mengira tanda tangan di atas meterai itu adalah tiket emas menuju karier impiannya. Namun, ia salah besar. Akibat kurang teliti membaca pasal demi pasal, Silla justru terjebak kontrak kerja mutlak dari Sagara , sang CEO tampan sekaligus mantan pacar yang paling ingin ia hapus dari sejarah hidupnya.
bagi Silla, menghadapi Sagara bukan sekadar urusan profesional. Sagara adalah mantan kekasihnya-pria yang pernah mengisi hatinya, sebelum hubungan mereka berakhir dengan penuh gengsi.
Sebagai sekretaris, Silla yang memiliki sumbu pendek dan gampang emosi dipaksa harus selalu sigap melayani kebutuhan Sagara. Celakanya, Sagara tahu persis di mana tombol "emosi" Silla berada.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mantan reseee
Sudah 6 bulan sila bertahan di kantor ini sebagai asisten pribadi ceo sekaligus mantan nya.Dan setiap hari nya pasti selalu saja ada gebrakan
Yang di lakukan bos nya yang sangat rese itu
Setiap hari juga ia harus menahan kesal jika berhadapan langsung dengan sagara yang hobi
Nya menjahili serta mengganggu dirinya entah itu di kantor diluar bahkan lewat telpon.
Silla wanita berambut caramel yang di catok lurus bawah curly itu masuk ke dalam ruangan sambil membawa secangkir kopi hitam dan setumpuk dokumen laporan bulanan. Langkah kakinya tegas, mencoba bersikap seprofesional mungkin ketika di dalam kantor.Sagara laki laki jangkung itu sedang duduk di kursi kebesarannya, memutar-mutar pulpen dengan santai sambil menaikkan satu kakinya ke atas lutut.
Silla Menaruh kopi susu dan dokumen di meja dengan penuh penekanan.
"Jadwal Anda hari ini padat, Pak sagara. Jam sepuluh ada rapat koordinasi dengan divisi pemasaran, jam satu siang makan siang dengan investor dari Singapura, dan sorenya—"
sagara Memotong ucapan Sila, mengambil cangkir kopi susu itu, lalu menyesapnya sedikit. Wajahnya langsung berkerut masam
"Sila, Sila... Kamu sudah jadi asisten saya berapa bulan, sih? Kok masih belum hafal selera saya? Ini kurang manis Manisnya hilang. Sama kayak janji-janji kamu dulu pas kita putus."
Silla menarik napas dalam-dalam, berusaha menjaga ekspresi wajahnya agar tetap datar
"Mohon maaf, Pak Tao. Di profil sekretariat, Anda meminta kopi susu tanpa banyak gula karena sudah ada kandungan susu nya. Dan tolong, jangan bawa-bawa urusan masa lalu di jam krja"
Sagara Tersenyum miring, mencondongkan badannya ke depan meja, menatap Sila dengan pandangan menggoda dan jail.
Oh, jadi sekarang panggilnya "Pak sagara"?Formal banget. Padahal dulu setiap hari malah malam-malam nelpon nangis karena takut petir, panggilnya "Sayang"tuh."ledek sagara
Silla Mengepalkan tangannya di samping paha, matanya menatap tajam netra mantan nya itu.
"Itu 6 tahun yang lalu. Dan saat itu saya khilaf. Sekarang, bisa kita fokus ke laporan keuangan kuartal kedua ini? Investor membutuhkan tanda tangan Anda sekarang juga bapak Sagara yang paling terhormat."
Sagara dengan malas Mengambil dokumen tersebut, tapi alih-alih membaca dokumen itu dia malah menggunakannya untuk kipas wajah.
"Aduh, gerah ya ruangan ini. Atau kamunya yang lagi panas karena dekat-dekat sama mantan terindah? Lagian, tanda tangan saya mahal, Sila. Nggak bisa langsung tanda tangan gitu aja. Harus ada servis yang memuaskan dari asistennya nya dong"
Suaranya mulai meninggi, menahan geram
"Servis apa lagi yang Anda butuhkan, Bapak sagara yang Terhormat? Saya sudah menyusun jadwal Anda setahun ke depan, merapikan meja kerja Anda yang berantakan ini, bahkan membelikan makan siang titipan Anda yang selalu berubah setiap lima menit!"
Sagara?laki laki tampan itu malah terlihat sangat menikmati wajah Sila yang mulai memerah menahan amarah
"Gampang kok. Tolong tiupin kopi ini sampai hangatnya pas. Sama... senyum dong. Kamu kalau cemberut gitu, makin kelihatan kalau belum move on dari saya"balas sagara
Sila yang seharian ini sudah cukup menahan emosi akhirnya runtuh juga pertahanan nya.
BRAKKK.
ia menggebrak meja kerja sagara dengan keras.
"Cukup, sagara! Saya di sini bekerja secara profesional karena butuh uang! Kalau bukan karena kontrak kerja sialan ini, saya nggak akan sudi melihat muka tengil kamu setiap hari! Cari saja asisten lain yang mau meladeni kegilaan kamu!"silla berbalik badan dengan cepat, bersiap melangkah pergi menuju pintu keluar dengan penuh amarah
Sagara memanggil silla dengan nada suara yang sedikit lebih lembut namun tetap terdengar santai, berteriak kecil ke arah Sila.
"Hei, hei, Sila! Mau ke mana? Rapatnya kan sepuluh menit lagi! Jangan lupa bawa dokumennya, atau saya potong gaji kamu karena menelantarkan CEO tampan ini!"
Sebelum membuka pintu ia Berhenti tepat di depan pintu, berbalik sekilas dengan tatapan mata yang seolah ingin menerkam sagara saat itu juga
"Potong saja sesuka hatimu! Dasar mantan rese!!!"Sila membanting pintu ruangan dengan keras.
BRAM!!!
Sedangkan sagara yang melihat amarah silla malah dengan santai melihat ke arah pintu yang tertutup itu,lalu bersandar di kursinya sambil tersenyum lebar dan menggeleng-gelengkan kepala.
"Galak banget. Tapi... makin cantik kalau lagi marah."