NovelToon NovelToon
Obsesi Gila Grayson

Obsesi Gila Grayson

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Jumarlin

Aurelia Calista seorang remaja anak satu-satunya dari keluarga sederhana Bayu dan Lila. Walaupun mereka hidup sederhana tapi Aurelia tidak kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya.

Berbeda dengan pria bernama Grayson Balindra seorang anak broken home yang ditinggal bercerai oleh orang tuanya sehingga pemuda itu tidak mendapatkan peran apapun baru saja pindah ke sekolah aurelia. Pertemuan pertamanya dengan gadis itu membuat Grayson tertarik dan terobsesi. Dari situlah hidup Aurelia yang biasa tenang seketika berubah.

Bagaimana kisah selanjutnya, yuk baca. Obsesi gila Grayson.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14

Kemewahan yang membalut kehidupan Grayson Balindra—mulai dari mobil sport bermesin buas, penthouse megah di pusat kota, hingga kekuasaan absolut yang bisa membeli apa saja dalam sekejap—selalu berhasil memukau siapa pun yang melihatnya. Namun, di balik dinding-dinding beton berlapis kaca kedap suara dan kilauan lampu kristal gantung itu, terdapat sebuah kehampaan purba yang tidak pernah tersentuh oleh uang sepeser pun.

Bagi Grayson, kekayaan bukanlah sebuah berkah, melainkan kompensasi dingin yang diberikan oleh kedua orang tuanya untuk membayar rasa bersalah atas kegagalan mereka membangun sebuah keluarga.

Masa kecil Grayson tidak diwarnai oleh tawa hangat di meja makan atau pelukan menenangkan saat ia bermimpi buruk. Sejak ia berusia delapan tahun, rumah besar keluarga Balindra lebih mirip seperti pengadilan militer yang sunyi. Ayahnya, seorang taipan properti yang gila kerja, menghabiskan seluruh waktunya di luar negeri untuk memperluas imperium bisnis, sementara ibunya—seorang wanita sosialita berdarah dingin—hidup dalam dunianya sendiri yang penuh dengan pesta malam, botol-botol anggur mahal, dan deretan pria asing yang silih berganti singgah di kamar tidur utama.

Pertengkaran hebat adalah menu harian di rumah itu. Suara pecahan piring, teriakan kebencian, dan tangisan histeris sang ibu sering kali menjadi dongeng pengantar tidur bagi Grayson kecil. Ia terbiasa duduk meringkuk di sudut tangga lantai dua, memeluk kedua lututnya dalam gelap, mendengarkan bagaimana kedua orang yang seharusnya melindunginya saling mencaci dan melempar kesalahan.

Puncaknya terjadi pada musim panas sepuluh tahun lalu, ketika Grayson berusia sepuluh tahun.

Malam itu, hujan turun dengan sangat deras. Tanpa sepatah kata perpisahan, tanpa tangisan penyesalan, kedua orang tuanya memilih untuk mengakhiri pernikahan mereka di atas meja pengadilan. Yang paling diingat oleh Grayson bukanlah surat keputusan cerai yang ditandatangani di atas kertas bermeterai, melainkan cara ibu dan ayahnya memperlakukannya setelah perceraian itu disahkan: mereka memperebutkan hak asuh bukan karena menginginkannya, melainkan karena tidak ada yang mau direpotkan oleh kehadirannya.

Pada akhirnya, kesepakatan dingin dicapai. Grayson diserahkan sepenuhnya kepada para pengasuh bayaran di rumah megah itu, sementara kedua orang tuanya masing-masing pergi membawa pasangan baru mereka ke belahan dunia yang berbeda.

“Kamu sudah besar, Grayson,” ucap sang ibu dingin sebelum melangkah keluar rumah dengan koper mahalnya. “Gunakan kartu hitam ini untuk semua kebutuhanmu. Jangan ganggu hidupku lagi.”

Sejak hari itu, Grayson tinggal sendirian di dalam sangkar megah yang sunyi.

Kesendirian yang panjang itu perlahan-lahan mengubah cara pandangnya terhadap dunia. Manusia, bagi Grayson, adalah makhluk egois yang rapuh dan mudah hancur. Hubungan kasih sayang hanyalah ilusi semu yang diciptakan untuk menutupi kelemahan. Di dunia ini, tidak ada satu pun hal yang benar-benar abadi atau bisa dipercaya—kecuali kekuatan, kendali, dan kepemilikan mutlak. Jika kamu ingin memiliki sesuatu agar tidak pernah ditinggalkan, maka kamu harus menguncinya rapat-rapat di bawah kuasamu sendiri, menjadikannya milikmu seutuhnya tanpa ada celah bagi dunia luar untuk merusaknya.

Prinsip hidup yang dingin itu terus mengakar di dalam jiwanya hingga ia tumbuh menjadi remaja berandalan yang disegani sekaligus ditakuti. Grayson tidak pernah tertarik pada perempuan mana pun. Hubungan asmara di kalangan teman-teman sebayanya ia anggap sebagai lelucon yang memuakkan—sebuah drama murahan tentang kebohongan manis yang akan berakhir dengan pengkhianatan begitu kebosanan melanda.

Sampai akhirnya, hari itu datang. Sebuah hari biasa di awal tahun ajaran baru, di bawah langit kota Samarinda yang mendung, yang selamanya mengubah arah rotasi kehidupan Grayson.

Saat itu, Grayson baru saja memindahkan berkas administrasinya ke SMA Tunas Bangsa—sebuah sekolah swasta elit tempat ia dipaksa menempuh sisa masa remajanya demi formalitas sosial sang ayah. Di tengah kerumunan siswa baru yang sibuk mencari papan pengumuman kelas, perhatian Grayson tidak sengaja teralih oleh keributan kecil di dekat gerbang samping sekolah.

Seorang gadis berambut hitam panjang sebahu sedang berjongkok di samping sebuah sepeda keranjang berwarna biru muda yang rantainya lepas. Seragam putih abunya tampak sedikit kusut, dan beberapa lembar buku catatan berhamburan di atas genangan air hujan kecil akibat tersenggol oleh siswa lain yang berlari terburu-buru.

Gadis itu adalah Aurelia Calista.

Alih-alih marah atau menangis histeris seperti kebanyakan remaja manja seusianya, Aurelia justru menghela napas panjang, menggigit bibir bawahnya, lalu dengan sabar memunguti satu per satu bukunya yang basah. Jemarinya yang lentik tampak kotor terkena noda oli hitam dari rantai sepedanya, namun di sela-sela kesusahannya itu, sudut bibir gadis tersebut justru tersenyum tipis—sebuah senyuman tulus yang memancarkan ketulusan hidup, kehangatan jiwa, dan secercah cahaya yang begitu asing di mata Grayson.

Untuk pertama kalinya dalam seumur hidupnya, detak jantung Grayson melewatkan satu ketukan.

Ia berdiri terpaku di balik pilar besar koridor sekolah, mengabaikan panggilan Rian dan Satya di belakangnya. Sepasang bola mata amber-nya terpaku sepenuhnya pada sosok Aurelia. Ada sesuatu yang sangat kontras pada diri gadis itu. Di saat dunia luar dipenuhi oleh kepalsuan, topeng sosial, dan kelicikan, Aurelia berdiri di sana dengan membawa kehangatan yang begitu murni—kehangatan dari sebuah keluarga utuh yang penuh cinta, dari kamar tidur yang dihiasi poster-poster impian masa remaja, dan dari tawa tulus bersama sahabat-sahabatnya.

Grayson terpana bukan sekadar karena kecantikan fisik Aurelia. Ia terpana oleh hidup yang terpancar dari diri gadis itu. Sebuah kehidupan yang tidak pernah ia miliki, tidak pernah ia rasakan, dan seketika itu juga... ingin ia renggut untuk menjadi bagian dari miliknya.

Sejak detik itu, rasa tertarik yang biasa berubah menjadi benih-benih obsesi yang tumbuh dengan sangat cepat di dalam kepala Grayson.

Ia mulai mengerahkan seluruh sumber daya dan uangnya. Dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam, meja kerja pribadi Grayson di penthouse dipenuhi oleh ratusan berkas tentang Aurelia. Ia membaca setiap catatan harian masa kecil gadis itu, mengetahui nama kedua orang tuanya, menghafal rute jalan pulang sekolahnya, hingga memahami setiap detail kecil tentang apa yang membuat Aurelia tersenyum maupun bersedih.

Semakin dalam Grayson menyelami kehidupan Aurelia, semakin kuat pula rasa haus di dalam dirinya. Ia melihat bagaimana Tuan Bayu memeluk putrinya setiap malam, bagaimana Lila menyambut kepulangan Aurelia dengan masakan hangat, dan bagaimana gadis itu tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan kasih sayang yang tulus.

Bagi kebanyakan orang normal, melihat kebahagiaan orang lain akan memunculkan rasa segan untuk mengganggu. Namun bagi jiwa Grayson yang telah rusak sejak masa kecilnya akibat perceraian dan penelantaran orang tua, pemandangan itu justru memunculkan dorongan gelap yang destruktif.

Kenapa dia bisa memiliki kehangatan itu sementara aku dibuang di kegelapan? bisik suara batin Grayson setiap kali ia mengamati foto Aurelia tersenyum bersama keluarganya. Kenapa dunia begitu adil pada gadis itu, sementara aku hidup dalam kehampaan?

Rasa iri itu perlahan bergeser menjadi sebuah keyakinan yang menyimpang: Jika aku tidak bisa merasakan kehangatan itu secara alami, maka aku harus merebut sumber kehangatannya. Aku harus menjadi satu-satunya dunia bagi Aurelia.

Itulah alasan utama mengapa Grayson merancang rencana keji di balik kecelakaan Bayu. Ia tidak sekadar ingin memiliki Aurelia sebagai kekasih; ia ingin menghancurkan seluruh fondasi kebahagiaan luar yang selama ini melindungi gadis itu. Ia ingin merobohkan benteng keluarga yang hangat, memutus tali sandaran sosialnya, mengisolasi Aurelia dari teman-temannya, dan memastikan bahwa saat gadis itu menoleh ke sekelilingnya dan mendapati dunia telah runtuh, hanya ada satu sosok yang berdiri di sana—dirinya.

Grayson ingin menjadi penyelamat sekaligus algojo dalam hidup Aurelia. Ia ingin gadis itu mencintainya bukan karena pilihan yang bebas, melainkan karena tidak ada lagi tempat lain di dunia ini yang bisa memberinya perlindungan selain pelukan sang iblis yang telah menghancurkan hidupnya.

Kembali ke masa kini, di dalam ruang utama vila mewah di pinggiran kota Samarinda yang sunyi.

Hujan di luar masih turun dengan rintik yang teratur, membasahi kaca jendela besar yang menghadap ke arah halaman belakang yang dipenuhi pepohonan tropis lebat. Di dalam ruangan yang remang-remang itu, Grayson berdiri di dekat jendela, memegang segelas whisky tua yang bergemerincing di dalam gelas kristalnya.

Di atas sofa beludru merah tua di tengah ruangan, Aurelia duduk meringkuk sendirian. Dress putih sederhana yang dipakainya saat akad nikah rahasia tadi kini terasa bagaikan belenggu besi yang menyesakkan dada. Air matanya sudah mengering, meninggalkan jejak garis putih di pipinya yang pucat, sementara tatapan matanya kosong menatap lantai marmer yang mengkilap.

Grayson membalikkan badan perlahan. Ia meneguk minumannya dalam sekali teguk, lalu meletakkan gelas kosong itu di atas meja kayu di dekatnya. Langkah kakinya yang tidak bersuara mendekati sofa tempat Aurelia duduk.

Begitu bayangan tubuh tinggi Grayson menutupi sumber cahaya lampu, Aurelia secara refleks menegakkan punggungnya, menolak untuk mendongak, namun seluruh otot di tubuhnya menegang kaku bagai busur panah yang ditarik maksimal.

Grayson berhenti tepat di hadapan sang istri baru. Ia berjongkok, menyamakan tinggi matanya dengan Aurelia, lalu dengan sangat perlahan mengulurkan tangan untuk menyentuh pipi mulus gadis itu.

Aurelia tidak menepis sentuhan itu. Ia tahu melawan sekarang adalah hal yang sia-sia. Nyawa ayahnya ada di tangan pemuda ini, dan ikatan suci di atas kertas bermeterai telah merenggut seluruh hak atas masa depannya.

"Kenapa kamu harus selikik ini, Grayson...?" bisik Aurelia akhirnya, suaranya terdengar begitu serak, hancur, dan sarat akan kepedihan yang teramat dalam. "Apa kurangnya dunia di luar sana buat kamu, sampai kamu harus menghancurkan hidupku... menghancurkan keluargaku... hanya untuk mengurung aku di tempat ini?"

Mendengar pertanyaan itu, Grayson tidak marah. Sudut bibirnya justru terangkat membentuk sebuah senyuman tipis yang menyiratkan kedalaman luka masa lalu yang tidak pernah bisa disembuhkan oleh siapa pun.

Jemari Grayson membelai pipi Aurelia dengan kelembutan yang sangat kontras dengan kekejaman perbuatannya.

"Kamu tidak akan pernah mengerti, Wife," bisik Grayson rendah, suaranya begitu menghanyutkan sekaligus menakutkan di dalam keheningan vila tersebut. "Dunia di luar sana penuh dengan kebohongan. Orang-orang sepertiku... kami tidak diciptakan untuk melihat orang lain bahagia di atas reruntuhan jiwa kami sendiri."

Grayson mendekatkan wajahnya, mengecup kening Aurelia sekali lagi dengan penuh kepemilikan.

"Kamu adalah satu-satunya hal di dunia ini yang kusesuaikan dengan takdirku, Aurelia," lanjut Grayson lirih tepat di telinga istrinya. "Rumah ini boleh sunyi. Di luar sana, dunia boleh mengira kamu hilang atau menderita karena musibah. Tapi di sini, di dalam pelukanku... kamu aman. Karena mulai detik ini, hidupmu, napasmu, dan air matamu... adalah milik Grayson Balindra... selamanya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!