Xiao Luo membeli sebuah rumah tua bergaya kuno yang sudah terbengkalai. Ia terpaksa membeli rumah itu karena harganya yang murah.
Selain rumah bobrok yang tak terawat, rumah itu memiliki halaman yang luas. Entah kenapa tidak ada yang mau membeli rumah itu. Mungkin karena rumor yang beredar diluar tentang rumah itu berhantu.
Entah itu keberuntungan atau justru kesialan, Xiao Luo jatuh ke dalam sumur.
Ia pikir hidupnya sudah berakhir, namun ternyata ia muncul di dunia yang berbeda.
Sumur itu seperti lorong waktu yang menghubungkan dua dunia. Xiao Luo bisa pergi ke dua dunia itu dengan mudah melewati sumur tua itu.
Apakah Xiao Luo bisa terus seperti itu atau justru terjebak di dunia lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TERPANA
Jantung Nyonya Tua Shen serasa berhenti berdetak seketika.
Paras gadis muda yang berdiri di hadapannya benar-benar tiruan sempurna dari Xin Nian—menantunya yang baru saja dimakamkan tujuh hari lalu.
Garis wajahnya, alur alisnya, pendar matanya, hingga bentuk bibirnya... semuanya sama persis. Hanya gaya berpakaian dan penampilannya saja yang bertolak belakang bagai malam dan siang.
Rambut hitam pekat gadis itu yang panjang ditarik rapi ke belakang dan diikat tinggi menjadi gaya ekor kuda (ponytail) yang kencang, memperlihatkan garis leher dan tengkuknya yang putih bersih.
Beberapa helai anak rambut halus menjuntai alami di sekitar pelipis, membingkai wajahnya yang segar tanpa polesan riasan tebal sedikit pun.
Ia mengenakan kaus katun polos berwarna abu-abu terang yang menyerap keringat dan longgar—memberikan kebebasan bergerak yang tak pernah terlihat pada pakaian wanita bangsawan.
Atasannya dipadukan dengan celana jogger santai berwarna gelap yang bagian ujungnya digulung sedikit di atas mata kaki agar tak terseret tanah. Karena baru saja dipakai menebas rumput, pakaian aneh itu dihiasi bebercak noda tanah dan serpihan daun kering.
Meskipun terdapat butiran keringat tipis di dahinya akibat aktivitas fisik, penampilan gadis itu memancarkan aura yang begitu segar, energik, dan cekatan.
Sangat berbeda dengan perangai Xin Nian yang anggun namun selalu muram dan rapuh—terutama di hari-hari terakhir sebelum maut menjemputnya.
"Nian... Nian-er?" bisik Nyonya Tua Shen dengan suara serak yang tercekat di kerongkongan.
Wanita tua itu mematung membisu. Rasanya bagaikan melihat hantu di siang bolong. Apakah kerinduannya yang teramat sangat telah melahirkan halusinasi? Atau akankah ini wujud nyata dari keajaiban yang dipanjatkan menantunya sebelum menutup mata?
Sebenarnya, Nyonya Tua Shen sudah berada di titik putus asa. Ia tak tega lagi menyaksikan cucunya yang terus menjerit kelaparan hingga dalam hati sempat berharap sang menantu bangkit kembali dari alam kubur. Namun, begitu menyaksikan sosok itu benar-benar berdiri nyata di ambang pintu, rasa gentar tak pelak menyelinap di benaknya.
"S-selamat malam, Nyonya..." sapa Xiao Luo agak canggung, mengamati raut terkejut wanita tua di depannya.
Namun, begitu suara lembut Xiao Luo tercipta di udara, sebuah keajaiban kecil terjadi. Tangisan melengking sang bayi seketika terhenti. Mata bulat kecil anak itu menatap lurus ke arah Xiao Luo—sebuah tatapan yang menyiratkan kerinduan mendalam dari jiwa mungil yang kelaparan akan kasih sayang seorang ibu.
Melihat binar bening dan jemari mungil sang bayi yang bergerak-gerak, hati Xiao Luo seketika luluh dan trenyuh.
"Kenapa Adik Kecil ini menangis?" tanya Xiao Luo begitu lembut. Kedua tangan bayi mungil itu terulur pasrah ke arah Xiao Luo, seolah menuntut untuk didekap. Namun, Xiao Luo tak berani bertindak sembarangan.
Nyonya Tua Shen masih berdiri kaku, menatapnya dengan lekat—sebuah pandangan campur aduk antara rasa tak percaya, duka, dan ketakutan yang tak mampu didefinisikan. Xiao Luo menjadi serba salah dan kikuk mendapatkan tatapan serupa itu.
"Siapa di luar, Ibu?" sebuah suara bening memecah ketegangan dari balik kegelapan rumah.
Shen Tingting muncul dari arah dapur, melangkah mendekat dengan rasa ingin tahu. Nyonya Tua Shen membuka pintu lapuk itu lebih lebar, membiarkan cahaya temaram dari dalam gubuk menyinari sosok Xiao Luo sepenuhnya.
Kedua gadis muda itu saling bertatap pandang dengan ekspresi yang sangat kontras.
Sama seperti ibunya, Shen Tingting mendadak tersentak hebat. Langkah kakinya tertahan di atas tanah basah. Wajah di depannya adalah sosok kakak iparnya! Mungkinkah Xin Nian bangkit kembali dari kegelapan kubur?
Namun akal sehat Shen Tingting menolak keras. Kakak iparnya telah menghembuskan napas terakhir lebih dari tujuh hari yang lalu.
Dialah sendiri yang ikut menggali tanah dan membaringkan jasad Xin Nian di bukit belakang. Mana mungkin seseorang yang telah membusuk di dalam tanah tiba-tiba berdiri tegak di depan gubuknya?
Di sisi lain, Xiao Luo justru menatap Shen Tingting dengan kekaguman yang tak sanggup ia sembunyikan.
Gadis muda di depannya memiliki kecantikan alami yang amat menawan. Meski hanya mengenakan hanfu dari kain linen kasar berwarna biru keabu-abuan yang kusam—jauh dari balutan sutra bersulam benang emas yang biasa melekat pada tubuh seorang putri bangsawan—keanggunan mulia tetap memancar kuat dari dalam dirinya.
Wajah pucat Shen Tingting menyimpang jejak kelelahan yang dalam. Bibirnya mengering dan terkelupas akibat terik matahari gurun serta sengatan angin malam perbatasan yang menusuk tulang. Namun, di balik debu tipis yang menempel di tulang pipinya, kehalusan garis wajahnya tetap tak terekspos cela.
Matanya yang bening bagaikan telaga sunyi menyimpan duka yang teramat dalam, sekaligus memancarkan keteguhan jiwa—sebuah tatapan dari seseorang yang telah menyaksikan keruntuhan kemegahan keluarganya dalam semalam.
Rambut hitam pekatnya yang dulu tentu dihiasi tusuk konde giok dan jepit emas berukir phoenix, kini hanya terikat sederhana dengan seutas pita kain kusam.
Beberapa helai rambutnya yang terlepas melambai lembut ditiup angin dingin, membingkai lehernya yang ramping dan jenjang.
Sebenarnya aku berada di mana? batin Xiao Luo kian bingung. Kenapa pakaian mereka seperti orang-orang di drama kolosal? Apa aku tidak sengaja menerobos area lokasi syuting film sejarah? Tapi... mana kamera dan krunya?
"Siapa kau sebenarnya?!" tanya Shen Tingting dengan nada tegas dan penuh kewaspadaan. Sejenak ia memang terpukau oleh kemiripan wajah itu, namun naluri perlindungannya segera mengambil alih.
"A-halo... namaku Xiao Luo," jawab Xiao Luo dengan antusiasme yang tertahan.
"Kalau boleh tahu, sekarang kita sedang berada di daerah mana ya? Apakah kalian sedang menyelenggarakan shooting film kolosal?"
Nyonya Tua Shen dan Shen Tingting saling bertukar pandang. Dahi mereka berkerut dalam. Kata-kata seperti 'shooting film' terasa sangat asing dan absurd di telinga mereka.
Bagaimana mungkin wanita ini tidak tahu di mana dirinya berdiri? Namun, mengamati sorot mata Xiao Luo yang polos dan jernih, tak ada kebohongan yang tersirat di sana.
"Jika kau bahkan tidak tahu tempat ini," potong Shen Tingting dingin, "bagaimana bisa kau mendadak berdiri di depan pintu rumah kami?"
"Tadi... aku sedang memotong rumput di halaman rumahku, lalu tergelincir dan jatuh ke dalam sumur tua," jawab Xiao Luo jujur, mencoba menyusun kalimat seakurat mungkin. "Begitu aku memanjat keluar dari sumur itu, lingkungan rumahku sudah hilang dan tiba-tiba saja aku berada di tempat gersang ini."
Shen Tingting menyipitkan mata. Jawaban itu terdengar sangat tidak masuk akal. Mana ada sumur yang bisa memindahkan seseorang ke ribuan li tanah pengasingan?
"Aku tidak berbohong!" tegas Xiao Luo cepat melihat raut tak percaya di wajah mereka. "Oh iya! Waktu terperosok di dasar sumur tadi, jariku tergores dan aku menemukan sebuah benda..."
Xiao Luo merogoh saku celana jogger-nya, lalu mengeluarkan sebuah benda yang sedari tadi ia genggam. Ia mengulurkannya ke depan cahaya temaram.
Mata Nyonya Tua Shen dan Shen Tingting seketika membelalak lebar. Nafas mereka tercekat.
Itu adalah liontin giok tua berukir rumit—benda pusaka sama yang selalu dikalungkan di leher Xin Nian semasa hidupnya! Benda yang juga menyala terang dan lenyap secara misterius saat detik-detik kematian menantu mereka!
"D-dari mana kau mendapatkan liontin giok itu?!" suara Shen Tingting bergetar hebat.
"Sudah kukatakan tadi, aku memungutnya dari dasar sumur kering!"
"Kau... kau muncul dari dalam sumur tua di belakang gubuk ini?!" cecar Nyonya Tua Shen dengan dada berombak kencang.
"Bukan begitu... Aku jatuh di sumur rumahku, tapi saat naik, aku..." Xiao Luo kehabisan kata-kata untuk menjelaskan fenomena mistis yang dialaminya.
Oeeeeeee...! Oeeeeeee...!
Sebelum perdebatan itu berlanjut, jeritan tangis bayi di dalam gendongan Nyonya Tua Shen kembali memecah malam. Shen Yu Jin—putra mungil mendiang Xin Nian—menjerit histeris dengan wajah memerah.
Seketika, Nyonya Tua Shen dan Shen Tingting tersadar dari keterpukauan mereka. Sejak kedatangan Xiao Luo beberapa menit lalu, anak itu sebenarnya telah tenang.
Namun karena Xiao Luo hanya berdiri mematung dan tak kunjung merengkuhnya, bayi yang haus akan kehangatan itu kembali menangis terisak-isak, seolah memanggil jiwa ibunya yang terpancar dari sosok Xiao Luo.
semangat berkarya thor sampai tamat ok
lanjut sampai tamat ya thor
semangat berkarya thor