Penugasan di medan perang adalah hal biasa. Namun, menghadapi pengkhianatan di dalam barak asrama dinasnya sendiri adalah pertempuran yang tak pernah ia duga.
Ketika ia memergoki lettingnya sendiri menelantarkan dan menyakiti seorang wanita di sudut pangkalan militer akibat hasutan keluarga, naluri pelindungnya bangkit. Dalam sebuah tindakan nekat demi menyelamatkan kehormatan sang wanita, ia mengambil alih takdir itu. Ia membawanya pergi, melindunginya di garis depan hidupnya, dan menikahinya.
Di bawah naungan seragam lorengnya, ia memulai misi paling rahasia dalam hidupnya.. Menyembuhkan luka batin gadis itu, namun, ia harus menghadapi dendam dari rekan satu lettingnya, dan mencintainya setulus hati tanpa syarat.
Sebab di garis depan hatinya, keselamatan wanita itu adalah perintah mutlak haram untuk gagal.
KONFLIK.. SKIP bagi yang tidak sanggup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bojone_Batman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Bertemu lagi.
Mohon maaf beberapa hari ini Nara tidak up. Mohon do'a untuk orang tua Nara yang sedang sakit, ya. Terima kasih🙏🙏
🌹🌹🌹
Pitta demam hingga kejang membuat Bang Oscar setengah mati ketakutan.
"Pitta... Ini Abang, sayang..!! Abang sudah pulang, kita sudah sama-sama lagi sekarang."
"Abaang.. Abaang..!!" Pitta terus memanggil lirih suaminya.
Bang Oscar sungguh tidak tega melihat keadaan Pitta. Setelah ini ia akan benar-benar membawa Pitta pindah ke tempat tugas yang baru, membawa bekal 'surat nikah' yang memang sudah di sahkan oleh kedinasan militer dan tentunya telah di akui oleh hukum yang berlaku.
"Buka mata, sayang..!!" Pinta Bang Oscar membujuknya halus.
"Abaang.. Pu_lang..!!" Ucap Pitta terbata. Tanpa banyak kata, siapapun tau Pitta sedang merindukan suaminya.
"Ini Abang sudah pulang. Pitta bangun, ya. Abang nggak akan kemana-mana lagi." Bisikan lembut di telinga Pitta.
Air mata Pitta meleleh di pipinya. Beberapa saat kemudian pintu ruangan terbuka perlahan, dokter militer senior masuk dengan senyum hangat saat melihat Bang Oscar tak pernah beranjak dari sisi ranjang istrinya.
"Selamat sore..!!" Sapa Bang Oscar formal dan baru beranjak dari duduknya.
"Kondisi demamnya mulai turun. Hanya butuh istirahat yang cukup dan kasih sayang dari suaminya. Itu obat terbaik saat ini, istrimu sudah terlalu rindu, Letnan." ucap dokter pelan sebelum meninggalkan mereka berdua.
"Siap, dokter. Ijin, terima kasih banyak."
Bang Oscar kembali duduk dan mengusap kening Pitta yang masih terasa hangat, lalu mengecup puncak kepalanya dengan lembut.
"Istirahatlah, sayang. Abang di sini. Rumah baru kita sudah siap, tempat yang tenang, damai... hanya milik kita berdua. Tak ada lagi yang akan memisahkan kita. Nanti kita besarkan anak kita sama-sama." bisiknya lembut.
Perlahan tapi pasti, napas Pitta menjadi lebih teratur. Genggaman tangannya pada jari suaminya pun melunak, namun tak pernah ingin melepaskannya. Seakan ia tau, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia benar-benar aman dalam penjagaan pria yang selalu ia rindukan.
:
Setengah jam berlalu, kelopak mata Pitta bergerak pelan, lalu bisa membuka matanya yang masih terasa berat. Pandangannya masih kabur sesaat, sebelum akhirnya tertuju pada sosok yang duduk tepat di sampingnya. Pupil matanya melebar, ia mengerjap memastikan apa yang ia lihat bukanlah bayangan semata.
"A_baang...?" suaranya terdengar parau dan gemetar.
Bang Oscar tersenyum, namun sebelum ia sempat menjawab, air mata Pitta tumpah seketika. Tubuhnya gemetar, tangisannya pecah histeris seakan meluapkan semua ketakutan yang ia pendam.
Bang Oscar bangkit perlahan, merentangkan kedua lengannya dan memeluk erat dada bidang suaminya, seakan takut jika ia sedikit saja melonggarkan pelukannya, pria itu akan lenyap begitu saja.
"Jangan pergi... jangan pergi lagi, Bang... Pitta takut... Pitta kira Abang nggak akan kembali..." isaknya di sela tangisan yang tak mampu ia tahan.
Pelukan hangat dari Bang Oscar menjawab semua rindu. Pitta histeris, ia menangis dalam pelukan hingga ia pun bisa mendengar detak jantung suaminya itu.
"Nggak, sayang.. Nggak..!!" Bang Oscar membiarkan Pitta meluapkan perasaannya hingga tuntas. Hanya saja ia takut calon bayi kecilnya terjepit pelukan ibunya.
Suasana tenang teralihkan, Pak Dante datang ke ruang rawat tersebut sambil tergopoh-gopoh. Pintu kamar rawat pun terbuka lebar.
Cklllkkk..
Terdengar desah nafas penuh kelegaan. "Astaghfirullah, Pitta.. Ya Allah." Pak Dante berjongkok kemudian meraup wajahnya. "Kalau sampai ada apa-apa sama kamu, bukan Papa saja yang di maki suamimu, tapi seada-adanya manusia bisa di tumbuknya di tempat."
"Ma_af, Pa. Pitta hanya............."
"Ya sudah, nggak apa-apa. Yang penting kamu sudah ketemu sama suamimu. Dia baik-baik saja." Kata Pak Dante memutus pembicaraan itu. Terlihat jelas Pitta begitu merasa bersalah.
Siang tadi Pak Dante dan keluarga sempat panik setengah mati karena Pitta hilang. Mama Dilan nyaris pingsan karena takut putranya akan marah, tapi Pak Dante seakan sudah bisa menebak dimana menantunya berada meskipun beliau sendiri belum paham darimana Pitta tau dimana Oscar berada.
Pintu kembali tertutup. Pak Dante membiarkan putra dan menantunya untuk melepas kerinduan berdua, sebab esok pun mereka akan langsung berangkat ke tempat dinas yang baru.
"Sudah di USG apa belum, Neng?? Anak kita lain atau perempuan??" Tanya Bang Oscar.
"Perempuan, Bang." Jawab Pitta.
"Alhamdulillah. Anak gadis Papa, sehat selalu ya nak." Ucap syukur Bang Oscar kemudian mengecup perut Pitta yang sudah mulai membesar.
.
.
.
.
ditunggu lanjutanya mba
ditunggu lanjutannya mba Nara
lanjut mba Nara👍