Arya Arsyad Sikumbang adalah seorang pemuda perantauan.Ia mengadu nasib di Kota besar dan akhirnya dia terjerumus ke dalam Sindikat Para Mafia Internasional.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hendry Octavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meniti Jalan Di Lereng Singgalang
Lereng Bawah Bukit Singgalang, Tahun 1973
(tempat yang kini orang sebut Pos Satu)
Setiap hari, begitu bel sekolah berhenti berbunyi dan tas buku yang masih terasa berat tergantung di punggung, kelima anak itu sudah tahu apa yang menanti. Latihan dimulai tepat sepulang mereka dari Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama, sampai usia mereka menginjak empat belas tahun, saat matahari sudah condong ke tengah siang, menyinari lereng bawah Bukit Singgalang dengan terik yang seolah ingin memanggang kulit.
Dulu orang tidak menyebutnya Pos Satu. Istilah Pos Satu, Pos Dua, Pos Tiga itu belum ada di tahun 1973. Tempat itu hanya disebut orang kampung sebagai pangkal bukit, di bawah batang pinus gadang, tempat di mana ladang terakhir milik warga berbatas dengan rimbo, tempat di mana tanah mulai berubah dari tanah kebun yang gembur menjadi tanah hutan yang berbatu dan berakar. Udara terasa panas dan kering, debu beterbangan setiap kali melangkah, dan angin yang berhembus pun terasa hangat membakar tenggorokan. Perut baru saja terisi nasi dan lauk setelah makan siang, pikiran masih lelah mencerna pelajaran hitungan dan huruf, tapi mereka tetap harus melangkahkan kaki menuju jalur tanjakan yang sudah menjadi tempat ujian mereka sehari-hari.
Kelima anak itu adalah keluarga besar. Andi Rajo Alam Sikumbang, yang paling tua, sudah SMP, anak dari Siti Aminah Sikumbang dan Abdullah bin Rais Payobadar. Adiknya Arlan Rasyad Sikumbang, SD Kelas 4, dan si bungsu yang istimewa Arya Arsyad Sikumbang, baru 8 tahun tapi sudah Kelas 4 SD karena kecerdasannya melompat. Dan dua lagi adalah anak kandung dari guru mereka sendiri, Usman Bin Rauf Sikumbang dan istrinya Rismawati Chaniago: Ibrahim Sulaiman Chaniago yang SMP, tubuhnya paling besar, dan Darlin Aminuddin Chaniago yang SD Kelas 4, paling kecil dan paling keras kepala. Dua memanggil Usman dengan Ayah, tiga memanggil Paman. Tapi di lereng itu, semua sama: murid.
Berbulan-bulan lamanya rutinitas ini berjalan. Awalnya, hanya lari naik turun dari pangkal bukit itu sampai ke punggung bukit, tempat ada batu datar besar untuk istirahat, lalu kembali lagi ke bawah, diulang sampai lima kali putaran dalam satu hari. Tidak ada yang menyuruh, tapi mereka tahu, kalau tidak selesai lima putaran, Usman tidak akan membiarkan mereka pulang untuk mengaji di surau.
Rasanya seperti disuruh memanjat dinding yang tidak punya ujung. Napas terengah-engah bagaikan kuda yang baru dipacu jauh dari Pandai Sikek sampai ke Koto Baru, dada terasa sesak seolah diikat tali rafia, dan kaki terasa berat seolah diikatkan batu kilangan besar. Setiap tanjakan terasa sama, setiap belokan terasa menipu, seolah puncak sudah dekat padahal masih jauh. Sampai-sampai Andi Rajo Alam Sikumbang, sebagai yang paling tua dan paling banyak berpikir, pernah mengeluh dalam hati, apakah Paman Usman sengaja memilih jalan paling curam di seluruh Singgalang hanya untuk membuat mereka menderita, untuk membalas dendam karena mereka sering ribut di halaman.
Namun seiring waktu, tubuh mereka perlahan beradaptasi. Itulah keajaiban tubuh anak-anak kampung. Apa yang dulu terasa mustahil, kini mulai terasa seperti rutinitas biasa. Napas yang dulu terputus-putus dan ngos-ngosan, kini mengalir lebih teratur meski di bawah terik matahari. Langkah yang dulu sering tergelincir dan goyah di tanah berbatu yang licin oleh lumut, kini melangkah lebih mantap dan ringan. Otot betis mereka mulai mengeras, telapak kaki mereka mulai menebal. Kalau dulu mereka butuh hampir satu jam untuk satu putaran, kini setengah jam sudah sampai.
Sampai suatu siang yang teriknya luar biasa, ketika langit tidak ada awan sama sekali dan matahari tepat di atas ubun-ubun, Usman Bin Rauf Sikumbang memerintahkan mereka naik turun lereng itu sebanyak lima kali berturut-turut tanpa jeda panjang, hanya minum seteguk dari kendi bambu. Tidak ada lagi keluhan yang keluar dari mulut mereka. Meskipun keringat membasahi seluruh badan, baju mereka sudah bisa diperas, dan pakaian ganti di dalam tas kain sudah basah kuyup sebelum dipakai, mereka melakukannya dengan kepala terangkat, merasa bangga seolah sudah menjadi pendekar cilik yang tak terkalahkan. Ibrahim yang paling besar bahkan sempat berlari sambil menggendong Darlin yang kelelahan di putaran keempat.
Tapi bagi Usman, itu baru permulaan. Ia adalah ayah sekaligus guru, mamak sekaligus pandeka, yang paham betul: kekuatan yang hanya muncul saat kondisi enak dan segar, belumlah cukup untuk menghadapi kerasnya kehidupan. Kekuatan sejati bukan diukur saat perut kenyang dan cuaca sejuk, tapi saat perut lapar, badan lelah, dan matahari membakar.
Saat kelima anak itu baru saja sampai di tempat peristirahatan — sebuah batu datar di bawah pohon pinus gadang yang rindang — dan mencoba mengatur napas yang masih memburu, dada naik turun, keringat menetes-netes dari ujung hidung, ia berdiri tegak di hadapan mereka dengan wajah tenang, seolah baru saja punya ide baru yang “menyenangkan”. Di matanya ada kilatan iseng yang sudah sangat mereka hafal.
“Cukuik sampai disinan se?” tanyanya dengan nada datar, seolah apa yang baru mereka capai, lima putaran tanpa henti itu, hanyalah hal sepele, seperti baru selesai menyapu halaman.
"Kok lah maraso cukuik, siap-siap lah. Kini turun baliak ka bawah, lalu naik sakali lai ka lereng ko. Tapi kini, pakailah ko.”
Dari balik punggungnya, dari dalam karung goni yang ia bawa, Usman mengeluarkan lima pasang terompah kayu yang tebal, keras, dan terlihat berat. Terompah itu bukan terompah biasa untuk ke surau. Terbuat dari kayu jua pilihan yang tidak mudah lapuk, kayu yang sengaja direndam berhari-hari agar beratnya bertambah. Alasnya kasar, tidak rata, tidak diamplas, dan jauh dari rasa empuk seperti alas kaki biasa. Talinya hanya dari kulit kerbau yang diikat simpul mati. Begitu melihat benda itu, wajah kelima anak itu langsung berubah — persis seperti murid yang baru mendengar ada ujian tambahan di hari terakhir sekolah, padahal sudah berencana bermain bola.
"Adoeh Apo Lai?” gumam Darlin Aminuddin Chaniago pelan, matanya melotot melihat terompah itu, mulutnya terbuka. Ia yang paling kecil, jadi terompah itu terlihat hampir sebesar kakinya sendiri.
Tanpa banyak bicara, mereka pun mengenakannya. Perintah Usman tidak pernah bisa dibantah. Begitu telapak kaki menyentuh permukaan kayu yang kaku itu, rasanya langsung terasa aneh dan menyiksa. Kayu itu keras, tidak mengikuti bentuk telapak kaki. Setiap kali melangkah, alas kayu itu menghantam tanah berbatu dan akar pohon, menimbulkan getaran yang menjalar hingga ke tulang kering, sampai ke lutut, sampai ke gigi. Ditambah lagi panasnya tanah yang terbakar matahari seharian merembes naik lewat kayu itu, membuat setiap hentakan terasa seperti menginjak loyang yang masih panas dari tungku Rismawati Chaniago.
Di antara kelimanya, Andi Rajo Alam Sikumbang adalah yang paling cepat meluapkan rasa kesalnya. Sebagai anak sulung dari Siti Aminah dan Abdullah bin Rais Payobadar, ia merasa harus membela adik-adiknya. Ia sudah berusaha sabar selama berbulan-bulan, tapi kali ini rasanya sudah di luar batas wajar. Ia baru saja menghabiskan tenaga untuk belajar di SMP, otaknya lelah menghafal, lalu dipacu lari naik turun bukit lima kali, dan sekarang harus melangkah memakai alas kaki yang terasa seperti dipukul-pukul kakinya sendiri setiap langkah. Ia berhenti sejenak di tengah tanjakan pertama, lalu menghentakkan kakinya dengan keras ke tanah hingga terdengar bunyi dug! dug! dug! yang nyaring, memantul di antara batang pinus.
Ia menoleh ke arah pamannya dengan wajah memerah, napasnya memburu, pelipisnya berkeringat deras, lalu berteriak dengan suara lantang setengah marah dan setengah mengeluh, suara yang sudah ia tahan sejak tadi.
"Paman! Iko rancanonyo amuah mambunuah kito limo pelan-pelan, atau latihan Silek Minangkabau?! Katonyo amuah manampo jadi pendekar, tapi rasonyo labiah sarupo disikso hari-hari! Ambo baru pulang sakola, paruik masih raso kanyang, dan tenaga se indak puliah sempurna! Kalau macam ko taruih, nanti indak jadi jago silek, tapi jadi urang nan jalan sambil pincang salamo-lamonyo!”
Teriakannya membuat burung-burung kecil terbang dari semak. Arlan, Arya, Ibrahim, dan Darlin terdiam, menatap Andi dengan cemas, takut Paman Usman akan marah besar.
Namun reaksi Usman justru membuat Andi makin bingung dan kesal. Sang paman tidak marah, tidak juga memarahi dengan keras atau memukul dengan rotan seperti guru-guru lain di zaman itu. Ia hanya berdiri diam dengan wajah tenang, kedua tangannya di belakang punggung, bahkan di sudut bibirnya terukir senyum tipis yang terasa sangat mengganggu, seolah sedang menonton pertunjukan lucu di siang hari bolong.
"Kok muluik masih kuek mangarau macam tu, bararti tenagamu masih banyak siso,” jawab Usman santai sambil mengangguk pelan, seolah mengevaluasi volume suara Andi.
"Jalan taruih. Nanti baru mangarati guno nyo.”
Mendengar jawaban itu, Andi hanya bisa mendengus panjang, memutar bola mata setinggi mungkin sampai putih matanya terlihat, lalu menggeram pelan dalam hati. Ia tahu betul watak pamannya, yang juga mamaknya: semakin mengeluh, semakin berat tantangan yang akan diberikan. Sambil mengusap keringat yang membanjiri dahi dengan punggung tangan, ia kembali melangkah, meski setiap langkah terasa seperti berjalan di atas kerikil panas yang disebar di atas bara api. Di belakangnya, Arlan, Arya, Ibrahim, dan Darlin hanya bisa saling pandang dengan wajah lelah dan pasrah, lalu mengikuti jejak kakak mereka.
Perjalanan naik kali ini terasa sangat panjang dan menyiksa, sepuluh kali lebih berat dari lima putaran sebelumnya, tapi juga penuh pemandangan yang konyol jika dilihat dari jauh. Terompah kayu membuat keseimbangan tubuh sulit dijaga, memaksa mereka mengerahkan tenaga ekstra hanya untuk tetap berdiri tegak, belum lagi untuk maju ke depan. Kaki harus diangkat lebih tinggi karena terompah sering tersangkut akar. Panas matahari terasa semakin menyengat, membuat napas yang tadinya sudah teratur kembali menjadi pendek dan cepat, seperti napas orang yang sedang sakit.
Andi melangkah sambil mulutnya komat-kamit sendiri, sesekali masih menggerutu soal terompah kayu yang rasanya makin berat saja, seolah kayunya menyerap keringat dan menjadi batu.
Ketika akhirnya bayangan titik tujuan di lereng gunung, batu datar di bawah pinus gadang itu mulai terlihat, tenaga mereka sudah tinggal sedikit sekali, benar-benar tinggal sisa-sisa semangat saja.
Andi Rajo Alam Sikumbang adalah yang pertama tiba. Karena gengsinya sebagai yang tertua, anak dari Abdullah bin Rais Payobadar dan Siti Aminah, ia memaksa diri. Begitu kakinya menginjak tanah yang lebih datar, rasanya seolah ada tali yang menahan tubuhnya tadi tiba-tiba dipotong. Lututnya langsung lemas tanpa peringatan, tubuhnya terhuyung ke belakang, lalu plop! ia ambruk begitu saja ke atas tanah dan rumput tanpa sempat mencari tumpuan apa pun. Ia tergeletak telentang, kedua tangan terentang lebar seperti bintang laut, dadanya naik turun dengan cepat, napasnya terengah-engah keras sekali seolah ingin menghirup seluruh udara yang ada di sekitarnya.
"Hah… hah… hah… rasonyo sadonyo tulang di badan amuah lacop…” keluhnya dengan suara tersengal, matanya terpejam rapat, tidak sanggup mengangkat kepala.
Tidak lama kemudian tibalah Arlan Rasyad Sikumbang, adik kandung Andi. Ia sudah terlihat terhuyung-huyung sejak jarak sepuluh langkah lagi. Wajahnya yang biasanya tenang kini pucat. Begitu sampai di tempat itu, kakinya terasa gemetar hebat dan hampir tidak sanggup berdiri. Daripada ambruk jatuh seperti kakaknya, ia langsung bergerak cepat meraih batang pohon pinus terdekat, lalu memeluknya erat-erat seolah itu adalah tiang penyelamat satu-satunya di dunia. Tapi baru saja badannya menempel di pohon, perutnya yang terasa berputar karena panas, lelah, dan guncangan perjalanan itu tak bisa ditahan lagi. Wajahnya langsung memucat, matanya terbelalak, dan dalam sekejap ia langsung membungkuk lalu muntah-muntah dengan hebat sampai rasanya seluruh isi makan siang, nasi dan gulai paku yang dimasak Rismawati tadi, seolah ingin keluar semua.
Ia terbatuk-batuk keras, air matanya menetes bukan karena sedih tapi karena desakan di perut, sambil tetap memegang batang pohon agar tidak roboh.
"Ya ampuun… rasonyo paruik amuah tabaliak… syukuah ado pohon ko, kalau indak ambo lah ikuik tagolek jo muntah di tanah sarupo karuang bocor…”
Yang ketiga adalah Arya Arsyad Sikumbang. Meski ia anak cerdas istimewa, usia 8 tahun yang sudah Kelas 4 SD, fisiknya tetap 8 tahun. Ia datang dengan pemandangan yang paling menyedihkan sekaligus lucu. Terompah kayunya sebelah putus talinya di tengah jalan karena ia terlalu keras menghentak, sehingga ia berjalan pincang, satu kaki pakai terompah, satu kaki nyeker menginjak kerikil panas. Ia mengomel sambil menahan tangis.
"Alah… putuih pulo tali tarompa ko! Paman Usman! Ambo lah hati-hati bana!"
Lalu datanglah Ibrahim Sulaiman Chaniago, anak kandung sulung Usman Bin Rauf Sikumbang dan Rismawati Chaniago yang sudah SMP. Badannya paling besar, seharusnya paling kuat, tapi justru karena besar, ia paling cepat kehabisan tenaga. Ia tidak lagi bisa berjalan, ia duduk bersila di tengah jalan setapak, kedua tangannya memijat-mijat betisnya yang kram hebat, wajahnya meringis.
"Aduh… karam… karam… rasonyo otot betis ambo lah jadi simpul mati… Ayah… indak bisa bajalan lai…”
Dan yang paling mengundang tawa sekaligus rasa iba adalah kedatangan Darlin Aminuddin Chaniago, anak bungsu Usman dan Rismawati, SD Kelas 4. Ia tertinggal cukup jauh, hampir lima puluh langkah di belakang. Saat terlihat, pemandangannya sungguh konyol dan pas sekali. Kakinya sudah tidak sanggup lagi menahan beban tubuh, terasa lemas dan gemetar hebat sampai tidak bisa melangkah tegak sedikit pun. Kedua tangannya pun ikut gemetar menahan rasa lelah yang luar biasa. Akhirnya, karena tak sanggup lagi memakainya dan kakinya lecet, ia melepas terompah kayu itu dari kakinya — tapi tidak ditinggalkan begitu saja. Ia malah memasukkan dan menggenggam kedua terompah kayu itu erat-erat di kedua tangannya, seolah itu adalah barang pusaka berharga yang tidak boleh hilang walau satu inci pun, karena ia takut dimarahi ayahnya.
Dengan posisi itu, ia tidak bisa lagi berjalan, jadi ia pun merangkak naik seperti bayi yang baru belajar bergerak maju, tangan dan lututnya bergesekan dengan tanah yang masih hangat, celananya sudah kotor semua.
Begitu sampai di dekat mereka, ia langsung terkapar terlentang di samping Andi, terompah kayu masih tergenggam erat di kedua tangannya. Mulutnya terbuka lebar, dadanya naik turun cepat, dan suaranya terdengar parau.
"Iko… iko labiah barek dari pado disuruah mampikia tigo karuang bareh sakali gus… rasonyo tangan jo kaki amuah copot sadonyo… tapi tarompa ko indak buliah tatinggaan, kan Ayah suruok pakai…”
Melihat pemandangan yang konyol tapi menyentuh hati itu — Andi tergeletak lemas seperti orang pingsan, Arlan masih memegang pohon sambil terbatuk setelah muntah, Arya duduk pincang sambil memegang terompah putus, Ibrahim bersila menahan kram, dan Darlin terkapar sambil menggenggam terompah hasil merangkak — Usman Bin Rauf Sikumbang akhirnya berjalan mendekat. Tawanya yang tadi meledak kini berganti menjadi senyum yang lebar dan tulus, bukan lagi senyum mengejek, tapi senyum seorang ayah yang bangga. Ia berjongkok di hadapan mereka, di tengah-tengah lingkaran anak dan kemenakannya, anak dari darahnya dan anak dari adiknya Siti Aminah dan iparnya Abdullah bin Rais Payobadar.
Ia menatap satu per satu wajah mereka yang kotor, berkeringat, dan pucat.
“Tahu indak angku, kok ambo buek latihan sabarek ko sampai raso manyikso?” tanyanya dengan suara pelan, hampir berbisik, tapi terdengar jelas oleh kelimanya.
"Indak untuak manyakik an, tapi untuak mangaja'an ciek hal nan pantiang: kakuatan sasungguahnyo indak hanyo kaliatan katiko badan sagar, paruik kanyang, jo cuaco sadonyo. Kakuatan nan sabananyo baru tauji katiko kalian lah lelah, lapa, kapanehan, dan tenaga lah hampir habih — tapi masih ado kahandak untuak malangkah maju saketek lai. Itu yang membedakan anak jantan jo anak main-main."
Ia menunjuk terompah kayu yang masih digenggam Darlin dengan erat.
"Alaik ko malatiah kaseimbangan jo katahanan tapak kaki angku supayo nanti dapek baridiri kokoh di medan apo sajo. Terompah ko mangaja'an ang supayo indak manja jo alas kaki empuk. Kalau kaki ang kuat di ateh kayu kareh, apolai di ateh tanah lambuik."
"Kalau hari ko Andi dapek sampai walaupun lansuang ambruk, Arlan dapek batahan baganggam pohon walaupun paruiknyo mambarontak, Arya dapek sampai walau tali putuih, Ibrahim dapek batahan walau karam, dan Darlin dapek mangarangkak sampai akhia sambil tetap manjago parintah — itu lah labiah dari cukuik. Itu hebat."
"Lamo-kelamoan, apo nan raso barek hari ko akan raso ringan. Itulah jalan Silek Minangkabau: kareh di awa, panuah kariangik jo pangorbanan, tapi malahian katangguhan nan indak akan mudah goyah saumua iduik. Ingek, harimau tidak lahir di kasur empuk. Harimau lahir di rimbo, di batu karang, di hujan dan panas."
Mendengar penjelasan itu, meski tubuh masih terasa lemas, perih, dan perut masih terasa tidak enak, hati kelima anak itu — Andi, Arlan, Arya anak dari Abdullah bin Rais Payobadar dan Siti Aminah, serta Ibrahim dan Darlin anak dari Usman dan Rismawati — perlahan merasa lebih tenang dan hangat. Mereka mulai sadar, setiap tetes keringat dan rasa lelah hari ini adalah bekal yang tak ternilai untuk menjadi pendekar yang sesungguhnya nanti. Di bawah pinus gadang itu, di lereng bawah Bukit Singgalang tahun 1973, impian mereka tidak lagi hanya sekadar ingin jago berkelahi, tapi ingin menjadi kuat seperti ayah dan paman mereka.