NovelToon NovelToon
Cinta Di Bawah Bayangan Tangan Besi

Cinta Di Bawah Bayangan Tangan Besi

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:255
Nilai: 5
Nama Author: aletaia

Aria Utama, seorang arsitek bertangan dingin, mendadak terjebak dalam pusaran konflik dua pria paling dominan di kota. Di satu sisi ada Adrian Mahardika, CEO dingin dari Mahardika Group yang menawarkan perlindungan, kestabilan, dan cinta yang tenang. Di sisi lain ada Dante Vance, pemimpin sindikat kejahatan paling tak tersentuh yang siap menghancurkan dunia demi mendapatkan Aria. Saat rahasia masa lalu terkuak, Aria harus memilih antara kepastian yang aman atau gairah yang mematikan di tengah pertumpahan darah dan perebutan kekuasaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aletaia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Garis Perbatasan

Ketegangan di Ballroom Hotel Grand Hyatt terasa begitu pekat hingga udara di sekeliling mereka seolah membeku. Para tamu VIP dan pengusaha kelas atas perlahan mundur beberapa langkah, tidak berani terlibat dalam konfrontasi langsung antara dua pria paling berkuasa dan berbahaya di kota itu.

Adrian berdiri kokoh di depan Aria, menyembunyikan sebagian besar tubuh wanita itu di balik punggungnya. Tatapan matanya yang cokelat gelap memancarkan kilat kebencian yang mendalam terhadap Dante Vance.

"Jangan pernah berani menyentuhnya, Dante," desis Adrian dengan suara berat yang dipenuhi ancaman. "Gedung ini milik saya, dan acara ini berada di bawah pengamanan Mahardika Group. Satu perintah saja, dan seluruh tim pengawal di tempat ini akan menyeretmu keluar."

Dante tidak bergeming sedikit pun. Pria itu justru mengaitkan kedua tangannya di dalam saku mantel panjangnya, menyunggingkan senyum miring yang memperlihatkan kepercayaan diri luar biasa.

"Menyeretku?" Dante terkekeh sinis, sebuah tawa pelan yang membuat bulu kuduk para pengawal di sekitar mereka berdiri. "Cobalah kalau kau ingin acara megahmu ini berubah menjadi panggung pertumpahan darah, Adrian. Kau tahu betul aku tidak pernah datang tanpa persiapan."

Aria menahan napasnya. Dari sudut matanya, ia melihat beberapa pria berjas serba hitam berpakaian rapi yang tersebar di antara kerumunan tamu mulai menggerakkan tangan mereka ke balik jas—menandakan bahwa anak buah Black Viper sudah menyusup ke dalam pesta ini tanpa disadari siapa pun.

"Dante, cukup," suara Aria akhirnya memecah keheningan, terdengar bergetar namun penuh keberanian. Ia melangkah satu detik dari belakang punggung Adrian, menatap langsung ke dalam mata abu-abu Dante yang liar. "Ini tempat umum. Jangan membuat keributan di sini."

Mata abu-abu Dante berkilat puas saat mendengar suara Aria. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap keanggunan Aria dalam balutan gaun merah maroon.

"Aku hanya datang untuk memastikan wanita yang menyelamatkanku dalam keadaan baik," tutur Dante dengan nada suara yang mendadak melembut, menciptakan kontras yang mengerikan dengan aura berbahaya di sekelilingnya. "Dan untuk mengingatkanmu, Aria... cincin di dalam tasmu itu bukan sekadar perhiasan. Itu adalah tandaku."

Sebelum Adrian sempat memukulnya, Dante melangkah mundur dengan santai. Ia mengangkat sebelah tangannya, memberi isyarat kepada anak buahnya untuk mundur.

"Nikmati malammu, Adrian. Proyek barumu sangat megah... sangat sayang jika sampai ada hal buruk yang terjadi padanya," bisik Dante penuh teka-teki sebelum berbalik dan melangkah pergi meninggalkan ruang pameran bersama para pengawalnya yang menghilang di tengah kerumunan.

Dua jam kemudian, pesta peluncuran berakhir. Pukul satu dini hari, sebuah sedan Mercedes-Maybach hitam milik Adrian melaju membelah jalanan protokol Jakarta yang mulai lengang. Di dalam kabin penumpang belakang yang kedap suara, atmosfer tegang masih terasa amat pekat.

Adrian duduk di samping Aria, melonggarkan ikatan dasinya dengan gerak-gerik frustrasi. Rahang tegasnya mengeras rapat, menunjukkan amarah yang ditahannya sejak di ballroom.

"Kenapa kau tidak pernah bercerita kalau kau memegang cincin milik Dante Vance?" tanya Adrian mendadak, menembus keheningan kabin.

Aria menoleh, menatap wajah Adrian dari samping yang tersiram cahaya lampu jalanan. "Saya tidak tahu siapa dia saat malam itu, Adrian. Pria itu terluka parah di jalanan dekat studio saya. Sebagai manusia, saya hanya membantunya agar tidak mati kehabisan darah."

"Kau menyelamatkan nyawa seorang Iblis, Aria!" bentak Adrian pelan namun sarat akan penekanan. "Dante Vance bukan sekadar pengusaha gelap. Dialah yang mengontrol seluruh jaringan kejahatan, penyelundupan, dan bisnis haram di kota ini. Dia memanfaatkanmu untuk masuk ke dalam celah kehidupanku!"

Aria mengerutkan keningnya, merasa tersinggung dengan tuduhan terselubung itu. "Saya tidak ada hubungannya dengan konflik kalian berdua! Saya hanya seorang arsitek yang fokus pada pekerjaan saya!"

Adrian menghela napas panjang. Pria yang biasanya selalu rasional dan terkontrol itu kini tampak begitu gusar. Ia memutar tubuhnya, meraih kedua bahu Aria dan menatap langsung ke dalam manik mata wanita itu. Sentuhan jemarinya di bahu Aria terasa hangat namun amat protektif.

"Dante tahu kau adalah arsitek utama proyek Mahardika Grand Tower. Dia tahu kau berada di dekatku," bisik Adrian, nada suaranya berubah dari marah menjadi sangat cemas. "Keluarga Vance dan keluarga Mahardika memiliki dendam darah di masa lalu yang tidak pernah selesai. Dia akan menggunakan cara apa pun untuk menghancurkanku, termasuk memanfaatkan orang-orang di sekitarku."

"Termasuk saya?" tanya Aria pelan.

"Aku tidak akan membiarkan dia menyentuhmu, Aria. Aku bersumpah," tegas Adrian. Tatapan matanya yang tajam mengunci pandangan Aria, memperlihatkan gairah dan rasa kepemilikan yang teramat dalam yang tak lagi bisa disembunyikannya di balik topeng CEO dingin.

Mobil akhirnya berhenti di pelataran parkir basement apartemen pribadi Aria. Adrian menolak membiarkan Aria pulang sendiri dan mengawalnya hingga ke pintu unit apartemennya di lantai dua puluh.

"Istirahatlah. Mulai besok, dua pengawal pribadiku akan bertugas mengawasi unit ini dari luar," ujar Adrian sebelum pamit.

"Terima kasih, Adrian," sahut Aria pelan.

Setelah Adrian pergi dan pintu apartemen terkunci rapat, Aria menyandarkan tubuhnya di balik pintu kayu yang tebal. Jantungnya berdegup kencang memikirkan batas tipis antara bahaya dan kenyamanan yang ditawarkan oleh kedua pria tersebut.

Ia melangkah menuju meja riasnya untuk melepaskan anting dan perhiasannya. Namun, saat Aria meraih kunci mobil yang ia letakkan di dalam tas genggamnya, dadanya seketika berdesir hebat oleh rasa terkejut.

Di atas dashboard mobilnya—yang seharusnya terkunci rapat di basement apartemen—tergeletak sebuah amplop hitam kecil dengan stempel lilin berbentuk ular naga.

Aria membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya terdapat sebuah kunci perak berukir rumit dan selembar kartu bertuliskan kalimat singkat dengan tinta emas:

"Pengawal Adrian tidak akan bisa melindungimu dari bayangan. Kunci ini adalah akses menuju kendaraan pribadi di basement-mu. Besok malam pukul delapan, datanglah ke dermaga barat, atau aku akan memastikan proyek menara kaca milik CEO kesayanganmu itu rata dengan tanah."

— D.V.

Aria meremas kartu itu di dadanya. Pilihan berbahaya kini berada tepat di tangannya: mematuhi perintah sang Raja Mafia, atau melihat perang terbuka meletus dan menghancurkan kehidupan yang baru saja ia bangun bersama Adrian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!