya sambil merindukan kampung halaman di Sumatera Barat yang sudah lama ia tinggalkan.
Tapi takdir punya rencana lain. Undian berhadiah dari sebuah bank nasional menghadiahkannya 50 miliar rupiah. Jumlah yang bisa membeli apartemen mewah, mobil sport, dan kehidupan glamor seumur hidup.
Ayu memilih pulang kampung.
Di Nagari Sungai Tanang, ia merenovasi rumah gadang peninggalan keluarga, membuka Restoran Padang dengan resep warisan ibunya, dan memulai channel TikTok yang tak disangka-sangka viral. Nenek Sari yang gila belanja online dan Datuk Harun yang pendiam menyambutnya dengan tangan terbuka — bersama seekor Golden Retriever, dua anjing lain, dan tujuh ekor kucing.
Lalu datanglah Raka Pratama.
Pria Jawa berkacamata ini memesan homestay Ayu untuk "mencari inspirasi menulis." Kenyataannya? Ia sedang melarikan diri dari keluarga yang berantakan — ayah yang menikah lagi, ibu tiri yang manipulatif, dan luka masa kecil yang tak pernah sembuh. Di NovelMe, ia dikenal sebagai KentangGila, penulis novel romantis dengan jutaan pembaca. Di dunia nyata, ia bahkan tidak berani memesan makanan sendiri.
Ayu yang blak-blakan bertemu Raka yang pemalu. Chef yang jago masak bertemu pria yang bisa membakar air. Pewaris tradisi Minangkabau bertemu anak Jakarta yang tidak tahu cara makan dengan tangan.
Tapi di balik perbedaan mereka, ada kesamaan yang lebih dalam: dua orang yang kehilangan orang tua terlalu cepat, dan sedang belajar bahwa "rumah" bukan soal alamat — tapi soal siapa yang menunggumu di depan pintu.
Antara sawah hijau, aroma rendang, dan pertengkaran soal siapa yang cuci piring malam ini — cinta tumbuh pelan-pelan. Dan kali ini, Ayu tidak perlu undian untuk tahu bahwa ia sudah menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2
Bab 2
Ini Bukan Mimpi
Driver ojek kembali memanggil namanya, kali ini lebih hati-hati.
"Mbak Ayu? Jadi berangkat?"
Ayu baru tersadar bahwa ia masih berdiri di depan minimarket dengan layar ponsel menyala. Gerimis membuat ujung jilbabnya lembap. Jemarinya mencengkeram ponsel terlalu kuat sampai buku-bukunya memutih.
"Iya." Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. "Maaf, Bang. Saya agak kaget."
"Nggak apa-apa. Hati-hati, jalan licin."
Ayu naik ke motor dengan gerakan kaku. Sepanjang perjalanan menuju kos, ia tidak bisa melepaskan pandangan dari ponsel. Setiap kali lampu jalan memantul di layar, angka itu tetap ada. Rp 50.000.000.000. Bukan lima juta. Bukan lima puluh juta. Bukan angka promo palsu dari pesan asing yang meminta kode OTP.
Di aplikasi Bank Nusantara, namanya tertulis jelas.
Ayu Lestari.
Pemenang hadiah utama.
Menunggu verifikasi pemenang.
Motor berhenti di depan gang kosnya. Ayu hampir lupa membayar lebih untuk jas hujan plastik yang tadi ditawarkan driver.
"Mbak baik-baik saja?" tanya driver itu.
Ayu mengangguk cepat. "Baik. Terima kasih, Bang."
Ia masuk ke gang sempit yang becek, melewati deretan kamar kos dengan jemuran menggantung rendah. Bau deterjen, mie instan, dan air hujan bercampur di udara. Di lantai dua, seorang penghuni kos sedang video call keras-keras. Di ujung lorong, kucing liar tidur melingkar di atas keset.
Kamar Ayu hanya tiga kali tiga meter. Kasur single, lemari plastik, kompor listrik kecil, satu meja lipat, dan kardus berisi peralatan dapur yang tidak muat ia susun. Di dinding ada kalender bergambar Danau Maninjau yang sudah lewat dua bulan tapi belum ia ganti.
Biasanya begitu masuk kamar, Ayu langsung melepas sepatu dan mandi. Malam itu ia hanya duduk di tepi kasur, masih memakai jaket basah, lalu membuka aplikasi bank lagi.
Angka itu masih ada.
Ia menekan menu informasi program. Semua syarat muncul lengkap. Nama program, periode, nomor kupon, nomor izin promosi, potongan pajak hadiah, jadwal pengumuman, dan kontak layanan prioritas. Tidak ada link aneh. Tidak ada permintaan transfer. Tidak ada kalimat berantakan seperti pesan penipuan yang sering masuk ke grup WhatsApp keluarga.
Ayu menelan ludah.
Kalau ini nyata, setelah pajak, ia masih akan menerima sekitar empat puluh miliar rupiah.
Empat puluh miliar.
Di rekeningnya sekarang bahkan tidak sampai delapan juta.
Ia meletakkan ponsel di atas kasur, lalu menatap langit-langit kamar yang ada noda rembesan kecil di pojok. Napasnya pendek-pendek. Bukannya senang, tubuhnya justru gemetar seperti sedang demam.
Ponselnya bergetar lagi. Kali ini dari Dian.
`Yu, kok centang dua tapi nggak balas? Ketiduran di jalan?`
Ayu menatap pesan itu lama. Jarinya mengetik, menghapus, mengetik lagi.
`Di, kalau seseorang tiba-tiba dapat uang banyak banget, dia harus ngapain dulu?`
Dian membalas dengan voice note, tapi Ayu tidak memutarnya. Beberapa detik kemudian pesan teks muncul.
`Banyak banget itu berapa? Jangan bilang kamu menang giveaway skincare.`
`Lebih banyak dari skincare.`
`Serius?`
Ayu menggigit bibir. Ia belum sanggup memberi tahu siapa pun sebelum benar-benar yakin. Bahkan kepada Dian.
`Besok aku cerita. Doain aku nggak pingsan.`
`YA ALLAH AYU. Kamu bikin aku nggak bisa tidur.`
Ayu tersenyum lemah. Ia juga tidak tidur.
Malam itu, ia mandi dengan air dingin karena pemanas kos rusak lagi. Setelahnya ia duduk di lantai, membuka laptop tua, dan mencari semua informasi tentang program undian Bank Nusantara. Ia membaca berita resmi, unggahan Instagram bank, komentar orang-orang, sampai peraturan pajak hadiah. Pukul dua pagi, matanya perih. Pukul tiga, ia masih menghitung nol. Pukul empat, azan subuh dari masjid kecil di ujung gang terdengar lembut.
Ayu mengambil wudu, shalat, lalu duduk di sajadah lebih lama dari biasanya.
"Ya Allah," bisiknya. "Kalau ini benar rezeki dari-Mu, jangan biarkan Ayu lupa diri."
Ia tidak masuk shift pagi.
Untuk pertama kalinya sejak bekerja di hotel itu, Ayu mengirim pesan sakit kepada Chef Roni tanpa rasa bersalah. Tubuhnya memang seperti baru jatuh dari tempat tinggi. Bedanya, kali ini bukan karena lelah, melainkan karena hidupnya mungkin akan berubah seluruhnya.
Pukul sembilan, Ayu sudah berdiri di kantor cabang utama Bank Nusantara di Sudirman. Ia memakai kemeja paling rapi yang ia punya, celana hitam, dan sepatu kerja yang masih agak basah di bagian ujung. Tangannya berkali-kali merapikan rambut yang diikat sederhana.
Petugas keamanan menyambutnya di pintu.
"Ada yang bisa dibantu, Bu?"
"Saya... mendapat notifikasi pemenang undian berhadiah." Ayu menunjukkan layar ponsel.
Ekspresi petugas itu berubah lebih serius. Ia segera memanggil pegawai customer service. Dalam waktu kurang dari lima menit, Ayu sudah dibawa ke ruangan kecil ber-AC dengan sofa krem dan air mineral di meja.
Seorang perempuan berblazer navy masuk sambil membawa map.
"Selamat pagi, Ibu Ayu Lestari. Saya Mira dari layanan prioritas Bank Nusantara." Senyumnya profesional, tapi hangat. "Pertama-tama, kami ucapkan selamat. Berdasarkan sistem kami, Ibu benar terverifikasi sebagai pemenang hadiah utama Program Rezeki Pulang Kampung."
Kalimat itu membuat dada Ayu berhenti sejenak.
"Jadi ini bukan penipuan?"
Mira tersenyum lebih lembut. "Bukan, Bu. Kami juga tidak akan meminta Ibu mentransfer biaya apa pun. Pajak hadiah dipotong langsung sesuai ketentuan. Setelah seluruh dokumen dan berita acara selesai, estimasi dana bersih yang masuk ke rekening Ibu sekitar empat puluh miliar rupiah."
Ayu memegang gelas air mineral, tapi lupa minum.
Mira menjelaskan prosesnya satu per satu. Verifikasi KTP, NPWP, berita acara, tanda tangan, dokumentasi internal, dan jadwal transfer. Semua terdengar rapi. Semua terlalu nyata.
Ketika ia diminta menandatangani dokumen pertama, ujung pulpen sempat bergetar di atas kertas.
"Ibu tidak perlu terburu-buru," kata Mira.
Ayu menarik napas dalam.
"Saya cuma..." Ia tertawa kecil, tapi matanya panas. "Semalam saya masih mikir besok makan siang bawa telur dari kos. Sekarang Mbak bilang saya punya empat puluh miliar."
Mira tidak menertawakan. Ia hanya mengangguk, seperti sudah beberapa kali melihat orang kehilangan keseimbangan di depan angka besar.
"Pelan-pelan, Bu. Yang penting Ibu jangan langsung percaya pihak luar yang menghubungi. Semua komunikasi lewat nomor resmi dan cabang ini."
Ayu mengangguk.
Setelah dua jam proses awal, ia keluar dari bank dengan map cokelat di tangan. Langit Jakarta siang itu terlalu terang. Orang-orang berjalan cepat dengan wajah serius. Mobil mewah berhenti di depan gedung. Pegawai kantoran memegang kopi, kurir membawa paket, satpam meniup peluit.
Dunia tetap bergerak seperti biasa.
Hanya Ayu yang tidak sama lagi.
Ia duduk di bangku depan gedung, membuka aplikasi peta, lalu tanpa sadar mengetik: Nagari Sungai Tanang.
Jaraknya jauh. Harus terbang ke Padang, lalu naik mobil sekitar dua jam. Di layar, kampung halamannya terlihat hanya sebagai titik kecil. Tapi di kepala Ayu, titik kecil itu punya suara Nenek Sari, Teh Talua buatan Datuk Harun, udara dingin pagi, dan halaman rumah gadang yang selalu ia rindukan saat Jakarta terasa terlalu keras.
Selama ini ia bertahan karena merasa tidak punya pilihan.
Sekarang, pilihan itu datang dalam bentuk angka yang bahkan belum sanggup ia ucapkan tanpa gemetar.
Ia bisa tetap bekerja di hotel, naik jabatan perlahan, membeli apartemen setelah bertahun-tahun menabung, dan terus pulang larut malam sampai tubuhnya menyerah.
Atau ia bisa pulang.
Membeli waktu.
Memperbaiki rumah gadang.
Membuka restoran sendiri.
Merawat Nenek dan Datuk yang sudah semakin tua.
Untuk pertama kalinya, kata pulang tidak terasa seperti menyerah. Kata itu terasa seperti pintu.
Ayu membuka kontak Nenek Sari. Foto profilnya adalah gambar Nenek memakai mukena putih sambil tersenyum di depan tanaman cabai.
Jari Ayu berhenti di tombol panggil.
Begitu sambungan tersambung, suara Nenek terdengar dari seberang, sedikit berisik karena televisi di rumah.
"Assalamu'alaikum, Ayu? Tumben pagi-pagi menelepon. Kamu sakit?"
Ayu memejamkan mata. Dalam satu tarikan napas, semua lelah Jakarta, semua malam di dapur panas, semua rindu yang ia tahan bertahun-tahun, naik ke tenggorokannya.
"Wa'alaikumussalam, Nek."
"Kenapa suaramu begitu, Nak?"
Ayu menggenggam map cokelat di pangkuannya.
"Nek," katanya pelan, "Ayu mau pulang."