NovelToon NovelToon
SULUNG

SULUNG

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Action / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: DIFAN2

Sebuah kisah tentang dua dunia yang berpijak pada bumi yang sama, antara kehidupan moderen dan primitif yang akhirnya akan bersatu karena Cinta dua manusia yang saling bertemu dalam gelombang ketidak sengajaan.

Kisah dengan semua yang bercampur aduk, antara logika, cita-cita, cinta dan perburuan yang seru dan menegangkan, degan bumbu tawa yang tak disengaja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIFAN2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Logika

Matahari sore menembus dinding kaca ruang keluarga kediaman Grahansa, memantulkan kilau vas porselen dan pilar-pilar marmer yang megah. Di tengah ruangan mewah itu, suasana justru terasa membeku.

Hera Grahansa, yang baru berusia 28 tahun namun sudah menyandang gelar profesor muda di bidang botani molekuler, berdiri tegak di depan meja kopi. Tangannya memegang seikat berkas riset. Di hadapannya, duduk kedua orang tuanya.

"Papa tidak akan pernah mengizinkanmu, Hera. Titik!" Suara Leonardo Grahansa menggelegar, memecah keheningan rumah. Pria paruh baya itu memijat pelipisnya yang mulai memutih.

"Tapi ini satu-satunya kesempatan kita, Pa!" balas Hera, suaranya naik satu oktav. Matanya yang tajam memancarkan keras kepala yang menjadi ciri khasnya. "Data satelit menunjukkan ada anomali vegetasi di Alas Purba. Flora di sana memiliki struktur sel yang mampu meregenerasi jaringan yang mati. Ini kunci untuk obat Mama!"

"Hutan itu berbahaya, Hera! Kamu pikir kenapa tempat itu dinamakan Alas Purba?" Leonardo berdiri, menatap putrinya dengan napas memburu. "Pemerintah menutupnya, penduduk lokal mengkeramatkan nya. Siapa pun yang masuk ke sana tidak pernah kembali dengan selamat. Papa tidak mau kehilangan kamu setelah._"

Leonardo menggantung kalimatnya, lalu melirik ke arah wanita di sampingnya.

Soraya, ibu Hera, duduk bersandar pada bantal sofa yang empuk.

Wajahnya yang dulu cantik kini pucat pasi. Kepalanya dibungkus oleh turban sutra berwarna marun, menyembunyikan efek dari terapi radiasi yang melelahkan. Kanker otak stadium 3 telah merenggut sebagian besar energi fisiknya, tetapi matanya tetap memancarkan kehangatan seorang ibu.

"Hera, Sayang," panggil Soraya lembut, suaranya parau dan pelan.

Hera langsung berlutut di samping sofa ibunya, menggenggam tangan Soraya yang terasa dingin.

"Ya, Mah? Mama dengar kan? Hera bisa buatkan obat untuk Mama. Hera tahu caranya. Tolong izinkan Hera pergi."

Soraya tersenyum tipis, mengusap pipi putrinya dengan jemari yang bergetar. "Mama tahu kamu pintar. Anak Mama yang paling jenius. Tapi Papa benar. Mama tidak mau kesembuhan Mama dibayar dengan keselamatan nyawamu."

"Aku tidak akan mati di sana, Mah. Aku pergi sebagai ilmuwan, bukan petualang nekat," tegas Hera, bersikeras. "Aku membawa tim. Kevin sudah menyiapkan sensor canggih, Amara sudah mengurus logistik. Kita akan dikawal oleh Baskara dan tim keamanan terbaik Papa. Apa lagi yang Papa khawatirkan?"

Leonardo mendengus remeh, berjalan mondar-mandir di atas karpet beludru impor. "Baskara itu pengawal terlatih untuk menghadapi manusia, Hera! Bukan untuk menghadapi hal-hal mistis atau alam liar yang tidak masuk akal di hutan purba itu!"

"Oh, ayolah, Pa! Tahun berapa ini? Kita hidup di abad modern!" Hera berdiri lagi, melipat tangan di dada dengan kesal.

"Mistis itu hanya label yang diberikan orang lokal karena mereka tidak bisa menjelaskan fenomena alam secara ilmiah. Bunga yang aku cari—Dream Flower—itu nyata. Senyawa kimianya bisa menghentikan pertumbuhan sel kanker otak Mama. Apa Papa mau kita cuma duduk di sini, menunggu keajaiban yang tidak pasti, sementara sel kanker itu terus menggerogoti Mama?"

"Hera! Jaga bahasamu!" bentak Leonardo. Wajahnya memerah karena marah sekaligus perih mendengar kenyataan pahit itu.

"Aku cuma menyampaikan fakta, Pa!" Hera tidak mau kalah. "Dokter billing sisa waktu Mama tidak banyak jika kemoterapi ini gagal. Dan Papa tahu sendiri, tubuh Mama sudah menolak obat-obatan kimia pasar. Ini satu-satunya jalan keluar kita!"

Suasana kembali menegang. Leonardo menatap Hera dengan pandangan frustrasi. Dia tahu betul watak putrinya. Sejak kecil, jika Hera menginginkan sesuatu, tidak ada satu orang pun yang bisa menghalanginya. Sifat keras kepala itu turun langsung dari dirinya sendiri.

Soraya terbatuk kecil, membuat perhatian kedua orang itu langsung teralih sepenuhnya.

Hera dengan sigap mengambilkan segelas air hangat dari atas meja dan membantunya minum.

"Terima kasih, Sayang," bisik Soraya setelah meneguk air. Dia menatap suaminya, lalu beralih ke Hera. "Hera, jika kamu pergi, berapa lama kamu akan berada di sana?"

"Hanya tiga sampai lima hari untuk mengambil sampel bunga itu, Ma. Setelah dapat, aku langsung pulang dan mengujinya di laboratorium kota," jawab Hera cepat, matanya berbinar melihat celah harapan.

"Tidak, Soraya. Jangan dengarkan dia," potong Leonardo, mendekati sofa dan merangkul pundak istrinya. "Aku tidak akan membiarkan anak perempuan kita masuk ke sarang bahaya."

"Pa, ini demi Mama!" Hera setengah berteriak, air mata mulai menggenang di sudut matanya karena frustrasi. "Kenapa Papa egois sekali? Aku ini profesor, aku tahu risikonya dan aku tahu cara melindungi diriku sendiri!"

"Kamu yang egois, Hera!" balas Leonardo tak kalah sengit. "Kamu terobsesi dengan ambisimu untuk menjadi penyelamat, sampai kamu tidak sadar kalau kamu sedang mempertaruhkan nyawamu sendiri! Kalau terjadi sesuatu padamu di Alas Purba itu, Papa dan Mama yang akan mati perlahan karena penyesalan!"

Hera terdiam. Kalimat ayahnya menembus ego tingginya. Dia melihat gurat kesedihan dan ketakutan yang mendalam di wajah Leonardo. Di balik kemarahan pria itu, ada rasa cinta seorang ayah yang teramat besar.

Namun, Hera kembali melirik ibunya yang tampak semakin lemah hari demi hari. Baginya, diam dan menyerah pada takdir adalah hal yang paling tidak masuk akal. Ilmu pengetahuan ada untuk mendobrak batas ketidakmungkinan.

"Aku tetap akan pergi, Pa," ucap Hera dengan nada yang mendadak tenang, namun sangat dingin dan penuh keputusan final.

Leonardo terkesiap.

"Hera, Papa adalah pemilik Grahansa Corp. Papa bisa mencabut seluruh fasilitas laboratoriummu. Papa bisa mengunci kamu di rumah ini!"

Hera tersenyum tipis, sebuah senyuman menantang. "Papa bisa mengunci pintu rumah ini, tapi Papa tidak bisa mengunci pikiran dan tekadku. Peralatan pribadiku sudah di luar. Kevin dan Amara sudah menunggu di mobil. Jika Papa tidak memberikan izin, aku akan tetap pergi dengan caraku sendiri."

"Kamu-" Leonardo kehilangan kata-kata. Dia mengepalkan tangannya, menahan badai emosi.

Soraya memegang lengan Leonardo, memberi isyarat agar suaminya meredam amarah. Dia menatap Hera dalam-dalam. "Hera, berjanjilah pada Mama. Kamu harus kembali dalam keadaan utuh."

"Ma! Jangan diizinkan!" protes Leonardo terkejut.

"Leo," potong Soraya lembut namun tegas.

"Kamu tahu anak kita. Semakin dilarang, dia akan semakin nekat mencari jalan yang lebih berbahaya tanpa pengawalan. Setidaknya, jika kita tahu dia pergi, kita bisa memastikan Baskara menjaganya dengan ketat."

Leonardo menghela napas panjang, bahunya merosot seketika. Dia merasa kalah telak oleh kombinasi keras kepala putri dan kelembutan istrinya. Dia menunjuk wajah Hera dengan jari gemetar.

"Dengar, Hera. Papa izinkan kamu pergi hanya karena keputusan Mamamu. Baskara dan Yudha akan mengawasimu dua puluh empat jam. Jika dalam tiga hari kamu tidak menemukan apa-apa, atau jika Baskara merasa situasinya terlalu berbahaya, kamu wajib angkat kaki dari Alas Purba tanpa bantahan. Paham?"

Hera mengangguk mantap. Rasa lega yang besar menyeruak di dadanya. "Paham, Pa. Terima kasih. Aku janji akan membawa obat untuk Mama."

Hera membungkuk, memeluk ibunya dengan erat, menghirup aroma minyak kayu putih dan parfum mawar yang menenangkan dari tubuh Soraya. "Hera sayang Mama. Hera pasti pulang."

Setelah itu, Hera berbalik dan melangkah cepat meninggalkan ruang keluarga mewah tersebut. Langkah kakinya yang dibalut sepatu bot terdengar tegas memantul di atas lantai marmer.

Leonardo hanya bisa menatap punggung putrinya yang perlahan menghilang di balik pintu besar mansion. Perasaan cemas yang teramat sangat mendadak menyelimuti hatinya, seolah-olah pintu yang tertutup itu adalah batas akhir dari kehidupan normal yang mereka miliki selama ini.

Di luar mansion, mobil jip hitam besar sudah menyala. Kevin dan Amara sudah duduk di dalam, siap memulai perjalanan menuju pinggiran Alas Purba. Perjalanan yang akan mengubah seluruh garis takdir Hera Grahansa selamanya.

1
FiaNasa
namanya sungsang,,apa waktu lahir kedunia dia dalam keadaan sungsang kah😄,,,hemmm...suka dg karakter sungsang ini,,kek nya dia pria jenaka n sangat menghargai wanita..kau hoda lah terus kakak mu yg pintu kulkas 2 pintu itu sungsang😂😂😂bolehlah kugoda juga si sungsang ini🤣🤣🤣🤣
FiaNasa
kok masih pada ragu akan kemampuan Hera ya padahal Hera lo.sudah banyak membantu para prajurit n rakyat alas purba
falea sezi
sulung ini jin apa demit thor secara klo. manusia kn g mungkin ya 🤭
DIFAN2: ikut i terus alur ceritanya kak,👍🙏
total 1 replies
falea sezi
mampus jd orng gk percaya mistis
FiaNasa
Hera,,,jika kau tidak bisa bersama sulung,,biar AQ saja yg menggantikan nya,,,,waddawwww🤣🤣🤣
FiaNasa: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
FiaNasa
ternyata endingnya dipending😂😂😂padahal degup jantung kalian berisik smpai terdengar ketempatku,,kupikir jafi😂😂😂😂😂
FiaNasa: kehabisan stok sabar🤣🤣🤣
total 2 replies
FiaNasa
wadidawwwww...fuananssss....fuanasssss....merinding sebadan²😂😂
DIFAN2: 😄😄😄😄😄😄😄
total 3 replies
FiaNasa
haredanggggggg🤣🤣🤣🤣
FiaNasa
tenang saja,,nanti Hera juga diantar pulang kok sama sulung
E F
dr bab brp thor?????
E F: heehhe
okey thor💪😍
total 2 replies
neni nuraeni
lnjut💪💪💪 kak thor
FiaNasa
mas sulung bener² udah posesif sama Hera,,udah jatuh cinta ...tidakkah kau merasakan getaran² cintahhh Dimata sulung her,,jgn kau abaikan cintanya mas sulung,klau kau tidak sanggup mencintainya .biar AQ saja yg mencintainya 🤣🤣🤣meledakkkkkk🤣🤣🤣
E F
lanjutty💪🙏😍
FiaNasa
sudah deh deh an beruntung mas sulung segera pulang
FiaNasa
kau pasti bisa melawannya Hera,,ayo tunjukkan kemampuanmu
E F
lanjutttt thor💪🙏😍
DIFAN2: Siap kak 👍
total 1 replies
Luna
next kak
DIFAN2: ditunggu ya kak 🙏
total 1 replies
FiaNasa
part menegangkan...
FiaNasa
pak tetua adat..klau lumutnya kurang ditempatku banyak Lo,,disawah²
FiaNasa: mau berapa kilo😄😄
total 2 replies
FiaNasa
kok AQ jadi curiga ya,,jgn² authornya ini ahli fisika😄
FiaNasa: pasti nya ini😄😄
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!