Anaxa Daemyn Elrad, seorang mahasiswa psikologi, mulai menerima amplop cokelat berisi laporan penelitian yang menggambarkan kehidupan, kebiasaan, bahkan perilaku pribadinya secara terperinci.
Awalnya dia menganggapnya sebagai kebetulan. Namun, semakin banyak laporan yang muncul, semakin sulit baginya menyangkal satu kenyataan: seseorang sedang mengamati dirinya.
Di balik kehidupan kampus yang tampak biasa, tersembunyi sebuah proyek penelitian bernama EVA-213.
Siapa yang mengawasinya? Apa tujuan penelitian tersebut? Dan sejak kapan hidup Anaxa bukan lagi sepenuhnya miliknya?
Bagaimana jika seluruh hidupmu ternyata hanyalah data bagi seseorang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sara Zefa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEJAK KAPAN DIA TAHU?
Anaxa menghabiskan banyak waktu untuk berpikir keras terkait kejadian aneh di hari ini. Dia termenung dalam kegelapan malam yang terasa lebih mencekam dari biasanya. Ponsel terletak di atas meja nakas samping kasurnya. Pukul 03:27 saat terakhir kali Anaxa mengecek.
Dia sama sekali tidak bisa tidur. Bukan karena Anaxa ingin, tapi pikiran nya selalu terbayang-bayangi 200 lembar laporan tentang dirinya.
Subjek menangis selama 15 menit
Membuka aplikasi chat tapi sama sekali tidak mengirimkan pesan
Anaxa sempat berpikir jika ada orang yang menguntit nya. Dia bahkan sudah menelusuri setiap sudut kamar kos nya untuk mencari kamera tersembunyi, tapi dia sama sekali tidak dapat menemukannya!
Balik ke beberapa jam setelah Anaxa berlari kembali ke kamar kos nya. Dia menarik kursi dan naik ke atasnya, Anaxa menjulurkan tangan nya dan secara perlahan memutar lepas bohlam lampu. Anaxa mengamati bohlam lampu beberapa saat. Spekulasi pertama nya salah karena dia tidak menemukan kamera tersembunyi. Anaxa pernah mendengar kasus bahwa ada seseorang fans fanatik Idol K-pop yang meletakkan kamera tersembunyi di sana.
Bohlam lampu kembali dipasang. Saat itu masih siang hari, jadi cahaya matahari merambat masuk dan menerangi kos Anaxa dari ventilasi jendela kamar meskipun hordeng nya dia tutup. Anaxa turun dari kursi kemudian menyeret kursi tersebut ke dekat jendela dan mulai memeriksa ventilasi nya. Bahkan ventilasi pintu kamar kos juga ikut diperiksa!
Hasilnya nihil!
Kening Anaxa berkerut. Dia mencoba menerka-nerka dimana kemungkinan letak kamera tersembunyi. Dan selanjutnya, Anaxa menghabiskan waktu untuk melakukan pemburuan nya.
Anaxa mulai membongkar jam dinding yang terpasang di dinding kamarnya, mencari-cari dengan cermat, lalu kembali menempatkan jam dinding ketempat semula.
Stop kontak listrik juga ikut dibongkar oleh Anaxa. Tidak tanggung-tanggung karena Anaxa sampai menggunakan obeng dan mem preteli setiap komponen nya!
Detektor asap kebakaran juga ikut dibongkar Anaxa akibat kecurigaannya.
Nihil.
Anaxa menghela nafas panjang. Keringat mulai menetes turun ke wajahnya. Biasanya Anaxa tidak bergerak sebanyak ini... Semuanya demi menemukan kamera tersembunyi.
Kemudian tatapan Anaxa beralih ke router WIFI kecil di sudut kamarnya. Lampunya ber kedap-kedip warna merah. Dia segera mencabut seluruh kabel, membuka casing plastiknya, lalu memeriksa bagian dalam satu per satu.
Tetap tidak ada.
Anaxa tidak mau menyerah! Dia kemudian membalik gantungan baju, membuka bingkai cermin, memeriksa bagian belakang kipas angin, bahkan menggoyang-goyangkan dispenser air galon seolah benda itu menyimpan rahasia.
Semuanya kosong.
Bahkan Anaxa sudah mengecek hingga bagian bawah meja belajarnya. Jemarinya menelusuri setiap sudut yang mungkin cukup untuk menyembunyikan sebuah kamera berukuran beberapa milimeter.
Anaxa mulai frustasi. Keheningan di kamar kos nya kini terasa mencekam.
Semakin lama pencarian berlangsung, tujuan Anaxa perlahan berubah. Awalnya dia ingin menemukan kamera itu. Kini dia justru mulai takut jika benar-benar menemukannya.
Hingga akhirnya Anaxa terduduk di atas lantai. Dia merasa sangat kelelahan akibat tubuhnya terus bergerak tanpa henti. Sorot matanya masih memindai setiap sudut kamar.
"Mungkin tidak ada kamera." ucap Anaxa getir.
Kalimat itu lebih seperti usaha menenangkan diri daripada sebuah kesimpulan.
Setelah berdiam diri memulihkan energi tubuh yang terkuras, Anaxa berdiri dari duduknya. Dia mengambil obeng dan menaruhnya di rak penyimpanan. Merapihkan barang-barang yang sempat di preteli nya.
Semuanya kembali seperti semula.
Semuanya.
Kecuali dirinya.
Tangan Anaxa sempat ingin meraih tumpukan laporan tentang dirinya, namun terhenti sebelum sempat menyentuhnya. Dia merasa tidak sanggup untuk lanjut membaca semua tulisan yang tertera di atas kertas. Dia mengurungkan niatnya.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, memilih lari dari rasa penasarannya sendiri.
Anaxa kemudian melangkah melewati meja yang penuh kertas itu. Dia membiarkan nya tetap tergeletak berantakan. Dirinya keluar dari kamar kos dan segera mengunci pintu. Anaxa pergi jalan kaki ke kedai kopi terdekat untuk membeli secangkir kopi panas. Dia perlu untuk menjernihkan pikiran nya yang kalut.
Dia juga capek. Langkahnya juga menjadi lebih lambat seakan tidak ada energi.
Sesampainya di kedai kopi, Anaxa hanya terdiam. Namun wajahnya seakan menjelaskan semuanya hingga membuat barista kedai itu berkata. "Seperti biasa?" dan dibalas oleh anggukan Anaxa.
Dia menunggu beberapa saat kemudian menerima kopi panas pesanannya. Biasanya Anaxa akan langsung berjalan pulang dan meminum kopinya di kamar kos, tetapi kali ini Anaxa memilih untuk meminum kopinya di kedai. Anaxa terduduk diam di tempat duduk yang tersedia disana. Meletakkan kopi di atas meja lalu kembali terdiam.
Dia tenggelam dalam pikiran nya memikirkan kembali 200 lembar penelitian tentang dirinya. Sampai-sampai Anaxa tidak sadar kalau sedari tadi barista kedai tersebut mencoba untuk mengajak dirinya bicara.
"Mas. Awas kesambet setan bengong-bengong gitu." ucapan barista itu mengejutkan Anaxa dibarengi oleh tepukan pelan di pundaknya.
Anaxa sontak menoleh ke barista itu. Wajahnya menunjukkan kaget yang luar biasa. Dan barista itu malah terkekeh-kekeh pelan.
"Lagi mikirin apa mas? Kok kayak tertekan gitu ya... Kuliah? Kerjaan?" Barista itu malah jadi menebak-nebak.
Anaxa menggelengkan kepalanya dengan gelapan. "Oh enggak... cuma itu..." Kalimatnya terputus. Lidah nya kelu.
Apakah Anaxa harus menceritakan kejadian aneh tentang amplop coklat tersebut?
Sebelum Anaxa sempat berkata-kata lebih jauh lagi, baristanya malah menembak dengan pertanyaan lain. "Atau lagi berantem sama pacar ya? Biasa namanya anak muda kalau pacaran kayak gitu. Banyak berantemnya. Ceweknya mood mood an gak mas? Atau lagi ngidam minta dibeliin seblak?"
Alis Anaxa langsung mengernyit setelah mendengar ucapan random itu. Dengan perlahan dia mengangkat kedua tangannya mengisyaratkan agar barista tersebut berhenti berkata yang aneh.
"Saya... Belum pernah pacaran."
Dan akhirnya barista itu terdiam. Lalu dia seperti mengucapkan ohhh tanpa suara. "Pantas belum pernah pacaran. Emang siapa yang mau sama mas yang selalu muka triplek terus dingin kayak kulkas 1000 pintu. Cewek-cewek kayaknya bakal auto menjauh sih. Palingan yang suka sama mas adalah cewek anomali." Kekehan kembali terdengar.
Anaxa langsung tertegun sejenak. Sinyal alam bawah sadarnya seperti menyalakan alarm.
Dengan cepat Anaxa bangkit dari kursinya. Dia meraih gelas plastik kopi hangatnya, lalu tanpa berpikir panjang langsung melarikan diri kembali ke kamar kos nya.
Masalah tadi pagi sudah cukup menguras kering energinya. Anaxa tidak sanggup jika energinya harus kembali terkuras akibat celotehan asal yang dilontarkan oleh barista itu. Terlalu berisik dan sangat mengganggu.
Dan juga, celotehan terakhir yang diucapkan barista tersebut malah memantik pemikiran negatif Anaxa. Sepanjang perjalanan kembali ke kosnya, dia sibuk berpikir.
"Bagaimana kalau ada cewek anomali beneran yang menyukai ku? Tidak mungkin. Masa... cewek seperti itu yang mengirimkan laporan penelitian tentang dirinya? Fans fanatik? Cewek obsesif? Yandere?" Pikiran Anaxa sepertinya mulai tidak masuk akal.
Anaxa menutup pintu kos an nya. Menaruh gelas plastik kopi panasnya diatas meja. Kembali melihat tumpukan kertas laporan tentangnya. Anaxa menepuk jidatnya lelah.
Dia sama sekali tidak bisa berhenti berpikir.
Helaan nafas terdengar lagi. Anaxa menjulurkan tangan dan meraih cangkir kopi hendak meminumnya. Namun sebuah pikiran terbentuk dan membuat pergerakan tubuhnya terhenti seketika.
"Tunggu sebentar... Sejak kapan barista kedainya jadi cerewet seperti tadi?"