Selama ribuan tahun, Kekaisaran Shen berdiri di Benua Zhanxi, melewati perang, pergantian kaisar, serta zaman yang terus berubah. Namun di balik sejarah panjang itu, terdapat satu nama yang hanya dianggap sebagai legenda.
Shen Hao Feng.
Kaisar pertama sekaligus pendiri Kekaisaran Shen—seorang Dewa Fana yang telah menghilang selama lebih dari sepuluh ribu tahun.
Ketika perang kembali menghancurkan wilayah Kekaisaran Shen dan musuh mulai menginjak tanah yang dahulu ia bangun dengan tangannya sendiri, sosok yang seharusnya hanya tinggal dalam sejarah itu akhirnya kembali.
Ia melihat bagaimana kekaisarannya berubah. Ia melihat rakyatnya menderita. Dan ia melihat tanah yang pernah ia lindungi dihancurkan oleh tangan musuh. Kini, Shen Hao Feng tidak kembali untuk merebut takhta. Ia kembali untuk mencari tahu siapa yang berani menghancurkan Kekaisaran Shen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dyo Erdika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Makam Dewa Han
Di dalam Prasasti selain artefak yang sering muncul terdapat tempat yang selalu menjadi rebutan kultivator. Tempat itu bernama makam Dewa Han.
Seorang perempuan berdiri di atas kepala burung api. Matanya menatap tajam karena pintu makam ini tidak segera terbuka.
"Kenapa belum juga terbuka? Sudah 20 hari lebih tapi makam Dewa Han belum juga?." Xiao Ming mendecak kesal.
"Wakil ketua saya ingin melapor bahwa 3 anggota sekte kita yang di belakang terbunuh kemarin malam."
"Apa? Aku belum menberi perintah untuk bergerak kan? Kenapa mereka bisa terbunuh?."
"Menurut penyelidikan itu karena Sekte Mayat Jiwa. Mereka sepertinya juga berniat menemui kita. Untuk alasan melakukan itu kamu tidak tahu."
"Tentu saja kau tidak tahu." Gumam Xiao Ming. Kedua tangannya mengepal erat. "Tian Yu... Kau sama sekali belum bertobat." Matanya menunjukkan kesedihan yang mendalam yang dia tahan..
"
"Apa kita harus lakukan sesuatu Wakil ketua?."
"Ya." Xiao Ming kembali menatap makam Dewa Han. "Seandainya makam Dewa Han sudah terbuka maka aku tidak akan terhambat disini."
Xiao Ming menarik nafas. "Semua siap siaga disini, jika memang mereka mengincar kita maka perang terjadi." Tegasnya.
"Ya!."
1.000 murid Sekte Lotus Api semuanya pergi mencari tempat persembunyian untuk menyergap orang-orang Sekte Jiwa Mayat.
Sedangkan Xiao Ming menunggu dengan sambutan yang terbuka. "Tian Yu... Aku pikir kalau akh membebaskanmu kamu akan lupa tentang itu."
"Tapi..." Samar-samar ingatan Xiao Ming beralih saat mengalahkan Tian Yu dalam duel di sebuah Sekte. "Selama beberapa kali ronde aku tetaplah terbaik."
Xiao Ming meledakkan energinya dan tubuh Xiao Ming tiba-tiba tertutup zirah dan pedangnya menjadi seputih bulu bangau.
"Hm...." Xiao Ming menatap dari satu mata yang tertutup pedang. "Teknik Pedang tak tertandingi."
"Kwoakk..." Sosok bangau besar muncul di belakang Xiao Ming. "Akan aku tunggu, Tian Yu...."
.....
Selagi Shen Hao Feng bergerak bersama yang lain dia tiba-tiba merasakan kehadiran super kuat yang semakin dekat pada posisinya.
"Semuanya berhenti berlari!." Shen Hao Feng berhenti berlari dan yang lainnya juga namun ada beberapa pasukan yang terlambat dan tubuh mereka tercabik-cabik.
Mata Shen Hao Feng sedikit melebar bahkan Chang Jia, Fei Xuen, Chen Ming, dan Ning Mei terkejut oleh gerakan yang begitu cepat.
"Gruhh!!..." Rong Qui menghadap mereka dan kembali bergerak.
Fei Xuen berkedip satu detik Rong Qui sufah tidak ada. "Apa? Dimana-
"sling!." Rong Qui keluar dari depan wajah Fei Xuen. "Cakar Sila-
"Tinju Naga." Shen Hao Feng memukul perut bawah Rong Qui hingga dia terhempas cukup jauh.
"G-grandmaster?."
"Hm..." Wajah Shen Hao Feng terlihat serius. "Bagaimana mungkin kau nasih hidup setelah aku kalahkan? Terutama kau naik ke ranah Star tahap 3."
"Bom!..." Rong Qui berhenti terhempas dan energinya meledak hingga menekan kuat orang-orang selain Shen Hao Feng.
"K-kenapa dia bisa tidak terkena aturan Prasasti!." Chang Jia menopang dirinya dengan pedang. "I-ini jelas mustahil!."
Shen Hao Feng mengibas tangannya dan energi Emas nya berhadapan dengan energi gelap Rong Qui. Chang Jia dan lainnya dapat bernafas dengan mudah.
"Chang Jia... Aku tak merasakan adanya tanda kehidupan pada orang ini." Mata Shen Hao Feng menjadi keemasan tanda mengancam.
Rong Qui terkejut karena hanya dengan mata membuanya bergetar. Tapi ia mengesampingkan itu dan memilih menyerangnya.
"Arhh!..." teriak Rong Qui.
Shen Hao Feng menarii nafas dalam-dalam dan mengumpulkan tenaga. "Kemarilah!." Shen Hao Feng melempar Naga Emasnya ke atas langit dan langit pun bergemuruh.
Hujan panah-panah energi emas berjatuhan dan Shen Hao Feng menangkap Rong Qui dengan tangan kosong lalu melemparnya ke atas.
'Menjauhlah kalian... Ini urusanku. Kalian tidak akan mampu melawan Mayat hidup sepertinya."
"Tapi Guru kenapa kita tidak memojokkan nya saja? Kita memiliki lebih banyak kekuatan disini." sarsn Chang Jia.
Shen Hao Feng memegang pedang Emas dan memakai zirah Maharaja hal itu semua membuatnya seperti seorang Dewa sesungguhnya. "Karena aku sudah lama tidak menggerakan otot-ototku." Shen Hao Feng bergerak cepat.
"Baik guru."
"Baik Grandmaster."
Saat orang-orang lain sudah pergi, Shen Hao Feng bergerak cepat ke samping namun Rong Qui berhasil menahan pedang Shen Hao Feng.
"Heh..." Shen Hao Feng menyeringai. "Boleh juga untuk sebuah boneka."
"Arh!." Rong Qui menyerang tebasan silang dan Shen Hao Feng segera berlari memutari Rong Qui.
"Pedang Naga Emas!... Haa!.." Shen Hao Feng mengalirkan semua energinya pada pedang. "Hm!.'
Shen Hao Feng melesat cepat lagi hingga Rong Qui terkejut.
"Slash!."
"Arh!." Langkah Rong Qui tak stabil tiba-tiba punggungnya tertebas. Bukan hanya punggung tapi juga bergiliran perut dan dada.
"Arh!..."
"Fuh..." Shen Hao Feng berdiri di belakang Rong Qui. "Meskipun kau benar di ranah lebih tinggi dariku tapi dari segi kemampuan bertarung adalah aku. Bahkan aku pun pernah membunuh Dewa Langit. Orang sepertimu hanyalah semut."
Rong Qui terdiam di tempatnya sebelum berbalik cepat untuj menyerang dari belakang namun Shen Hao Feng menebas nya terlebih dahulu hingga tubuh Rong Qui terjatuh dan tewas.
....
Pada saat bersamaan, pintu makam Dewa Han terbuka. Energi artefak kuat artefak tertinggi lainnya dapat di rasakan ke semua Kultivator hebat.
Bahkan Shen Hao Feng di buat tertarik olehnya. "Chang Jia, Fei Xuen. Aku akan ke sumbernya kalian lanjutkan perjalanan juga!."
"Bom!." Shen Hao Feng pergi dengan cepat meninggalkan mereka disini.
"Hah... Sudahlah ayo kita ikuti guru." Chang Jia bergerak normal untuk menyamai kecepatan Chen Ming dan Ning Mei.
"Terbuka..." mata Mong Haochen terbakar api gelap. "Dewa Han... Hari ini kau akan lihat bahwa aku masih hidup!."
"Graoa!..." Mong Haochen keluar dari persembunyian dan langsung menjadi wujud manusia iblis bertanduk.
"Dimana Pasukanku!."
Segera ratusan prajurit manusia iblis muncul di langit. Mong Haochen menyeringai rendah. "Bunuh semua manusia disini untuk Rajamu."
"Ya!."
Mong Haochen kembali ke wujud monster iblis yang besar dan terbang menuju makam Dewa Han.
Jing Yun di atas bukit juga merasakan energi dari makam Dewa Han yang terbuka. "Besarnya energi ini mengingatkanku kepada Guru." ia menggeleng tak berdaya.
Jing Yun mengusap matanya lalu berdiri. "Untuk sekarang ambil artefak dan pulang hidup-hidup adalag terpenting."
Selain Jing Yun banyak sosok manusia kuat dan perang dimana-mana untuk berebut warisan Dewa.
Saat Shen Hao Feng masuk. Dia mendarat di tanah yang gelap dan Shen Hao Feng menerangi sekitarnya dengan energi emas berbentuk bola.
"Ini..." Shen Hao Feng terkejut sebab ruangan ini begitu luas dan besar. "Dewa Han... Sebenarnya kau sosok seperti apa bahkan bisa menciptakan benda serumit ini."
Shen Hao Feng menatap bagian lebih dalam selama beberapa saat sebelum terbang pergi. Selama 1 minggu berlalu dan tersisa 2 hari untuk keluar atau terkurung selama 100 tahun.
Shen Hao Feng baru saja sampai ke suatu tempat yakni kolam dengan air yang hijau namun jernih.
"Ini..." dahi Shen Hao Feng berkerut. "Bukankah ini air liur dari Qilin?." ia terkejut. "Sebanyak ini?!."
Jelas Shen Hao Feng terkejut karena air liur dari binatang Qilin dapat menyembuhkan luka apapun.
"Aku benar-benar merasa beruntung sekarang." ia tersenyum lalu memasukan semua air itu ke dalam botol-botol kosong.
Setelah kolam menjadi kosong dia bergerak lagi namun tak jauh dari sana dia merasakan ke semua orang yang masuk hanya berdiri diam disana.
"Apa ada sesuatu disana? Mengapa mereka diam saja." Shen Hao Feng menambah kecepatan dan akhirnya sampai.
"Hm..." Shen Hao Feng melihat dengan tajam sosok boneka manusia dengan tubuh terbakar api serta tombak dan lainnya.
"Dia di ranah Star tahap 5?." Shen Hao Feng mendesis pelan. "Setara Chang Jia ya jika tidak ada tekanan."
"Hei lihat ada satu lagi yang maju!."
"Mana? Mana."
Shen Hao Feng juga memerhatikan bagaimana pria itu maju dan ujung-ujungnya ia kalah karena serangan Boneka itu dari depan.
...