NovelToon NovelToon
System Penyesalan Seorang Ibu.

System Penyesalan Seorang Ibu.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Single Mom / Reinkarnasi
Popularitas:359
Nilai: 5
Nama Author: james 9870

Dendam membuat Clara menukar bayinya dengan bayi sahabat yang mengkhianatinya. Ia membesarkan anak musuhnya dalam penderitaan, sementara sang musuh membesarkan darah daging Clara dalam kebohongan.
Belasan tahun kemudian, ego dan intrik kotor mereka memicu kutukan berdarah. Tanpa sadar, kedua ibu ini justru merancang neraka yang menghancurkan nyawa anak Dan diri mereka sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon james 9870, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Sang Tuan Putri dan Gadis Kecil di Seberang Benua

​Udara kelabu musim gugur kota London menyambut langkah Adrian dengan embusan angin dingin yang seakan mampu menusuk hingga ke tulang sumsum. Sepatu kulit mahalnya berderap pelan namun berwibawa di atas pelataran marmer rumah megah bergaya Victorian yang telah berdiri kokoh selama berabad-abad. Bangunan raksasa dengan pilar-pilar batu berukir rumit itu adalah kediaman utama keluarganya di Inggris, sebuah simbol kekuasaan dan kekayaan yang tak tertandingi. Namun, bagi Adrian yang baru saja merasakan kebebasan sejati, debu jalanan, dan kerasnya perjuangan hidup di Indonesia, rumah megah ini tak lebih dari sebuah sangkar emas raksasa yang dingin. Kepulangannya ke Inggris bukanlah untuk sebuah liburan keluarga yang menyenangkan, melainkan awal dari tempaan keras tanpa ampun untuk mengambil alih tampuk kekuasaan perusahaan multinasional milik ayahnya.

​Baru saja pelayan berseragam rapi mengambil alih mantel panjang dan koper-kopernya, sebuah suara riang memecah keheningan lobi utama yang biasanya sangat kaku dan formal tersebut.

​Seorang gadis muda yang luar biasa cantik berlari kecil menuruni tangga melingkar berlapis karpet merah tua. Ia mengenakan gaun sutra berwarna pastel yang melambai anggun mengikuti setiap pergerakannya, dipadukan dengan perhiasan berlian kecil yang berkilau di leher dan telinganya. Gadis itu adalah Elena. Ia bukan anggota keluarga sedarah, melainkan cucu kesayangan dari Kakek Suryo, salah satu taipan paling berpengaruh dan rekan bisnis tertua sekaligus terpenting bagi ayah Adrian. Kehadiran Elena di rumah kediaman keluarga Adrian di London ini bukanlah sekadar sebagai tamu kehormatan yang sedang berlibur. Ia ditempatkan di sana di bawah sebuah kesepakatan tak tertulis namun sangat dipahami oleh kedua belah pihak keluarga besar, sebagai calon tunangan Adrian. Sebuah aliansi bisnis yang dibalut dalam ikatan pernikahan masa depan.

​"Kak Adrian! Akhirnya Kakak pulang juga!" seru Elena dengan mata berbinar-binar penuh kegembiraan. Tanpa memedulikan tatapan para pelayan, ia menghambur ke arah Adrian dan merengkuh lengan pemuda itu dengan pelukan hangat dan penuh keakraban.

​Gadis itu mendongak, menatap wajah Adrian dengan kekaguman yang tak pernah sedikit pun ia sembunyikan dari dunia. Elena mencintai Adrian dengan sepenuh hati. Sejak mereka masih remaja, ia selalu memuja setiap inci dari wibawa, ketampanan, dan kecerdasan sang pewaris takhta ini. Baginya, Adrian adalah pusat semestanya, dan gagasan bahwa ia akan menjadi pendamping hidup pemuda itu kelak adalah mimpi indah yang selalu ia jaga setiap malam.

​Namun, realitas yang terjadi tidak seindah bayangan Elena. Alih-alih membalas pelukan hangat itu dengan intensitas yang sama atau setidaknya keintiman seorang kekasih yang lama tak bersua, Adrian justru merespons dengan cara yang sangat berbeda. Dengan gerakan yang sangat halus, sopan, namun sangat tegas, Adrian melepaskan kaitan tangan Elena dari lengannya. Ia menatap gadis itu dan tersenyum. Namun itu bukanlah senyum seorang pria kepada wanita yang dicintainya; itu adalah senyuman sopan, kaku, dan sama sekali tidak mencapai sorot matanya yang tajam.

​Baginya, Elena tidak lebih dari seorang adik perempuan. Adrian tahu betul tentang rencana perjodohan konyol yang dirancang oleh ayahnya dan Kakek Suryo. Namun, Adrian adalah pria yang memegang kendali atas hatinya sendiri. Ia tidak akan pernah membiarkan bisnis mendikte siapa yang harus ia cintai. Untuk menjaga hubungan baik kedua keluarga tanpa harus memberikan harapan palsu, Adrian menciptakan sebuah dinding pembatas yang halus namun kokoh di antara mereka.

​"Kau terlihat sangat sehat dan ceria, Tuan Putri," sapa Adrian lembut, mengangkat tangannya untuk mengacak pelan puncak kepala Elena, persis seperti yang dilakukan seorang kakak laki-laki kepada adik kecilnya.

​Panggilan itu "Tuan Putri" selalu ia gunakan setiap kali berinteraksi dengan Elena. Di telinga orang luar, panggilan itu mungkin terdengar seperti rayuan manis. Namun bagi Adrian, itu adalah sebuah batasan psikologis yang ia tegaskan setiap hari. Sebuah pengingat agar Elena mengerti posisinya di mata Adrian: seseorang yang sangat dihormati keluarganya, disayangi sebagai bagian dari lingkaran dalam, diperlakukan layaknya bangsawan, namun bukan, dan tidak akan pernah menjadi, pemilik hatinya.

​Hari-hari pertama di London berlalu dengan rutinitas yang seolah dirancang untuk mencekik kewarasan. Adrian langsung dilemparkan ke dalam kancah medan perang bisnis tingkat tinggi. Ia menghabiskan belasan jam sehari tenggelam dalam tumpukan dokumen akuisisi, rapat direksi yang penuh ketegangan, dan analisis pasar global yang menguras seluruh kapasitas otaknya. Wajahnya berubah menjadi topeng es yang tak tertembus. Ia dikenal di kantor pusat sebagai eksekutif muda yang dingin, kalkulatif, dan tanpa ampun.

​Namun, ketika malam tiba dan ia mengunci pintu ruang kerja pribadinya di rumah, topeng es itu mencair. Di tengah keheningan malam London yang beku, satu-satunya pelarian, sumber kewarasan, dan detak jantungnya hanyalah sebuah layar ponsel. Ia selalu menyempatkan diri, tidak peduli seberapa lelah tubuh dan pikirannya, untuk melakukan panggilan video (video call) dengan seseorang yang berada di belahan bumi lain, seseorang yang terpaut zona waktu dan kasta sosial yang sangat jauh.

​"Jadi, coba katakan padaku, apakah kau masih menyimpan kompas berkarat dan jas hujan kuning konyol itu di dalam tas kerjamu, Gadis Kecil?" ledek Adrian pada layar ponselnya. Tawanya meledak bebas, sebuah tawa yang begitu lepas, hangat, dan menggemakan kebahagiaan sejati yang tak pernah sekalipun ia tunjukkan di hadapan ayah, staf, atau bahkan Elena.

​Di seberang panggilan video tersebut, layar menampilkan wajah seorang gadis dengan rambut yang diikat asal-asalan, memakai kaus pudar yang sangat sederhana, dengan latar belakang sebuah kamar petak yang dindingnya mulai mengelupas. Gadis itu membalas ledekan Adrian dengan cibiran jenaka dan putaran bola mata yang membuat Adrian semakin tergelak.

​"Tentu saja masih kusimpan, Senior Sombong! Kau pikir siapa yang akan menyelamatkanmu jika kau tiba-tiba diculik alien di London sana? Tentu saja aku dan kompas setiaku!" balas gadis itu dari seberang sana.

​Obrolan mereka mengalir begitu saja, tanpa beban, tanpa pretensi. Mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk membicarakan hal-hal konyol seperti cuaca kota yang buruk, resep masakan yang gagal, atau berdebat tentang film murahan. Di saat itulah, Adrian merasa benar-benar hidup. Panggilan Gadis Kecil itu selalu mengucur dari bibir Adrian dengan nada penuh kasih sayang, kerinduan, dan rasa hormat yang luar biasa dalam. Baginya, gadis di layar itu adalah jangkarnya, rumah tempat hatinya benar-benar pulang.

​Namun, kebahagiaan rahasia itu tidak sepenuhnya tak terlihat. Di balik celah pintu ruang baca keluarga yang secara tak sengaja sedikit terbuka malam itu, Elena berdiri mematung dalam bayang-bayang. Tangannya bergetar hebat saat memegang nampan perak berisi secangkir teh chamomile hangat yang awalnya ingin ia bawakan sebagai bentuk perhatian untuk Adrian yang bekerja lembur.

​Jantung Elena berdegup kencang hingga rasanya menyakitkan dada. Melalui celah pintu itu, ia melihat Adrian tertawa. Ia belum pernah seumur hidupnya melihat Adrian tertawa selebar, sebebas, dan setulus itu. Wajah dingin, profesional, dan berwibawa yang selalu Adrian tunjukkan padanya selama ini runtuh seketika dan digantikan oleh kelembutan yang luar biasa saat berhadapan dengan layar ponsel tersebut. Perasaan cemburu yang gelap, pekat, dan menyesakkan perlahan mulai merambat naik, melilit dada dan pikiran Elena layaknya sulur beracun. Ia merasa dikalahkan oleh sosok tak kasatmata yang berada di dalam genggaman tangan pemuda itu.

​Hari-hari berikutnya menjadi siksaan batin yang tak tertahankan bagi Elena. Senyum Adrian kepada layar ponsel itu terus menghantuinya setiap kali ia menutup mata. Ia merasa posisinya sebagai calon tunangan seolah tak ada artinya. Hingga akhirnya, pada satu malam musim dingin di mana badai salju mulai turun menyelimuti London, pertahanan Elena runtuh.

​Saat itu, mereka berdua sedang duduk berhadapan di ruang baca utama keluarga yang dihangatkan oleh perapian besar. Elena berpura-pura membaca sebuah novel klasik di pangkuannya, sementara Adrian tampak sangat fokus membaca laporan keuangan kuartal perusahaan. Keheningan ruangan itu hanya dipecahkan oleh bunyi gemeretak kayu bakar. Elena tidak bisa lagi menahan gejolak hatinya yang seolah ingin meledak. Ia meletakkan bukunya dengan gerakan sedikit kasar.

​"Kak," panggil Elena pelan, suaranya sedikit bergetar, mencoba mencari keberanian di tengah udara yang tiba-tiba terasa mencekik. "Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu. Dan aku butuh kejujuranmu."

​Gerakan tangan Adrian yang sedang membalik halaman dokumen terhenti di udara. Ia perlahan menurunkan kertas-kertas itu dan mengangkat wajahnya. Ia menatap lurus ke dalam sepasang mata Elena. Di sana, Adrian bisa melihat badai emosi yang berkecamuk—harapan yang rapuh bercampur dengan ketakutan yang mendalam. Adrian tahu momen ini akan datang. Dan ia tahu, sebagai seorang pria sejati, ia harus menghentikan harapan kosong ini malam ini juga, sebelum menyakiti Elena lebih jauh di masa depan.

​"Silakan, Elena. Bertanyalah," jawab Adrian dengan nada tenang dan berat.

​Elena menarik napas panjang, menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. "Selama ini... kita tinggal di atap yang sama. Kakek dan Paman sudah membicarakan masa depan kita. Tapi... setiap malam, aku melihatmu tersenyum pada ponselmu dengan cara yang tidak pernah kau tunjukkan pada siapa pun di sini." Suaranya memelan, nyaris seperti bisikan putus asa. "Apakah... adakah wanita yang Kakak cintai? Seseorang yang sudah mengisi hatimu sebelum kau datang ke sini?"

​Keheningan yang memekakkan telinga menguasai ruangan itu selama beberapa detik. Adrian tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Elena. Ia tidak berniat berbohong, tidak berniat menghibur dengan janji palsu, dan tidak berniat menyembunyikan kebenaran. Dengan helaan napas yang tenang namun sarat akan kepastian yang mutlak, Adrian bersandar di kursi kulitnya.

​"Ada," jawab Adrian dengan suara yang sangat tegas, jernih, dan bergema di seluruh sudut ruangan. "Sang little girl. Aku sudah mencintainya sejak lama. Jauh sebelum aku kembali ke kota ini."

​Kata-kata itu menghantam dada Elena bagai godam baja tak kasatmata. Udara di sekitarnya seakan tersedot habis. Adrian tidak menutupi apa pun. Pemuda itu telah mengunci hatinya dengan rapat, dan kuncinya telah diserahkan kepada sosok misterius bernama little girl itu jauh sebelum Elena memiliki kesempatan untuk berjuang. Di malam bersalju itu, dunia Elena runtuh dalam keheningan yang paling menyakitkan.

​.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!