Bertubi-tubi, Aiza dihantam masalah yang mengaitkannya dengan sosok Akhmar, dia adalah pentolan preman. Rasanya gedeg sekali saat Aiza harus berada di kamar yang sama dengan preman itu hingga membuat kedua orang tuanya salah paham.
Bagaimana bisa Akhmar berada di kamarnya? Tapi di balik kebengisan Akhmar, dia selalu menjadi malaikat bagi Aiza.
Aiza dan Akhmar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Keluarga
“Hei, anak muda! Jangan bikin onar di sini! Pergi sana!” seru lelaki berkopiah putih itu. kemudian ia menyuruh supirnya membunyikan klakson.
Suara klakson terdengar nyaring berusaha menyingkirkan si penghalang badan jalan.
Supir melajukan angkotnya meninggalkan Akhmar yang mengepalkan tangan ke arahnya.
Aiza bangkit dari persembunyiannya yang meringkuk di balik jok dan mengintip keluar. Aman. Para ibu- ibu dan bapak- bapak menatap heran ke arah Aiza. Untungnya mereka kompak tutup mulut, tak satu pun mau mengatakan keberadaan Aiza kepada Akhmar.
“Siapa itu tadi, Neng? Pacarnya?” tanya salah seorang ibu.
Aiza membelalak kaget. Pacar? Sebegajulan itu? Idih, ogah banget punya calon imam hancur- hancuran begitu. Mau dibawa kemana anak mereka nanti? Ia menunduk tak mau menjawab.
Sementara mobil elit yang dinaiki lelaki paruh baya melewati Akhmar yang masih berdiri di tengah jalan.
“Hei anak muda, jaga sikap! Jangan mencari keributan!” Pria paruh baya menyeletuk tepat saat melintasi Akhmar. Kemudian mobilnya melaju pergi.
“Sialan! Belagu tuh tua bangka!” Akhmar beranjak dari tempatnya lalu menuju ke motor dan kali ini tujuannya sudah berpindah, bukan lagi mengejar angkot, melainkan mobil elit milik lelaki berkopiah.
Akhmar menghentikan motornya saat mobil elit berbelok memasuki pagar rumah dan berhenti di halaman luas rumah megah. Akhmar celingukan mencari-cari benda, namun tidak dia dapati. Akhirnya ia melepas sepatu yang melekat di kakinya dan mengayunkannya dengan kuat.
Syuuut…
Sepatu melayang di udara sesaat setelah Akhmar melemparnya.
Bluk!
Tepat sasaran. Sepatu mengenai kening lelaki berkopiah putih saat lelaki itu turun dari mobil. Ia menoleh dan melihat motor gede melaju kencang meninggalkan depan gerbang rumahnya.
“Mampus! Rasain lo!” Akhmar tersenyum puas di atas motor yang melaju kencang. Ia mendengar suara lelaki berkopiah putih yang berteriak meluapkan kemarahan, tentu saja Akhmar tidak menghiraukannya.
***
Aiza berlari memasuki halaman rumah yang ditumbuhi beraneka ragam tanaman hias. Gadis itu gemar menghias taman, dan hasilnya sempurna. Taman rumah terlihat asri dengan bermacam tanaman indah.
Aiza ahli dalam menyusun bunga. Tidak ada kegiatan positif lainnya ketika hari libur kecuali menghias, membersihkan, dan menyusun taman rumah. Pemandangan indah taman rumahnya menjadi hal paling menarik bagi Aiza, hingga ketika bangun tidur dan membuka jendela, ia akan langsung disambut indahnya taman bunga.
Aiza mengucap salam saat memasuki rumah dan menyalami punggung tangan uminya yang sedang memasak kue di dapur.
“Gimana sekolah barunya tadi?” tanya sang Umi sambil memasukkan kue ke dalam oven.
“Alhamdulillah nggak ada masalah,” jawab gadis penggemar warna biru itu kemudian mencuci tangan di wastafel. Ia membantu Uminya memasukkan kue ke dalam oven setelah mengelap tangan.
“Ini sudah hampir selesai. Kamu ganti baju gih, nanti seragammu kotor, loh.”
Tangan Aiza meninggalkan kue dan memangku tangan itu di atas paha yang jongkok di sisi Uminya.
“Ayo sana cepet ganti baju. Sebentar lagi Abahmu pulang, kita makan siang bersama.”
Aiza tidak melaksanakan perintah Ibunya, justru menatap malas ke arah kue. Mukanya langsung cemberut. Selalu begitu setiap kali ia mendengar ibunya menyebut kaya Ayah. Tidak ada sedikit pun yang menarik baginya tentang ayah. Sama sekali tidak ada.
“Umi yakin Abah bakal pulang?” tanya Aiza seperti menganggap mustahil kalau Ayahnya akan pulang.
“Iya. Tadi Abahmu telepon.”
“Paling juga bentar lagi nelepon dan bilang kalau nggak jadi pulang.” Suara Aiza terdengar jemu.
Bersambung