NovelToon NovelToon
CEO Arogan Jatuh Cinta

CEO Arogan Jatuh Cinta

Status: tamat
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: B.E.P

Dave merupakan CEO di perusahaan properti. ia dikenal sabagai bos yang arogan. Setiap penjualan yang tidak mencapai target, ia tidak ragu untuk memecatnya. Sudah banyak karyawan yang menjadi korbannya.

Disisi lain, ada seorang wanita pekerja keras, lembut dan baik hati. Namanya Emma. Ia seorang kurir pengantar pizza.

Emma tinggal bersama dua adiknya yang masih sekolah di SD. Ibunya sudah lama meninggal. Tepatnya saat melahirkan adiknya yang terakhir. Ayahnya adalah seorang penjudi yang selalu kalah. Hutangnya sangat banyak.

Emma memilih tinggal di sebuah apartemen dengan harga sewa yang terjangkau. Ia akan bekerja kerasa untuk memenuhi kebutuhan hidup dan ia tak peduli pada ayahnya.

Perusahaan properti, perkembangannya selalu menurun. Ayahnya Dave, langsung ambil alih pimpinan. Ia menegur keras kearoganan Dave.

Sebagai pembelajaran hidup, ayahnya membuat Dave bekerja ditempat pamannya dan disitulah ia mendapat pelajaran hidup dari Emma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.E.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 9

Sejak pertanyaan balik Dave diperjalanan, sikap Emma lebih dingin dari sebelumnya. Perempuan itu tak banyak bicara terkesan cuek. Ia fokus menata pizza ke atas meja samping dapur.

Dave baru saja kembali dari minimarket terdekat. Ia membeli dua roti dan dua botol minuman dingin yang dibungkus dalam paper bag.

Saat di minimarket, entah kenapa Dave kepikiran Emma. Perempuan itu belum mengisi perutnya siang ini. Akhirnya ia inisiatif membelikannya juga.

"Ini untukmu," ucap Dave sambil mengulurkan satu roti dan satu botol minuman dingin. "Isi dulu perutmu, sebelum lanjut."

"Makan aja, aku tidak lapar," ucap Emma dingin. Ia lalu ambil empat kotak pizza untuk dipindahkan ke delivery box di skuter.

Dave bingung. Kenapa Emma tiba-tiba jadi lebih dingin kepadanya. Ia lalu mengikuti Emma.

"Aku udah belikan untukmu," kata Dave. "Kalau menolak artinya kamu tidak menghargaiku," lanjutnya.

Emma tak menggubris Dave. Setelah sampai ke skuter, ia langsung menata pizza yang dibawa kedalam delivery box. Responnya ini membuat pria itu semakin bingung dengan situasi sekarang.

Kenapa Emma lebih dingin dari sebelumnya ? Apa ada yang salah denganku ? Batin Dave sambil melihat rekannya itu kembali ke meja samping dapur.

Emma kembali kedua kalinya ke skuter sambil membawa beberapa kotak pizza. Setelah ditata rapi didalam delivery box, ia ingin langsung kembali untuk mengambil beberapa pizza yang tersisa. Namun, Dave yang sejak tadi berdiri di dekat skuter, tiba-tiba menarik tangan kirinya. Sontak Emma pun terhenti.

"Emma, makan dulu," ucap Dave. "Aku udah belikan satu untukmu, aku tidak mau kamu lapar," lanjutnya.

Emma tak langsung menjawab ucapan pria itu. Ia terdiam dan menatap Dave yang tampak serius.

"Berhentilah dulu, biar aku yang melanjutkan," ucap Dave sambil menyerahkan satu roti dan satu minuman dingin yang telah dibeli untuk perempuan itu.

Emma tampak menghela napas panjang. Ia berusaha menenangkan situasi perasaannya.

"Sekarang pegang ini dulu," Dave menyerahkan paperbag yang berisi roti dan minumannya ke tangan kanan Emma. "Kamu istirahat dulu, aku akan lanjutkan pekerjaannya," pria itu lalu berjalan menuju meja samping dapur untuk mengambil beberapa kotak pizza yang tersisa.

Emma berdiri diam. Ia masih syok dengan sikap Dave beberapa detik lalu. Entah kenapa sikap dinginnya sedikit demi sedikit berkurang.

...----------------...

"Akhirnya selesai juga," ucap Dave dengan lega setelah meletakkan beberapa kotak pizza terakhir ke dalam delivery box. Ia lalu berjalan menghampiri Emma yang duduk di kursi panjang, tempat duduk yang biasa digunakan untuk kurir menunggu pizza selesai di buat.

"Kenapa roti mu belum dimakan ?" kata Dave saat melihat roti yang ia berikan ke Emma masih utuh disamping perempuan itu.

"Aku menunggumu," jawab Emma.

"Kenapa ?" Dave duduk disamping Emma. "Ternyata kamu khawatir ya denganku," goda pria itu.

Emma seketika memalingkan wajah. "Jangan terlalu percaya diri. Aku hanya ingin kita selesai istirahat bersama dan berangkat bersama,"ucapnya.

"Oke, aku percaya," jawab Dave. Ia mengambil rotinya didalam paperbag dikursi, lalu membukanya. "Tapi kalau kamu memang mengagumiku tidak usah malu untuk mengatakannya. Orang sepertiku sudah selayaknya selalu dikagumi orang,"lanjutnya dengan sikap angkuhnya yang tak pernah surut.

Emma melirik Dave. Pria itu kini sangat menyebalkan lagi. Padahal beberapa detik yang lalu ia mulai bisa menerima Dave sabagai rekan kerja, tapi sekarang ia harus memikirkan ulang. Ia benar-benar tak habis pikir dengan Dave yang selalu bangga dengan kesombongan dan keangkuhannya.

"Ayo makan, katanya mau makan bersama," ucap Dave.

Sebenarnya Emma tak ingin memakan roti yang diberikan Dave, karena nafsu makannya tiba-tiba hilang karena sikap pria itu. Tapi perutnya yang terasa meminta diisi, mau tidak mau ia harus memakannya.

...----------------...

Kini Dave dan Emma telah sampai di sebuah hotel. Pengantaran pizza gelombang kedua hari ini dimulai dari sini.

Emma memarkiran skuter dibahu jalan. Dave yang memboncengnya turun. Pria itu lalu membuka delivery box.

"Seharusnya kamu sudah paham bagaimana cara pengantaran," ucap Emma, berdiri didekat Dave. "Tidak perlu dicontohkan," lanjutnya.

"Jangan banyak bicara, nanti pengantaran kita terlambat," jawab Dave.

"Serius Dave ? Aku yang jadi penyebab pengantaran tadi pagi terlambat ?" Emma mulai kesal pada pria itu. "Kamu memang benar-benar pria yang tidak tahu diri. Coba kamu ingat-ingat, siapa yang tadi pagi memulai berdebat hanya ingin dicontohkan bagaimana cara pengantaran pizza ? Coba kamu ingat-ingat ?" lanjutnya.

"Sudah lah, tidak usah dibahas," jawab Dave. Ia mengambil satu per satu kota pizza yang harus diantarkan ke dalam hotel.

"Tidak usah dibahas ? Ya haruslah ! Karena aku bukan penyebab keterlambatan pengantaran tadi pagi."

Dave menghentikan aktivitasnya. Ia diam sejenak beberapa detik, menunggu apakah masih ada yang ingin diucapkan perempuan itu.

"Sudah bicaranya ?" ucap Dave. "Lebih baik kamu bantu aku," lanjutnya.

Emma yang terlihat masih kesal dengan terpaksa harus membantu pria yang sudah menghabiskan energinya hari ini. Setiap menit ada aja tingkahnya, sikapnya atau perkataannya yang menguji level kesabaran Emma.

"Ayo sekarang kita masuk," ucap Dave. Dikedua tangannya ia membawa lima kotak pizza yang hangat.

Emma tak menggubrisnya. Ia langsung berjalan lebih dulu sebelum Dave menyelesaikan ucapannya. Karena tak mau tertinggal, pria itu langsung mengikutinya di belakang.

Lift membawa mereka ke lantai lima dalam beberapa detik saja.

"pengantaran pertama ke–"

Dave terpaksa tak melanjutkan omongannya karena Emma tiba-tiba keluar lift saat pintu terbuka. Ia pun sontak mengikuti perempuan itu.

Emma berhenti di depan pintu. Dave pun ikut berhenti "Pengantaran pertama ke kamar ini, " ucap perempuan itu.

"Beri dulu aku wak—"

Sekali lagi Dave terpaksa tidak melanjutkan omongannya. Ini karena Emma tiba-tiba mengetuk pintu. Padahal Ia perlu waktu untuk siap berhadapan dengan pelanggan.

"Kali ini lakukan sendiri," ucap Emma. Ia menjauh beberapa langkah dari Dave

Pintu pun terbuka. Seorang pria keluar. Dave tampak gugup. Untuk pertama kalinya ia berhasil menyerahkan satu kotak pizza tanpa bantuan Emma.

"Lumayan, tapi masih sangat buruk," kata Emma setelah pintu tertutup.

"Beri aku waktu dulu, untuk menyiapkan diri, sebelum mengetuk pintu," jawab Dave.

Emma mengabaikannya begitu aja. Ia lalu berjalan ke kamar berikutnya. Dave pun mengikutinya.

"beri aku wak—"

Sekali lagi, Dave tak menyelesaikan omongannya. Emma tiba-tiba mengetuk pintu. Sikap perempuan itu memancing rasa kesal Dave.

"Masih sama, lebih buruk," ucap Emma setelah Dave berhasil menyerahkan pizza dan pintu kamar kembali tertutup.

"Bisa tidak beri aku waktu sebentar saja. Sebelum kamu mengetuk pintu," kata Dave. Ia mulai kesal.

"Tidak," tegas Emma. Ia lalu berjalan ke kamar berikutnya. "Aku tidak mau dianggap sebagai penyebab keterlambatan pengantaran."

Dave yang berjalan di belakang Emma, ingin sekali menjegal langkah perempuan itu. Namun, belum terlaksana, Emma lagi dan lagi langsung mengetuk pintu sebelum ia sempat berhenti didepan kamar.

1
Endah Lestary
ceritanya simpel ga ribet mikir dan ga kepanjangan pula.semoga semakin sukses 🥰
Putry Chan
jadi dia bos nya harus nungguin tanggapan orang ini dulu
@Semua orang
ya udh aku tinggal jejak di sini yah, semoga si author menepati yg di katakannya. semangat thor 💜💜💜
@Semua orang
ini pilihannya yg mana motor atau skuter
@Semua orang
hallow em.
@Semua orang
ala ebew
@Semua orang
PD banget om
@Semua orang
kayaknya ni org macam kayak aki mono itu ih.
@Semua orang
ho'oh
@Semua orang
hah cepet banget pak james, aneh. oh iya saran dari aku itu setelah tanda kutip hurufnya harus kapital udh itu aja.
@Semua orang
sekeras apapun cari duit org juga butuh rileksasi om
@Semua orang
dor
@Semua orang
di gw mah gerah bukan dingin, blm hujan lagi.
@Semua orang
hallow pak, salken pak.
Rumah Pena
lanjuuut
Rumah Pena
ceritanya seru dan menarik. lanjuttttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!