Menjalani kehidupan yang cukup sulit akibat terlilit hutang-hutang ayahnya membuat Diva terkadang ingin merasakan bagaimana enaknya menjadi orang kaya. Namun siapa sangka, suatu kejadian yang menimpanya membuat jiwa Diva terjebak dalam raga orang lain, sehingga gadis itu menyadari bahwa tidak semua orang yang terlahir kaya bisa menikmati hidupnya. Semua manusia pasti tercipta dengan sifat dan ujian yang berbeda-beda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14.
Sejak kembali dari kota P dua hari lalu, Diva lebih banyak berdiam diri di kamar. Kalau ditanya apakah Diva masih bersedih atas semua yang terjadi pada raganya, tentu saja jawabannya iya, namun hidup harus tetap berjalan dan ia harus menerima kenyataan bahwa jiwanya akan selamanya berada di raga Calista. Dan untuk melanjutkan hidup sebagai seorang Divana Calista tentu saja Diva merasa perlu tahu banyak tentang Calista. Buku diary Calista menjadi alat alternatif Diva dalam mencari tahu tentang Calista.
Mendengar derap langkah mendekat ke arah pintu kamar, Diva gegas memasukkan buku diary Calista ke dalam laci nakas.
"Kamu belum tidur?." Tanya Elio yang baru saja masuk ke kamar.
"Belum ngantuk, mas."
Elio mendudukkan tubuhnya di samping Diva. Keduanya duduk berdampingan di tepian ranjang.
"Aku mengerti, kehilangan salah seorang sahabat terbaik adalah hal terberat dalam hidup. Akan tetapi, mengurung diri di kamar bukanlah pilihan yang tepat, Calista." Kata Elio.
"Seandainya kamu tahu kalau yang meninggal itu adalah istri kamu, Calista, aku yakin kamu pun belum tentu sanggup mengatakan semua ini, mas."
Diva teringat pada keberangkatan orang tua Elio ke Amerika pagi tadi. Ya, setelah segala urusan di tanah air beres, kedua orang tua Elio pun kembali ke Amerika.
"Daddy dan mommy sudah kembali ke Amerika dan itu artinya mereka tidak akan tahu tentang kejadian apapun di rumah ini, termasuk kita tidak tidur seranjang, mas." Diva berujar dengan pandangan lurus ke depan, tak menatap lawan bicaranya.
"Jangan lupa Calista, kita masih suami-istri yang sah!." Elio menolehkan pandangan pada Diva.
"Bagaimana jika kenyataannya aku bukan istri mas."
"Apa maksud kamu, Calista?." Suara Elio masih terdengar pelan namun siapapun yang mendengarnya pasti paham bahwa pria itu kesal dengan ucapan istrinya.
Diva tak menjawab, wanita itu hanya diam membisu. Menjelaskan yang sebenarnya terjadi rasanya sangat mustahil untuk diterima oleh akal sehat manusia, termasuk oleh Elio.
"Aku tahu, selama setahun terakhir sikapku sudah melukai perasaan kamu. Tetapi, aku melakukan semua itu agar kamu menyadari sikap over posesif kamu terhadapku, Calista. Kita menikah untuk menjalani kehidupan bahagia, bukan untuk terkekang akibat sikap pasangan yang terlalu mendikte." Setelah sekian lama akhirnya Elio mengungkapkan isi hatinya. Namun sayangnya, ungkapan tersebut bukan lagi didengarkan oleh Calista melainkan Diva, wanita yang kini terjebak di dalam raga istrinya.
"Tidak ada pilihan lain Diva. Kamu harus melanjutkan hidup sebagai Calista, dan itu artinya kamu harus menerima keberadaan Elio sebagai pasangan kamu." Kata-kata Rika pada saat mereka berada di dalam pesawat kembali terngiang di telinga Diva.
Jujur, dari segi fisik sosok Elio terbilang sempurna. Hidungnya yang mancung, kulitnya yang kuning Langsat, serta rahangnya yang tegas, di tambah lagi dengan bentuk tubuh atletis nya. Sungguh sosok idaman para kaum hawa, maka tak heran bila Erin sampai menghalalkan segala cara untuk mendapatkan pria itu, termasuk memprovokasi Calista hingga akhirnya wanita kerap kali melakukan tindakan konyol. Sebagai wanita normal, bohong bila Diva tidak tertarik pada Elio, namun Diva merasa dirinya layaknya seorang wanita murahan yang telah menggoda suami orang karena kenyataannya ia bukanlah Calista.
"Cup." Kecu-pan hangat Elio pada bi-birnya berhasil menarik kesadaran Diva dari lamunannya.
"Apa yang kamu lakukan, mas?."
"Apa salah seorang suami menc-ium istrinya sendiri?."
"Bagaimana kalau aku bukan istri mas?." Diva mengulang kata-katanya sebelumnya.
"Siapapun kamu, aku akan tetap mencintaimu dan tidak akan pernah membiarkanmu pergi dari hidupku." Setelah mengatakan kalimat itu, Elio berlalu begitu saja meninggalkan kamar. Elio kesal dengan pertanyaan tak masuk akal istrinya hingga berlalu tanpa sepatah katapun lagi.
Sepeninggal Elio, Diva pun menangis tersedu-sedu. Wanita itu menangisi nasibnya sendiri. Mungkin karena terlalu lama menangis sehingga Diva kelelahan dan akhirnya tertidur. Dalam tidurnya, Diva bermimpi bertemu dengan sosok wanita yang wajahnya sangat mirip dengan raga dan wajah Calista. Dalam mimpi Diva, wajah Calista terlihat tengah tersenyum kepadanya, sehingga membuat Diva berpaling dari sosok itu.
"Baik aku dan juga dirimu, kita sama-sama tidak ingin berada di dalam situasi seperti ini, Diva. Tapi semua ini sudah menjadi takdir yang harus kita jalani. Kini aku telah kembali untuk selamanya bersama ragamu, dan tidak akan pernah kembali lagi. Aku tidak ingin kita saling menyalahkan satu sama lain, aku hanya ingin kita sama-sama ikhlas menjalani takdir ini. Aku titipkan suami dan putraku kepadamu, Diva. Tolong jaga mereka dengan baik!. Mungkin selama ini sikapku sudah sangat keterlaluan pada suamiku sehingga sikap beliau berubah padaku. Namun percayalah Diva, Elio adalah lelaki yang baik."
"Aku titipkan Elio kepadamu, Diva...."
"Calista....." Diva terbangun dengan sekujur tubuh yang dipenuhi keringat dingin, napasnya pun terengah-engah. Mimpinya barusan seperti nyata. Ia bertemu dengan Calista dan Wanita itu menitipkan suami dan anaknya kepadanya. Diva meraih segelas air minum di atas nakas dan meneguknya hingga tandas.
Taka lama berselang, terdengar suara seseorang memutar kenop pintu kamar. Pasti itu adalah Elio, karena tak ada orang lain yang berani melakukannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Benar saja, pintu terbuka dan disusul oleh langkah Elio.
Diva terus memandang pada Elio yang mendekat ke ranjang.
"Suka tidak suka mulai malam ini aku akan kembali tidur bersamamu di ranjang ini." Tanpa menunggu balasan kata dari Diva, Elio langsung merebahkan tubuhnya telentang di ranjang, dengan kedua tangannya sebagai tumpuan.
"Terserah mas saja." Diva kembali membaringkan tubuhnya. Wanita itu tidur dengan posisi memunggungi Elio.
*
Keesokan paginya.
Diva kaget bukan main saat menyadari ia terbangun di dalam pelukan Elio. Ketika hendak menarik diri, Elio justru mengeratkan pelukannya seraya bergumam. "Masih terlalu pagi, sebaiknya tidur lagi saja, sayang! Lagian ini hari Minggu, aku juga tidak akan berangkat ke kantor, Diva."
Deg.
Diva kembali terkejut saat mendengar nama yang barusan disebut oleh Elio.
"Karena beberapa hari terakhir kamu kembali memanggilku dengan sebutan 'mas' maka aku pun akan memanggilmu seperti dulu, sayang...."
Jujur, saat Elio memanggil nama aslinya mampu membuat jantung Diva berdebar lebih kencang dari biasanya. Walaupun kenyataannya nama tersebut tetaplah ditujukan untuk Calista, tapi setidaknya Ia masih dapat mendengar nama aslinya diserukan oleh seseorang selain Rika.
"I love you Diva ku sayang." Elio mengukir senyum yang mampu membuat jantung Diva semakin berdebar kencang.
"Ya Tuhan..... bolehkah aku jatuh hati pada pria ini?." Batin Diva sambil membalas tatapan Elio.
"I love you too, mas." Diva baru tersadar sesaat setelah mengatakan kalimat tersebut.
"Sepertinya kamu memang sudah tidak waras, Diva....." Batin Diva merutuki kata-katanya barusan.
Elio mengembangkan senyum dan membawa tubuh Diva ke dalam pelukannya.
Real ya pelakor banyak gak sadar diri dan gak tau posisi...🤣🤣🤣🤣