Jesslyn telah menikah selama satu tahun dengan Peter, tetapi ia malah hamil dengan pria lain. Berselingkuh? Tidak, ia tidak berselingkuh. Peter sendirilah yang telah tega melemparkan istrinya itu ke ranjang Jayden--seorang bos besar dalam dunia bisnis--demi menyelamatkan perusahaannya.
Namun, siapa sangka jika Jayden malah jatuh hati pada wanita cinta satu malamnya itu. Dengan berbagai cara, Jayden pun berusaha untuk merebut Jesslyn dan bayinya dari tangan Peter.
Berhasilkah rencana Jayden?
Ataukah Jesslyn akan memaafkan perbuatan Peter dan tetap mempertahankan keutuhan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Monica Dewi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Aku Mencintaimu
Jesslyn terlihat lebih segar setelah berendam dengan air hangat tadi. Dengan mengenakan gaun tidur berwarna putih sebatas lutut, kemudian Jesslyn pun duduk di tepi tempat tidur seraya memangku laptopnya. Ia membuka situs lowongan online dan mulai memilih dan memilah daftar pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya.
Jesslyn meng-klik satu per satu iklan lowongan pekerjaan tersebut dan mengirimkan lamarannya. Sejauh ini sepertinya Ryan belum mengetahui perihal pemecatannya ini. Karena jika pria itu sudah mengetahuinya, pasti Martha akan langsung memberondong Jesslyn dengan berbagai macam pertanyaan.
Jesslyn juga tidak mungkin bekerja di perusahaan Peter, karena sepertinya Peter sangat enggan jika Jesslyn mencampuri kehidupan pribadinya, dan dengan adanya Jesslyn di perusahaannya maka akan membuat gerak-gerik pria itu menjadi terbatas.
Setelah mengirimkan lamarannya ke banyak perusahaan, Jesslyn pun segera mematikan laptopnya. Ia melihat ke arah jam dinding di kamarnya yang menunjukkan jika malam telah larut. Jesslyn ingin menunggu Peter pulang, tetapi rasa kantuk dan lelah pun menghampirinya.
Jesslyn tak berani untuk menelepon Peter dan bertanya di mana pria itu sekarang, karena Peter tak ingin diganggu dan dikekang. Maka ia pun hanya dapat menuruti kemauan suaminya saja.
Namun, tanpa Jesslyn sadari, sikap lunak dan patuhnya selama ini justru telah menjadi bumerang baginya, dan membawa kehancuran dalam rumah tangganya. Peter menjadi bebas melakukan apa pun di luar sana dan menyembunyikan jati dirinya.
Jesslyn tak dapat lagi menahan kantuknya, ia kemudian berbaring dan menarik selimutnya hingga sebatas dada. Sebelum terlelap, Jesslyn pun mengelus perutnya dari balik gaun tidurnya, ia pun berbicara kepada janin kecil dalam kandungannya itu.
"Sayang, semoga kau selalu sehat. Teruslah tumbuh besar dan bahagia. Ibu akan selalu menjaga dan melindungimu. Selamat malam, Sayang. Aku mencintaimu."
.
.
.
Malam semakin larut, saat beberapa orang pria terlihat sedang menikmati waktu mereka bersama, di sebuah ruangan VIP di salah satu night club terkenal di kota itu. Ditemani segelas minuman di tangannya dan wanita cantik yang kini berada dalam pangkuannya, mereka benar-benar terhanyut dalam suasana malam yang indah.
Terkecuali, Jayden. Pria itu sejak datang tadi terus saja memasang tampang sangarnya dan hanya terdiam menikmati minumannya. Aura di sekitarnya pun terlihat mencekam. Tanpa ada satu pun orang yang berani mengusiknya, maka Jayden pun terkesan kesepian dan hilang di tengah keramaian.
"Hey, ada apa dengan bos-mu?" tanya Robin kepada Steve. Sama seperti Jayden, Steve pun datang ke sini hanya untuk minum.
"Iya, ada apa dengannya? Mengapa wajahnya masam sekali?"
Tony bergidik ngeri saat mengingat kemarahan Jayden tadi, ketika ada seorang wanita yang berusaha untuk menggodanya. Pria itu begitu murka hingga membuat sang wanita gemetar ketakutan. Maka, kini mereka pun tidak berani untuk mengganggunya lagi, dan hanya membiarkannya saja terus minum sampai mabuk.
Steve pun terdiam. Ia juga tidak mengetahui penyebab pasti mengapa Jayden bertingkah seperti itu hari ini? Sejak kembali dari ruang rapat tadi siang, Jayden selalu terlihat emosi. Ia menolak semua laporan dari beberapa orang kepala divisi, tanpa melihat isi dokumen tersebut sama sekali, dan malah memarahi mereka semua dengan kasar.
'Apa mungkin Presdir Zhou merasa kesal karena Manager Shen telah mengganggu Sekretaris Jiang?'
Steve memang tidak berada di ruang rapat itu tadi siang, karena Jayden memintanya untuk kembali ke ruangannya terlebih dahulu, tetapi ia mendengar rumor yang beredar jika Diana telah menyingkirkan saingannya lagi.
Wanita itu memang selalu berusaha untuk mengamankan posisinya sebagai calon Nyonya Muda Zhou, dengan menyingkirkan satu per satu wanita yang mendekati Jayden. Jayden pun tak mempermasalahkan hal itu karena ia memang mudah bosan.
Jayden tak akan bertahan lama pada suatu hubungan. Jika ia telah berhasil mendapatkan wanita itu maka dengan mudah Jayden akan melupakannya. Dan dengan sifat Diana yang pencemburu, maka hal itu akan membuat Jayden tidak perlu repot-repot lagi untuk mengurus para mantan kekasihnya itu.
Namun, sepertinya kali ini berbeda. Jayden kesal karena Diana telah mengganggu Jesslyn. Sebagai tangan kanan Jayden, Steve pun tahu jika pria itu telah mendapatkan Jesslyn.
Karena Steve sendirilah yang menangani masalah investasi Zhou Corp. kepada Gao's Future Group (GF Group) milik Peter, sebagai bayaran atas transaksi terselebung mereka. Hanya saja Steve tidak tahu jika ternyata Jesslyn tengah mengandung benih Jayden sekarang.
Jayden masih terus menuangkan isi botol itu ke dalam gelasnya dan segera menenggak habis minuman itu. Ia ingin mabuk malam ini dan melupakan bayangan Jesslyn dari benaknya.
'Mengapa aku terus memikirkan wanita itu? Apa yang istimewa darinya? Mengapa aku tak dapat melupakannya? Tetapi, mengapa ia bersikap sangat dingin kepadaku?'
Jayden teringat akan wajah pucat Jesslyn, saat wanita itu menolak ketika ia akan menyentuhnya. Dan ketika Jesslyn menatap tajam ke arahnya, karena Jayden tak membelanya dari tudingan Diana.
Jayden kesal karena tak pernah ada wanita yang menolak pesonanya, dan sikap Jesslyn tadi siang benar-benar melukai ego-nya. Ini adalah pertama kalinya ia khawatir kepada seorang wanita, tetapi wanita itu malah menolaknya.
"Sial! Pergilah dari kepalaku!" teriak Jayden marah seraya membanting gelasnya ke lantai.
Sontak saja hal itu pun membuat semua orang di sana menatap ke arahnya. Namun, Jayden tak peduli, ia kemudian berdiri dengan terhuyung-huyung dan segera pergi dari ruangan itu.
'Huft! Jadi benar ini semua karena peristiwa tadi siang,' gumam Steve yang juga langsung beranjak pergi meninggalkan ruangan itu. Ia harus menemani Jayden dan mengantarnya pulang karena pria itu sudah mabuk.
.
.
.
Kediaman Pribadi Jayden
Steve memarkirkan mobil Jayden dan segera memapahnya untuk masuk ke rumahnya.
"Asisten Wei, ada apa dengan Tuan Muda?" tanya seorang kepala pelayan yang menyambut kedatangan mereka. Tadi Steve menelepon kepala pelayan itu dan memintanya untuk menunggu mereka di pintu masuk.
"Presdir Zhou mabuk, Paman. Apa sup pereda mabuk yang aku minta tadi sudah siap?" tanya Steve dan kepala pelayan itu pun mengangguk. "Baguslah. Tolong kau ambil dan bawa sup itu ke kamarnya. Biar aku yang mengurus Presdir Zhou."
"Iya, baiklah."
Steve pun menaiki lift untuk membawa Jayden ke kamarnya di lantai tiga. Ia kemudian segera membaringkan pria itu di ranjangnya. Steve pun membuka sepatu dan jas yang dikenakan oleh Jayden.
Ia juga melepaskan ikatan dasi itu dari lehernya agar Jayden dapat tidur dengan nyaman. Tak lama kemudian Paman Liang--sang kepala pelayan--pun datang dengan membawa sup pereda mabuk.
"Presdir Zhou! Presdir Zhou! Minumlah sup ini dulu."
Steve mengguncang bahu Jayden dan berusaha untuk membangunkannya, tetapi pria itu segera menepis tangannya.
"Pergilah! Biarkan aku tidur. Aku lelah sekali," ucap Jayden dengan suara parau khas orang mabuk.
Jayden pun memiringkan tubuhnya dan kembali tertidur. Ia memang sangat mengantuk karena semalam ia tidak tertidur karena terus memikirkan Jesslyn.
Steve pun akhirnya menyerah, ia tidak ingin menjadi sasaran amukan Jayden nanti.
"Paman, tolong nanti kau berikan sup ini saat Presdir Zhou sudah bangun."
"Baiklah, Asisten Wei. Anda tidak usah khawatir. Aku yang akan menjaga Tuan Muda. Anda pulang dan beristirahatlah."
Steve menyetujui saran pria tua itu. Ia kemudian pergi meninggalkan kamar Jayden. Saat ia membuka pintu kamar itu, ia pun berpapasan dengan Diana.
"Kau?! Apa yang sedang kau lakukan di kamar Jayden?" tanya Diana menginterogasi Steve.
"Presdir Zhou mabuk. Jadi aku mengantarnya pulang."
Diana pun menolehkan kepalanya ke arah kamar pria itu dan terlihat Paman Liang yang tengah menyelimuti tubuh Jayden. Diana pun ingin masuk ke dalam kamar itu, tetapi Steve menghentikannya dan segera menutup pintu kamar Jayden. Steve tahu jika Jayden tidak suka kalau ada orang asing yang masuk ke kamarnya kecuali ia dan Paman Liang.
Diana kesal karena Jayden masih saja menganggapnya sebagai orang asing. Jika bukan karena pengaruh ayah Diana, maka Jayden juga pasti sudah mengusirnya dari rumah ini dan menggantikannya dengan wanita lain. Namun, Diana tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
Posisi Nyonya Muda Zhou hanya boleh ditempati oleh dirinya. Maka ia akan membiarkan Jayden bersenang-senang dengan wanita lain di luar sana, selama pria itu tetap menganggapnya sebagai calon istrinya, dan setelah itu Diana yang akan membereskan para j*lang itu.
Karena Steve terus menghalangi Diana di depan pintu kamar Jayden, Diana pun akhirnya kembali ke kamarnya. Ia kemudian merebahkan dirinya di tempat tidur. Diana meraih handphone-nya dan menatap wallpaper di handphone itu.
Itu adalah foto dirinya bersama dengan Jayden, saat pria itu membawanya berlibur menggunakan kapal pesiar mewah. Jayden terlihat tengah tersenyum dan memeluknya mesra.
Meskipun Jayden bersikap dingin kepadanya hari ini, tetapi ia sangat puas karena telah berhasil menyingkirkan satu lagi wanita simpanan Jayden. Diana berhasil membuat Jesslyn pergi dari perusahaan dan membuat Jayden membenci wanita itu karena tidak becus dalam bekerja. Setidaknya itulah yang Diana pikirkan.
Karena memang selama ini, para kekasih Jayden adalah wanita-wanita yang profesional di bidangnya. Selain para model dan bintang film terkenal, banyak juga dari mereka yang adalah rekan bisnisnya. Mereka tentu saja dapat terpikat dengan mudah oleh kharisma yang dimiliki pria itu.
'Heh! Satu lagi wanita j*lang yang telah berhasil aku singkirkan. Jayden, di kehidupan ini kau hanya boleh untuk menjadi milikku seorang.'
Diana pun tersenyum dan mengecup foto Jayden.
'Selamat malam, Sayang. Aku mencintaimu.'
.
.
.