Felicya adalah perempuan yang mempunya jiwa yang tenang. Ia memegang prinsip stoik; tidak semua hal harus dilawan, dan tidak semua luka harus dibalas.
Namun prinsip itu diuji ketika ia bertemu seorang laki-laki Machiavellian-cerdas, manipulatif, dan terbiasa memainkan manusia seperti bidak dalam permainan.
Di saat yang sama, Felicya harus berhadapan dengan perselingkuhan suaminya bersama seorang perempuan NPD.
Di antara kebohongan, manipulasi, dan permainan ego, Felicya perlahan menyadari bahwa membalas dengan elegan, bukan berarti jahat. karena mempertahankan boundariesnya dan tidak kehilangan jati dirinya, hanya perbuatan 2 orang yang mempunyai 2 sifat Dark Psichology.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Ayu Ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Kecurigaan Yang Mulai Tumbuh
Kembali dengan Felicya yang masih berada di rumah sakit. Felicya yang masih suasana hatinya kesal. Felicya meninggalkan Galang yang masih di ruang observasi. Dia harus memberi ruang untuk dirinya dan suaminya sementara. Felicya harus benar-benar tenang untuk hari ini. bagi dirinya kejadian ini membuat dirinya merasa lelah. Felicya sangat berharap masalah ini tidak berkelanjutan panjang.Dia berpikir bahwa ini hanya bumbu rumah tangganya saja. Dia tidak boleh berprasangka buruk kepada suaminya. Apalagi, belum ada bukti siapa orang-orang di balik dalang ini semua.
Felicya mencoba merenungkan diri. Dia melangkahkan kakinya menuju masjid yang ada di rumah sakit.
Felicya melepaskan sandalnya di bawah tangga. Lalu, dia masuk ke dalam masjid dan ke tempat air wudhu.
Namun, Galang masih setia berdiri. Menunggu ibu mertuanya di depan pintu berjam-jam. Dia ingin tahu di ruangan mana ibu mertuanya di rawat.
"Sus. Ini bunda saya kapan akan dapat kamar rawat inap yah?" tanya Galang.
"Sebentar yah Pak, kami sedang menunggu kamar kosong. Jadi ibu bapak masih di ruang IGD dulu untuk sementara." Perawat itu pergi karena ingin check pasien yang lain.
Galang menghampiri ibu mertuanya yang sedang di UAP dan di infus. "Bunda ngerasa lapar gak?" tanya Galang.
"Iya. Nak, Galang bunda lapar, mau makan, tapi kemana si Neng?" Ibu Felicya tengok ke kanan-kiri ia tidak melihat putrinya ada di ruang UGD.
"Felicya lagi shalat kayaknya Bunda."
"Oh yasudah, nanti beritahu Bunda yah kalau Felicya sudah ke sini. Bunda mau istirahat," ujar Ibu Felicya.
Felicya yang sedang menggelar sajadah. Lalu Felicya memasang mukenanya dan melepas kerudung panjangnya. Felicya sangat khusyuk dalam shalat.
Lima belas menit kemudian. Felicya, selesai attahiyat akhir salam. Felicya mengangkat tangannya berdoa. "Allahummaghfirli Waliwalidayyah Walil mu'minin Wal Yaumul Akhirah ( Yarabb ampunkan dosa ke dua orang tuaku, dan saudara muslimku yang lainnya), Bismillahirrahmanirrahim. Rabbana Dzalamna Waghfirlana Warhamna Lanakunanna Minal Khasirin.(YaAllah ampun dosaku, jangan kau putuskan rahmatmu padaku) Ya allah jadikan lah rumah tanggaku ini sebagai ridhamu, tolong bimbinglah aku dan suamiku dijalanmu. Dan ampuni lah dosa suamiku. YaAllah, Ya Rahman, Ya Latif, YaGhaffar, " Lalu Felicya mengucapkan. " Aamiin"
Felicya yang selesai shalat. Ia hendak memakai kerudungnya kembali dan merapikan perlengkapan shalatnya ke dalam lemari masjid.
Felicya, lalu pergi melangkah keluar. Ia teringat ibunya masih di ruang UGD. Felicya khawatir ibunya menunggu dirinya terlalu lama. Akhirnya Felicya bergegas jalan cepat.
Felicya yang sudah sampai di depan ruang UGD ia langsung masuk dan melihat ibunya sedang tertidur. Felicya bertanya pada suaminya.
"Mas, bunda gak langsung dapat kamar ruang inap?"
"Belum sayang, nanti susternya akan ke sini lagi dan memindahkan bed nya ke kamar ruang inap kok," sahut Galang. Ia melihat istrinya sudah tidak marah lagi dengannya. Galang merasa hatinya lega. Niat galang ingin mengajak ngobrol istrinya di masjid. Namun, ia tidak jadi karena istrinya sudah bertanya lagi dengannya.
"Ayyy... Aku minta maaf yah sama kamu, mungkin tadi kamu merasa lelah dengan kejadian pas tadi jam 16.00," ujarnya dengan raut merasa bersalah. Galang sengaja memasang muka belas kasihan, agar istrinya mau memaafkannya dan tidak mendiamkannya seperti tadi.
"Aku gak marah sama Mas aku cuma sedikit lelah saja hari ini Mas, maaf tadi aku meninggalkanmu begitu saja," ucap Felicya merasa bersalah, namun dihatinya juga masih menyimpan rasa curiga dengan suaminya. Kejadian hari ini ia merasa harus berhati-hati ke depannya, karena Felicya masih penasaran siapakah orang-orang ini. Apakah benar tidak ada sangkut pautnya dengan suaminya sendiri.
Galang yang mendengar istrinya tidak marah dengannya. Hatinya merasa lega, ia tidak harus klarifikasi panjang pada Felicya, melihat Felicya masih percaya padanya dan tidak mencurigainya sudah cukup untuknya. Sekarang ia hanya berpura-pura seperti biasa. Tapi untuk orang-orang yang berani menerrornya. Ia akan mencari tahu sendiri siapa para penerror ini. Apakah ini suruhan dari lytecia wanita yang ia lindunginya atau musuhnya yang belum redup itu.
Malam sudah tiba, ibu Felicya akhirnya di pindahkan ke ruang rawat inap, bedanya di bawa ke lantai atas melalui Lift. Di susul dengan Galang dan Felicya dari belakang.
Felicya senang ibunya akhirnya mendapat kamar rawat inapnya, ia berjanji akan merawat ibunya hingga sembuh.
Galang yang melihat wajah istrinya lembut dan penuh khawatir di wajah putihnya itu. Entah hatinya begitu hangat, ada sesuatu getaran di dalam hatinya. Namun, Galang enyahkan perasaan itu dihatinya. Ia menganggap hanya terbawa suasana saja.
Felicya yang berdiri di samping bed ibunya, ia tidak melepaskan genggaman jemari dari jari ibunya. Felicya tidak ingin jauh-jauh dari ibunya. Ibunya itu segala untuk di hidupnya. Felicya bertanya pada ibunya. "Ibun, eneng akan jagain ibun di rumah sakit, ibun jangan takut sendirian yah," ucap Felicya dengan suara lembutnya dan tersenyum.
Galang yang tidak ingin melepaskan pandangan dari istrinya. Ia hatinya seperti merasa ikut sedih dan merasa ada sentuhan dihatinya.
Akankah Galang mencintai Felicya? apa dia akan tetap seperti biasanya?