Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen terindah berubah menjadi bencana bagi keluarga Abraham. Kakak kandung Alice Sabrina Catrine (Cesa) mendadak kabur tepat di hari H pernikahan demi menghindari perjodohan sepihak. Demi menjaga martabat keluarga, Cesa tidak punya pilihan lain. Menggunakan gaun pengantin yang bukan miliknya, Cesa terpaksa melangkah ke pelaminan untuk menggantikan posisi sang kakak.
Cesa sama sekali tidak mengenal siapa laki-laki yang menjabat tangan ayahnya di depan penghulu. Detik berikutnya, dunia seolah runtuh saat ia mengetahui identitas sang suami: Devano Alvian Mahendra.
Devan adalah paket lengkap dari definisi masalah: terkenal galak, tengil, nakal, dan punya hobi kelayapan malam yang mendarah daging. Sialnya, Cesa bukanlah gadis penurut yang lemah lembut. Cesa adalah gadis cantik berkulit mulus dengan sumbu pendek alias emosi yang mudah meledak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duo sengklekk
Cesa berjalan melintasi koridor rumah yang sepi menuju area kamar tamu utama. Sebelum melangkah masuk, ia berbalik dan menatap barisan pelayan yang berdiri kaku di dekat dapur, memandangnya dengan tatapan antara ngeri dan segan.
Cesa menunjuk mereka satu per satu dengan jari telunjuknya yang masih menyisakan sedikit aroma udang. "Denger ya kalian semua! Mulai detik ini, masuk ke kamar masing-masing. Tidur! Jangan ada satu pun yang berani standby di ruang tengah, di koridor, atau di depan pintu buat nyambut si Devan bajingan itu kalau dia pulang. Ngerti?!"
"Tapi... Nona Cesa, Tuan Muda Devan biasanya—" salah satu pelayan senior mencoba memotong dengan suara gemetar.
"Nggak ada tapi-tapian!" potong Cesa sengit, matanya melotot lebar menunjukkan watak aslinya yang super bar-bar. "Kalau gue tahu ada yang masih melek atau sok manis nyambut dia, besok pagi gue pastiin kalian semua gue pecat! Dan jangan lupa, gue bisa bikin ruang makan ini jadi lebih hancur daripada yang kalian lihat sekarang. Masuk kamar sekarang juga!"
Mendengar ancaman gadis berumur dua puluh tahun yang auranya mirip bos mafia pasar induk itu, para pelayan langsung mengangguk serentak. Mereka buru-buru membubarkan diri dan mengunci diri di paviliun belakang. Rumah besar itu kini sepenuhnya menjadi milik Cesa.
Cesa tersenyum miring, lalu melangkah masuk ke dalam kamar tamu yang sudah ia perintahkan kepada kepala pelayan untuk dirombak total sebelum aksi mukbangnya dimulai. Cesa menuntut kamar tamu itu dihias sefungsional dan sebagus mungkin sesuai standarnya yang tinggi: kasur king size dengan seprai sutra beludru, pendingin ruangan yang disetel ke suhu paling dingin, meja rias penuh camilan, dan televisi pintar berukuran raksasa yang menempel di dinding.
Bruk!
Cesa menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur empuk tersebut, berguling beberapa kali seperti lumba-lumba terdampar. Setelah merasa posisinya nyaman, ia meraba-raba kasur untuk mencari ponselnya. Begitu benda pipih itu berada di genggamannya, petualangan dunia maya Cesa dimulai.
Ia membuka aplikasi TikTok, menyilangkan kakinya di udara, dan mulai tenggelam dalam algoritma video-video pendek yang random. Mulai dari video kucing berantem, bapak-bapak joget di hajatan, sampai teori konspirasi tentang alien di planet Mars. Setiap kali ada video lucu, tawa Cesa menggelegar memenuhi kamar tamu yang luas itu, sama sekali tidak mencerminkan sikap seorang pengantin baru yang anggun.
Sambil menonton, tangan kirinya tidak tinggal diam. Ia meraba mangkuk besar di samping tempat tidur yang berisi keripik kaca super pedas dan makaroni goreng yang sengaja ia selundupkan dari dapur. Kriuk... kriuk... Suara kunyahan Cesa beradu dengan suara musik jedag-jedug dari ponselnya.
Setelah hampir satu jam tenggelam dalam dunia TikTok dan menghabiskan tiga bungkus camilan, Cesa mulai merasa bosan. Ia mengubah posisinya menjadi tengkurap, lalu membuka aplikasi pesan instan. Jari-jarinya dengan cepat mengetik nama sahabat karibnya, salsa__ Gadis itu saat ini sedang berlibur mewah di Jepang, melarikan diri dari hiruk-pikuk Jakarta.Tanpa basa-basi, Cesa langsung menekan tombol video call.
Hanya butuh tiga kali nada sambung sebelum layar ponselnya berganti menampilkan wajah Salsa yang tampak segar dengan latar belakang lampu-lampu neon khas jalanan Shinjuku, Tokyo, di malam hari. Salsa terlihat sedang memegang tusukan takoyaki besar di tangan kanannya.
"Woi, Cesa! Ngapain lo video call gue jam segini? Bukannya lo lagi malam pertama sama laki lo yang ganteng tapi songong itu?" suara Salsa langsung terdengar melengking dari speaker ponsel.
Cesa mendengus keras, memutar matanya malas. "Malam pertama pala lo peyang! Najis banget gue malam pertama sama monyet ragunan modelan si Devan!"
Salsa tertawa terbahak-bahak hingga takoyaki di tangannya hampir jatuh. "Lah, terus gimana? Kok lo malah di kamar sendirian kayak jomlo ngenes? Kamarnya mewah amat lagi. Lo di kamar utama?"
"Kamar tamu lah! Ogah banget gue tidur di kamar dia," jawab Cesa sambil mengubah posisi duduknya bersandar pada kepala ranjang. "Eh, lo harus tahu kelakuan gue hari ini dari sore. Sumpah, kalau lo ada di sini, lo bakal bangga punya sahabat se-barbar gue."
"Cerita sini, cerita! Gue lagi nyari tempat duduk nih di taman," kata Salsa di seberang sana, kamera ponselnya bergoyang memperlihatkan suasana malam Shinjuku yang ramai sebelum akhirnya fokus kembali ke wajah Salsa yang antusias.
Cesa membenarkan letak ikatan rambutnya yang makin berantakan. "Jadi gini, kan tadi siang setelah akad nikah darurat gara-gara kakak gue kabur, si Devan langsung menghilang entah ke mana. Muka dia tuh sepet banget pas dapet gue yang jadi pengantinnya. Dikira gue mau apa sama dia? Idih! Nah, karena gue gabut dan dendam kesumat, pas sore hari gue langsung masuk ke kamar utama punya dia."
"Terus lo ngapain? Lo maling jam tangan mewahnya?" tebak Salsa asal.
"Lebih parah dari itu, beb," Cesa menyeringai licik, matanya berkilat penuh kemenangan. "Gue ambil gunting dapur yang paling gede. Terus gue buka lemari bajunya yang isinya kemeja-kemeja branded, setelan jas mahal yang harganya ratusan juta, sama celana-celana kerja dia. Tanpa ampun, krek... krek... krek... gue guntingin semua sampai jadi kain pel! Celana mahalnya gue sobek dari selangkangan sampai bawah. Terus kamarnya gue acak-acak, kasurnya gue tendang, bantal-bantalnya gue lempar ke lantai sampai sprei-spreinya lepas. Pokoknya tuh kamar udah bak kapal pecah dihantam badai tsunami!"
Salsa yang sedang mengunyah takoyaki langsung tersedak. Ia terbatuk-batuk hebat sambil memegangi dadanya, membuat beberapa orang Jepang yang lewat di sekitarnya menoleh heran.
"Gila lo, Ces! Demi apa lo hancurin baju-baju mahalnya?!" seru Salsa setelah berhasil menguasai diri. "Itu kalau dia tahu, lo bisa diamuk tahu nggak!"
"Biarin! Siapa takut? Lagian aksi gue nggak berhenti di situ," Cesa melanjutkan ceritanya dengan menggebu-gebu, menggunakan gaya bicara 'gue-lo' yang blak-blakan. "Gue juga mesen banner gede banget ke tukang cetak kilat dekat komplek. Lo tahu gue tulis apa di banner itu?"
"Apaan?"
"Gue tulis pake huruf kapital gede-gede warna merah darah: ANJING GILA! DILARANG MASUK! SUAMI SIALAN KABUR DARI PERNIKAHAN TERNYATA GAY!Sama foto muka dia yang gue dit segede gaban Hahaha!" Cesa tertawa puas sampai memegangi perutnya. "Terus banner itu gue pajang melintang di depan pintu kamar dia, sama ada satu lagi yang ukuran agak kecil gue suruh orang pasang di gang depan komplek biar tetangga pada lihat!"
Salsa menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya terbelalak tidak percaya. "Cesa, lo bener-bener psycho ya! Tapi jujur, gue dukung kelakuan barbar lo. Si Devan itu emang dari dulu terkenal tengil dan sombong banget kan karena ngerasa paling kaya di circle-nya.
Rasain tuh dapet balesan dari ratu preman kayak lo."
"Iya kan? Makanya, habis bikin rusuh di kamarnya, gue langsung foya-foya. Gue suruh pelayan pesen seafood porsi kuli. Kepiting king crab, lobster, kerang, semuanya gue sikat sampai kenyang. Pelayan-pelayan di sini juga gue traktir makanan mahal biar mereka ada di pihak gue. Sekarang mereka semua udah masuk kamar karena gue ancem bakal gue pecat kalau berani nyambut si cowok tengil itu pas pulang."
"Sumpah ya, Ces, lo tuh bener-bener definisi istri pembawa petaka buat Devan," Salsa menggeleng-gelengkan kepalanya, namun senyum lebar tidak lepas dari wajahnya. "Tapi terus, si Devan sekarang di mana? Dia belum pulang?"
"Belum. Palingan lagi mabuk-mabukan di club malam sama temen-temennya yang sama-sama tengil itu. Biarin aja dia puas-puasin di luar. Begitu dia pulang dan lihat rumahnya berubah jadi zona perang, gue pastiin tensi darahnya langsung naik ke ubun-ubun," ucap Cesa santai sembari mengambil sebutir makaroni pedas lagi dan memasukkannya ke dalam mulut.
Percakapan di antara dua sahabat itu terus berlanjut secara acak. Salsa menceritakan betapa indahnya pemandangan musim gugur di Jepang dan betapa enaknya makanan-makanan di sana, sementara Cesa terus memaki-maki Devan, mengutuk sistem perjodohan keluarga mereka, dan menyusun rencana-rencana gila lainnya untuk hari esok. Kebersamaan mereka lewat layar kaca itu membuat Cesa melupakan sejenak bahwa dirinya kini sudah menyandang status sebagai seorang istri. Bagi Cesa, pernikahan ini hanyalah permainan di mana ia harus keluar sebagai pemenangnya.