Nadia menikahi pria yang tidak pernah mencintainya. Sang suami adalah teman masa kecil nadia. Namun dimas melupakan gadis tersebut. Selama pernikahan mereka, Nadia terus merasakan sakit yang teramat sakit. Melihat sang suami bersama dengan wanita lain. Sang suami masih berhubungan dengan wanita yang masih berstatus kekasih. Dan bahkan mengajak kekasihnya itu untuk datang ke rumah. Setiap hari Nadia harus melihat kemesraan sang suami dengan wanita lain di depan mata sendiri. Nadia hanya bisa menahan rasa sakit yang ia rasakan demi keutuhan rumah tangganya. Nadia berprinsip menikah sekali seumur hidupnya. Nadia juga tidak ingin berpisah dari Dimas pria yang ia cintai sedari dulu. Dan ia ikhlas menerima rasa perih yang tidak pernah di dapatkan dari keluarganya. Nadia yakin, suatu saat nanti sang suami akan mencintainya juga, walaupun ia tidak terlalu yakin dengan hal tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Matcha Lala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Beberapa bulan sebelum menikah, Nadia tengah duduk di dalam kamar miliknya. Ibu dari Nadia masuk ke dalam kamar dan menatap anaknya dengan tatapan tajam.
"Menikahlah, kamu sudah sangat dewasa untuk menikah. Jangan banyak diam di dalam kamar saja, mommy sakit kepala melihat kamu seperti ini," ucap sang ibu.
Nadia menatap sang ibu. "Mommy, Nadia enggak mau menikah. Please, jangan jodohkan Nadia dengan pria yang tidak Nadia cintai," ucap Nadia.
"Alah, banyak bicara kamu. Tinggal menikah aja apa susahnya," ucap sang ibu.
Nadia menatap ibunya yang sedang menatapnya datar. "Mom, apa mommy tidak mau Nadia ada di rumah ini lagi? Apa mommy sudah bosen melihat wajah Nadia? Apa mom------,"
"Iya, mommy sudah bosan, makanya kamu menikah. Jangan terus di dalam kamar, menikahlah! Perjodohan ini sudah Daddy dan mommy atur, jika kamu membantah, mommy tidak akan menganggap kamu sebagai anak mommy lagi," ucap sang ibu.
Mendengar ucapan sang ibu, Nadia langsung terdiam. Sang ibu langsung memberikan foto calon suaminya. Saat melihat foto tersebut Nadia langsung teringat dengan pria yang ia cintai.
"Kak Dimas?," ucap Nadia.
"Kamu kenal dengan Dimas?," ucap sang ibu.
Nadia menganggukkan kepalanya. "Dia calon suamimu," ucap sang ibu.
Nadia terkejut bukan main, dan gadis itu langsung tersenyum bahagia. Setelah itu sang ibu pun keluar dari dalam kamar Nadia. Sedangkan Nadia benar benar terkejut saat mendengar pria yang akan di jodohkan dengannya ternyata adalah pria yang ia cintai.
"Ternyata kamu kak, aki bahagia mendengarnya. Aku akan bahagia bersama kamu kak, dan aku akan mendapatkan banyak kasih sayang dari kamu. Aku enggak boleh menolak pernikahan ini," gumam Nadia.
Nadia memeluk foto Dimas, dan gadis itu terus saja tersenyum. Nathan yang ada di ruang tamu, tengah duduk di hadapan ke dua orang tuannya.
"Daddy, Nadia menerima perjodohan ini," ucap sang ibu.
Nathan yang mendengarnya terkejut bukan main. Ayah dari kedua anak itu pun tersenyum. "Syukurlah kalau dia menerima perjodohan ini. Sudah saatnya dia untuk menikah, dan memberikan kita cucu," ucap sang ayah.
Ibu dari dua anak itu menganggukkan kepalanya dan duduk di samping suaminya. Kedua paru baya itu menatap ke arah Nathan yang hanya diam, dan menatap kedua orang tuanya dengan tatapan datar.
"Kenapa kalian berdua selalu saja memaksa kami untuk melakukan apa yang kalian inginkan?," ucap Nathan dengan raut wajah datar.
"Karena kami berdua adalah orang tua kalian. Kamu berdua ingin melihat kalian bahagia, dan tentunya perusahaan juga akan semakin maju, saat Nadia menikah dengan Dimas," ucap sang ayah.
Nathan tertawa kecil saat mendengar ucapan dari sang ayah. "Kalian terus mencari kekayaan dan merelakan anak kalian dad, mom. Kalian benar benar sudah keterlaluan. Kalian tidak pernah memberikan kasih sayang kepada kami, kalian hanya fokus dengan pekerjaan. Dan saat kami dewasa kalian terus saja memaksa kami untuk melakukan apa yang kalian inginkan. Kalian berkata ingin melihat kami bahagia? Alah Bullshit," ucap Nathan.
"Kalian memaksa kami untuk menikahi orang yang kami tidak kenal. Kalian sama saja menyusul kami dengan sahabat kalian itu, ah rekan bisnis tepatnya," ucap Nathan lagi sambil menatap kedua orang tuannya dengan tatapan tajam.
"Jaga mulut kamu, adik kamu menerima perjodohan ini dengan lapang dada. Kenapa kamu yang marah?!," ucap sang ibu marah.
"Dia menerimanya karena tidak ingin kalian berdua memarahinya lagi. Apa kalian tidak ingat, saat Nadia berumur 8 tahun, kalian memukulnya hingga tubuhnya memar. Sejak saat itulah dia selalu saja pasrah, dan menyiakan semua yang kalian perintahkan. Kalian sudah membuat anak sekecil itu trauma, hingga Nadia tumbuh besar. Traumanya itu tidak pernah hilang, kalian berdua benar benar tidak cocok menjadi orang tua," ucap Nathan.
Setelah mengucapkan perkataan tersebut Nathan langsung masuk ke dalam kamar sang adik. Ia menatap Nadia yang sedang tersenyum sambil memeluk sebuah foto.
"Princess," panggilan kesayangan Nathan untuk Nadia.
Nadia langsung menatap Nathan dan ia pun memeluk sang kakak. "Kak, nadia akan menikah dengan pria yang Nadia cintai," ucap Nadia.
Nathan membalas pelukan Nadia dan mengusap rambut Nadia. Setelah itu ia melihat foto yang di perlihatkan oleh Nadia.
"Dimas?," ucap Nathan.
Nadia melepaskan pelukannya dan menganggukkan kepalanya. "Iya, ternyata mommy dan Daddy akan menikahkan Nadia dengan kak Dimas. Nadia bahagia banget kak, Nadia bahagia sekali," ucap Nadia.
Nathan mengusap rambut Nadia dan ia pun ikut tersenyum bahagia. "Jika kamu bahagia, maka kakak juga akan ikut bahagia. Tapi apa keputusan kamu ini tepat? Apa Dimas mencintai kamu?," ucap Nathan.
Nadia menatap sang kakak. "Kak Dimas pasti mencintai Nadia kak, walupun kak Dimas tidak mencintaiku, aku akan berusaha untuk mengambil hati kak Dimas supaya dia membalas cintaku," ucap Nadia.
"Apapun keputusan kamu, maka kakak akan menyetujuinya jika kamu bahagia," ucap Nathan.
Nadia kembali memeluk Nathan, orang satu satunya yang tulus menyayanginya. "Terima kasih kak," ucap Nadia.
"Sama sama princess," ucap Nathan sambil membalas pelukan Nadia dengan erat. Pria itu berdoa agar adiknya mendapatkan kebahagiaan setelah menikah dengan Dimas.
Setelah itu Nathan keluar dari dalam kamar sang adik setelah menemani adiknya hingga Nadia tertidur lelap. Pria itu menuruni anak tangga dan menatap kedua orang tuanya yang masih berada di ruang tamu.
"Apa benar kamu akan dinas ke luar kota untuk beberapa bulan," ucap sang ayah.
Nathan menatap kedua orang tuanya. "Benar," ucap Nathan singkat.
"Kesempatan untuk kamu mencari calon istri di tempat kamu dinas. Kamu urus perusahaan di sana, dan saat pulang kamu harus membawa calon istri. Mommy dan Daddy ingin melihat kedua anak kami menikah dan memiliki anak," ucap sang ibu.
Nathan menghela nafas dengan kasar dan memilih untuk keluar dari dalam rumah. Nathan sangat muak mendengar ucapan kedua orang tuanya, yang selalu menyuruhnya untuk menikah. Nathan masuk ke dalam mobil dan menjauh dari rumah kedua orang tuanya menuju tempat tongkrongannya bersama dengan Darren.
*****
Di sebuah cafe. Darren tengah menunggu Nathan. Kakak dari Nadia menelepon sahabatnya itu untuk bertemu di cafe tempat biasa mereka nongkrong. Beberapa menit kemudian Nathan masuk dengan wajah frustasi.
"Kenapa wajah Lo?," ucap Darren.
"Enggak papa, biasa kedua orang tua gue nyuruh gue nikah," ucap Nathan.
Darren tertawa kecil. "Ya Lo nikah lah bego," ucap Darren.
Nathan menatap sahabatnya tersebut. "Lo kira nikah itu gampang, tinggal sat set sat set aja," ucap Nathan.
Darren tertawa kecil saat mendengar ucapan dari sahabatnya tersebut. Nathan menatap Darren. "Nadia bakal di jodohin," ucap Nathan.
Darren yang tadinya tertawa kecil langsung terdiam. Nathan memegang kepalanya. "Adek gue bakal di jodohin sama temen Lo," ucap Nathan.
"Temen gue?," ucap Darren.
Nathan mengagumkan kepalanya. Darren yang benar benar penasaran langsung menatap Nathan dengan tatapan serius. "Temen gue yang mana?," ucap Darren.
Nathan menghela nafas dengan kasar. "Dimas," ucap Nathan
Bagai bak di sambar petir di siang bolong, Darren benar benar terkejut mendengar ucapan sahabatnya itu. Dimas? Sahabatnya itu yang akan menjadi calon suami dari gadis yang ia cintai selama ini? Darren benar benar tidak percaya dengan ucapan sahabatnya tersebut.
"Alah, Ngadi Ngadi Lo," ucap Darren.
Nathan menatap Darren dengan tatapan tajam. "Gue serius, adek gue bakal di jodohin dengan sahabat lo. Jadi gue mohon, Lo jagain adek gue ya. Kalau terjadi sesuatu sama dia Lo langsung kabari gue," ucap Nathan.
Darren mengerutkan dahinya dan menatap Nathan. "Emangnya Lo mau kemana?," ucap Darren.
"Gue bakal pergi ke luar kota untuk beberapa bulan, ada pekerjaan yang harus di selesaikan di luar kota. Gue percaya sama Lo, tolong jagain adek gue selama gue pergi," ucap Nathan.