NovelToon NovelToon
Gadis Montok Sang Don

Gadis Montok Sang Don

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Mafia / Asmara / Cewek Gendut / Tamat
Popularitas:4
Nilai: 5
Nama Author: Lenardt

Setiap pagi, Laras melayani pelanggan pertamanya di kedai kecil itu: seorang pria bermata biru yang selalu memanggilnya "Cantik". Hanya itu. Karena di rumah, ayah dan kakaknya memperlakukannya seperti sampah, dan lelaki setampan itu tak akan pernah melirik gadis gemuk sepertinya.

Yang tidak Laras tahu, pria itu adalah Satria Kusuma, Don 'Ndrangheta, bos mafia yang ditakuti, dan ia punya waktu enam bulan untuk menikah atau kehilangan takhtanya. Satu malam, setelah melihat sendiri bagaimana Laras diperlakukan, Satria mendatangi rumahnya dan menawarkan kesepakatan yang tak bisa ditolak ayah Laras: utang dilunasi, dan Laras menjadi istrinya.

Laras mengira ajalnya sudah dekat. Ia punya rahasia yang menurut hukum mafia pantas dibayar nyawa. Tapi pria yang ia takuti justru menyediakan sofa, selimut, dan kesabaran tanpa batas, dan perlahan menunjukkan padanya bahwa ia boleh hidup, boleh dicintai, bahkan boleh menjadi kuat.

Sementara itu, di balik pesta dan perjodohan, keluarga Kusuma menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan semuanya. Dan Bianca, adik Satria yang tajam lidahnya, sedang bermain api dengan satu-satunya lelaki yang tak boleh ia sentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lenardt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Bianca Kusuma

"Haa, Rendra."

"Bianca, pergi sana, demi Tuhan. Gue nggak tahu apa yang bawa lo ke sini, tapi tolong, keluar dari apartemen gue."

"Gimana bisa lo nyium gue kayak tadi, nginginin gue segitunya, tapi masih nyuruh gue pergi?"

Misi kami sukses. Kami terpaksa membunuh beberapa orang yang mengawasi, agak repot juga menghilangkan kontainernya, ditambah di ujung Rendra harus menyetir truk gandeng, yang tidak ada dalam rencana kami, tapi semuanya beres. Tinggal menyerahkan laporan ke kakakku dan semuanya selesai seperti seharusnya.

Adrenalin, hasratku pada Rendra, dan rasa luar biasa waktu menusuk bajingan yang berusaha membunuhku, semua itu tidak mau hilang dari kepalaku saat aku sampai rumah menjelang subuh. Begitulah akhirnya aku keluar rumah lagi dan berakhir di apartemen ini. Lagian, keamanan tempat ini jelek banget, aku masuk gampang sekali. Tentu saja orang-orang mengira aku adik Rendra juga sangat membantu, tapi itu tidak penting.

Begitu aku lewat pintu, Rendra kaget melihatku. Dia cuma pakai celana pendek biru, tidak ada yang lain, dan sial, tubuhnya yang setengah telanjang itu bikin aku gila.

Kenyataannya, aku sudah dari dulu tergila-gila pada Rendra. Aku bilang dari dulu karena aku tidak bisa menyebut kapan persisnya itu terjadi, pokoknya terjadi begitu saja. Dan bertahun-tahun lalu aku sudah memutuskan, keluargaku boleh berbuat apa saja padaku, tapi pertama kalinya harus jadi milik Rendra. Hanya saja sekarang pernikahan sialan itu makin dekat, waktuku makin habis, apalagi aku makin ingin menyerahkan diri pada lelaki ini.

Aku tak membiarkannya bicara sepatah kata pun waktu dia melihatku menerobos apartemennya. Aku berlari ke arahnya dan menciumnya, menciumnya penuh gairah, penuh hasrat. Tapi begitu aku mengerang menyebut namanya di bibirnya, dia mendorongku menjauh. Sial, kenapa dia tidak menyerah saja, aku tahu dia juga mau.

"Gue kira gue udah jelas ngomong sama lo. Gue nggak akan ngerusak semuanya demi nafsu yang nggak punya masa depan. Gue nggak akan mulai perang antarmafia demi nafsu gila. Lo harus nikah dalam keadaan perawan, Bianca, itu mutlak. Kita nggak bisa ngelakuin ini, GUE nggak bisa ngelakuin ini. Nggak sama lo, Mungil."

"Bertahun-tahun lalu, gue udah ambil satu keputusan."

"Keputusan apa, bocah?"

"Gue memutuskan pertama kalinya gue itu buat lo. Apa pun yang lo bilang, lo yang gue mau, dan gue tahu lo juga mau gue, dan nggak ada, sama sekali nggak ada yang bisa ngubah itu."

Dia mondar-mandir sambil mengusap rambutnya, benar-benar frustrasi.

Aku mendekat pelan-pelan, dan dia berhenti lalu memandangku.

"Bianca, jangan giniin gue, please." Suaranya rendah dan berat.

"Gue nggak akan ngelakuin apa pun yang lo nggak mau." Aku menjawab dengan nada yang sama.

"Itu masalahnya. Gue mau, dan gue mau banget, sialan."

Tidak ada lagi yang diucapkan, memang tidak perlu. Kutempelkan mulutku ke mulutnya, dan kedua tangannya turun ke pantatku, mengangkatku, membuatku melingkarkan kaki di pinggangnya. Ciuman ini lain, sentuhannya lain, hasrat itu sudah tak tertahan, datang bergelombang dan tak satu pun dari kami sanggup menahannya lagi.

Rendra membawaku ke kamar dengan aku masih menempel di tubuhnya, dan bibir kami nyaris tak terlepas sepanjang jalan.

Dia membaringkanku di ranjang dan naik ke atasku sambil terus menciumku, lalu ciumannya turun ke leherku.

"Lo yakin soal ini, Bi?" Sudah bertahun-tahun dia tidak memanggilku dengan nama kecilku, dan mendengarnya memanggilku begitu membuat hatiku menghangat. Itu cuma singkatan namaku, tapi di mulutnya rasanya lain, karena itu dia.

"Gue nggak pernah seyakin ini soal apa pun, sayang." Dia memandangiku beberapa detik seperti mencari sisa keraguan di diriku, tapi aku tahu dia tak akan menemukannya, karena aku menginginkan ini, dengan segenap tenagaku aku menginginkannya.

Mulutnya kembali menemukan mulutku, dan tangannya mulai menjelajahi tubuhku sampai menemukan kancing celanaku. Dia membukanya dan melucutiku pelan-pelan, tanpa terburu-buru, memandangiku senti demi senti. Seiring celanaku turun, jari-jarinya meluncur di kakiku dan membuatku merinding tak karuan.

Celanaku dilempar ke lantai, lalu bibirnya turun ke kakiku dan naik lagi sambil menebar ciuman, dari telapak kakiku sampai ke bagian dalam pahaku. Saat kukira mulutnya akan menyentuh bagian intimku, padahal aku masih memakai celana dalam, dia berhenti. Tangannya naik ke ujung bajuku dan dia melepasnya dengan bantuanku, aku memajukan badan dan mengangkat tangan, padahal aku masih berbaring di bawah tubuh sebesar itu.

Aku hanya memakai lingerie, lingerie biru muda yang indah, kubeli khusus untuk saat ini. Tatapannya buas. Dia menjauh dan memandangiku dari ujung ke ujung, seolah akan menelanku bulat-bulat kapan saja.

Rendra turun dari ranjang dan membuka celana pendeknya, melemparnya ke lantai hingga tinggal memakai celana dalam. Harus kuakui, pemandangan itu luar biasa, dia tampan, tapi sial, aku tidak menyangka akan ada tonjolan sebesar itu di celana dalamnya, dan itu sedikit menakutiku. Tapi aku berusaha tetap tenang, pura-pura tidak segugup yang sebenarnya kurasakan.

Rendra kembali ke ranjang dan mulai menciumi tubuhku lagi, menjelajahi tiap sudutnya seperti sedang mencari harta karun dan harus menyusuri seluruh jalan sampai menemukannya.

Tangannya menyelip ke punggungku, membuka kaitan bra, lalu meluncur di tubuhku sampai bra itu terlepas dan dilempar ke lantai. Mula-mula dia cuma memandangiku seperti hendak merekam setiap detailnya di kepala, lalu dia menunduk dan membawa mulutnya ke payudara kiriku, dan sial, ini enak banget. Dia mengisap sementara tangannya yang lain memainkan puting payudara kananku. Harus kuakui aku tidak menyangka ini bakal senikmat itu. Aku mengerang tanpa berpikir, mengerang di luar kendali tubuhku, refleks saja.

"Gitu, Sayang, mendesah buat gue, tunjukin seberapa lo mau gue."

"Haa, gue mau lo, Rendra, gue mau banget."

Mulutnya makin terbenam di payudaraku, mengisap lebih kuat, sampai aku agak limbung. Lalu dia berpindah ke payudara kananku, memberiku kenikmatan sebesar yang tadi, aku pasrah, benar-benar pasrah.

Tangannya meninggalkan payudaraku dan turun ke bagian intimku, masuk pelan-pelan ke balik celana dalam dan menyentuh klitorisku. Aku terengah dan melengkungkan badan ke belakang. Cuma satu sentuhan, aku sudah seperti di planet lain, klitorisku bengkak, rindu mencapai klimaks.

Dia mulai menyentuhku di sana, membuatku mengigau, dan tak lama dua jarinya turun ke lubangku. Mula-mula dia memasukkan satu, lalu satunya lagi, sementara ibu jarinya masih menyentuh klitorisku dan mulutnya masih mengisap payudaraku. Terlalu banyak sensasi sekaligus, aku tak tahu harus merasakan apa, aku cuma tahu aku mau lebih, butuh lebih, putus asa.

Tubuhku mulai kejang, tanda aku sudah dekat, dan saat itu dia berhenti, menarik tangannya dari celana dalamku dan menjauh sedikit, cukup untuk memandangiku, dan aku yakin dia bisa melihat kekecewaan tergambar jelas di wajahku.

"Enak aja, kucing kecil. Kalau lo mau keluar, harus di mulut gue." Setelah bilang begitu dia menunduk dan meloloskan celana dalamku dari tubuhku, membuatku telanjang bulat dan sepenuhnya di bawah kuasanya. "Cantik banget, sialan."

Dia menunduk dan menciumku di bibir, lebih seperti kecupan singkat, lalu turun ke tempat yang kudambakan untuk dia rasakan. Bibirnya menyentuhku dengan hati-hati, tanpa terburu-buru. Tak lama kurasakan lidahnya menyelip di antara bibir luar dan menyentuh klitorisku, dan saat itu aku menjerit, jeritan nikmat, rasanya tidak nyata, belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku di planet lain, tubuhku serasa melayang.

Aku mengerang, mengerang tanpa henti, dan aku butuh, harus sampai ke puncak atau aku bakal ambruk. Kuletakkan tanganku di tengkuknya, menahan dan menuntun kepalanya, menyerahkan diri makin dalam pada kenikmatan. Kurasakan jarinya masuk ke dalamku, tidak terlalu dalam, tapi cukup. Aku klimaks dengan jarinya bergerak pelan keluar masuk dan mulutnya mengisap klitorisku kuat-kuat.

Punggungku terangkat dari ranjang saking kuatnya dorongan itu, dan begitu aku berbaring lagi dengan benar, tubuhku serasa mati rasa dan rileks sepenuhnya. Itu sensasi paling tidak nyata yang pernah kurasakan seumur hidup.

* * *

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!