Bagaimana rasanya menjadi seorang CEO sukses di era modern, lalu dalam sekejap mata terbangun di dalam gubuk bobrok era dinasti kuno?
Itulah nasib sial yang menimpa Lin Wan. Jiwanya merasuki tubuh seorang gadis berusia delapan belas tahun yang hampir mati kelaparan, hidup bersama ibu yang sakit-sakitan, adik kecil yang menangis kelaparan, serta paman serakah yang berniat menjual mereka demi utang judi.
Bagi Lin Wan, menyerah bukanlah kamusnya. Berbekal otak bisnis modern, kecerdasan taktis, dan tekad baja, ia bersumpah untuk mengubah nasib.
Berhasilkah Lin Wan menjadi wanita yang bisa berubah kaya, atau justru takdir membawanya pada takdir yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33: Negosiasi
"Tuan Gu, Anda adalah penaksir senior di Balai Pengobatan Sumber Berkah yang terhormat. Apakah seorang profesional terhormat seperti Anda harus menutup sebelah mata demi menutupi kualitas kelas satu dari barang yang ada di tangan Anda?"
Tuan Gu terperanjat kaget, alisnya berkerut tajam mendengar gadis remaja itu berani membantahnya secara langsung. "Berani sekali kau! Apa maksudmu berkata begitu?!"
"Mari kita bedah secara objektif, Tuan Gu," lanjut Wanru tanpa gentar sedikit pun. Ia lalu menunjuk batang ginseng di atas meja. "Perhatikan serabut akar tunggalnya yang tidak terpotong sedikit pun. Ini membuktikan bahwa ginseng ini digali dengan teknik manual yang sangat teliti tanpa merusak inti nutrisinya. Kulitnya berwarna keemasan alami, menandakan ia tumbuh di tanah kaya mineral yang terpapar sinar matahari pagi secara pas. Ini bukan ginseng biasa, ini adalah bahan baku terbaik untuk meracik pil penambah stamina tingkat tinggi."
Wanru melanjutkan dengan senyuman penuh kemenangan, "Jika Tuan Gu ingin menyebutnya sebagai kualitas menengah ke bawah, silakan bawa barang ini keluar dan tawarkan ke apotek kecil di ujung jalan. Tapi saya jamin, tabib di sana tidak akan mampu membayar seperempat dari nilai sebenarnya."
Suasana di depan pintu balai pengobatan mendadak sunyi. Tuan Gu terpaku menatap gadis remaja di hadapannya. Otaknya berputar keras. Ia sama sekali tidak menyangka gadis desa yang tampak rapuh itu memiliki pemahaman botani dan kemampuan negosiasi setajam pisau bedah.
Penjaga pintu dan beberapa pasien yang lewat di sekitar mereka mendengarkan percakapan itu dengan mulut sedikit terbuka, seolah kagum pada keberanian sang gadis.
Tuan Gu pun terbatuk kecil untuk mencairkan kecanggungan, lalu ekspresinya berubah dari meremehkan menjadi senyuman tipis penuh perhitungan.
"Hahaha... baiklah, baiklah! Kau benar-benar anak muda yang cerdas dan tajam lidahnya," aku Tuan Gu akhirnya, menyerah pada argumen logis Wanru. Ia lalu menyeringai tipis dan berkata, "Katakan berapa harga yang kau inginkan untuk seluruh isi kantong ini?"
Lin Wanru tidak membuang waktu. Di dalam kepalanya, kalkulasi harga grosir dan margin keuntungan sudah tersusun rapi sejak ia keluar dari hutan tadi.
"Seluruh ginseng liar muda dan jamur hitam berkualitas tinggi ini... aku melepasnya seharga dua ratus keping tembaga pas," ucap Wanru mantap.
Tuan Gu sedikit terkejut mendengar angka tersebut. Dua ratus keping tembaga adalah jumlah yang cukup besar, setara dengan pendapatan toko obat kecil selama seminggu. Namun bagi Balai Pengobatan Sumber Berkah yang melayani pelanggan-pelanggan kaya, ginseng itu bisa diolah kembali menjadi produk herbal bernilai jual berkali-kali lipat lebih tinggi.
Tuan Gu menimbang-nimbang sejenak, lalu mengangguk setuju. "Baik! Dua ratus keping tembaga. Kesepakatan yang adil."
Tuan Gu memanggil pelayannya untuk mengambil kantong uang tembaga dari dalam brankas balai pengobatan. Tidak lama kemudian, pelayan tersebut datang membawakan sekantong penuh kepingan tembaga yang berat dan berdenging nyaring saat diserahkan ke tangan Wanru.
Wanru menerima kantong uang tersebut, menimbangnya sejenak di telapak tangannya untuk memastikan jumlahnya pas, lalu membungkuk hormat kepada Tuan Gu.
"Terima kasih atas kerja samanya, Tuan Gu. Aku menantikan kerja sama kita selanjutnya di masa depan," ucap Wanru profesional.
Tuan Gu tersenyum tipis sambil mengangguk. "Kapan pun kau membawa barang berkualitas seperti ini lagi, pintu Balai Pengobatan Sumber Berkah akan selalu terbuka untukmu, Nona muda."
Keluar dari balai pengobatan mewah tersebut, Lin Wanru memegang kantong uang yang kini jauh lebih berat dan padat di pinggangnya.
Total kekayaan mereka kini telah melompat drastis dari sepuluh keping tembaga menjadi dua ratus sepuluh keping tembaga, sebuah modal usaha yang sangat kokoh untuk memulai babak baru transformasi ekonomi keluarga Lin.
Di bawah terik matahari pagi Pasar Sungai Besi yang menyinari jalanan batu, Wanru menarik napas panjang, merasakan kebebasan dan kepuasan luar biasa mengalir di dalam dadanya.
Langkah pertama dari rencana besar sang CEO telah berhasil dieksekusi dengan sempurna. Dari reruntuhan gubuk reyot, dari utang membelit dan ancaman rumah bordil, kini ia berdiri tegak membawa kantong penuh koin, siap kembali ke pelukan ibu dan adiknya untuk merancang tahap ekspansi berikutnya.
**
Matahari pagi telah bergeser ke arah tengah langit, memancarkan kehangatan yang menyenangkan di atas jalan setapak berbatu yang menghubungkan Pasar Kecamatan Sungai Besi dengan Desa Hutan Batu.
Lin Wanru berjalan santai dengan langkah kaki yang terasa begitu ringan. Di dalam kantong kain yang terselip erat di pinggangnya, dua ratus sepuluh keping uang tembaga bergemerincing setiap kali ia melangkah, sebuah melodi kemakmuran yang menandakan bahwa status finansial keluarga Lin kini telah resmi naik tingkat.
Bagi Wanru, transaksi sukses di Balai Pengobatan Sumber Berkah tadi pagi bukan sekadar perolehan uang tunai. Itu adalah bukti validasi pertama bahwa strategi bisnis berbasis kualitas dan analisis pasar yang ia terapkan di era dinasti kuno berjalan tanpa cela.
"Dengan modal dua ratus lebih keping tembaga ini, aku tidak hanya bisa membeli bahan makanan berkualitas untuk sebulan ke depan," pikir Wanru menyusun rencana di dalam kepalanya sambil menyusuri pinggiran ladang penduduk. "Aku juga bisa mulai membeli kayu balok, paku tambahan, dan jerami tebal untuk merenovasi tenda darurat kami menjadi rumah kayu permanen sebelum musim hujan tiba."
Bayangan tentang rumah baru yang nyaman, senyuman lega sang ibu, dan gelak tawa riang adiknya membuat senyuman tipis tersungging di bibir Wanru. Suasana hati yang damai itu membuatnya sedikit menurunkan kewaspadaannya saat memasuki area perbatasan Desa Hutan Batu.
Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama.
Saat Wanru baru saja melewati tikungan jalan setapak di dekat rumpun bambu besa, jalur yang berbatasan langsung dengan kebun milik keluarga Liu, suara langkah kaki yang berat terdengar mendekat dari arah depan, disusul oleh suara deheman yang sengaja dikeraskan.
"Ekhem! Ekhem!"
Wanru menghentikan langkahnya. Ia menegakkan tubuhnya, lalu mengangkat dagunya perlahan.
Dari balik bayang-bayang rumpun bambu yang lebat, muncullah sesosok tubuh perempuan paruh baya yang bertubuh tambun, mengenakan pakaian kain katun ungu pudar dengan kepala yang sedikit miring. Wajahnya dipenuhi kerutan sinis, dengan kedua tangan bersedekap di dada dan sorot mata melotot penuh kebencian.
Wanita itu adalah Nyonya Liu,musuh dalam selimut sekaligus tetangga paling usil yang kemarin sempat terjatuh di lorong desa akibat lidah tajamnya sendiri.
Nyonya Liu sengaja berdiri tepat di tengah jalan setapak, merintangi jalur kepulangan Wanru dengan gaya seorang penguasa wilayah lokal. Di belakangnya, berdiri dua orang keponakan lelakinya yang bertubuh gempal dan berwajah preman kampung, sambil membawa sebatang kayu pagar di tangan masing-masing.
Wanru menarik napasnya dengan pelan. "Rupanya kawanan bebek usil ini belum kapok juga"
Bersambung...