NovelToon NovelToon
Sang Pangeran Terlahir Kembali

Sang Pangeran Terlahir Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Pangeran Mahkota Arjuna terbangun dari mimpi buruk tergelap dalam hidupnya — hanya untuk menyadari bahwa ia telah kembali ke tiga tahun yang lalu.

Di kehidupan sebelumnya, ia terlalu dingin, terlalu bodoh, dan terlalu terlambat. Ia kehilangan wanita yang seharusnya ia lindungi, dikhianati oleh saudara yang ia percayai, dan mati di tangan mereka yang seharusnya ia waspadai.

Kali ini, segalanya akan berbeda.

Kali ini, ia akan menikahi Anindya — gadis yang dulu ia abaikan — dan menjadikannya permata yang paling ia jaga di seluruh kerajaan. Ia akan membongkar setiap kebohongan, menjatuhkan setiap pengkhianat, dan memastikan semua yang pernah menyakiti mereka... menyaksikan dunia mereka runtuh tepat di saat mereka merasa paling tak terkalahkan.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Musuh-musuhnya lebih licik dari yang ia ingat, rahasia kerajaan lebih gelap dari yang ia bayangkan, dan cinta yang tumbuh antara dirinya dan Anindya... mungkin menjadi senjata paling berbahaya yang pernah ia miliki.

"Aku sudah pernah mati sekali. Kali ini, aku bersumpah — tidak akan ada yang menyentuhmu selama jantungku masih berdetak."

Genre: Kerajaan · Romansa · Reinkarnasi · Balas Dendam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

Bab 32 Pertanyaan Seorang Ayah

Panggilan dari Prabu Naradewa datang sebelum matahari naik.

Arjuna tidak terkejut.

Ia sudah berdiri di depan cermin perunggu ketika Adi membawa titah itu masuk. Jubahnya rapi, keris di pinggangnya tenang, wajahnya tidak menunjukkan bekas malam yang hampir tidak memberi tidur.

Anindya duduk di kursi dekat jendela. Wulan baru saja membawakan jamu, tetapi cangkir itu belum disentuh.

"Baginda memanggil Kakanda?"

"Ya."

Arjuna mengikat lengan jubahnya. Gerakannya terlalu teratur. Anindya mulai mengenali tanda itu. Jika Arjuna terlihat terlalu tenang, berarti sesuatu di dalam dirinya sedang ditahan dengan keras.

Ia berdiri perlahan.

Wulan ingin membantu, tetapi Anindya mengangkat tangan. Ia berjalan ke hadapan Arjuna, lalu merapikan lipatan kecil di bahu jubahnya.

"Jangan biarkan beliau melihat luka itu," katanya pelan.

Arjuna menatapnya melalui pantulan cermin. "Luka apa?"

"Luka seorang anak."

Tangan Arjuna berhenti.

Anindya menurunkan suara. "Hari ini Baginda mungkin tidak bicara sebagai raja lebih dulu. Beliau akan bicara sebagai ayah, supaya Kakanda merasa bersalah sebelum sempat marah."

Arjuna memandangnya lama. "Kau semakin memahami istana."

"Aku tidak suka pemahaman ini."

"Aku juga."

Untuk sesaat, mereka hanya berdiri berhadapan. Tidak ada janji besar. Tidak ada pelukan panjang. Hanya tangan Anindya di bahu jubahnya, dan Arjuna yang membiarkan sentuhan itu menahannya agar tidak berjalan masuk ke Puri Raja dengan hati terbuka.

"Aku akan kembali," katanya.

"Bawa pulang amarah Kakanda dalam keadaan utuh."

Arjuna hampir tersenyum. "Itu perintah Putri Mahkota?"

"Nasihat istri."

Kata istri membuat ruangan terasa lebih hangat, meski sebentar.

***

Prabu Naradewa menerima Arjuna bukan di Balai Agung, melainkan di ruang kerja dalam Puri Raja.

Ruang itu lebih sempit, lebih pribadi, dan karena itu lebih berbahaya. Tidak ada pejabat sebagai saksi. Hanya Emban Agung Darma berdiri di sisi belakang, diam seperti bayangan tua.

Naradewa duduk di balik meja rendah. Di depannya ada buah delima yang sudah dibelah. Biji merahnya tersusun dalam mangkuk emas, bersih, seolah tidak pernah ada sari yang menetes di jarinya kemarin.

"Duduk, Arjuna."

Arjuna memberi hormat. "Ananda berdiri saja, Baginda."

"Aku memanggilmu sebagai ayah."

"Putra mendengar."

Naradewa tersenyum tipis. "Kalau begitu, duduklah seperti anak yang mendengar ayahnya."

Arjuna duduk.

Perintah kecil itu tampak tidak berarti, tetapi keduanya tahu siapa yang baru saja mengambil posisi lebih tinggi.

Naradewa mengambil satu biji delima dan memutarnya di antara jari. "Aku mendengar kau menerima seorang emban tua dari Puri Candra."

"Benar."

"Ia membawa buku."

"Buku persediaan lama."

"Dan dari buku persediaan itu, kau ingin menilai kematian ibumu?"

Pertanyaan itu lembut. Terlalu lembut.

Arjuna menatap ayahnya. "Putra sedang menelusuri abdi dalam yang membawa surat pembatalan palsu untuk menahan Eyang Maha. Jejaknya menuju Puri Candra. Buku itu datang dari tempat yang sama."

"Kau tidak menjawab pertanyaanku."

"Karena Baginda menyebut ibu hamba lebih dulu."

Udara di ruang itu menegang.

Emban Agung Darma menunduk lebih dalam.

Naradewa tertawa pelan. "Kau belajar menjawab seperti orang tua Cendekia."

"Eyang Maha mengajari banyak orang membaca kata dengan benar."

"Dan istrimu mengajarimu membaca angka?" Naradewa meletakkan biji delima ke mangkuk. "Aku mendengar Putri Mahkota sangat pandai menemukan kesalahan dalam buku. Kemarin buku dagang Kertanegara, hari ini buku Puri Candra. Besok mungkin ia akan membaca isi hati raja."

Arjuna tidak mengubah ekspresi. "Anindya membaca catatan karena Ananda memintanya."

"Berhati-hatilah, Arjuna. Perempuan yang cerdas bisa menjadi permata. Tetapi jika kau membiarkan semua rasa sakitmu dituntun oleh tangan seorang istri muda dan kakek tua yang menyimpan dendam, kau akan sulit membedakan kebenaran dari cerita yang ingin kau dengar."

Setiap kata terdengar seperti nasihat.

Setiap kata adalah jerat.

Arjuna mengingat pesan Anindya. Jangan biarkan beliau melihat luka seorang anak.

"Putra berterima kasih atas peringatan Baginda."

Naradewa memandangnya, mencoba menemukan retakan. "Serahkan buku itu ke arsip raja. Jika memang hanya catatan persediaan, tidak ada yang perlu kau simpan."

"Putra akan menyerahkan salinannya."

Mata Naradewa berubah sedikit.

"Aku meminta bukunya."

"Buku asli adalah bukti dalam pemeriksaan surat palsu, Baginda. Karena jejak abdi dalam mengarah ke Puri Candra, Puri Timur wajib menjaganya sampai Pengadilan memeriksa catatan. Salinan akan dikirim hari ini."

"Kau menolak ayahmu?"

"Putra menjaga bukti untuk raja."

Hening itu panjang.

Naradewa akhirnya bersandar. "Kau semakin pandai memakai kata kerajaan untuk melindungi keinginanmu sendiri."

"Putra belajar dari istana."

Untuk pertama kalinya, senyum Naradewa benar-benar hilang.

Ia menatap Arjuna lama, lalu berkata, "Mulai hari ini, Puri Candra akan diinventarisasi ulang oleh Puri Raja. Tidak ada yang masuk tanpa izinku."

Arjuna menunduk. "Ananda memahami titah Baginda."

"Pastikan kau benar-benar memahami. Jangan bangunkan hantu yang seharusnya tidur. Hantu bisa membuat anak durhaka kepada ayahnya."

Arjuna berdiri dan memberi hormat.

"Jika ada hantu di Puri Candra, Baginda," katanya tenang, "mungkin ia belum tidur karena belum pernah diberi keadilan."

Emban Agung Darma mengangkat wajah sekejap.

Naradewa tidak bergerak.

"Pergilah."

Arjuna memberi hormat dan keluar tanpa menoleh.

Pintu ruang kerja tertutup.

Baru setelah langkah putranya menjauh, Naradewa menatap Emban Agung Darma. Wajahnya tidak lagi memakai senyum seorang ayah.

"Ganti kunci Puri Candra."

Darma berlutut lebih rendah. "Baginda?"

"Inventarisasi dimulai sekarang. Bawa peti yang masih berbau minyak cendana ke gudang arsip Puri Raja. Jika ada catatan yang tidak seharusnya dilihat anakku, kau tahu apa yang harus dilakukan."

Punggung Darma menegang.

"Hamba mengerti."

Naradewa mengambil satu biji delima dan menghancurkannya di antara jari.

"Sumini sudah terlalu lama menyimpan lidahnya. Pastikan ia tidak mendapat keberanian kedua."

***

Ketika Arjuna kembali ke Puri Timur, Anindya sudah menunggunya dengan buku lama terbuka di meja. Ia melihat wajahnya sekali dan tahu percakapan itu tidak berjalan mudah.

"Beliau meminta buku asli?" tanyanya.

"Ya."

"Kakanda menolak."

"Aku menawarkan salinan."

Anindya mengembuskan napas pelan. "Maka beliau akan bergerak ke Puri Candra."

"Sudah. Puri Raja akan menginventarisasi ulang. Tidak ada yang boleh masuk tanpa izin."

Anindya menutup buku perlahan. "Jika orang yang mencampuri catatan lama ikut memegang inventaris baru, semua sisa bukti bisa hilang."

"Garuda sudah mengawasi pintu."

Seolah dipanggil oleh namanya, Garuda masuk dan berlutut di ambang pintu.

"Yang Mulia, kunci utama Puri Candra diganti satu jam lalu. Dua peti tua dibawa keluar melalui pintu belakang, dikawal orang Emban Agung Darma."

Anindya berdiri terlalu cepat hingga dunia gelap sesaat. Arjuna langsung menopang sikunya.

Ia menatap Garuda dengan wajah pucat, tetapi suaranya tajam.

"Ke mana peti itu dibawa?"

Garuda menunduk.

"Ke gudang arsip Puri Raja. Dan satu peti mengeluarkan bau minyak cendana yang sama seperti catatan malam Permaisuri Candra jatuh sakit."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!