NovelToon NovelToon
Tersandung Cinta, Sang CEO Posesif Terlalu Mencintainya

Tersandung Cinta, Sang CEO Posesif Terlalu Mencintainya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Kembang

Seraphina Lim kembali ke Jakarta dengan label yang memalukan — anak haram keluarga konglomerat Lim.

Dibuang sejak kecil, dibesarkan oleh keluarga lain, dan kini dipanggil pulang hanya untuk dijadikan bidak politik. Saudari tirinya yang menggantikan posisinya selama 20 tahun menganggapnya sampah. Ayah kandungnya ingin menjodohkannya dengan putra keluarga paling korup di Jakarta.

Tapi Seraphina bukan gadis lemah yang bisa diinjak.

Di malam pertamanya di Jakarta, takdir mempertemukannya kembali dengan Reynard Hartono — pewaris tunggal Hartono Group, pria paling berkuasa dan paling berbahaya di kota ini. Dingin, posesif, dan tak pernah tersentuh oleh wanita manapun...

...kecuali dia.

"Kau adalah hartaku yang paling berharga."

Reynard sudah menunggunya selama empat tahun. Dan kali ini, dia tidak akan melepaskannya — tidak peduli berapa banyak musuh yang harus dihancurkan.

Identitas palsu. Cinta obsesif. Balas dendam yang manis.

Ketika rahasia terbesar keluarga Lim terbongkar, seluruh Jakarta akan tahu — gadis yang mereka injak-injak selama ini, justru adalah pewaris sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 003

Empat Tahun yang Lalu

Sore itu, Seraphina pindah sebelum hujan sempat turun lagi.

Sopir keluarga Lim mengantarnya ke sebuah apartemen tinggi di kawasan SCBD. Tidak banyak bicara sepanjang perjalanan. Ia hanya menyerahkan kartu akses, kunci cadangan, dan sebuah amplop berisi nomor kontak pengelola gedung. Semuanya sudah diatur rapi, terlalu rapi, seolah Hendrawan memang sejak awal menyiapkan tempat untuk menaruhnya jauh dari rumah, tetapi tetap cukup dekat untuk dipanggil kapan saja.

Unit itu berada di lantai tiga puluh dua. Dari ruang tamu, kaca besar menghadap gedung-gedung Jakarta yang berkilau menjelang malam. Lampu kota menyala satu per satu, membentuk garis emas di antara jalanan yang mulai padat. Di bawah sana, mobil bergerak seperti aliran cahaya yang tidak pernah berhenti.

Seraphina berdiri di depan jendela dengan koper di samping kaki.

Tempat ini lebih tenang daripada rumah Lim.

Namun ketenangan yang dibeli dengan syarat tetap terasa seperti kurungan.

Ia membuka koper di kamar utama. Pakaian kerja diletakkan di lemari, laptop di meja, obat-obatan kecil dari Mama Kartika di laci paling atas. Ketika menarik satu lapis kain pelindung di bagian bawah koper, sebuah foto jatuh ke lantai.

Seraphina membungkuk mengambilnya.

Foto itu sudah sedikit melengkung di sudut, warnanya tidak lagi setajam dulu. Di sana, ia berdiri di sebuah teras luas, memakai gaun biru muda dengan rambut tergerai. Cahaya bulan jatuh di pagar batu. Di belakangnya, bayangan pesta tampak buram dari pintu kaca.

Empat tahun lalu.

Yolanda berusia delapan belas tahun malam itu.

Untuk pertama kalinya, Seraphina datang ke Jakarta bukan sebagai tamu Tjiandra, melainkan sebagai anak yang diam-diam diminta hadir oleh keluarga Lim. Meilin mengirimkan gaun melalui kurir, lengkap dengan sepatu dan kartu kecil bertuliskan, Pakailah ini kalau Sera berkenan. Tidak ada tanda tangan, tetapi Seraphina tahu tulisan itu milik Meilin.

Saat itu ia masih cukup muda untuk percaya bahwa mungkin, hanya mungkin, sebuah undangan ulang tahun bisa menjadi awal dari sesuatu.

Mobil berhenti di halaman rumah Lim yang penuh lampu. Musik lembut mengalun dari dalam ballroom. Para tamu datang dengan gaun mahal, jas hitam, parfum tajam, dan tawa yang terdengar dibuat-buat. Mereka memandang Seraphina seperti membaca berita yang belum lengkap.

"Itu siapa?"

"Katanya anak Pak Hendrawan juga."

"Dari luar nikah?"

"Sst, jangan keras-keras."

Bisik-bisik itu mengikuti langkahnya seperti bayangan.

Meilin menyambutnya di dekat pintu samping. Malam itu wajah Meilin lebih muda, tetapi matanya sama gugupnya seperti semalam.

"Sera, kamu cantik sekali," katanya.

Seraphina memegang clutch kecil dengan kedua tangan. "Terima kasih, Bu Meilin."

Meilin tersenyum kaku. "Jangan terlalu formal. Di sini... kamu boleh panggil Mama."

Seraphina ingin mencoba. Satu kata itu sudah berada di ujung lidahnya.

Namun sebelum ia mengucapkannya, suara piring pecah terdengar dari dalam ballroom.

Yolanda berdiri di tengah ruangan dengan wajah pucat. Gaun putihnya menjuntai indah, tetapi matanya merah. Ia menunjuk ke arah Seraphina.

"Kenapa dia di sini?"

Semua percakapan berhenti.

Hendrawan mendekat cepat, wajahnya menegang. "Yolanda, jangan buat keributan."

"Ini pestaku, Papa." Suara Yolanda bergetar, tetapi cukup keras untuk seluruh ruangan. "Kenapa Papa bawa dia? Papa mau semua orang tahu?"

Meilin memegang lengan Seraphina. Pegangannya dingin.

Seraphina tidak tahu harus maju atau mundur. Ia hanya berdiri di tepi ruangan, dalam gaun biru yang tiba-tiba terasa seperti kostum salah acara.

Seorang tante yang tidak ia kenal berbisik kepada temannya, "Kasihan Yolanda. Anak itu pasti malu."

Anak itu.

Maksudnya bukan Seraphina.

Dalam beberapa menit, seseorang menyarankan agar Seraphina keluar dulu untuk menenangkan suasana. Tidak ada yang berkata terus terang ia diusir. Mereka hanya memakai kata yang lebih halus, udara luar, istirahat sebentar, jangan memperkeruh.

Seraphina keluar ke teras.

Jakarta malam itu panas, tetapi angin di teras membawa bau bunga sedap malam dari taman. Dari balik pintu kaca, musik kembali diputar. Pesta berjalan lagi, seakan kepergiannya cukup untuk menambal suasana.

Ia berdiri di dekat pagar batu, menatap bulan yang tampak jauh di antara awan tipis.

"Kau tidak suka pesta?"

Suara laki-laki itu datang dari sisi kiri.

Seraphina menoleh.

Seorang pria muda berdiri beberapa langkah darinya. Ia memakai setelan hitam yang jatuh sempurna di tubuhnya, satu tangan memegang gelas red wine, tangan lainnya masuk ke saku celana. Wajahnya dingin, terlalu tenang untuk seseorang seusianya. Matanya gelap, tajam, seperti terbiasa melihat kebohongan orang sebelum mereka sempat bicara.

Seraphina tidak mengenalnya.

Namun anehnya, di antara semua tatapan malam itu, tatapan pria ini tidak membuatnya merasa kotor.

Ia hanya merasa dilihat.

"Aku tidak suka menjadi alasan pesta orang lain rusak," jawab Seraphina.

Pria itu menatap pintu kaca di belakangnya. Di dalam, Yolanda sudah kembali tersenyum di antara teman-temannya. "Kalau satu orang bisa merusak pesta sebesar ini hanya dengan berdiri, berarti pestanya memang rapuh."

Seraphina menoleh kepadanya, sedikit terkejut.

Ujung bibir pria itu tidak tersenyum. Ia mengatakan kalimat itu seolah menyebut fakta sederhana, seperti cuaca atau harga saham.

"Kau tamu keluarga Lim?" tanya Seraphina.

"Kurang lebih."

"Nama?"

Pria itu menatapnya lagi. Kali ini pandangannya berhenti sedikit lebih lama pada gaun biru muda yang ia kenakan, lalu naik ke wajahnya.

Sebelum ia menjawab, seorang pria berjas mendekat dari pintu samping.

"Tuan muda, Pak Gunawan mencari Anda."

Tuan muda.

Seraphina menangkap sebutan itu, tetapi tidak tahu keluarga mana yang dimaksud. Di lingkaran seperti ini, terlalu banyak pria dipanggil tuan muda hanya karena lahir dari rumah yang benar.

Pria itu meletakkan gelasnya di meja kecil dekat pilar.

"Kalau tidak ingin didorong keluar lagi," katanya kepada Seraphina, "jangan berdiri terlalu dekat pintu."

Setelah itu ia masuk kembali ke dalam, meninggalkan aroma tipis cedar dan wine di udara.

Seraphina berdiri lama di tempatnya.

Tidak lama kemudian, mobil dari keluarga Lim mengantarnya kembali ke hotel, lalu ke bandara keesokan paginya. Meilin tidak sempat menemuinya. Hendrawan hanya mengirim pesan singkat melalui asisten. Yolanda mengunggah foto pesta di Instagram, penuh tawa dan ucapan selamat, tanpa satu pun jejak gaun biru muda di teras.

Sejak itu, Seraphina menyimpan foto tersebut di dasar koper.

Bukan karena ia ingin mengingat rasa malu.

Melainkan karena di foto itu, ia melihat dirinya masih berdiri tegak.

Seraphina kembali ke masa kini ketika suara televisi di ruang tamu tiba-tiba terdengar. Ia baru sadar remote tersenggol saat ia menaruh tas di sofa. Layar besar menampilkan siaran berita bisnis malam. Gedung konferensi megah, lampu kamera, para wartawan, dan logo Hartono Group berputar di belakang podium.

Ia hendak mematikan televisi, tetapi nama yang disebut pembawa berita membuat jarinya berhenti.

"Hartono Group malam ini menggelar konferensi tahunan di Jakarta. Perhatian publik tertuju pada Reynard Hartono, pewaris tunggal Hartono Group, yang untuk pertama kalinya memimpin pemaparan strategi ekspansi sektor teknologi dan infrastruktur pertahanan."

Kamera bergerak ke podium.

Seorang pria dalam setelan hitam berdiri di bawah cahaya putih. Wajahnya lebih matang daripada ingatan Seraphina, garis rahangnya lebih tegas, matanya tetap sama dinginnya. Ia menerima mikrofon dari seorang staf, lalu menatap barisan wartawan tanpa sedikit pun gugup.

Jantung Seraphina berhenti satu ketukan.

Gelas red wine. Setelan hitam. Tatapan yang berhenti padanya di teras.

Empat tahun lalu, ia tidak sempat mengetahui namanya.

Malam ini, seluruh Jakarta menyebutnya.

Reynard Hartono.

Pria di layar televisi itu adalah pria yang pernah berdiri bersamanya di bawah cahaya bulan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!