'Ternyata mencintaimu, bagai duri dalam daging'
Saat keperawanan menjadi penghalang terbesar untuk kelanjutan hubungan Mega dan Damar. Mega yang memiliki masalalu yang kelam karena kebodohannya sendiri terlalu mempercayai seorang laki-laki yang jelas-jelas tidak memiliki rasa cinta terhadapnya.
Mega yang selalu berusaha merahasiakannya dari Damar, hingga akhirnya Damar mengetahui tentang keadaan dan masalalu Mega melalui laki-laki yang telah merusak Mega 2 tahun silam.
"Aku cinta kamu, tapi.... aku tidak bisa," ucap Damar.
Bagaimanakah kehidupan Mega selanjutnya setelah ditinggalkan oleh Damar? Akankah Mega menemukan seseorang yang benar-benar mencintainya dengan tulus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StrawCakes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
INSECURE
Singkat cerita saat Mega masih kecil.
Saat sikap Adrian dan Hermelinda terdengar oleh Nina yang sengaja menjauhkan Mega dari mereka sendiri membuat Nina sangat marah. Menurutnya, mereka tidak seharusnya bersikap demikian terhadap Mega. Akhirnya, Nina menaruh para orang suruhannya untuk menjaga Mega.
Terlebih saat melihat Mega yang mengendap-endap keluar dari rumahnya di malam itu. Merekapun mengikuti Mega hingga sampai ke sebuah club mewah di kota ini.
Ketika Mega memasuki club itu, beberapa orang dari mereka masuk ke dalam dan separuhnya menunggu di luar. Akan tetapi, saat Mega dibawa oleh Sahrul ke dalam kamar, mereka kehilangan jejak dan mereka memutuskan untuk menunggu di luar club itu.
Beberapa jam kemudian, mereka begitu terkejut saat kondisi Mega yang berjalan tertatih keluar dari club itu. Merekapun melaporkannya kepada Nina.
Kemudian ada sebuah mobil yang berhenti tepat di depan Mega. Mereka mengurungkan niatnya untuk membawa Mega pergi dari sana. Kendati demikian, mereka langsung mengikuti Mega dari belakang mobil yang ditumpanginya.
Hingga tiba di depan rumah, Mega pun turun dari mobilnya kemudian masuk ke dalam.
Nina merasa gagal akan dirinya sendiri. Iapun geram serta khawatir kepada Mega. Nina kemudian memperketat penjagaan untuk Mega.
Laki-laki yang membawa Mega ke club itu, tak lain adalah Sahrul. Nina pun menyuruh seseorang untuk mengawasi Sahrul supaya tidak menggangu Mega lagi.
Beberapa bulan setelah itu, Mega bertemu dengan Damar di sebuah kafe. Kabar itu di ketahui oleh Nina melalui para orang suruhannya tersebut.
Nina pun mulai menyukai Damar yang penyayang dan mampu bersikap lembut kepada Mega. Tapi yang Nina khawatirkan sama seperti yang Mega khawatirkan. Nina maupun Mega takut suatu saat Damar mengetahui keadaan Mega dan malah meninggalkan Mega.
******
"Jadi Nenek sudah mengetahui semua yang telah terjadi padaku? lalu ayah dan ibu?" tanya Mega dengan penuh rasa penasaran. Nina menghela napasnya, emosinya kembali lagi saat ia mengingat kejadian yang menimpa Mega delapan belas bulan yang lalu itu.
"Mereka tidak tahu. Sebab, Nenek tidak pernah memberitahukannya kepada ayah dan ibumu. Nenek tidak ingi memperparah keadaan mereka saat itu."
"Beberapa bulan yang lalu sebelum mereka pergi menemuimu di Indonesia, mereka sempat membaik dan beraktifitas seperti semula. Lalu setelah ayahmu kembali ke sini, keduanya kritis dan masuk ke dalam ruang ICU kembali. Saat itu Nenek ingin memberitahukan padamu, tapi mengingat kamu baru akan lulus satu tahun lagi, Nenek menundanya."
"Tak disangka setelah sadar dari koma, keduanya membaik bahkan ibumu dikabarkan telah sembuh dari kankernya. Ayahmu telah menyuruh Nenek untuk memintamu ke sini setelah kelulusan."
"Namun, sehari sebelum kelulusan sekolahmu, ibumu terpeleset di kamar mandi. Ayahmu sangat panik dan membuat sakitnya memburuk kembali, dan ... Tuhan membuat keduanya terbaring bersamaan di ruang ICU itu lagi. Hingga kemarin, dokter telah menyerah untuk memasang alat-alat yang menopang hidup ayah dan ibumu."
"Nenek merasa bingung, Nenek tidak tega untuk membuat keputusan itu. Hingga akhirnya alat itu sendiri yang memutuskannya. Ternyata ... Tuhan lebih sayang dengan ayah dan ibumu."
Nina menyeka air matanya. "Mega ... walaupun kamu memiliki kesalahan yang memang ... cukup fatal. Jangan pernah merasa insecure dengan keadaan yang ada pada dirimu saat ini. Perbaikilah, karena yang tulus mencintaimu tidak akan pernah mempermasalahkan bagaimana masa lalu kamu, Sayang," ungkap Nina panjang lebar. Mega tidak menyangka kalau selama ini disini benar-benar dijaga oleh Tuhan dan juga sang nenek walaupun tidak secara langsung. Ia merasakan betapa kecewanya Nina saat kejadian itu menimpanya seperti yang ia rasakan.
Mega pun langsung memeluk Nina sangat erat. "Nenek tidak marah padaku?"
"Untuk apa marah? semua sudah terjadi. Sekarang kamu sudah dewasa. Usiamu sebentar lagi sembilan belas tahun. Jadilah wanita yang kuat walau sekeras apapun ombak datang menghantammu," tutur Nina membuat Mega bernapas lega.
"Terima kasih Nek. Sekarang, hanya Nenek satu-satunya keluargaku yang aku miliki dan yang paling aku sayangi." ucap Mega yang kembali memeluk Nina dengan sangat erat.
Kemudian, Mega teringat kembali dengan janjinya kepada Damar kemarin.
"Astaga, Nek! aku lupa kalau kemarin sebelum berangkat ke sini aku telah ada janji dengan Damar untuk bertemu kedua orangtuanya." Mega memekik sambil menepuk keningnya.
"Sayang ... sebelum kamu menemui kedua orangtuanya. Lebih baik Kamu harus pastikan terlebih dahulu, apakah Damar bisa menerima keadaanmu atau tidak. Jujur padanya tentang keadaan dirimu saat ini. Jika dia benar-benar mencintaimu, dia pasti akan menerimamu. Namun jika tidak, lebih baik lupakan dia. Sebab mencintai butuh dua orang yang saling menguatkan bukan hanya satu," tutur Nina. Mega pun terdiam.
Benar apa yang dikatakan nenek barusan. Sepulang dari sini aku akan jujur kepada Damar. Sebelum semuanya terlambat, tapi aku sudah terlalu mencintainya. Selama satu tahun lebih, dia selalu mengisi hari-hariku walau lebih banyak hanya lewat ponsel. Aku semakin dilema dengan perasaanku sendiri. Rasa takut yang begitu besar membuatku enggan untuk terbuka padanya.
"Baiklah, Mega akan coba saran dari Nenek. Terima kasih banyak Nek, Mega sayang sama Nenek," ucap Mega memeluk Nina kembali dan Nina pun mengelus rambut Mega dengan penuh kasih sayang.
Aku juga sayang sekali dengan kalian ayah, ibu, batin Mega.
Mega melepaskan pelukannya lalu menggenggam kedua tangan Nina.
"Nek, berarti besok aku izin ya untuk pulang ke Jakarta. Aku ingin memastikan hubunganku dengan Damar. Nenek baik-baik ya di sini," pinta Mega dan Nina mengangguk sambil menyapu lembut rambut Mega yang menutupi pandangannya. "Setelah urusanku selesai, aku akan kembali kesini entah sendiri ataupun bersama Damar," sambungnya dengan lirih. Nina begitu paham yang dirasakan oleh Mega saat ini.
"Iya sayang, pintu rumah Nenek akan selalu terbuka untukmu," timpal Nina lalu tersenyum. "Sekarang lebih baik kamu mandi dan nanti makan malam bersama nenek. Setelah itu, Nenek akan mengajakmu berjalan-jalan disekitar kompleks sini," sambung Nina dan Mega pun mengangguk cepat.
Keduanya keluar dari kamar mendiang Adrian dan Hermelinda lalu kembali ke kamar masing-masing. Setelah selesai mandi, kini keduanya menikmati makan malam bersama.
*****
Setelah menyelesaikan makan malamnya, Nina mengajak Mega keluar dari rumah. Suhu di luar malam ini sekitar dua puluh derajat celsius. Tak lupa mereka pun memakai pakaian yang berlapis. Keduanya pun berjalan santai di sekitar kompleks rumah elit itu.
Semua rumah di sini sangat asri dan masih banyak pepohonan. Namun, setiap rumah harus memiliki pemanas suhu ruangan karena cuaca di Belanda jika sedang musim dingin bisa mencapai minus derajat celsius.
"Mega ... sepertinya Nenek melupakan sesuatu. Kamu mau ikut pulang atau menunggu disini?" tanya Nenek. Mega menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Kira-kira ... Nenek lama tidak?"
"Tidak kok ... hanya sebentar."
"Ya sudah, aku tunggu disini saja ya Nek."
"Iya, kalau begitu Nenek pulang dulu sebentar ya nanti Nenek balik lagi. Kalau kamu berani, kamu berjalan-jalan saja. Tapi ingat! jangan terlalu jauh ya," ucap Nina dan Mega pun mengangguk.
Nina pulang kerumahnya sedangkan Mega menikmati udara malam hari yang begitu tenang. Hanya ada lampu jalan yang jarang sekali kendaraan yang lewat.
Sesekali ia berjalan sambil menghirup udara bebas dan menutup kedua matanya. Namun, saat ia membuka matanya dari kejauhan ia seperti melihat seseorang yang ia kenal.
"Mega .... "